Chapter Five
Dua Orang Bodoh
POV: Ardev
Dimas Anggara rusak pada hari Senin, dan butuh empat puluh menit sebelum aku berhasil mencari tahu penyebabnya.
Gejalanya muncul pagi-pagi. Dia datang ke sekolah lebih cepat dua puluh menit dari biasanya. Dia mengambil kotak bekalnya dan memakannya langsung di koridor — sesuatu yang tidak pernah dia lakukan seumur hidup. Dan waktu Evan menyapanya dengan volume standar Evan, Dimas menjawab.
Dengan kalimat lengkap.
“Dev,” bisik Evan, “dia sakit.”
“Iya.”
“Dia jawab gue pake tiga kata.”
“Empat.”
“EMPAT?”
Sepanjang jam pelajaran ketiga aku memperhatikan dari kelas sebelah lewat jendela koridor, dan menemukan gejala kedua: Dimas menghadap ke depan. Terus-menerus. Tidak menopang dagu, tidak melihat keluar jendela, tidak memutar bolpoin. Duduk tegak seperti orang yang sedang menunggu vonis.
Gejala ketiga muncul waktu istirahat, waktu dia menghampiriku di tribun, duduk, dan tidak berkata apa-apa selama tujuh menit penuh.
Aku membiarkannya tujuh menit karena aku menghormatinya.
Di menit kedelapan aku menyerah.
“Dim.”
“Hm.”
“Siapa?”
Dia langsung menoleh. Terlalu cepat. “Apa?”
“Siapa.”
“Nggak ada apa-apa.”
“Oke.” Aku membuka buku. “Kalau gitu gue baca.”
Delapan belas detik.
“...Dev.”
“Hm.”
“Kalau ada orang,” katanya, sangat pelan, menatap lurus ke lapangan kosong, “yang tiap hari kita liat. Terus tiba-tiba suatu hari kita liat lagi. Tapi rasanya beda. Padahal orangnya sama.”
Aku menutup buku.
“Itu namanya suka, Dim.”
“Bukan.”
“Itu persis definisinya.”
“Bukan gitu maksud gue.”
“Terus maksud lo gimana?”
Dimas membuka mulut. Menutupnya lagi. Menggosok tengkuknya. Lalu, dengan wajah orang yang baru saja kalah perang, dia bilang:
“...Ya gitu.”
Butuh dua puluh menit berikutnya untuk mengekstrak nama.
Dan yang paling melelahkan adalah bahwa Dimas menolak mengucapkannya. Dia bersedia mengonfirmasi, membantah, mengangguk, menggeleng — tapi tidak mau menyebut. Jadi aku terpaksa melakukan hal paling bodoh yang pernah kulakukan di sekolah ini: eliminasi.
“Anak IPS?”
Geleng.
“IPA?”
Diam. Berarti iya.
“Angkatan kita?”
Angguk.
“Gue kenal?”
Dimas menoleh dengan tatapan yang artinya jangan lanjutin.
Aku melanjutkan.
“Pengurus OSIS?”
Dimas berdiri.
“Dim.”
“Gue ada latihan.”
“Latihan lo jam empat.”
“Gue pemanasan.”
“Dim, duduk.”
Dia duduk. Dengan ekspresi orang yang sedang diinterogasi tentang kejahatan yang benar-benar dia lakukan.
Aku menghitung dalam kepala. Kelas 12 IPA. Pengurus OSIS. Perempuan. Yang dia lihat setiap hari — dan Dimas cuma pergi ke tiga tempat di sekolah ini: kelas, lapangan, dan koridor antara keduanya.
Koridor itu lewat depan sekretariat OSIS.
Dan ada tepat satu orang yang setiap sore membawa dua kardus konsumsi sendirian tanpa mengeluh, melewati koridor itu, di jam yang sama persis dengan jam Dimas selesai latihan.
Tunggu.
Aku memutar ulang satu detail.
Tiga minggu lalu, hari Jumat, Dimas menyuruhku pulang duluan dan bilang dia mau lari tambahan. Dimas tidak pernah lari tambahan hari Jumat. Hari Jumat dia selalu paling cepat pulang karena ibunya masak.
“Dim.”
“Hm.”
“Jumat tiga minggu lalu lo bohong ke gue.”
Dimas menoleh dengan kecepatan yang mengonfirmasi segalanya.
“Gue nggak—”
“Lo ada di koridor gedung utara.”
“Gue lewat doang.”
“Koridor gedung utara nggak nyambung ke mana-mana, Dim. Itu koridor buntu. Ujungnya sekretariat OSIS.”
Dimas menatap lapangan dengan intensitas seseorang yang berharap bumi terbelah.
“Anita,” kataku.
Dimas tidak menjawab.
Telinganya merah.
“Dim.”
“Jangan bilang siapa-siapa.”
“Gue nggak bakal—”
“Terutama Evan.”
“Ya iyalah terutama Evan.”
Dia diam beberapa saat. Lalu, tanpa kuminta, dia menambahkan satu kalimat yang jauh lebih panjang dari kuota hariannya.
“Dia angkat dua kardus, Dev. Tiap hari. Sendirian. Terus dia lewat gue, dan gue liat tangannya gemeteran, dan dia tetep jalan biasa kayak nggak kenapa-napa.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Gue mau bantuin,” katanya. “Tapi gue nggak tau caranya bantuin orang yang nggak mau ngaku dia lagi susah.”
Aku menatapnya cukup lama sampai dia risih.
“Apa,” katanya.
“Nggak.”
“Dev.”
“Nggak apa-apa.”
Aku tidak bilang bahwa dia baru saja mendeskripsikan seseorang dengan sangat akurat, dan bahwa orang itu bukan Anita.
Evan tahu tiga jam kemudian, dan bukan karena aku.
Karena Evan datang ke tribun sore itu sambil berteriak dari jarak dua puluh meter:
“DEV. GUE JATUH CINTA.”
Dimas, yang sedang minum, tersedak.
“Van, pelan—”
“NGGAK BISA PELAN. INI GEDE.”
Dia sampai di depan kami, meletakkan tasnya, mengeluarkan ponsel, membuka sesuatu, dan menyodorkannya ke wajahku.
“Ini.”
Di layar ada foto. Foto katalog. Seorang perempuan memakai jaket olahraga sambil berpose dengan senyum yang jelas dipaksa fotografer.
“Van, ini iklan.”
“Iya.”
“Ini iklan jaket.”
“IYA.”
“Lo jatuh cinta sama iklan jaket?”
“Gue jatuh cinta sama ORANGNYA, Dev, astaga—”
“Gue kenal orangnya?”
Evan menggeser layar. Foto berikutnya bukan katalog. Foto itu diambil dari jarak jauh, buram, dan jelas diambil secara diam-diam di kantin sekolah.
“Van.”
“Apa.”
“Ini foto candid.”
“Iya.”
“Ini kriminal.”
“Ini DOKUMENTASI.”
“Lo motret orang tanpa izin.”
“Gue motret KANTIN. Dia kebetulan ada di kantin.”
“Dia memenuhi delapan puluh persen frame.”
“Kantinnya kecil.”
Dimas mengambil ponsel itu dari tanganku, melihat, lalu meletakkannya kembali di paha Evan tanpa berkata apa-apa.
“Keisha,” kata Dimas.
“KOK LO TAU?”
“Semua orang tau, Van.”
“HAH?”
“Lo tiap hari lewat depan kelas dia.”
“Itu jalan pintas!”
“Kelas dia di lantai dua ujung. Kelas lo di lantai satu.”
Hening.
“...Itu jalan pintas yang lebih sehat.”
Aku memijat pelipisku.
“Jadi,” kataku, “kalian berdua. Minggu yang sama.”
“Berdua?” Evan menoleh ke Dimas. Kecepatan kepalanya nyaris menimbulkan bunyi. “DIM. LO JUGA?”
Dimas meminum air lagi dan tidak menjawab.
“DIM.”
“Minum lo abis,” kata Dimas.
“DIMAS ANGGARA SIAPA.”
“Nggak ada.”
“DEV. SIAPA.”
“Gue nggak bisa bilang.”
“KENAPA?”
“Karena dia bakal bunuh gue.”
Evan berdiri, berjalan tiga langkah, berbalik, dan menunjuk kami berdua bergantian dengan wajah orang yang baru saja disadarkan Tuhan.
“Anita,” katanya.
Dimas berhenti minum.
“KOK GUE BISA LANGSUNG TAU.”
“Van—”
“MEREKA TEMENAN, DEV. Keisha sama Anita temenan. Itu artinya—” Evan mengangkat kedua tangan seperti sedang memaparkan diagram tak terlihat di udara. “Itu artinya kita bisa PATUNGAN.”
“Patungan apa?”
“Strategi.”
“Van, ini bukan proyek.”
“Ini proyek.”
“Ini bukan—”
“Dev.” Evan berlutut. Betul-betul berlutut, di tribun, di depan umum. “Lo yang ngerjain semuanya seumur hidup kita. Sekali ini aja.”
“Lo lagi ngapain.”
“Gue lagi memohon.”
“Berdiri.”
“Nggak sampai lo bilang iya.”
“Ada anak kelas sepuluh liatin.”
“BAGUS. SAKSI.”
Dimas, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara.
“Dev,” katanya pelan, tanpa menoleh. “Tolong.”
Dan itu yang mengakhiri perdebatan, karena Dimas Anggara tidak pernah memakai kata itu, dan karena dia tahu persis apa efeknya padaku, dan karena aku curiga dia sudah menyimpannya sejak tadi pagi.
Aku menghela napas panjang.
“Ambil kertas.”
Evan berdiri dengan kecepatan yang tidak manusiawi. “GUE BAWA KERTAS.”
“Kenapa lo bawa kertas?”
“Gue udah siapin dari siang.”
Yang terjadi selama satu setengah jam berikutnya adalah hal paling absurd yang pernah kulakukan, dan aku ikut menikmatinya, dan itu bagian yang paling membingungkan.
Aku menggambar bagan.
Bukan karena dramatis. Karena masalahnya memang butuh bagan. Dua orang, dua sasaran, dua pendekatan yang harus benar-benar berbeda, dan satu variabel bersama yang tidak boleh saling menabrak.
“Aturan pertama,” kataku. “Kalian nggak boleh gerak barengan.”
“Kenapa?”
“Karena kalau dua sahabat deketin dua sahabat di minggu yang sama, itu bukan kebetulan lagi. Itu penyerbuan.”
Evan mengangguk-angguk serius sambil mencatat. Dia benar-benar mencatat.
“Kedua. Van, lo nggak boleh ngasih apa-apa ke Keisha.”
Evan berhenti mencatat. “Hah?”
“Nggak boleh.”
“Kenapa?!”
“Karena semua orang ngasih dia sesuatu. Dia model, Van. Dia dikasih barang tiap hari sama orang yang mau sesuatu dari dia.” Aku menunjuk kertas. “Kalau lo ikut ngasih, lo masuk ke antrean yang sama. Lo mau di antrean atau lo mau di luar antrean?”
Evan menatap kertas itu lama.
“...Di luar.”
“Nah.”
“Terus gue ngapain?”
“Lo bikin dia ketawa.”
“Gue emang lucu.”
“Lo berisik. Itu beda.”
“ITU SAMA.”
“Van. Kapan terakhir kali lo liat Keisha ketawa yang bukan karena sopan?”
Evan membuka mulut. Lalu menutupnya.
“...Kemarin. Waktu dia kepeleset di kantin.”
“Dia ketawain dirinya sendiri.”
“Iya.”
“Nah. Itu jenis orang yang lo hadapi.” Aku menunjuk baris kedua di kertas. “Dia bukan orang yang butuh dilucuin. Dia orang yang butuh ditemenin pas dia melakukan hal bodoh, tanpa dibikin malu.”
Evan menatap kertas itu dengan intensitas yang berlebihan.
“Jadi gue harus...”
“Kalau dia jatuh, jangan lo tolongin.”
“HAH?”
“Jangan lo tolongin. Dia benci ditolongin. Dia udah seumur hidup dianggep barang pecah belah.” Aku mengetuk kertas. “Lo ikut jatuh.”
Hening panjang.
“Dev,” kata Evan pelan. “Itu ide paling bodoh yang pernah gue denger.”
“Iya.”
“Dan gue bakal ngelakuin itu.”
“Gue tau.”
“Gue bakal ngelakuin itu MINGGU INI.”
“Van, jangan langsung—”
“GUE UDAH KEBAYANG TEMPATNYA.”
Dimas, dari sebelahku, akhirnya bersuara. “Tangga.”
“HAH?”
“Jangan tangga,” kata Dimas.
“Gue belum bilang tangga.”
“Lo mikirin tangga.”
Evan menatapnya dengan mata melebar. “...Kok lo tau.”
“Karena lo bodoh.”
“Kedua,” kataku ke Dimas, “lo kebalikan. Lo nggak boleh bikin ketawa.”
Dimas mengangguk, lega.
“Anita nggak butuh hiburan. Anita butuh orang yang bawa kardus.”
Dimas mengerutkan kening. “Kardus?”
“Setiap sore dia bawa dua kardus konsumsi sendirian dari gudang ke sekretariat. Dua kardus. Sendirian. Tiap hari.” Aku menaruh bolpoin. “Lo nggak usah ngomong apa-apa. Lo cuma ada di gudang jam empat lewat sepuluh.”
“Terus?”
“Terus lo angkat.”
“Terus gue ngomong apa?”
“Nggak ngomong apa-apa.”
“Nggak ngomong apa-apa?”
“Lo Dimas Anggara. Lo ngomong tiga kata sehari. Kalau lo tiba-tiba fasih, dia bakal curiga.” Aku menutup buku. “Angkat kardusnya. Taruh di meja. Pergi. Jangan nunggu dia bilang makasih.”
Dimas menatapku.
“Kenapa jangan nunggu.”
“Karena kalau lo nunggu makasih, artinya lo bawa kardusnya buat dapet makasih.”
Hening di tribun.
Evan, yang biasanya mengisi setiap keheningan dalam waktu kurang dari dua detik, tidak mengisi keheningan yang ini.
“Dev,” katanya akhirnya.
“Hm.”
“Lo tau nggak sih lo barusan ngomong apa.”
“Gue ngomong soal kardus.”
“Lo nggak ngomong soal kardus.”
Aku mengambil tasku dan berdiri.
“Gue harus jemput Rey.”
Perjalanan pulang malam itu memakan waktu lebih lama dari biasanya karena aku salah ambil angkutan, dan aku salah ambil angkutan karena aku sedang tidak memperhatikan.
Yang kupikirkan bukan bagan. Bagan itu sudah selesai; aku sudah tahu Dimas akan berhasil dalam sekitar empat minggu dan Evan akan berhasil lebih cepat tapi dengan cara yang jauh lebih memalukan.
Yang kupikirkan adalah pertanyaan yang tidak ada satu pun dari mereka tanyakan.
Sepanjang satu setengah jam itu, mereka bertanya banyak sekali. Bagaimana caranya mengajak bicara. Apa yang harus dipakai. Apakah pesan jam sepuluh malam terlalu larut. Apakah Anita suka kopi atau teh. Apakah Keisha benar-benar setinggi itu atau sepatunya.
Tidak ada yang bertanya, lo gimana, Dev.
Dan yang paling jujur harus kuakui: kalau mereka bertanya, aku juga tidak akan punya jawaban.
Karena pertanyaan itu tidak berlaku untukku.
Bukan dengan cara yang menyedihkan — sungguh. Ini soal aritmetika. Ada dua adik yang harus dijemput dan disuapi. Ada uang yang harus dihitung dua kali sebelum dikeluarkan. Ada Sabtu yang sudah dijual ke gudang di Jalan Melati sejak umur lima belas. Menyukai seseorang itu butuh waktu luang, dan waktu luang adalah barang mewah yang tidak ada di daftar belanjaku.
Jadi aku tidak pernah memasukkannya ke perhitungan.
Bukan karena tidak bisa. Karena tidak masuk anggaran.
Angkutan berhenti. Aku turun dua halte lebih jauh dari seharusnya dan berjalan kaki sisa jalannya, dan di gang menuju rumah aku bisa mendengar Rey berteriak dari dalam sebelum aku sampai pintu.
Kayla membuka pintu sebelum aku mengetuk.
“Kakak telat.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku melepas sepatu.
“Lagi bantuin orang.”
“Bantuin apa?”
“Hal bodoh.”
Kayla mengangguk seolah-olah itu penjelasan yang sepenuhnya memuaskan, lalu berbalik ke dalam sambil berteriak ke arah dapur bahwa aku sudah pulang.
Dan di ruang tamu tiga kali empat itu, dengan Rey menempel di kakiku dalam dua detik dan bau nasi hangat dari dapur, aku sadar bahwa aku sedang tersenyum karena membayangkan Dimas berdiri kaku di gudang konsumsi jam empat lewat sepuluh, mengangkat dua kardus, lalu pergi tanpa berkata apa-apa.
Ini akan berhasil.
Dan aku akan menontonnya dari kursi yang sama seperti biasa.
Jam sembilan malam, waktu Rey sudah tidur dan Kayla sudah kusuruh masuk kamar untuk yang ketiga kalinya, ponselku bergetar dua kali berturut-turut.
EVAN: dev EVAN: gue nggak bisa tidur EVAN: ini normal ga EVAN: DEV EVAN: DEVVVVV
Aku membalas satu kata.
Normal.
EVAN: oke EVAN: makasih EVAN: dev EVAN: satu lagi EVAN: menurut lo gue punya kesempatan ga
Aku menatap layar itu agak lama.
Karena jawaban jujurnya adalah: iya, besar sekali, dan bukan karena alasan yang dia kira. Bukan karena wajahnya, bukan karena uangnya, bukan karena satu sekolah kenal namanya. Tapi karena Evan adalah satu-satunya orang yang kukenal yang bisa membuat orang lain merasa menjadi bagian dari sesuatu hanya dengan berdiri di dekat mereka, dan dia tidak pernah tahu itu, dan dia mungkin tidak akan pernah tahu.
Aku mengetik: Besar.
Lalu kuhapus.
Aku mengetik lagi: Lo tidur, Van.
Lalu kukirim.
EVAN: itu bukan jawaban
Itu jawaban.
EVAN: 😭
Beberapa menit kemudian, pesan lain masuk. Dari nomor yang jarang sekali mengirim apa pun.
DIMAS: jam 4 lewat 10?
Iya.
DIMAS: gudang mana
Gudang belakang. Dekat pos satpam.
DIMAS: ok
Lima menit hening. Lalu:
DIMAS: dev
Hm.
DIMAS: kalau gue gagal lo bakal ketawain gue ga
Aku menatap layar.
Iya.
DIMAS: ok DIMAS: makasih
Aku menaruh ponsel di lantai, di sebelah kasur, dan berbaring memandangi langit-langit yang catnya sudah mengelupas di sudut dekat jendela sejak dua tahun lalu.
Di sebelahku Rey bergerak dalam tidurnya dan menendang selimut sampai jatuh. Aku menariknya kembali.
Empat minggu, kira-kira. Mungkin lima untuk Dimas, karena Anita adalah jenis orang yang butuh melihat pola sebelum percaya pada satu kejadian. Evan mungkin dua minggu, mungkin sepuluh hari, tergantung seberapa parah cara dia mempermalukan dirinya sendiri.
Dan setelah itu, kalau semuanya berjalan sesuai perkiraan, kami tidak akan lagi bertiga di tribun hari Rabu.
Aku memikirkan itu selama beberapa detik, dan mencatat bahwa itu terasa seperti sesuatu, lalu memutuskan bahwa mencatatnya saja sudah cukup dan tidak perlu ditindaklanjuti.
Besok Rabu. Galon habis.
Aku menghitung ulang sisa di kaleng biru, sampai pada angka yang cukup, dan tidur.
- 1 Bayangan
- 2 Hantu Sekretariat
- 3 Kantin
- 4 Tiga Ketukan
- 5 Dua Orang Bodoh reading
- 6 Empat Puluh Menit
- 7 Daftar
- 8 Tiga Kotak
- 9 Bencana Alam
- 10 Jam Enam Empat Belas
- 11 Sedikit Kata
- 12 Udah, Saya Aja
- 13 Nomor Tiga
- 14 Tiga Kali
- 15 Peringatan
- 16 Dev
- 17 Dapur
- 18 Dua Jam
- 19 Satu-satunya
- 20 Tiga Kali Empat
- 21 Satu Kali Serius
- 22 Di Depan Semua Orang
- 23 Empat Belas Hari
- 24 Rak Nomor Empat
- 25 Kue yang Gagal
- 26 Atap
- 27 Kembang Api Murah
- 28 Om dan Kakak
- 29 Modal Nol
- 30 Fakta Pertama
- 31 Gerbang
- 32 Kok Aku yang Lebih Tahu?
- 33 Kalau Aku Bilang
- 34 Dua Tahun
- 35 Sembilan Hari
- 36 Dua Ketukan
- 37 Satu Arah
- 38 Dokumen
- 39 Galon
- 40 Tolong
- 41 Arti Nama
- 42 Foto