Chapter Fourteen
Tiga Kali
POV: Ayana
Aku menyiapkan tiga hal untuk hari Jumat itu, dan ketiganya sia-sia.
Yang pertama, kalimat. Aku menulisnya di ponsel hari Rabu malam, menghapusnya, menulis ulang hari Kamis, menghapusnya lagi, dan akhirnya menyimpan versi keenam yang panjangnya empat baris dan yang menurut Keisha “kayak sambutan kepala sekolah.”
Yang kedua, tempat. Sekretariat, jam empat sore, setelah semua orang pulang. Bukan romantis, tapi satu-satunya tempat di sekolah ini di mana dia tidak akan merasa terpojok, karena ada dua pintu dan dia selalu duduk di dekat yang mana pun yang lebih dekat ke luar. Aku sudah memperhatikan itu.
Yang ketiga, alasan untuk memanggilnya. Berkas jadwal teknis Pentas Seni. Asli, bukan karangan; benar-benar perlu ditandatangani.
Yang tidak kusiapkan adalah tanganku.
Karena jam empat lewat tiga, waktu Ardev Narasoma masuk ke sekretariat dan duduk di kursi dekat pintu seperti yang sudah kuprediksi, aku menyadari bahwa kedua tanganku gemetar sampai ke siku, dan bahwa aku tidak punya rencana untuk itu sama sekali.
“Ini yang mana yang ditandatangan?”
“Halaman tiga sama lima.”
Dia menandatangani. Cepat, rapi, tanpa membaca ulang — karena dia sudah membacanya waktu aku mengirimnya kemarin, tentu saja.
“Udah.”
“Iya.”
Dia meletakkan bolpoin dan berdiri.
“Ardev.”
Dia berhenti.
Dan aku membuka mulut, dan seluruh empat baris yang kususun selama dua malam menguap begitu saja, dan yang keluar adalah versi yang tidak pernah kutulis di mana pun.
“Aku suka kamu.”
Hening.
Kipas angin berdehem di sudut.
Dan Ardev Narasoma berdiri di sana selama mungkin tiga detik penuh, lalu menoleh ke pintu — ke pintu, bukan ke arahku — lalu kembali, lalu berkata:
“Evan nyuruh kamu?”
Aku mengerjap. “Apa?”
“Evan. Atau Keisha.” Dia mengangguk pelan, seperti orang yang sedang menyelesaikan teka-teki. “Ini lagi direkam?”
“Ardev—”
“Nggak apa-apa.” Dan yang paling buruk adalah bahwa dia tersenyum sedikit. Betul-betul tersenyum, dengan sopan, seperti orang yang sedang menerima lelucon yang tidak terlalu lucu tapi tidak ingin membuat pembuatnya kecewa. “Bilang aja ke dia lawakannya udah cukup.”
“Ini bukan—”
“Berkasnya udah saya tandatangan ya.”
Dan dia keluar.
Aku duduk di kursi itu selama empat menit tanpa bergerak.
Lalu Keisha masuk — karena tentu saja Keisha masuk, karena Keisha dan Anita sudah menunggu di ruang sebelah sejak jam setengah empat dengan alasan yang tidak pernah mereka jelaskan.
“Ay?”
Aku tidak menjawab.
“Ay, gimana—”
“Dia pikir kalian yang nyuruh.”
Hening.
“HAH?”
“Dia nanya ini lagi direkam apa nggak.”
Keisha berdiri di ambang pintu dengan mulut setengah terbuka, lalu menoleh ke belakang, ke arah Anita yang baru masuk.
“Nit. Dia pikir—”
“Aku denger,” kata Anita.
Dan Anita Wijayakusuma berjalan masuk, menarik kursi, duduk di sebelahku, dan tidak berkata apa-apa selama beberapa saat.
“Ay.”
“Hm.”
“Kamu nggak gagal.”
“Aku ditolak, Nit.”
“Kamu nggak ditolak.” Dia menatap pintu yang masih terbuka. “Dia bahkan nggak nolak. Buat nolak, dia harus percaya dulu bahwa kamu nawarin sesuatu.”
Dan yang paling kuingat dari sore itu bukan malu.
Tapi betapa cepatnya dia percaya bahwa itu lelucon.
Bukan bertanya. Bukan ragu. Tiga detik, lalu langsung ke kesimpulan yang paling tidak menyakitkan bagi dirinya — dan yang paling menyakitkan buatku justru karena aku tahu persis dari mana kesimpulan itu datang.
Kalau seseorang butuh tiga detik untuk memutuskan bahwa pernyataan suka pasti lelucon, itu bukan karena dia bodoh.
Itu karena dia sudah lama menghitung, dan hasil hitungannya selalu sama.
Kali kedua tiga hari kemudian, dan aku merusaknya sendiri.
Aku menghadangnya di koridor gedung utara, jam istirahat, di tempat yang salah dan waktu yang salah, karena aku sudah tidak sanggup menunggu sore.
“Ardev.”
“Iya?”
“Yang hari Jumat itu bukan bercanda.”
Dia menoleh ke kiri dan kanan. Ada empat orang di koridor.
“Bisa nanti?”
“Nggak bisa nanti.”
“Ayana—”
“Aku serius.” Suaraku terlalu keras dan aku tidak bisa mengecilkannya. “Aku nggak lagi dikerjain siapa-siapa.”
Dan dia menatapku, dan kali ini dia tidak tersenyum, dan itu justru lebih buruk.
“Oke,” katanya pelan. “Terus?”
“Terus apa maksudnya terus?”
“Kamu ngerasa nggak enak sama yang di rapat itu.” Dia mengatakannya dengan sabar, hati-hati, seperti orang yang sedang menjelaskan sesuatu yang menyakitkan dengan cara paling lembut yang dia bisa. “Itu wajar. Saya juga bakal ngerasa gitu. Tapi itu bakal ilang, dan kalau kamu ngambil keputusan sekarang—”
“Kamu pikir aku suka sama kamu karena ngerasa berutang.”
Dia tidak menjawab.
“Ardev.”
“Iya.”
“Kamu pikir gitu?”
Dan dia menjawab, dan jawabannya membuatku ingin duduk di lantai koridor itu.
“Saya nggak mikir jelek soal kamu,” katanya. “Saya cuma tau berapa nilai saya.”
Empat orang di koridor. Bel berbunyi. Dia pamit dan pergi ke kelas.
Dan aku berdiri di sana dan menyadari bahwa aku sudah dua kali gagal, dan bahwa penyebabnya bukan karena dia tidak percaya padaku.
Penyebabnya karena dia tidak percaya pada dirinya, dan aku terus-terusan menyerang bagian yang salah.
Aku tidak melakukan apa-apa selama enam hari.
Anita yang menyuruhku berhenti.
“Kamu lagi nembak orang dengan cara ngajak berdebat,” katanya. “Kamu bawa argumen ke orang yang seumur hidupnya menang argumen.”
“Terus aku harus gimana?”
“Jangan lawan hitungannya.” Anita menutup laptopnya. “Ambil datanya.”
“Hah?”
“Kamu bilang dia ngitung. Ya udah. Kasih dia data yang bikin hitungannya salah.”
Aku duduk di kamar malam itu dan berpikir sampai jam dua pagi.
Dan yang akhirnya kupahami adalah ini: setiap kali aku bilang “aku suka kamu,” yang dia dengar adalah pernyataan tentang dirinya — sebuah klaim tentang nilai yang menurut hitungannya salah, dan yang otomatis dia bantah.
Jadi aku harus berhenti bicara tentang dirinya.
Aku harus bicara tentang apa yang aku tahu.
Kali ketiga hari Kamis, jam setengah lima, di aula.
Dia sedang di atas tangga lipat memasang kabel lampu panggung untuk Pentas Seni, dan aku berdiri di bawah memegangi tangga itu, karena sudah tiga minggu ini aku selalu memegangi apa pun yang dia naiki dan dia sudah berhenti melarang.
“Ardev.”
“Hm.”
“Turun sebentar.”
“Bentar, ini tinggal—”
“Ardev.”
Dia turun.
Dan aku berdiri di depannya di aula yang kosong, dengan tangan yang gemetar lagi, dan aku tidak mengucapkan satu pun kalimat yang sudah kususun.
“Kaus kaki kamu nggak pernah sepasang,” kataku.
Dia mengerjap.
“Yang satu polos, yang satu bergaris. Aku liat waktu kamu duduk di lantai sekretariat jam enam empat belas pagi hari Senin, tiga minggu lalu.”
“Ayana—”
“Kotak makan kamu tutupnya patah dan kamu iket pake karet gelang.” Aku melanjutkan sebelum dia sempat memotong. “Aku ganti tutupnya. Iya, aku. Bukan Kayla, bukan Evan.”
“Kamu—”
“Kamu selalu duduk di kursi yang paling deket pintu. Di ruangan mana pun. Aku udah ngecek tujuh kali.”
Dia berhenti bicara.
“Kamu bawa tiga kotak bekal tiap hari dan yang paling kecil selalu punya kamu.”
Sesuatu berubah di wajahnya.
“Kamu manggil Rey dua kali sebelum dia jawab, terus kamu nggak pernah manggil yang ketiga, kamu tungguin.” Suaraku mulai bergetar dan aku membiarkannya. “Kamu betulin engsel pintu sekretariat jam enam pagi terus kamu masukin obengnya ke saku pas aku dateng, kayak orang ketauan nyolong.”
“Ayana, kamu—”
“Aku belum selesai.”
Dia diam.
“Kamu nggak pernah nunggu makasih. Kamu ngajarin Dimas hal yang sama dan dia pake buat sahabat aku.” Aku menarik napas dan suaranya pecah di tengah. “Dan waktu Bu Wulan nyatet nama kamu di sudut kertas, kamu bahkan nggak ngeliat ke arah aku sekali pun. Sekali pun, Ardev. Karena kalau kamu ngeliat, aku bisa ngerasa itu buat aku, dan kamu nggak mau aku ngerasa gitu.”
Aula itu sunyi sekali.
“Aku bukan lagi bayar utang,” kataku. “Orang yang bayar utang cuma perlu tau satu hal tentang kamu. Aku tau semuanya.”
Aku menarik napas dan mengeluarkan yang terakhir, yang paling tidak ingin kukatakan, karena yang ini tentang aku.
“Dan kamu tau kenapa aku merhatiin sedetail itu?”
Dia tidak menjawab.
“Karena nggak ada orang yang pernah merhatiin aku sedetail itu.” Suaraku hampir habis. “Semua orang tau aku wakil ketua OSIS. Semua orang tau nilai aku berapa. Nggak ada satu pun yang tau aku belum makan dari pagi kalau lagi rapat, dan aku udah tiga tahun ngurusin orang yang nggak pernah nanya.”
Aula itu sunyi sekali.
“Terus suatu hari aku liat ada orang bawa tiga kotak bekal, dan yang paling kecil dia sisain buat dirinya sendiri.”
Dia berdiri di sana dengan kabel masih di tangan.
“Aku nggak minta kamu percaya sekarang,” lanjutku, dan sekarang aku menangis, dan aku tidak peduli. “Aku juga nggak minta kamu ngerasain hal yang sama. Aku cuma minta satu.”
“Apa.”
“Berhenti ngitung.”
Yang terjadi berikutnya berlangsung sangat lama, dan aku akan mengingatnya seumur hidup dalam bentuk potongan-potongan.
Dia meletakkan kabel itu di atas kursi. Sangat pelan, seperti orang yang takut membuat suara.
Dia melihat ke pintu — dan aku merasakan sesuatu jatuh di dadaku, karena aku tahu apa artinya itu; itu yang selalu dia lakukan.
Lalu dia tidak pergi.
Dia menarik kursi di baris pertama dan duduk. Membungkuk. Menopang siku di lutut dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Dan dia diam di posisi itu selama mungkin satu menit penuh.
Aku tidak berani bergerak.
Waktu dia akhirnya mengangkat kepala, matanya merah, dan suaranya keluar lebih parau dari biasanya.
“Kamu nggak boleh tau hal-hal itu,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena—” Dia berhenti. Menggosok wajahnya sekali. “Karena kalau ada yang tau hal-hal kayak gitu, artinya orangnya merhatiin. Terus-terusan. Berbulan-bulan.”
“Iya.”
“Ayana.”
“Iya.”
“Nggak ada yang pernah ngelakuin itu ke saya.”
Dan kalimat itu keluar begitu saja — datar, tanpa keluhan, tanpa satu pun tanda bahwa dia menganggapnya menyedihkan — dan justru karena itu, kalimat itu menghancurkanku lebih dari apa pun yang pernah kudengar.
Aku melangkah maju satu langkah.
“Sekarang ada.”
Dia menunduk lagi.
“Saya nggak tau harus ngapain,” katanya, ke lantai.
“Nggak usah ngapa-ngapain.”
“Saya nggak punya waktu, Ayana. Saya Sabtu kerja. Saya jemput adik saya tiap sore. Saya—” Suaranya naik sedikit, dan itu pertama kalinya aku mendengar dia terdengar panik. “Saya nggak bisa jadi orang yang bisa kamu telfon jam tujuh malem terus dateng. Saya nggak bisa jadi itu.”
“Aku nggak minta itu.”
“Semua orang minta itu.”
“Aku bukan semua orang.”
Dia mengangkat kepala.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya — sejak jam enam empat belas pagi hari Senin di ruang sekretariat — Ardev Narasoma menatapku tanpa menghitung apa pun.
“Kamu nangis,” katanya.
“Iya.”
“Maaf.”
“Ardev, kalau kamu minta maaf sekali lagi—”
“Maaf.”
Dan aku tertawa. Di tengah menangis, di aula kosong, dengan kabel lampu panggung tergeletak di kursi.
Dan dia — dengan hati-hati, seperti orang yang sedang memegang sesuatu yang bisa pecah, dan aku baru sadar berbulan-bulan kemudian bahwa itu bukan aku yang dia takut pecahkan — berkata:
“Kalau saya bilang iya.”
“Iya.”
“Kamu bakal nyesel.”
“Itu urusan aku.”
“Ayana.”
“Bilang aja iya, Ardev.”
Hening panjang.
“Iya,” katanya.
Kami keluar aula jam lima kurang sepuluh dan berjalan ke arah gerbang tanpa bicara, dan di sepanjang koridor itu aku menyadari bahwa dia berjalan setengah langkah di belakangku.
Bukan sengaja. Kebiasaan. Tiga tahun kebiasaan.
Aku berhenti di ujung koridor.
“Ardev.”
“Hm?”
Dan aku mengulurkan tangan dan mengambil tangannya.
Bukan dia. Aku.
Dia membeku total. Betul-betul berhenti bergerak, seperti orang yang tiba-tiba lupa cara kerja lututnya.
“Ini—”
“Iya.”
“Ada orang.”
“Ada tiga orang.”
“Ayana—”
“Kamu mau lepas?”
Hening dua detik.
“...Enggak.”
“Ya udah.”
Dan kami berjalan ke gerbang seperti itu — dengan tanganku yang menggenggam duluan, dengan telinganya yang merah sampai ke leher, dengan tiga anak kelas sepuluh yang berhenti di tengah tangga dan lupa bahwa mereka sedang menaiki tangga.
Di gerbang, dia melepaskan tanganku untuk membetulkan tas.
Lalu, setelah ragu sepersekian detik, dia mengambilnya lagi sendiri.
Dan itu — yang sepersekian detik itu, yang tidak dilihat siapa pun, yang tidak akan pernah dia sadari sebagai apa-apa — adalah momen yang benar-benar membuatku yakin bahwa dia akan baik-baik saja.
- 1 Bayangan
- 2 Hantu Sekretariat
- 3 Kantin
- 4 Tiga Ketukan
- 5 Dua Orang Bodoh
- 6 Empat Puluh Menit
- 7 Daftar
- 8 Tiga Kotak
- 9 Bencana Alam
- 10 Jam Enam Empat Belas
- 11 Sedikit Kata
- 12 Udah, Saya Aja
- 13 Nomor Tiga
- 14 Tiga Kali reading
- 15 Peringatan
- 16 Dev
- 17 Dapur
- 18 Dua Jam
- 19 Satu-satunya
- 20 Tiga Kali Empat
- 21 Satu Kali Serius
- 22 Di Depan Semua Orang
- 23 Empat Belas Hari
- 24 Rak Nomor Empat
- 25 Kue yang Gagal
- 26 Atap
- 27 Kembang Api Murah
- 28 Om dan Kakak
- 29 Modal Nol
- 30 Fakta Pertama
- 31 Gerbang
- 32 Kok Aku yang Lebih Tahu?
- 33 Kalau Aku Bilang
- 34 Dua Tahun
- 35 Sembilan Hari
- 36 Dua Ketukan
- 37 Satu Arah
- 38 Dokumen
- 39 Galon
- 40 Tolong
- 41 Arti Nama
- 42 Foto