Chapter Twenty Nine
Modal Nol
POV: Ayana
Aku tidak pernah suka ulang tahunku sendiri, dan aku tidak pernah bisa menjelaskan kenapa tanpa terdengar seperti orang yang tidak tahu bersyukur.
Ulang tahunku selalu besar. Itu masalahnya.
Tahun lalu ada delapan puluh orang di rumah. Katering dari tempat yang namanya harus dipesan tiga bulan sebelumnya. Papa terbang dari Surabaya pagi dan kembali malam itu juga. Mama memesan bunga yang dikirim dari luar kota.
Aku menghabiskan malam itu berdiri di dekat meja makan, menyalami orang dewasa yang tidak kukenal, dan tersenyum untuk tujuh belas foto.
Dan waktu semuanya selesai jam sebelas dan katering membereskan piring dan Papa naik ke kamar sambil menelepon seseorang, aku duduk di tangga rumahku sendiri dan tidak tahu apa yang barusan terjadi.
Jadi tahun ini aku tidak memberi tahu siapa pun.
Bukan rahasia — tanggalnya ada di data OSIS, siapa pun bisa mencarinya. Aku cuma tidak menyinggungnya.
Dan pada hari Selasa tanggal enam, jam tujuh pagi, aku berangkat sekolah dengan perasaan lega yang aneh karena sepertinya tidak ada yang ingat.
Keisha ingat.
Tentu saja Keisha ingat.
“AYANA KUSUMANINGRAT.”
“Kei—”
“KAMU NGGAK BILANG.”
“Kei, jangan di koridor—”
“KAMU NGGAK BILANG KE AKU.”
Dan seluruh koridor lantai dua menoleh, dan Anita di belakangnya cuma berdiri dengan wajah datar sambil memegang satu kotak kecil yang dibungkus kertas cokelat.
“Nit, kamu juga?”
“Aku inget dari tahun lalu.”
“Kamu nggak bilang apa-apa dari pagi.”
“Aku nunggu Keisha selesai.” Dia menyerahkan kotak itu. “Selamat ulang tahun.”
Isinya pulpen. Satu.
Bukan pulpen mahal — pulpen biasa, hitam, jenis yang dijual di koperasi sekolah, dengan satu perbedaan: di badannya ada tulisan yang diukir dengan alat yang jelas bukan alat profesional.
AYANA — WAKIL KETUA
“Nit.”
“Punya kamu ilang bulan lalu.”
“Ini kamu yang ukir?”
“Iya.”
“Pake apa?”
“Paku.”
Dan aku berdiri di koridor lantai dua sambil memegang pulpen enam ribu rupiah dan hampir menangis di depan tiga puluh orang.
Evan mengirim pesan jam sepuluh pagi.
EVAN: KAK EVAN: JAM 4 SORE JANGAN KE MANA2 EVAN: SERIUS EVAN: JANGAN
Van, aku nggak mau yang gede-gede.
EVAN: udah telat
Van.
EVAN: UDAH TELAT KAK
Dan jam empat sore, di lapangan parkir sekolah, ada mobil boks.
Boks.
“Van.”
“Sabar.”
“Van, itu apa.”
“SABAR.”
Dan pintu boks itu terbuka, dan yang keluar adalah dua orang dengan seragam, dan yang mereka turunkan adalah sebuah piano digital lengkap dengan standar dan kursi.
Aku menatapnya.
Lalu menatap Evan.
“Van.”
“Kamu bilang kamu berhenti les piano kelas sembilan.”
“Aku bilang itu ke Keisha.”
“Iya. Terus Keisha bilang ke aku.” Dia mengangkat kedua tangan seperti orang yang membela diri di pengadilan. “Aku nggak beli yang paling mahal. Sumpah. Aku turun tiga tingkat.”
“Berapa, Van.”
“Nggak sopan nanya harga.”
“BERAPA.”
Dan Anita, dari belakangku, mengucapkan angkanya dengan nada datar seperti biasa.
“Dua puluh empat juta.”
“NIT—”
“Aku liat brosurnya di jok belakang.”
“KENAPA LO SELALU LIAT-LIAT.”
Aku menerimanya.
Aku ingin mencatat itu, karena aku sempat berpikir untuk menolak dan aku memutuskan tidak.
Bukan karena aku ingin pianonya. Karena aku melihat wajah Evan waktu dia mengucapkan “aku turun tiga tingkat”, dan karena aku sudah cukup lama mengenal laki-laki ini untuk tahu bahwa turun tiga tingkat itu adalah usaha terbesar yang pernah dia lakukan seumur hidupnya.
“Makasih, Van.”
“Serius?”
“Serius.”
“Kamu nggak marah?”
“Aku marah.” Aku menepuk lengannya. “Tapi aku terima.”
Dan Evan Bramantyo berdiri di lapangan parkir itu dengan senyum yang lebarnya tidak masuk akal, dan berkata:
“Gue menang.”
“Menang apa?”
“Nggak ada.” Dia sudah berbalik. “Gue cuma menang.”
Ardev tidak mengucapkan apa pun sepanjang hari.
Tidak di koridor pagi. Tidak waktu kami berpapasan jam istirahat. Tidak waktu dia mengangkat kardus di sekretariat jam tiga.
Dan aku bilang pada diriku sendiri, berkali-kali, dengan sungguh-sungguh, bahwa itu tidak apa-apa.
Karena aku sudah tahu bahwa laki-laki ini punya empat ratus dua puluh lima ribu yang harus dibayar dengan dua Sabtu di gudang, dan bahwa ulang tahun adalah hal yang butuh uang, dan bahwa aku lebih memilih dia tidak memberiku apa-apa daripada dia mengambil shift tambahan lagi.
Aku sungguh-sungguh berpikir begitu.
Aku juga sungguh-sungguh sedih.
Keduanya bisa benar sekaligus, ternyata.
Dia mengirim pesan jam setengah tujuh malam.
ARDEV: Kamu di rumah?
Iya.
ARDEV: Saya di depan.
Aku turun dengan kecepatan yang tidak sopan.
Dia berdiri di luar pagar seperti biasa — dan aku baru sadar malam itu bahwa dia tidak pernah sekali pun masuk ke halaman rumahku tanpa diminta, lima bulan, tidak sekali pun.
Dan yang dia bawa cuma satu benda.
Buku tulis. Empat puluh halaman. Sampul cokelat polos, jenis yang dijual seribu lima ratus rupiah di warung, dengan sudut yang sudah sedikit melengkung.
“Selamat ulang tahun.”
Aku mengambilnya.
“Ini apa?”
“Buka aja.”
Aku membukanya di bawah lampu taman, dengan tangan yang mulai tidak stabil bahkan sebelum aku membaca apa pun.
Karena halaman pertama bukan tulisan.
Halaman pertama cuma punya satu baris di paling atas, ditulis dengan huruf yang rapi dan kaku, jenis tulisan orang yang jarang menulis tangan:
CATATAN.
Dan di bawahnya, di tengah halaman yang selebihnya kosong:
3 Agustus – 4 Februari
Aku membalik.
Halaman kedua.
3 Agustus. Jam 17.40. Sekretariat. Ayana ngecek berkas presensi ekskul buat yang keempat kalinya karena ada satu nama yang kelewat. Nggak ada yang tau. Anak yang namanya kelewat juga nggak tau.
Aku mengangkat kepala.
“Dev.”
“Lanjut aja.”
11 Agustus. Jam 07.15. Ayana ngasih kunci sekretariat ke Bimo yang telat, terus ngaku ke Bu Wulan bahwa dia yang telat.
19 Agustus. Upacara. Ayana berdiri di barisan pengurus dengan sepatu yang bagian belakangnya lecet. Dia jalan pincang sampai koridor terus normal lagi begitu ada orang.
2 September. Jam 16.20. Ayana nolak pulang dianter Bimo karena Bimo searah sama tiga anak lain dan mobilnya cuma muat empat.
Aku membalik halaman.
Ada lagi.
Dan lagi.
17 September. Rapat sponsor. Ayana ngomong 24 menit tanpa liat catatan. Sebelumnya dia baca berkas itu di sekretariat sampai jam 8 malem tiga hari berturut-turut.
30 September. Ayana beliin obat sakit kepala buat Anita dari uang sendiri terus bilang itu dapet gratis dari koperasi.
8 Oktober. Ayana nangis di ruang ganti belakang panggung. Nggak ada yang tau kecuali Anita sama Keisha. Saya lewat dan saya nggak masuk karena saya nggak punya hak. Saya nunggu di ujung koridor sampai kalian keluar.
Aku berhenti membaca.
“Dev.”
“Hm.”
“Delapan Oktober.”
“Iya.”
“Kamu nunggu di ujung koridor?”
“Iya.”
“Berapa lama?”
Dan dia menjawab dengan nada paling biasa di dunia.
“Empat puluh menit.”
Ada empat puluh tiga entri.
Aku menghitungnya malam itu, di kamar, dua kali, karena yang pertama aku salah hitung karena tanganku tidak stabil.
Empat puluh tiga.
Dari tanggal tiga Agustus sampai tanggal empat Februari — dua hari sebelum ulang tahunku.
Tulisan tangan. Semuanya. Dengan tanggal, jam, tempat.
Dan tidak ada satu pun di antaranya yang tentang dirinya.
Tidak ada “saya bantu”, tidak ada “saya benerin”, tidak ada satu pun kalimat yang menempatkan dia di dalam kejadian itu selain sebagai orang yang kebetulan melihat.
Halaman terakhir bukan entri.
Halaman terakhir cuma punya empat baris, ditulis dengan tinta yang berbeda, jelas ditulis belakangan.
Ay,
Kamu bilang orang selalu bilang kamu nggak usah dikhawatirin.
Ini bukti bahwa itu salah.
Ada yang ngitung.
Aku menangis di depan pagar rumahku sendiri selama mungkin dua menit.
Ardev berdiri di luar pagar dan tidak tahu harus berbuat apa dan mulai meminta maaf sekitar detik kedua puluh — “maaf, saya nggak maksud bikin—” — dan aku mengangkat tangan supaya dia berhenti dan dia berhenti.
“Dev.”
“Iya.”
“Kamu nulis ini dari Agustus.”
“Iya.”
“Kita jadian bulan Oktober.”
Hening.
“Iya,” katanya.
“Berarti kamu udah nyatetin aku dua bulan sebelum—”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan Ardev Narasoma berdiri di luar pagar rumahku di bawah lampu taman yang dia perbaiki sendiri dan berkata:
“Karena saya nggak bisa ngomong.”
Aku menunggu.
“Saya nggak bisa bilang apa-apa ke kamu waktu itu,” lanjutnya. “Saya nggak punya hak. Jadi saya catet.”
“Kenapa harus dicatet?”
“Karena—” Dia berhenti. Menggosok tengkuknya. “Karena kalau saya nggak catet, saya bakal lupa. Dan kalau saya lupa, artinya nggak ada satu orang pun di dunia yang inget kamu ngerjain hal-hal itu.”
Aku memeluknya dari belakang jam tujuh lewat malam itu, di depan pagar, waktu dia sudah berbalik untuk pulang.
Bukan gerakan yang bagus. Aku menabrak punggungnya dan hampir membuat kami berdua jatuh.
Dia berhenti.
“Ay—”
“Bentar.”
“Ada satpam.”
“Bentar, Dev.”
Dan dia diam, dan berdiri di sana, dan setelah beberapa saat dia meletakkan tangannya di atas tanganku yang melingkar di depan.
“Makasih,” kataku, ke punggungnya.
“Nggak usah makasih. Itu buku seribu lima ratus.”
“Dev.”
“Iya?”
“Kalau kamu bilang harga buku itu sekali lagi aku dorong kamu ke selokan.”
Dan aku merasakan punggungnya bergerak sekali, dan aku tahu itu tawa, walaupun tidak ada bunyinya sama sekali.
Sebelum itu, ada satu hal lagi yang tidak kuceritakan ke siapa pun sampai berbulan-bulan kemudian.
Di dalam buku cokelat itu, terselip di antara halaman dua puluh dan dua puluh satu, ada dua lembar kertas gambar.
Yang pertama dari Kayla. Delapan orang di atas atap, dilihat dari udara, dengan proporsi yang salah dan warna yang tidak sesuai kenyataan. Aku digambar paling tinggi. Di sudut kanan bawah ada tulisan: SELAMAT ULANG TAHUN KAK AYANA DARI KAYLA (10 TAHUN).
Yang kedua dari Rey.
Aku memerlukan waktu cukup lama untuk memahaminya. Bentuknya bulat dengan garis-garis keluar dari semua sisi, dan di tengahnya ada dua titik dan satu garis melengkung.
Di bawahnya, dengan huruf besar yang miring-miring dan jelas ditulis dengan bantuan orang dewasa untuk urutan hurufnya:
KAK AYANA
Aku menoleh ke arah pagar.
“Dev, ini apa?”
“Matahari.”
“Kenapa matahari?”
Dan Ardev berdiri di luar pagar dan menggosok tengkuknya dan berkata, dengan nada orang yang sedang menyampaikan laporan:
“Dia disuruh gambar Kak Ayana. Terus dia gambar itu.”
“Terus?”
“Terus saya tanya kenapa matahari.”
“Dia jawab apa?”
Dan Ardev Narasoma diam sebentar, dan waktu dia menjawab, suaranya sedikit berbeda.
“Dia bilang, ‘Kalau Kak Ayana dateng, terang.’”
Rasen datang jam delapan.
Aku sedang mengantar Ardev ke ujung jalan waktu mobil itu berhenti di depan gerbang, dan aku ingin mencatat dengan jujur bahwa aku tidak merasakan apa pun yang buruk waktu melihatnya.
“Ayana.”
“Kak Rasen.”
“Maaf malem-malem.” Dia turun sambil membawa kotak. “Aku dari acara yayasan, kebetulan lewat. Selamat ulang tahun.”
“Kok Kakak tau?”
“Data pengurus.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Salah satu keuntungan pernah jadi ketua.”
Dan lalu dia melihat siapa yang berdiri di sebelahku.
Dan yang terjadi berikutnya berlangsung selama mungkin dua puluh detik dan aku memikirkannya berkali-kali selama berbulan-bulan sesudahnya.
Rasen mengulurkan tangan.
“Rasendriya.”
“Ardev.”
Mereka berjabat tangan.
“Aku pernah denger nama kamu,” kata Rasen.
“Oh ya?”
“Iya.” Dan Rasen tersenyum — sopan, tenang, tanpa satu pun hal yang bisa kukritik. “Beberapa kali.”
Dan Ardev mengangguk, dan berkata, “Saya duluan ya, Kak. Ada yang harus dijemput.”
“Silakan.”
Dan dia pergi.
Sesederhana itu. Tidak ada ketegangan, tidak ada satu kalimat pun yang salah, tidak ada apa pun yang bisa kutunjuk dan kubilang nah, itu.
Kotak dari Rasen berisi buku. Satu buku, tentang tata kelola organisasi, dengan catatan tempel kuning di beberapa halaman yang jelas dia sendiri yang tempelkan.
“Aku tandain bagian yang menurutku berguna buat kamu tahun ini,” katanya.
Dan itu, sejujurnya, adalah hadiah paling tepat sasaran kedua yang kuterima hari itu.
Malam itu aku duduk di kamarku dengan dua benda di meja.
Buku tulis seribu lima ratus rupiah dengan empat puluh tiga entri.
Dan buku dua ratus ribuan dengan catatan tempel kuning.
Dan piano dua puluh empat juta di bawah, di ruang keluarga yang tidak pernah dipakai untuk berkumpul keluarga.
Aku membaca buku cokelat itu tiga kali dari awal sampai akhir.
Lalu aku menyimpannya di laci paling atas, di bawah semuanya, di tempat yang sama di mana aku dulu menyimpan buku abu-abu.
Dan aku tidur dengan perasaan yang tidak bisa kuberi nama, yang paling dekat dengan aman.
Aku tidak tahu, waktu itu, bahwa itu malam terakhir aku merasa begitu selama empat bulan.
- 1 Bayangan
- 2 Hantu Sekretariat
- 3 Kantin
- 4 Tiga Ketukan
- 5 Dua Orang Bodoh
- 6 Empat Puluh Menit
- 7 Daftar
- 8 Tiga Kotak
- 9 Bencana Alam
- 10 Jam Enam Empat Belas
- 11 Sedikit Kata
- 12 Udah, Saya Aja
- 13 Nomor Tiga
- 14 Tiga Kali
- 15 Peringatan
- 16 Dev
- 17 Dapur
- 18 Dua Jam
- 19 Satu-satunya
- 20 Tiga Kali Empat
- 21 Satu Kali Serius
- 22 Di Depan Semua Orang
- 23 Empat Belas Hari
- 24 Rak Nomor Empat
- 25 Kue yang Gagal
- 26 Atap
- 27 Kembang Api Murah
- 28 Om dan Kakak
- 29 Modal Nol reading
- 30 Fakta Pertama
- 31 Gerbang
- 32 Kok Aku yang Lebih Tahu?
- 33 Kalau Aku Bilang
- 34 Dua Tahun
- 35 Sembilan Hari
- 36 Dua Ketukan
- 37 Satu Arah
- 38 Dokumen
- 39 Galon
- 40 Tolong
- 41 Arti Nama
- 42 Foto