← Nomor Tiga

Chapter Twelve

Udah, Saya Aja

POV: Ayana

Kesalahannya terjadi hari Selasa jam sebelas malam, dan aku tidak menyadarinya sampai hari Kamis jam sepuluh pagi, di ruang rapat yayasan, di depan sembilan orang dewasa.

Aku ingin menjelaskan bagaimana bisa, bukan untuk membela diri. Cuma supaya jelas betapa kecilnya.

Proposal Pentas Seni akhir tahun punya tiga versi. Versi satu, yang kususun awal bulan. Versi dua, hasil revisi setelah rapat pengurus. Versi tiga, final, dengan angka sponsor yang sudah dikoreksi setelah Bimo menelepon pihak vendor dan mendapat harga yang berbeda dari perkiraan awal.

Selisihnya delapan juta.

Hari Selasa malam aku mengirim file ke percetakan dari komputer sekretariat, karena laptopku dibawa Papa ke Surabaya secara tidak sengaja dan aku tidak sempat mengambilnya kembali. Aku membuka folder. Aku memilih file. Aku mengirim.

Aku memilih versi dua.

Dua puluh eksemplar dijilid rapi, dengan sampul, dengan logo sekolah. Sembilan di antaranya ada di meja rapat yayasan hari Kamis jam sepuluh pagi.

Dan di halaman tujuh, angka total anggaran yang tertera lebih besar delapan juta daripada rincian di halaman delapan.

Yang menemukannya bukan Bu Wulan.

Yang menemukannya adalah bendahara yayasan, seorang bapak berumur enam puluhan dengan kacamata baca yang selalu turun ke ujung hidung, yang membaca dokumen dengan kecepatan yang menakutkan dan yang berhenti di halaman delapan selama empat detik sebelum mengangkat kepalanya.

“Ini yang mana yang bener?”


Ada satu momen — satu momen sangat spesifik — di mana kamu tahu dengan pasti bahwa kamu sudah kalah, dan yang tersisa cuma menentukan seberapa buruk.

Aku mengenali momen itu waktu Bu Wulan membuka halaman tujuh, lalu halaman delapan, lalu menutup dokumennya dan meletakkannya di meja tanpa suara.

“Ayana.”

“Iya, Bu.”

“Ini siapa yang siapkan?”

Aku membuka mulut.

Dan aku sudah punya jawabannya, karena jawabannya cuma satu dan aku tidak berniat mengarang apa pun. Saya, Bu. Tiga kata. Selesai. Aku akan dimarahi, rapat akan ditunda, dan aku akan menghabiskan sisa semester ini memperbaiki nama yang butuh dua tahun untuk kubangun.

Yang tidak kuperhitungkan adalah bahwa pintu ruang rapat itu terbuka.

“Permisi, Bu.”

Seluruh ruangan menoleh.

Dia berdiri di ambang pintu dengan seragam yang rapi dan tangan yang kosong, dan sesuatu di dadaku jatuh sebelum otakku sempat memahami kenapa.

“Ini rapat, Nak,” kata Bu Wulan.

Dan aku ingat berpikir, dalam sepersekian detik yang sama sekali tidak berguna: dia nggak bawa apa-apa.

Bukan map. Bukan berkas. Bukan surat izin dari guru mana pun.

Orang yang datang menyela rapat yayasan biasanya membawa sesuatu — itu yang membuat mereka punya alasan berada di sana. Dia tidak. Dia cuma berdiri di ambang pintu dengan tangan kosong, dan itu artinya dia tidak menyiapkan apa pun, dan itu artinya dia memutuskan ini di jalan.

“Iya, Bu. Maaf.” Dia tidak masuk. Dia berdiri di ambang pintu itu dan berbicara dari sana, dengan suara yang tidak keras sama sekali dan yang entah bagaimana terdengar jelas sampai ujung ruangan. “Saya cuma mau kasih tau. Yang di halaman tujuh itu salah cetak.”

Hening.

“Salah cetak.”

“Iya, Bu.”

“Kamu siapa?”

“Ardev Narasoma. Dua belas IPA tiga.”

“Kamu pengurus OSIS?”

“Bukan, Bu.”

“Terus kenapa kamu—”

“Karena yang ngirim filenya saya.”

Aku berhenti bernapas.

“Hari Selasa malam komputer sekretariat saya benerin,” lanjutnya, sama tenangnya. “Hard disk-nya penuh, jadi saya pindahin file lama ke folder arsip. Waktu saya kembaliin, urutan folder berubah. File versi dua sama versi tiga namanya cuma beda angka di belakang.”

Bendahara yayasan itu melepas kacamatanya.

“Jadi yang salah pilih file kamu?”

“Iya, Pak.”

Tidak.

Kata itu ada di tenggorokanku. Betul-betul ada di sana. Aku merasakannya.

Dan aku tidak mengeluarkannya.

Aku ingin menuliskan di sini bahwa aku tidak sempat, bahwa semuanya terlalu cepat, bahwa aku terlalu kaget. Tapi itu bohong. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa selama satu setengah detik, otakku menghitung — persis seperti yang selalu kulakukan — dan hitungannya menghasilkan satu kalimat yang membuatku ingin menghilang dari muka bumi:

Kalau dia yang salah, aku selamat.

Satu setengah detik.

Lalu aku membuka mulut, dan Bu Wulan sudah bicara duluan.


Dia dimarahi selama enam menit.

Aku menghitungnya. Aku tidak tahu kenapa aku menghitungnya. Mungkin karena kalau aku menghitung, aku tidak harus mendengarkan.

Tapi aku mendengarkan semuanya.

Bahwa dia tidak punya wewenang menyentuh komputer sekretariat. Bahwa niat baik tidak menghapus prosedur. Bahwa kalau semua orang merasa boleh membantu tanpa izin, sekolah ini akan jadi apa. Bahwa ini rapat dengan pihak yayasan, dan bahwa yang barusan terjadi bukan cuma memalukan OSIS tapi memalukan sekolah.

Dan dia berdiri di ambang pintu itu selama enam menit dan berkata “iya, Bu” sebanyak sembilan kali.

Tidak sekali pun dia melihat ke arahku.

Itu bagian yang paling tidak bisa kuterima. Kalau dia melirikku sekali saja — sekali saja — aku bisa membacanya sebagai isyarat, sebagai permintaan, sebagai sesuatu yang membuat semua ini jadi transaksi yang bisa kubalas.

Dia tidak melirik.

Karena ini bukan untukku. Ini cuma sesuatu yang perlu dibereskan, dan dia kebetulan ada di sana, dan dia membereskannya.

“Kamu ngerti kenapa Ibu marah?”

“Ngerti, Bu.”

“Nama kamu siapa tadi?”

“Ardev Narasoma.”

“Ibu catat ya.”

“Iya, Bu.”

Dan Bu Wulan mencatat namanya di sudut kertas, dan dalam tiga detik itu, seluruh tiga tahun kerja keras laki-laki itu untuk tidak terlihat hancur di depan sembilan orang dewasa yang bahkan tidak tahu apa yang mereka baru saja terima.

“Bu,” kataku.

Semua menoleh.

Dan aku bertemu matanya — akhirnya — dan selama sepersekian detik itu, Ardev Narasoma menggeleng.

Sangat kecil. Sekali.

“...Berkas revisinya sudah ada, Bu,” kataku. “Bisa saya cetak ulang dua puluh menit.”

“Ya sudah. Rapat kita tunda sampai jam sebelas.”

Kursi-kursi bergeser. Orang berdiri. Ruangan mencair.

Dan waktu aku menoleh ke pintu, ambang pintu itu sudah kosong.

Aku ingin mencatat satu hal lagi tentang enam menit itu, karena ini yang paling lama kupikirkan sesudahnya.

Dia tidak sekali pun membela diri.

Bukan karena tidak bisa. Aku sudah melihat cara otaknya bekerja — dua belas langkah, satu alasan yang tidak bisa dibantah siapa pun. Kalau dia mau, dia bisa menyusun pembelaan yang membuat semua orang di ruangan itu memaafkannya dalam tiga puluh detik.

Dia tidak melakukannya, karena pembelaan akan memperpanjang pembicaraan.

Dan kalau pembicaraan diperpanjang, seseorang akan mulai bertanya lebih detail.

Dan kalau seseorang bertanya lebih detail, mereka akan sampai ke pertanyaan tentang jam berapa file itu dikirim.

Jadi dia berdiri di sana dan menerima semuanya secepat mungkin, dan berkata “iya, Bu” sembilan kali, karena itu jalan tercepat menuju pintu yang tertutup.

Bahkan waktu dimarahi, dia sedang mengelola sesuatu.


Aku menemukannya di koridor gedung utara, di dekat tangga, sedang berjalan menjauh dengan kecepatan orang yang tidak sedang kabur tapi juga tidak ingin dipanggil.

“Ardev.”

Dia berhenti.

Aku berjalan sampai ke depannya, dan aku baru sadar aku tidak menyiapkan satu kalimat pun.

“Kenapa?” kataku akhirnya.

“Kenapa apa?”

“Kamu tau file-nya bukan kamu yang kirim.”

“Saya benerin komputernya hari Selasa.”

“Iya. Sore. Aku ngirim file jam sebelas malem.” Suaraku naik dan aku tidak bisa menurunkannya. “Kamu udah pulang enam jam sebelumnya.”

Ardev tidak menjawab.

“Kamu ngarang.”

“Saya nggak ngarang. Saya emang mindahin folder arsip.”

“Itu bukan penyebabnya dan kamu tau.”

“Nggak ada yang bisa buktiin itu bukan penyebabnya.”

Dan dia mengatakannya begitu saja — tenang, faktual, seperti orang yang sudah memeriksa seluruh kemungkinan sebelum membuka pintu ruang rapat itu.

Dia sudah menghitungnya.

Sebelum masuk, dia sudah tahu persis alasan apa yang akan dipercaya, alasan apa yang tidak bisa dibantah, dan berapa lama dia harus berdiri di sana.

“Berapa lama kamu mikirinnya?” tanyaku.

Dia mengalihkan pandangan.

“Ardev.”

“Dari koridor sampai pintu.”

“Itu berapa langkah?”

“Dua belas.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Kamu nggak kenal aku,” kataku, dan suaraku pecah di tengah, dan aku benci itu. “Kita ngobrol satu kali. Satu kali, Ardev. Hari Senin. Tentang mikrofon.”

“Iya.”

“Terus kenapa kamu—”

“Karena kamu yang bakal kena.”

Dia mengatakannya seperti menyebutkan cuaca.

“Kalau saya yang kena, saya cuma dicatet namanya.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Kalau kamu yang kena, itu masuk rekam jejak kepengurusan. Yayasan inget. Rekomendasi kuliah lewat sekolah lewat mereka juga.”

Aku menatapnya.

“Kamu mikirin itu?”

“Iya.”

“Dalam dua belas langkah?”

“Iya.”

Dan aku berdiri di koridor gedung utara jam sepuluh lewat dua puluh pagi hari Kamis, di depan seorang laki-laki yang baru saja membakar tiga tahun ketidakterlihatannya untuk seseorang yang baru dia ajak bicara satu kali, dan yang sekarang sedang melihat ke arah tangga karena dia ingin pergi dan terlalu sopan untuk pergi begitu saja.

“Aku harus gimana,” kataku.

“Nggak usah gimana-gimana.”

“Ardev—”

“Udah, saya aja.”

Tiga kata.

Diucapkan tanpa penekanan, tanpa kepahlawanan, tanpa satu pun tanda bahwa dia menyadari kalimat itu punya berat.

Dan dia mengatakannya seperti orang yang sudah mengucapkannya seribu kali.

Karena dia memang sudah mengucapkannya seribu kali. Ke Evan. Ke Dimas. Ke adiknya. Ke ibunya. Ke setiap orang di sekolah ini yang tidak pernah tahu.

“Saya balik ke kelas,” katanya.

Dan dia berbalik, dan mulai menaiki tangga.

Dan aku berdiri di sana dan tidak bisa bergerak, karena ada sesuatu yang baru saja terjadi di dalam dadaku dan aku tahu persis apa itu, dan aku belum siap.


Aku baru menyadari hal terakhir itu setengah jam kemudian, waktu aku kembali ke ruang rapat membawa dua puluh eksemplar yang sudah dicetak ulang.

Di ujung koridor, di dekat jendela, ada seseorang yang bersandar di dinding.

Dimas Anggara. Dengan tas basket di bahu. Dia jelas sudah berdiri di situ cukup lama.

Aku melewatinya. Dia tidak menyapa. Aku juga tidak.

Tapi tepat waktu aku lewat, dia mengangkat tangan dan mengetuk kusen jendela di sebelahnya.

Tiga kali. Pelan.

Aku tidak mengerti.

Aku berhenti dua langkah kemudian dan menoleh, dan Dimas sudah berjalan ke arah berlawanan, dan di ujung koridor sana — di anak tangga paling atas, setengah tertutup dinding, di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun kecuali dari sudut tempatku berdiri — Ardev Narasoma sedang berdiri diam.

Dia mengangkat tangan.

Dan mengetuk railing tangga tiga kali.

Lalu dia pergi.

Dan aku berdiri di koridor itu dengan dua puluh eksemplar proposal di tangan, tidak mengerti apa-apa, dan menangis untuk alasan yang sama sekali tidak bisa kujelaskan.


Rapat selesai jam dua belas lewat. Yayasan menyetujui anggaran dengan dua catatan kecil. Bu Wulan bahkan tersenyum di akhir.

Anita menungguku di luar.

Dia tidak bertanya apa-apa. Dia cuma berjalan di sebelahku sampai ke sekretariat, menutup pintu, menarik kursi, dan duduk menghadapku.

“Cerita.”

Aku cerita.

Semuanya. Termasuk bagian yang paling tidak ingin kuceritakan — satu setengah detik itu, dan apa yang otakku hitung di dalamnya.

Anita mendengarkan sampai selesai tanpa memotong sekali pun.

“Nit,” kataku akhirnya. “Aku diem.”

“Iya.”

“Aku bisa ngomong dan aku diem.”

“Iya.”

“Kamu nggak mau bilang apa-apa?”

Anita menyandarkan punggungnya.

“Ay, kalau kamu ngomong waktu itu, dua hal terjadi.” Dia mengangkat satu jari. “Satu, kamu kena. Rekam jejak kepengurusan, rekomendasi yayasan, semuanya.” Jari kedua. “Dua, dia kena juga. Karena dia udah bilang ke sembilan orang dewasa bahwa dia yang salah, dan kalau kamu bantah, artinya dia bohong di depan rapat.”

Aku membuka mulut.

Dan menutupnya.

“Dia nggak ngasih kamu pilihan,” kata Anita. “Dia nutup pintunya dari luar.”

“Itu lebih parah.”

“Iya,” katanya. “Itu jauh lebih parah.”

Kami diam beberapa saat. Kipas angin berdehem.

“Nit.”

“Hm.”

“Dia dicatet namanya.”

“Aku tau. Aku ada di ruangan itu.”

“Bu Wulan bakal lapor ke wali kelasnya.”

“Kemungkinan besar iya.”

Aku menatap tanganku di atas meja.

“Anak yang tiga tahun ngerjain semua ini tanpa nama,” kataku, “dan satu-satunya kali namanya dicatet di sekolah ini adalah waktu dia dimarahin buat kesalahan yang bukan dia.”

Anita tidak menjawab.

Dia berdiri, mengambil map dari rak, dan meletakkannya di depanku. Notulen rapat. Yang dia tulis sendiri tadi, kata per kata, seperti selalu.

“Aku catet semuanya,” katanya. “Termasuk jam berapa dia masuk dan jam berapa dia keluar.”

“Buat apa?”

“Belum tau.” Anita menutup map itu. “Tapi aku nggak suka kalau catetan tentang orang cuma ada satu versi.”


Aku pulang jam lima sore dan tidak langsung masuk rumah.

Aku duduk di kursi taman depan, di bawah pohon yang ditanam Mama tujuh tahun lalu dan tidak pernah dia lihat lagi sejak itu, dan aku memikirkan hal yang sudah kutahu sejak jam sepuluh lewat dua puluh pagi tadi tapi belum berani kusebut namanya.

Aku sudah menghitung.

Aku menghitung persis seperti dia — kapan tepatnya, di detik yang mana.

Bukan waktu dia membuka pintu ruang rapat. Itu keberanian, dan keberanian bisa membuat siapa saja terkesan.

Bukan juga waktu dia berdiri enam menit dan berkata “iya, Bu” sembilan kali.

Tapi waktu dia berbalik di koridor, setelah semuanya selesai, setelah dia tidak mendapat apa pun, dan berkata udah, saya aja — dengan nada orang yang sudah mengucapkannya seribu kali, kepada orang-orang yang tidak pernah menghitungnya.

Di situ.

Dan aku duduk di kursi taman itu sampai gelap, dengan seragam yang belum diganti, dan menyadari bahwa aku baru saja jatuh cinta pada seseorang yang kutahu namanya sejak empat hari lalu.

Dan bahwa dia, kemungkinan besar, sudah lupa aku pernah berdiri di aula itu memegangi mejanya.