← Nomor Tiga

Chapter Twenty Seven

Kembang Api Murah

POV: Ardev

Yang perlu kucatat tentang malam tahun baru itu adalah bahwa tidak terjadi apa-apa.

Aku serius. Tidak ada satu pun kejadian penting. Tidak ada yang bertengkar, tidak ada yang mengaku, tidak ada satu pun hal yang mengubah apa pun.

Dan aku mengingatnya lebih jelas daripada hampir semua hal lain yang terjadi tahun itu.


Rencananya dimulai tanggal dua puluh delapan, dan seperti biasa dimulai dari orang yang salah.

“Gue booking tempat.”

“Van.”

“Gue booking tempat yang MURAH.”

“Van, tempat yang lo anggep murah itu—”

“Gue tau, gue tau.” Dia mengangkat tangan. “Ya udah, terserah lo. Di mana?”

Dan aku sudah membuka mulut untuk mengatakan bahwa aku tidak bisa ikut ke mana pun tanggal tiga puluh satu — karena Ibu masuk shift malam, karena Kayla dan Rey tidak bisa ditinggal, karena itu sudah jelas sejak awal dan aku sudah menyiapkan cara menolaknya.

Anita yang menyelamatkanku.

“Di rumah Ardev,” katanya, tanpa mengangkat kepala dari laptopnya.

“Nit—”

“Kamu mau bilang nggak enak sama Ibu kamu.” Dia mengetik satu baris. “Aku udah tanya Ibu kamu.”

Aku menoleh.

“Kapan?”

“Minggu kemarin.”

“Kamu punya nomor Ibu saya?”

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak ulang tahun Kayla.” Anita menutup laptopnya. “Beliau yang minta. Katanya biar ada yang bisa dihubungi kalau kamu susah dihubungi.”

Dan aku duduk di sekretariat itu selama beberapa detik, memproses fakta bahwa ibuku dan ketua OSIS sekolahku sudah saling berkirim pesan selama enam minggu tanpa aku tahu sama sekali.

“Nit.”

“Hm.”

“Kalian ngomongin apa aja?”

“Bukan urusan kamu.”

“Itu ibu saya.”

“Iya.” Dia memasukkan laptopnya ke tas. “Dan dia punya urusan yang bukan urusan kamu.”


Mereka datang jam delapan malam tanggal tiga puluh satu.

Ibu berangkat jam tujuh, dan sebelum berangkat dia menghabiskan empat puluh menit membereskan rumah yang sudah bersih, dan aku tidak menghentikannya karena aku tahu itu caranya mengelola sesuatu.

“Bu.”

“Iya?”

“Nggak usah dilap lagi.”

“Sebentar.”

“Bu, itu meja udah tiga kali.”

Dan dia berhenti, dan berdiri di ruang tamu dengan lap di tangan, dan berkata sesuatu yang tidak kuduga.

“Ibu seneng, Dev.”

“...Iya, Bu.”

“Ibu cuma nggak tau harus gimana.” Dia melipat lapnya. “Rumah ini nggak pernah rame.”

Dan dia berangkat, dan aku berdiri di ruang tamu itu memandangi meja yang sudah dilap tiga kali.


Yang mereka bawa, sesuai kesepakatan yang dinegosiasikan Anita dengan Evan selama tiga hari dan yang melibatkan setidaknya satu ancaman:

Evan: jagung. Dua puluh tongkol. Bukan lima ratus tongkol seperti niat awalnya.

Dimas: arang, dan satu panggangan kawat yang jelas milik keluarganya dan yang jelas dia bawa naik angkutan.

Keisha: kembang api. Dua puluh batang. Jenis yang dipegang, yang menyala tiga puluh detik lalu mati. Harganya lima ribu sepuluh.

Anita: bumbu, kecap, mentega, dan satu kuas oles — yang jelas dibeli khusus dan yang jelas belum pernah dia pakai seumur hidup.

Ayana: dua kilo jagung lagi, karena dia tidak percaya dua puluh tongkol cukup untuk delapan orang, dan dia benar.

Dan Kayla, yang tidak diberi tahu apa pun, membawa buku gambarnya ke atap dan duduk di sana sejak jam setengah delapan supaya tidak kehilangan tempat.


Membakar jagung di dak beton tiga kali tiga meter untuk delapan orang adalah persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan rapi.

Panggangannya kecil. Muat empat tongkol sekaligus. Delapan orang, empat puluh tongkol, dan waktu bakar sekitar dua belas menit per putaran.

“Ini butuh dua jam,” kata Anita, setelah menghitung.

“Ya udah dua jam,” kata Evan.

“Van, ini dingin di atas.”

“YA UDAH DUA JAM, NIT.”

Dan itu yang terjadi.

Dua jam. Delapan orang mengelilingi satu panggangan kecil di atap rumah petak, dengan arang yang matinya empat kali dan harus dinyalakan ulang, dan dengan sistem antre yang disusun Anita dalam bentuk daftar tertulis yang ditertawakan semua orang dan tetap dipatuhi semua orang.

Aku mengurus arangnya. Itu tugasku sepanjang malam.

Dan sekitar putaran keempat, Ayana duduk di sebelahku dan berkata:

“Kamu belum makan satu pun.”

“Nanti.”

“Dev.”

“Bentar lagi.”

Dan dia tidak berdebat. Dia cuma mengambil satu tongkol dari piringnya sendiri, mematahkannya jadi dua, dan meletakkan setengahnya di lututku.

“Aku nggak bisa habis satu,” katanya, ke arah yang lain.

Itu bohong. Aku sudah melihat dia menghabiskan dua.

Aku memakannya.


Hal-hal yang terjadi malam itu, dalam urutan yang bisa kuingat:

Keisha membakar tangannya sendiri di putaran kedua — bukan parah; kena kawat panggangan selama setengah detik — dan berteriak dengan volume yang membuat tiga rumah menyalakan lampu. Evan panik. Anita mengambil es dari termos. Dan Keisha, dua menit kemudian, sudah tertawa lagi dan mencoba menyentuh kawat itu lagi untuk membuktikan sesuatu yang tidak jelas apa.

Rey memutuskan bahwa dia tidak suka jagung bakar, memakan empat tongkol, lalu memutuskan lagi bahwa dia tidak suka jagung bakar.

Dimas membakar satu tongkol sampai hitam total dan memakannya tanpa berkomentar. Waktu Anita bertanya kenapa tidak dibuang, dia menjawab, “Udah dibakar.”

Kayla menggambar kami semua di buku gambar barunya. Delapan orang, dari atas, dengan proporsi yang salah. Dia menolak menunjukkannya sampai jam sebelas.

Evan menghabiskan dua puluh menit menjelaskan teori Pak Tarno tentang kucing yang sebenarnya satu ekor kepada Ayana dan Anita, dengan sungguh-sungguh, dengan diagram yang digambar di udara.

“Van, itu jelas dua kucing,” kata Anita.

“NIT, DENGERIN DULU.”

“Aku udah dengerin dua puluh menit.”

“Pak Tarno bilang—”

“Pak Tarno umur tujuh puluh dua.”

“ITU BUKAN ARGUMEN.”


Jam sebelas lewat empat puluh, Keisha membagikan kembang apinya.

Dua puluh batang. Delapan orang. Anita membagi dua-dua dan menyimpan sisanya, karena Anita membagi semuanya.

Dan selama sekitar sepuluh menit, dak beton tiga kali tiga meter itu penuh dengan delapan orang memegang batang api kecil yang menyala tiga puluh detik lalu mati.

Rey berteriak setiap kali batangnya menyala.

Setiap kali. Dua puluh kali kalau digabung dengan punya orang lain. Dan tidak ada satu pun dari kami yang menyuruhnya berhenti.

“Kak Ardev,” katanya, di antara teriakan, “ini apinya nggak panas!”

“Panas, Rey.”

“NGGAK PANAS.”

“Jangan dipegang ujungnya.”

“NGGAK PANAS, KAK.”

Dan dia memegang ujungnya, dan menangis, dan Evan meniupnya selama empat menit sambil bilang “udah, udah, udah” dengan nada yang jauh lebih panik daripada anaknya.


Jam dua belas kurang lima menit, sesuatu yang aneh terjadi.

Semua orang diam.

Bukan disuruh. Tidak ada yang mengumumkan hitung mundur — kami bahkan tidak punya jam yang bisa dilihat bersama; yang ada cuma ponsel Evan yang layarnya retak dan yang dia pegang di tengah.

Tapi lima menit sebelum tengah malam, delapan orang di atap itu berhenti bicara.

Dan aku duduk di tepi dak dengan arang yang sudah hampir habis di belakangku, dan aku melihat sekeliling.

Kayla tertidur bersandar di Anita, dengan buku gambar terbuka di pangkuannya. Anita tidak bergerak sama sekali dan tidak mengeluh sekali pun, dan aku tahu bahwa lengannya pasti kebas.

Rey tertidur di pangkuan Evan, mulut terbuka, satu tangan menggenggam kaus Evan.

Dimas duduk di tepi seberang, menatap langit, dengan sisa jagung hitam di piring kertasnya.

Keisha bersandar ke bahu Evan dan sedang mengetik sesuatu di ponselnya dengan satu tangan.

Dan Ayana duduk di sebelahku, dengan lutut ditekuk, memandangi garis lampu jalan besar di kejauhan.

Aku menghitung.

Aku tidak bisa tidak menghitung; itu sudah jadi bagian dari cara kerja kepalaku dan aku sudah berhenti melawannya.

Delapan orang. Satu panggangan kecil. Empat puluh tongkol jagung. Dua puluh kembang api lima ribu sepuluh. Total pengeluaran seluruh malam itu, kalau dijumlahkan dari semua orang, mungkin tidak sampai tiga ratus ribu.

Dan aku duduk di atap rumah petak yang temboknya lembap dan lantainya semen, di gang yang nomor rumahnya tidak berurutan, dengan ibuku yang sedang bekerja shift malam di pabrik enam kilometer dari sini.

Dan tidak ada satu hal pun yang ingin kutukar.

Bukan kiasan. Aku benar-benar memeriksanya, satu per satu, seperti memeriksa daftar.

Tidak ada.


Jam dua belas, kembang api dari kota terlihat di kejauhan — bukan di atas kami; jauh di sana, di arah pusat kota, terlalu jauh untuk terdengar bunyinya.

Kecil sekali dari sini.

“Kelihatan dikit banget,” kata Keisha.

“Iya,” kata Anita.

Dan tidak ada yang menambahkan apa-apa.

Ayana menoleh ke arahku.

“Dev.”

“Hm.”

“Selamat tahun baru.”

“Selamat tahun baru.”

Dan dia menyandarkan kepalanya ke bahuku, dan aku tidak bergerak, dan kali ini aku tidak menghitung berapa lama.


Jam dua belas lewat dua puluh, Ayana bertanya sesuatu yang tidak kuduga.

“Dev.”

“Hm.”

“Kamu punya resolusi?”

“Resolusi apa?”

“Tahun baru.”

Aku memikirkannya.

Dan jawaban yang muncul di kepalaku pertama kali adalah daftar: perbaiki genteng bocor di sudut kamar sebelum musim hujan puncak, cari tambahan shift Minggu, siapkan biaya seragam Kayla untuk kelas lima, dan — di paling bawah, di tempat yang tidak pernah kutuliskan — cari tahu berapa biaya pemeriksaan lengkap di puskesmas untuk orang dewasa.

Aku tidak mengatakan satu pun dari itu.

“Nggak ada,” kataku.

“Bohong.”

“Kenapa bohong?”

“Karena kamu diem lima detik.” Dia memeluk lututnya. “Kalau kamu beneran nggak punya, kamu bakal langsung bilang nggak ada.”

Aku menoleh ke arahnya.

“Kamu ngitung?”

“Aku belajar dari orang.”

Dan aku tidak punya jawaban untuk itu.

“Kamu?” tanyaku.

Ayana menatap garis lampu jalan di kejauhan.

“Aku mau berhenti minta maaf ke orang yang nggak minta aku minta maaf,” katanya.

“Itu spesifik banget.”

“Iya.”

“Ke siapa?”

“Ke semua orang.” Dia mengangkat bahu. “Ke Papa, ke Mama, ke panitia, ke kamu.”

“Kamu nggak pernah minta maaf ke saya.”

“Aku minta maaf tiap kali aku dateng ke rumah kamu,” katanya.

Aku menoleh dengan cepat.

“Nggak keras-keras,” lanjutnya. “Di dalem. Tiap kali aku masuk gang itu aku minta maaf karena aku dateng bawa hal-hal yang kamu nggak minta.”

Dan dia berhenti, lalu menambahkan:

“Terus aku sadar itu bukan sopan santun. Itu cuma cara aku ngerasa aman.”

Aku tidak berkata apa-apa selama beberapa saat.

“Ay.”

“Hm.”

“Resolusi saya jangan ditanya lagi ya.”

“Kenapa?”

“Karena saya belum bisa bohong dua kali dalam semalam.”

Dan dia tertawa, dan menyandarkan kepalanya lagi, dan tidak bertanya lagi.


Mereka pulang jam satu pagi.

Evan menggendong Rey ke kamar. Dimas mengangkat panggangan yang masih panas dengan dua lap yang dibawa Anita empat minggu lalu.

Dan di pintu, keduanya melakukan hal yang sama seperti biasa: memakai sepatu, lalu berjalan ke sudut ruang tamu, lalu mengetuk galon dengan buku jari.

Bunyinya berat.

Mereka mengangguk dan keluar.

Anita, di belakang mereka, melihat itu terjadi dan tidak berkomentar. Tapi Ayana menoleh ke arahku dengan alis terangkat, dan aku mengangkat bahu, dan tidak ada satu pun dari kami yang menjelaskan apa pun.

Aku mengantar mereka sampai mulut gang.

Dan waktu aku kembali, rumah itu sunyi.


Aku membereskan atap sendirian jam setengah dua pagi.

Piring kertas, arang yang sudah mati, batang kembang api yang tinggal kawatnya. Aku memasukkan semuanya ke satu kantong plastik dan menurunkannya lewat tangga besi.

Lalu aku naik lagi untuk mengambil kursi plastik yang tadi tidak diduduki siapa pun sepanjang malam.

Dan dari atas sana, sebelum turun, aku berdiri sebentar.

Gang itu sudah gelap. Lampu-lampu rumah sudah mati. Antena televisi masih miring seperti biasa.

Dan aku menyadari bahwa aku sedang berdiri di sana bukan karena ada yang perlu dilihat, tapi karena aku belum ingin malam itu selesai.

Aku turun jam dua kurang.

Dan waktu aku masuk ke rumah dan menutup pintu, dari kamar terdengar bunyi batuk.

Pendek. Tiga kali. Lalu berhenti.

Ibu sudah pulang.

Aku berdiri di ruang tamu itu selama beberapa detik, menunggu, dan tidak ada bunyi lagi.

Jadi aku mencuci gelas, mengecek pintu, dan tidur.