← Nomor Tiga

Chapter Twenty Two

Di Depan Semua Orang

POV: Ardev

Ada satu hal yang tidak pernah kuantisipasi dari punya pacar, dan itu bukan hal yang biasanya orang khawatirkan.

Bukan waktu. Waktu sudah kuhitung sejak awal.

Bukan uang, karena Ayana tidak pernah sekali pun menempatkanku di situasi di mana aku harus membayar sesuatu yang tidak sanggup kubayar — dan aku sudah lama sadar bahwa itu bukan kebetulan, melainkan hasil kerja seseorang yang berpikir keras di belakang layar.

Yang tidak kuantisipasi adalah bahwa aku akan jadi bodoh.

Bukan kiasan. Bodoh secara harfiah, dalam arti bahwa fungsi kognitif dasarku berhenti bekerja selama beberapa detik, di waktu yang tidak bisa kuprediksi, karena hal-hal yang sama sekali tidak penting.


Kejadian pertama yang bisa kucatat berlangsung hari Rabu jam setengah lima sore di sekretariat OSIS.

Aku sedang menjelaskan hasil pemeriksaan instalasi listrik aula — sungguhan menjelaskan, dengan catatan di tangan, karena Anita memintanya sebagai lampiran laporan.

“Yang perlu diganti tahun depan itu tiga. Panel utama masih aman, tapi MCB yang di sayap kiri udah—”

Dan Ayana, yang duduk di seberang meja mengetik notulen, menarik ikat rambutnya.

Bukan gerakan besar. Dia cuma mengangkat kedua tangan ke belakang kepala, menarik karetnya, dan menggeleng sekali supaya rambutnya turun.

Lalu dia menyelipkan karet itu ke pergelangan tangannya dan melanjutkan mengetik.

Total durasi: mungkin dua detik.

“—yang di sayap kiri udah.”

Hening.

“Udah apa?” tanya Anita, tanpa mengangkat kepala dari laptopnya.

“...Udah.”

“Udah apa, Ardev.”

Aku menatap catatanku dan menemukan bahwa aku sedang menatap catatan yang benar tapi tidak bisa membacanya.

“Sebentar.”

Bunyi ketikan berhenti.

Aku mengangkat kepala, dan Ayana sedang menatapku, dan dia sudah tahu.

Dia tidak berkata apa-apa. Dia cuma mengangkat alis sedikit — sedikit sekali, mungkin dua milimeter — dan itu sepenuhnya menghancurkan sisa kalimatku.

“MCB-nya udah tua,” kataku akhirnya. “Perlu diganti.”

“Tadi kamu udah bilang.”

“Iya.”

“Dua kali.”

“Iya.”

Dan Anita Wijayakusuma — yang tidak mengangkat kepalanya sekali pun sepanjang kejadian itu — mengetik satu baris di laptopnya dan berkata, dengan suara paling datar di dunia:

“Aku tulis ‘MCB sayap kiri perlu diganti’. Sekali aja.”


Yang tidak kuceritakan tentang sore itu adalah apa yang terjadi setelah Anita pulang.

Ayana masih di sekretariat, menyelesaikan notulen. Aku masih di sana karena panel listrik sayap kiri belum selesai kuperiksa dan karena — aku akan jujur — aku sedang mencari alasan untuk tidak pulang.

“Dev.”

“Hm.”

“Kamu tadi kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Dev.”

Aku menutup buku catatan.

“Rambut kamu,” kataku.

Bunyi ketikan berhenti sepenuhnya.

“Apa?”

Dan aku sudah menyesalinya sebelum kalimat itu selesai, tapi kalimat yang sudah keluar tidak bisa dimasukkan kembali, jadi aku melanjutkan.

“Kamu buka ikat rambut. Terus saya lupa kalimat saya.”

Ayana menatapku dari balik laptopnya.

“Kamu ngomong gitu ke aku?”

“Kamu nanya.”

“Iya, tapi—” Dia menutup laptopnya. “Kamu ngomong gitu ke aku.”

“Saya nggak akan ulangin.”

“Ulangin.”

“Ayana.”

“ULANGIN, DEV.”

Dan aku mengambil tasku dan pergi dari ruangan itu dengan kecepatan yang tidak sopan, dan aku bisa mendengar dia tertawa sampai ujung koridor, dan aku tidak menoleh sekali pun karena aku tahu persis seperti apa wajahku saat itu.


Kejadian kedua lebih memalukan dan aku tidak akan menceritakannya secara lengkap.

Ringkasnya: hari Jumat, aula, tangga lipat, dan Ayana yang mengangkat tangan untuk menyerahkan obeng ke atas. Lengan seragamnya tersingkap sedikit ke arah siku.

Dan aku menjatuhkan obeng yang sudah ada di tanganku.

Dari tiga meter.

“DEV—”

“Nggak kena.”

“ITU JATUH DEKET KAKI AKU.”

“Nggak kena, kan?”

“Kamu kenapa sih hari ini?”

Dan aku berdiri di atas tangga lipat itu dan tidak menjawab, karena jawabannya adalah saya juga nggak tau, dan karena jawaban itu tidak akan membuat siapa pun merasa lebih baik.


Aku ingin mencatat sesuatu di sini, karena kalau tidak kucatat sekarang aku akan berpura-pura tidak terjadi.

Selama tiga minggu pertama, aku menjelaskan semua ini sebagai gangguan.

Itu kata yang kupakai di kepalaku. Gangguan. Sesuatu yang mengurangi efisiensi, yang perlu dikelola, yang akan mereda seiring waktu seperti semua hal lain.

Minggu keempat aku berhenti memakai kata itu.

Yang mengubahnya bukan hal besar. Yang mengubahnya adalah hari Selasa sore, waktu aku sedang menunggu angkutan di halte dan menemukan diriku sedang menghitung — bukan uang, bukan waktu — tapi berapa hari lagi sampai Sabtu depan, karena Sabtu depan gudang libur dan itu artinya ada satu hari yang tidak terpakai.

Aku berdiri di halte itu dan menyadari apa yang baru saja terjadi di kepalaku.

Selama tiga tahun, hari kosong artinya hari untuk mengejar ketertinggalan. Cuci, setrika, benerin apa pun yang rusak di rumah, tidur.

Dan hari itu, tanpa kuizinkan, otakku mengalokasikannya ke orang lain.

Aku menghela napas panjang di halte itu.

Lalu aku mengakuinya, sekali, di dalam kepalaku sendiri, dengan kalimat yang paling lengkap yang bisa kususun:

Aku suka sama dia.

Bukan “ada yang aneh”. Bukan “ini akan mereda”.

Aku suka sama dia, dan itu bukan sesuatu yang bisa dihitung, dan aku tidak akan mencoba menghitungnya lagi.

Angkutan datang. Aku naik.

Dan aku merasa jauh lebih ringan sepanjang jalan pulang, dengan cara yang tidak masuk akal untuk orang yang baru saja kehilangan satu-satunya alat yang dia percaya.


Yang terjadi hari Kamis mengubah semuanya lagi, dan kali ini bukan hal yang menyenangkan.

Aku sedang di koridor lantai satu, di depan ruang fotokopi, menunggu berkas laporan yang sedang digandakan.

Dan dua orang perempuan berdiri di sisi lain mesin, membelakangiku, tidak menyadari ada orang di sana.

“—kasihan juga sih sebenernya.”

“Siapa? Ayana?”

“Iya lah. Bayangin, dia harus ngerti terus. Cowoknya nggak bisa ini, nggak bisa itu.”

“Ya kan dia yang milih.”

“Iya, tapi kan cewek juga capek. Nanti juga bosen.”

“Bentar lagi paling.”

Aku berdiri di depan mesin fotokopi dengan kertas di tangan.

Dan aku ingin mencatat dengan jujur apa yang terjadi di kepalaku selama enam detik berikutnya, karena kalau tidak, ini akan terdengar lebih heroik daripada yang sebenarnya.

Enam detik itu isinya bukan pembelaan.

Isinya adalah aku memeriksa ulang hitunganku, seperti orang yang mengecek soal setelah diberi tahu jawabannya salah — kecuali bahwa aku tidak diberi tahu jawabannya salah. Aku diberi tahu jawabannya sama dengan punyaku.

Nanti juga bosen.

Bentar lagi paling.

Itu bukan hinaan buatku. Itu konfirmasi.

Dan itu yang paling buruk: bahwa bagian dari diriku, bagian yang sudah tiga tahun bekerja tanpa lelah menyusun perkiraan tentang segala hal, benar-benar merasa lega.

Karena kalau orang lain juga menghitung hal yang sama, artinya hitunganku benar.

Artinya aku tidak sedang bersikap buruk terhadap diri sendiri. Aku sedang realistis.

Dan aku berdiri di depan mesin fotokopi itu dan menyadari, untuk pertama kalinya seumur hidup, betapa nyamannya keyakinan itu.

Betapa mudahnya.

Kalau aku sudah tahu dia akan pergi, aku tidak perlu takut. Aku tinggal menunggu, dan menyiapkan wajah, dan waktu harinya datang aku akan mengangguk dan bilang tidak apa-apa dan sungguh-sungguh merasa tidak apa-apa.

Aku sudah menyiapkan diri untuk kalah, dan itu terasa seperti kekuatan.

Padahal itu cuma menyerah yang dipasang lebih awal.

Dan hal pertama yang kurasakan bukan marah.

Hal pertama yang kurasakan adalah pengakuan.

Karena itu persis — persis sampai ke kata-katanya — apa yang sudah kutuliskan di kepalaku sendiri sejak bulan pertama. Aku sudah menyusun kalimat itu berkali-kali dalam versiku sendiri. Aku sudah menghitung berapa bulan. Aku bahkan sudah memutuskan bagaimana aku akan bereaksi supaya tidak memberatkan siapa pun.

Kedua perempuan itu mengambil hasil fotokopi mereka dan pergi tanpa pernah menoleh ke belakang.

Dan aku berdiri di sana selama mungkin satu menit.


Aku menemukannya di koridor gedung utara jam setengah dua.

Dan begitu aku melihatnya, aku tahu dia sudah dengar.

Bukan dari wajahnya — wajahnya sempurna; dia sedang berjalan dengan Bimo sambil membahas jadwal ruangan dengan nada normal. Dari bahunya. Bahu Ayana naik setengah sentimeter kalau dia sedang menahan sesuatu, dan aku sudah tiga bulan mencatat hal-hal seperti itu tanpa berniat mencatat.

Dia melihatku. Tersenyum.

“Dev. Kamu udah makan?”

Dan itu konfirmasinya. Karena dia bertanya duluan, dan Ayana bertanya duluan hanya kalau dia sedang tidak ingin ditanya balik.

Aku berdiri di depannya di koridor lantai dua jam setengah dua siang.

Ada — aku menghitungnya kemudian, karena aku memang menghitung hal-hal seperti itu — sekitar tiga puluh orang di koridor itu. Anak kelas sepuluh yang baru keluar dari kelas, dua guru di ujung, sekelompok anak IPS di dekat tangga.

Dan aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan.

Aku mengulurkan tangan dan mengambil tangannya.

Ayana berhenti berjalan.

Betul-betul berhenti — satu kaki masih di depan, seperti orang yang di-pause.

“Dev.”

“Iya.”

“Kamu—”

“Iya.”

“Ada tiga puluh orang.”

“Tiga puluh dua.”

Dan dia menatapku, dan aku bisa melihat dia sedang mencoba memutuskan apakah harus tertawa atau menangis, dan gagal memilih.

“Kenapa?” tanyanya, sangat pelan.

Dan aku ingin menjelaskan.

Aku ingin menjelaskan bahwa aku mendengar dua orang di depan mesin fotokopi mengucapkan hal yang sudah kutulis sendiri di kepalaku berbulan-bulan, dan bahwa yang membuatku berdiri di sana selama satu menit bukan karena mereka menghinaku.

Tapi karena aku tiba-tiba menyadari bahwa selama ini, tanpa pernah kuucapkan, aku sedang bersiap. Aku sedang menyiapkan diri untuk hari di mana dia bosan. Aku sudah menyiapkan reaksinya. Aku sudah memutuskan bagaimana caranya melepaskan supaya dia tidak repot.

Dan bahwa bersiap untuk kehilangan seseorang, setiap hari, diam-diam, sambil orang itu masih ada di depanmu — itu juga bentuk pengkhianatan.

Aku tidak bisa menjelaskan semua itu di koridor lantai dua.

Jadi yang kukatakan adalah:

“Nggak apa-apa. Cuma pengen.”

Dan Ayana Kusumaningrat, di depan tiga puluh dua orang, mengeratkan genggamannya sampai jariku sakit dan tidak berkata apa-apa selama sisa koridor itu.


Kami sampai di ujung tangga dan dia belum melepaskan.

“Dev.”

“Hm.”

“Kelas aku ke kiri.”

“Iya.”

“Kamu ke kanan.”

“Iya.”

Dia tidak bergerak.

“Ayana.”

“Bentar.”

Dan dia berdiri di sana memegangi tanganku di ujung koridor sambil menunduk, dan aku melihat bahunya bergerak sekali, dan aku baru sadar bahwa dia sedang menangis dengan sangat pelan supaya tidak ada yang tahu.

“Ay.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Kamu denger yang di fotokopi.”

Dia mengangkat kepala terlalu cepat.

“Kamu juga denger?”

“Iya.”

“Kapan?”

“Jam setengah satu.”

Dan dia menutup matanya dan tertawa — bunyinya salah, patah — dan berkata:

“Aku jam dua belas.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Dev, aku nggak—”

“Saya tau.”

“Aku nggak akan bosen.”

“Saya tau.”

“Kamu bohong.”

Dan aku diam, karena dia benar, dan karena berbohong tentang itu di ujung koridor akan lebih buruk daripada apa pun.

Ayana menarik napas dan menghapus wajahnya dengan lengan seragamnya.

“Ya udah,” katanya. “Kita ributnya nanti aja.”

“Oke.”

“Sekarang aku masuk kelas.”

“Oke.”

Dan dia melepaskan tanganku, dan berjalan tiga langkah, lalu berbalik.

“Dev.”

“Hm?”

“Makasih ya udah pegang duluan.”

Dan dia masuk kelas.


Yang belum kuceritakan adalah bahwa dua puluh menit kemudian, di kelas, ponselku bergetar.

EVAN: DEV EVAN: DEVVVV EVAN: GUE DENGER DARI 4 ORANG EVAN: 4 ORANG DEV EVAN: DALEM 20 MENIT

Van, gue lagi di kelas.

EVAN: LO PEGANG TANGAN DULUAN EVAN: DI KORIDOR EVAN: LO

Iya.

EVAN: GUE BANGGA BANGET EVAN: gue nangis EVAN: bukan bohong gue beneran nangis dikit

Dan tiga menit kemudian, dari nomor yang jarang sekali mengirim apa pun:

DIMAS: bagus

Cuma itu.

Aku menatap layar itu di bawah meja dengan Pak Hendra menjelaskan momentum di depan kelas, dan aku menyimpan ponselku, dan aku tidak bisa menghilangkan sesuatu dari wajahku sampai jam pelajaran selesai.

Anak di sebelahku — yang tidak pernah bicara denganku selama dua tahun — menoleh dan bertanya kenapa.

Dan aku bilang tidak apa-apa.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, kalimat itu benar.


Malamnya, di rumah, Kayla menghadangku di dapur.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi?”

“Nggak senyum.”

“Dari tadi lho.” Dia bersandar di kusen dengan tangan dilipat. “Waktu nyuci piring juga. Waktu naruh galon juga.”

“Kay.”

“Aku cuma lapor.”

“Lapor ke siapa?”

“Ke Kakak.” Dia mengangkat bahu. “Kan Kakak nggak tau.”

Aku menutup keran dan menoleh ke arahnya.

Sembilan tahun. Berdiri di dapur rumah petak dengan piyama yang lengannya sudah pendek, mengawasi kakaknya seperti orang yang sedang mengumpulkan bukti.

“Kay.”

“Iya?”

“Kalau ada orang baik ke kita, itu artinya apa?”

Dia mengerutkan kening. “Kakak yang nanya itu bulan kemarin.”

“Iya. Sekarang aku nanya lagi.”

“Jawaban Kakak jelek.”

“Iya. Aku tau.” Aku menyandarkan pinggang ke bak cuci. “Jadi sekarang aku nanya kamu.”

Kayla berpikir. Betul-betul berpikir — dia menatap langit-langit dapur selama beberapa detik dengan wajah yang sangat serius.

“Artinya kita boleh nggak takut,” katanya.

Aku menatapnya.

“Itu aja?”

“Ya iya.” Dia sudah berbalik ke arah kamar. “Kalau orang baik terus kita takut, capek dua-duanya.”

Dan dia masuk ke kamar, dan aku berdiri di dapur itu dengan tangan basah untuk waktu yang cukup lama.