← Nomor Tiga

Chapter Forty

Tolong

POV: Ayana

Kayla mengirim pesan jam dua lewat empat puluh pagi.

KAYLA: Kak Ayana

KAYLA: Kak Ayana masih bangun ga

Aku bangun. Aku memang bangun. Aku sudah tidak tidur benar sejak dua minggu.

Masih. Kenapa Kay?

KAYLA: Ibu operasi besok jam 10

Iya, Kakak tau.

KAYLA: Kak Ardev di koridor

KAYLA: dari jam 12

KAYLA: dia nggak tidur

KAYLA: aku pura2 tidur tapi aku liat

Aku duduk di tempat tidurku dan menatap layar itu.

KAYLA: Kak Ayana

KAYLA: aku nggak tau harus gimana

Dan aku sudah berdiri sebelum pesan berikutnya masuk.

KAYLA: Kakak bisa dateng ga


Aku sampai jam tiga lewat sepuluh.

Aku memesan taksi online dari kamarku dan turun lewat pintu belakang dan menulis satu pesan untuk Mbak Yati yang kutempelkan di kulkas, dan tidak ada satu pun orang di rumah sebelas jendela itu yang tahu bahwa aku pergi.

Rumah sakit jam tiga pagi punya bunyi sendiri.

Tidak sepi. Justru sebaliknya — mesin, lampu neon yang mendengung, roda brankar di lantai jauh, seseorang batuk di ruangan yang tidak kelihatan.

Tapi koridornya kosong.

Dan di ujung koridor lantai tiga, di depan ruang rawat 312, ada seseorang duduk di lantai.

Bukan di kursi tunggu. Kursi tunggu ada empat meter dari situ dan semuanya kosong.

Di lantai. Dengan punggung ke tembok dan lutut ditekuk dan kedua tangan di atas lutut.

Aku berjalan pelan-pelan.

Dia tidak mendengar sampai aku tiga meter darinya.

“Dev.”

Dan Ardev Narasoma mengangkat kepalanya.


Aku tidak akan mendeskripsikan wajahnya.

Aku sudah mencoba menuliskannya beberapa kali dan setiap kali hasilnya salah, karena bahasa punya kata untuk sedih dan capek dan takut dan tidak punya satu pun kata untuk apa yang kulihat di koridor lantai tiga jam tiga lewat sepuluh pagi itu.

Yang bisa kutuliskan cuma ini: bahwa dia tidak berusaha menyembunyikannya.

Itu bagian yang membuatku harus berhenti berjalan.

Karena selama tujuh bulan, tidak sekali pun — sekali pun — aku melihat wajah laki-laki itu tanpa lapisan.

“Ay.”

“Hai.”

“Kamu ngapain di sini?”

“Kayla.”

Dia menutup matanya. “Ya ampun.”

“Jangan marahin dia.”

“Saya nggak akan marahin dia.”

Dan aku duduk di lantai koridor di sebelahnya, dengan punggung ke tembok yang sama, dan tidak berkata apa-apa selama beberapa menit.


“Jam berapa?” tanyaku akhirnya.

“Sepuluh.”

“Berapa lama?”

“Empat sampai lima jam. Katanya.”

“Kamu udah tanda tangan semuanya?”

“Udah.”

“Kamu udah makan?”

Dan dia mengeluarkan bunyi lewat hidung — bukan tawa, tapi hampir.

“Kenapa?” kataku.

“Nggak apa-apa.” Dia menyandarkan kepalanya ke tembok. “Itu kalimat saya.”

“Iya.”

“Kamu curi.”

“Aku pinjem.”

Dan kami duduk di situ, dan koridor itu mendengung, dan seseorang di ujung sana mendorong troli.

“Ay.”

“Hm.”

“Besok saya nggak bisa di sini seharian.”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Kayla sekolah jam tujuh. Rey harus dianter ke Bu Sri jam setengah tujuh.” Dia menatap lurus ke depan. “Terus jam delapan ada berkas yang harus diambil di lantai satu, terus jam sembilan ada satu lagi di administrasi, terus—”

“Dev.”

“—terus jam dua Kayla pulang dan nggak ada yang jemput, terus jam empat Rey—”

“Dev.”

“—dan operasinya jam sepuluh sampai jam tiga, dan saya harus ada di sini pas dokternya keluar—”

“DEV.”

Dia berhenti.

Dan aku melihat tangannya, dan tangannya gemetar, dan bukan gemetar biasa; gemetar yang membuat lengannya ikut bergerak.

“Kamu nggak bisa,” kataku.

“Bisa.”

“Dev, kamu nggak bisa ada di lima tempat sekaligus.”

“Saya udah susun urutannya—”

“Kamu nggak bisa.”

Dan Ardev Narasoma menoleh ke arahku di lantai koridor rumah sakit jam tiga lewat dua puluh pagi, dan wajahnya adalah wajah orang yang sudah tahu itu sejak jam dua belas malam.


“Ay.”

“Iya.”

“Boleh saya nanya sesuatu?”

“Boleh.”

Dan dia membuka mulutnya.

Dan tidak ada yang keluar.

Aku menunggu.

Dia mencoba lagi. Aku melihatnya — rahangnya bergerak, napasnya masuk, dan berhenti.

“Dev.”

“Sebentar.”

“Nggak apa-apa.”

“Sebentar, Ay.”

Dan aku duduk di lantai itu dan menyaksikan seorang laki-laki berumur tujuh belas tahun mencoba mengucapkan satu kata selama hampir dua menit penuh.

Dua menit.

Dan pada menit kedua, dia menyerah, dan yang keluar dari mulutnya adalah:

“Nggak jadi.”


Dan di situ sesuatu di dalam diriku patah.

Bukan sedih. Aku sudah kehabisan sedih tiga minggu lalu.

Yang patah adalah kesabaran yang sudah kupelihara sejak bulan Oktober — kesabaran yang kusebut menghormati, yang kubanggakan, yang membuatku memutuskan bahwa aku tidak akan pernah menagih apa pun dari laki-laki ini.

Tujuh bulan aku menunggu di depan pintu yang selalu ditutup dengan sopan.

Dan malam itu aku berhenti menunggu.

“Enggak,” kataku.

Dia menoleh.

“Kamu nggak boleh bilang nggak jadi.”

“Ay—”

“Aku duduk di lantai rumah sakit jam setengah empat pagi, Dev.” Suaraku naik dan aku tidak menahannya. “Aku nggak akan pulang sampai kamu selesain kalimat kamu.”

“Ayana, ini bukan waktunya—”

“INI PERSIS WAKTUNYA.”

Dan bunyi suaraku memantul di koridor kosong itu, dan seorang perawat di ujung sana menoleh, dan aku tidak peduli sama sekali.


“Kamu tau nggak,” kataku, dan suaraku sudah pelan lagi, “aku udah tujuh bulan sama kamu.”

Dia tidak menjawab.

“Tujuh bulan. Dan aku udah ngitung.” Aku menatap lantai. “Kamu udah ngasih aku empat puluh tiga catetan tulisan tangan. Kamu udah benerin lampu taman rumah aku dari luar pagar. Kamu udah nutupin kesalahan aku di depan sembilan orang dewasa dan kamu bakar tiga tahun kerja keras kamu buat itu.”

“Ay.”

“Kamu udah jalan satu koma delapan kilo jam sepuluh malem cuma karena Keisha ngirim pesen.”

Aku menoleh ke arahnya.

“Dan dalam tujuh bulan itu, kamu nggak pernah minta apa-apa dari aku. Sekali pun.”

“Saya nggak butuh—”

“Kamu BUTUH, Dev.”

Dan aku menunjuk ke arah tangannya yang masih gemetar.

“Kamu butuh sekarang, malem ini, dan kamu duduk di lantai koridor selama tiga setengah jam nyusun jadwal yang kamu sendiri tau nggak mungkin.”

Dia menunduk.

“Aku nggak minta kamu balik jadi pacar aku,” kataku. “Aku udah nggak mikirin itu dari sebulan lalu.”

“Terus kamu minta apa?”

Dan aku berkata:

“Aku minta kamu bilang satu kata.”


Dia tahu kata apa.

Aku tidak perlu mengucapkannya. Aku melihat di wajahnya bahwa dia tahu — dan aku melihat sesuatu yang lain juga, sesuatu yang membuatku hampir menyerah.

Takut.

Bukan malu. Bukan gengsi.

Takut.

“Ay.”

“Iya.”

“Kamu nggak ngerti.”

“Aku ngerti.”

“Enggak.” Dia menggeleng, dan suaranya berubah. “Kamu nggak ngerti.”

“Jelasin.”

Dan Ardev Narasoma duduk di lantai koridor lantai tiga dan berkata:

“Kalau saya minta, terus nggak dikasih, saya nggak apa-apa. Saya udah biasa.”

Dia menatap tangannya.

“Tapi kalau saya minta, terus dikasih—”

Dia berhenti.

“Terus apa?” kataku.

Dan dia berkata, sangat pelan:

“Terus saya harus percaya.”


Aku menutup mulutku dengan tangan.

Karena akhirnya, setelah tujuh bulan, aku mengerti.

Dia bukan tidak mau menerima.

Dia tidak sanggup mempercayai bahwa ada orang yang akan tetap ada setelah dia bergantung.

Karena satu-satunya orang yang pernah dia mintai tolong dalam hidupnya — satu-satunya kali dia pernah bilang “nanti” kepada seseorang — tidak pernah kembali.

“Dev.”

“Hm.”

“Bapak kamu nggak pergi karena kamu bilang nanti.”

Dan seluruh tubuhnya berhenti bergerak.

“Ay—”

“Aku tau kamu udah baca semua artikel soal serangan jantung.” Suaraku pecah. “Kamu bilang sendiri di atap, bulan Desember. Kamu bilang kamu baca sampai hafal.”

Dia tidak bergerak.

“Tapi kamu tetep nggak percaya.”

Dan aku menoleh ke arahnya dan berkata:

“Tujuh tahun, Dev. Kamu udah tujuh tahun ngebayar sesuatu yang bukan utang kamu.”


Dia menangis.

Aku tidak akan menuliskan detailnya, karena itu bukan milikku untuk dituliskan, dan karena ada hal-hal yang harus tetap jadi milik orang yang mengalaminya.

Yang bisa kutuliskan cuma ini: bahwa itu berlangsung lama, dan bahwa dia tidak menutupi wajahnya, dan bahwa aku tidak menyentuhnya sama sekali sampai dia selesai.

Karena aku sudah belajar sesuatu dari Dimas Anggara.

Kadang yang kamu berikan bukan pelukan.

Kadang yang kamu berikan cuma satu ruangan di dunia ini di mana orang boleh hancur tanpa harus menjelaskan apa pun.


Jam empat kurang seperempat, dia bicara lagi.

“Ay.”

“Iya.”

Dan dia menarik napas.

Dan Ardev Narasoma — yang tidak pernah mengucapkannya kepada siapa pun, tidak kepada ayahnya, tidak kepada ibunya, tidak kepada dua orang yang mengenalnya sepuluh tahun — berkata:

“Tolong.”


Satu kata.

Pelan sekali. Hampir tidak terdengar di atas dengung lampu neon.

Dan aku duduk di lantai koridor itu dan tidak langsung menjawab, karena kalau aku menjawab terlalu cepat aku akan menangis, dan malam itu bukan malamku untuk menangis.

“Iya,” kataku.

“Ay, besok—”

“Iya.”

“Kayla jam dua—”

“Dev.”

Dan dia berhenti.

“Sekarang giliran kamu yang diselamatin,” kataku.


Yang terjadi selama empat puluh menit berikutnya adalah hal paling praktis yang pernah kulakukan seumur hidupku.

Aku mengeluarkan ponselku dan membuka grup dan mengetik pada jam empat pagi.

Aku di RS. Ardev minta tolong.

Dan tiga huruf itu — minta tolong — melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

ANITA: Aku bangun.

Empat detik.

DIMAS: gue juga

EVAN: GUE UDAH DI JALAN

ANITA: Van kamu belum tau ke mana

EVAN: GUE TETEP UDAH DI JALAN

KEISHA: aku bangun

KEISHA: aku nangis dulu ya bentar

KEISHA: oke udah

KEISHA: aku bisa apa

Dan Anita Wijayakusuma, dalam waktu sebelas menit, menyusun jadwal.

Rey ke Bu Sri jam setengah tujuh: Dimas, karena rumahnya paling dekat halte.

Kayla ke sekolah jam tujuh dan dijemput jam dua: Keisha, yang tidak punya jadwal hari itu dan yang bersumpah tiga kali bahwa dia tidak akan menyetir sendiri.

Berkas lantai satu jam delapan dan administrasi jam sembilan: Evan, yang sudah hafal enam kantor dan yang mengetik “GUE UDAH PUNYA MAPNYA” dengan huruf besar semua.

Loket dan komunikasi dokter: Anita.

Dan di koridor lantai tiga, dari jam sepuluh sampai jam tiga: Ardev.

Cuma Ardev.

“Itu tugas kamu,” kata Anita lewat telepon, jam empat lewat dua puluh, dengan suara orang yang baru bangun dan yang sama sekali tidak terdengar seperti orang yang baru bangun. “Kamu duduk di situ dan kamu nunggu. Itu aja.”

“Nit, saya bisa bantu yang—”

“Ardev.”

“Iya?”

Dan Anita berkata:

“Kamu udah minta tolong. Sekarang diem.”


Jam lima kurang, koridor itu mulai terang di ujung sana.

Kami masih duduk di lantai.

“Ay.”

“Hm.”

“Saya minta maaf.”

“Buat apa?”

“Buat semuanya.”

Dan aku menoleh, dan berkata, “Nanti aja.”

“Nanti kapan?”

“Nanti pas Ibu kamu udah keluar dari sana.” Aku menyandarkan kepalaku ke tembok. “Kita ributnya nanti. Aku janji kita bakal ribut.”

Dan aku mendengar dia mengeluarkan bunyi lewat hidung lagi.

Hening.

Dan lalu, tanpa peringatan apa pun, dia berkata:

“Aku sayang kamu, Ay.”


Aku tidak bergerak.

Tujuh bulan.

Dua belas kali kuucapkan. Dua belas jawaban yang bukan kalimat itu. Makasih. Hati-hati. Aku juga. Udah makan?

Dan sekarang, di lantai koridor rumah sakit jam lima kurang pagi, dengan lampu neon yang mendengung dan ibunya di balik pintu 312, tanpa diminta, tanpa ditagih.

Aku menoleh ke arahnya.

Dan dia sedang menatap lurus ke depan, dan telinganya merah, dan tangannya masih gemetar.

Dan aku tidak menjawab dengan kalimat yang sama.

Bukan karena tidak mau.

Karena kalimat itu bukan yang dia butuhkan.

“Aku tau,” kataku.

Dia menoleh.

“Dari dulu aku tau.”

Dan aku menatapnya dan berkata:

“Aku cuma nunggu kamu tau.”


Operasinya selesai jam tiga lewat empat puluh.

Lima jam empat puluh menit — lebih lama empat puluh menit dari perkiraan, dan aku menghabiskan empat puluh menit itu duduk di sebelahnya sambil dia tidak bicara sama sekali.

Dokter keluar jam tiga lewat empat puluh dua.

Dan yang beliau katakan, dengan masker masih di leher dan wajah yang lelah:

“Lancar. Tidak ada penyulit.”

Dan Ardev Narasoma berdiri dari kursi tunggu dan mengucapkan terima kasih dan berjabat tangan dan menanyakan tiga pertanyaan lanjutan dengan sangat sopan dan sangat runtut.

Lalu dokter itu pergi.

Dan dia berdiri di koridor itu selama mungkin lima detik.

Lalu kakinya menyerah.

Dan dia duduk di lantai — di lantai, di depan enam kursi tunggu yang kosong — dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Dan lima orang di koridor itu tidak ada yang bicara sama sekali.

Evan yang pertama duduk di lantai di sebelahnya.

Lalu Dimas.

Lalu Keisha, lalu Anita, lalu aku.

Enam orang duduk di lantai koridor lantai tiga rumah sakit umum jam tiga lewat empat puluh lima sore, di depan kursi tunggu yang kosong semua, dan tidak ada satu pun perawat yang menegur kami.


Ada satu hal lagi dari hari itu yang harus kutuliskan.

Jam tujuh malam, waktu Ibu sudah dipindah ke ruang pemulihan dan Kayla sudah dijemput Keisha dan Rey sudah tidur di pangkuan Evan untuk yang kesekian kali, aku duduk sendirian di kursi tunggu dan mengeluarkan ponselku.

Dan aku menggulir ke atas.

Sangat jauh ke atas. Ke bulan Oktober.

Aku sayang kamu.

Makasih.

Dan aku membacanya lagi — dua belas kali, dua belas jawaban yang bukan kalimat itu — dan kali ini aku tidak merasakan apa yang selalu kurasakan.

Karena aku sudah mengerti sekarang.

Makasih bukan penolakan.

Hati-hati bukan penolakan.

Udah makan? bukan penolakan.

Itu semua adalah kalimat yang sama, diucapkan oleh orang yang belum punya izin untuk mengucapkannya dengan benar — izin yang dia tunggu dari dirinya sendiri selama tujuh tahun, dan yang baru dia berikan kepada dirinya sendiri jam lima kurang pagi ini, di lantai koridor, setelah satu kata yang butuh dua menit untuk keluar.

Aku menutup ponselku.

Dan aku tidak menghapus satu pun percakapan itu, dan aku masih menyimpannya sampai sekarang.