← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Nine

Boleh Duduk di Sini?

POV: Alfa

Ada hal yang lebih mengganggu daripada Celine mengejarku.

Celine berhenti mengejarku.

Bukan benar-benar berhenti. Dia masih mengirim pesan. Masih menyapa kalau berpapasan. Masih muncul di sekitar fakultasku dengan frekuensi yang menurutku mencurigakan untuk seseorang yang tidak punya kelas di gedung kami.

Tapi ada yang berubah.

Dia tidak lagi langsung duduk di sampingku.

Tidak menyentuh lenganku untuk memanggil.

Tidak berdiri terlalu dekat saat bicara.

Perubahan itu seharusnya membuat hidupku lebih nyaman.

Masalahnya, aku justru mulai memperhatikannya.

Siang itu, kantin penuh. Dimas sudah duduk di depanku sambil makan soto. Fikri sedang menjelaskan teori yang tidak diminta siapa pun tentang kenapa saus sambal bisa menjadi indikator kepribadian.

“Orang yang ambil empat sachet itu agresif,” katanya.

Dimas melihat empat sachet di depan Fikri. “Lu?”

“Berani mengambil risiko.”

“Itu definisi yang lu buat sendiri.”

Aku mengaduk es teh.

Dari sudut mata, aku melihat Celine masuk bersama Tara dan Nadine.

Seperti biasa, beberapa kepala otomatis menoleh.

Aku langsung memandang meja.

Tidak ada alasan untuk melihat.

Aku sudah tahu dia datang.

Beberapa detik kemudian, langkah kaki berhenti dekat meja kami.

“Alfa.”

Aku mengangkat kepala.

Celine berdiri di sana sambil membawa nampan. Tara dan Nadine berada beberapa langkah di belakang.

Ada satu kursi kosong di sebelahku.

Celine melihat kursi itu, lalu aku.

“Boleh duduk di sini?”

Pertanyaan sederhana.

Tetap membuatku diam terlalu lama.

Fikri menoleh kepadaku.

Dimas menendang kakinya di bawah meja.

“Aduh,” kata Fikri.

“Kenapa?” tanya Celine.

“Nyamuk.”

Dimas menatapnya. “Iya. Nyamuk besar.”

Aku kembali melihat Celine.

Dia masih menunggu.

Tidak menarik kursi.

Tidak bercanda.

“Boleh,” kataku akhirnya.

Celine duduk.

Jarak kursinya normal. Tidak mepet. Tidak terlalu jauh.

Aku benci bahwa aku menyadari detail itu.

Tara dan Nadine ikut duduk di meja sebelah karena hanya ada satu kursi kosong di meja kami. Lima menit berikutnya berjalan aneh tapi tidak buruk.

Fikri mencoba mengajak Celine bicara.

“Jadi, Celine, gue penasaran.”

“Jangan,” kata Dimas.

“Aku belum ngomong.”

“Itu justru pencegahan.”

Celine tertawa.

Fikri tetap lanjut. “Apa yang lu lihat dari Alfa?”

Aku berhenti makan.

Dimas memegang dahinya.

Tara dari meja sebelah langsung mendekatkan kursi.

“Nah, ini gue juga mau dengar.”

“Kenapa semua orang harus dengar?” tanyaku.

“Karena lu objek penelitian,” jawab Tara.

“Aku pulang.”

Celine menahan tawa. “Duduk.”

Aku menatapnya.

Dia langsung mengangkat kedua tangan. “Maksudku, kalau kamu mau.”

Entah kenapa itu lebih lucu daripada seharusnya.

Aku tetap duduk.

Celine memandang Fikri. “Jawabannya rahasia.”

Fikri mengangguk bijak. “Berarti banyak.”

“Berarti bukan urusanmu,” kata Nadine.

Aku hampir tersenyum.

Sebelum benar-benar pergi, Dimas menarik lenganku pelan dari sisi meja.

“Fa, bentar.”

Aku ikut beberapa langkah menjauh.

“Apa?”

Dimas melirik Celine, lalu kembali melihatku.

“Lu oke?”

Pertanyaannya terdengar biasa, tapi aku tahu maksudnya. Dimas bukan orang yang suka ikut campur. Kalau dia bertanya, berarti sejak tadi dia mengamati.

“Kenapa nggak oke?”

“Gue nggak tahu. Makanya nanya.”

Aku diam.

Dimas memasukkan tangan ke saku. “Gue cuma mau bilang, kalau lu nggak nyaman, gue bisa bantu bubarin mereka.”

Aku menatapnya. “Mereka ada tiga.”

“Gue punya Fikri.”

“Fikri bukan bantuan.”

Dari belakang terdengar suara Fikri, “Gue dengar, ya!”

Dimas mengabaikannya.

“Serius.”

Aku kembali melihat meja. Celine sedang bicara dengan Tara. Dia tertawa, tapi posisi tubuhnya tetap tidak mengarah terlalu dekat ke kursiku yang kosong. Entah bagaimana aku menyadari itu juga.

“Aku oke,” kataku akhirnya.

Dimas mengangguk. “Yakin?”

“Iya.”

“Kalau gitu bagus.”

Dia hendak pergi, lalu berhenti.

“Dan satu lagi.”

“Apa?”

“Lu kelihatan lebih santai hari ini.”

Aku mengernyit. “Enggak.”

“Oke.”

“Kenapa jawabnya begitu?”

“Karena kalau gue bantah, kita telat kelas.”

Fikri menyahut lagi, “Sebagai saksi independen, gue setuju sama Dimas.”

“Kamu nggak independen.”

“Gue sangat independen.”

“Lima menit lalu kamu minta uang ke Dimas.”

“Itu kerja sama ekonomi.”

Dimas menyeret Fikri pergi sebelum percakapan semakin bodoh.

Aku kembali ke meja.

Celine melihatku. “Dimas ngomong apa?”

“Rahasia negara.”

Tara langsung tertarik. “Wah.”

“Bukan apa-apa.”

“Baru dibilang rahasia negara.”

Aku duduk. “Aku berubah pikiran. Aku juga mau kelas.”

Celine tertawa.

Setelah makan, Dimas dan Fikri pergi lebih dulu untuk kelas. Aku masih menunggu dosen berikutnya. Celine juga belum pergi.

Dia berdiri sambil membawa gelas kosong.

“Aku ke tempat sampah.”

Aku mengangguk.

Beberapa menit kemudian, dia kembali, tapi tidak langsung duduk.

“Boleh duduk lagi?”

Aku mengernyit. “Tadi sudah boleh.”

“Boleh yang tadi belum tentu berlaku selamanya.”

Aku tidak tahu harus menjawab itu bagaimana.

“Duduk aja.”

Celine duduk.

Celine membuka botol minumnya, lalu menatap hoodie yang kupakai.

“Kamu nggak panas?”

“Enggak.”

“Alfa, di luar tiga puluh derajat.”

“AC kantin dingin.”

“Kita duduk dekat pintu.”

Aku menatapnya. “Kamu banyak pertanyaan.”

“Aku sedang melakukan penelitian.”

“Fikri tadi sudah bilang aku objek penelitian. Kalian kerja sama?”

“Jangan samakan aku dengan Fikri. Aku masih punya reputasi.”

Aku hampir tertawa lagi.

Celine menangkap sudut bibirku bergerak. “Nah.”

“Apa?”

“Kamu tadi mau senyum.”

“Enggak.”

“Aku lihat.”

“Halusinasi.”

“Berarti halusinasiku ganteng.”

Aku langsung memalingkan wajah.

Celine menahan tawa. “Maaf. Yang itu spontan.”

“Tolong dikurangi.”

“Aku usahakan lima persen.”

“Sedikit sekali.”

“Aku juga punya batas kemampuan.”

Kali ini aku bertanya, “Kamu selalu begini sekarang?”

“Begini gimana?”

“Tanya dulu.”

Celine menatap sedotan di tangannya. “Kalau soal kamu, iya.”

“Kenapa?”

Dia diam sebentar.

“Karena aku nggak mau bikin kamu merasa harus mundur tiap kali aku maju.”

Aku memandangnya.

Kalimat itu terlalu tepat.

Celine melanjutkan sebelum suasana berubah berat. “Tapi jangan senang dulu. Aku masih akan ganggu kamu lewat chat.”

Aku menghela napas.

“Nah, itu lebih familiar.”

Dia tersenyum. “Aku tahu.”

Ponselku bergetar tepat saat itu.

Celine

Tes.

Aku menatap layar, lalu menatap orang yang duduk tepat di sebelahku.

“Kamu serius?”

Celine terlihat puas. “Berfungsi.”

Aku mengetik.

Alfa

Tidak lucu.

Ponselnya berbunyi.

Dia membaca balasanku dan tersenyum lebih lebar.

Celine

Menurutku lucu.

Aku mengunci layar.

“Kamu duduk di sini.”

“Dan?”

“Ngomong langsung.”

Celine memiringkan kepala. “Berarti kamu mau aku ngomong sama kamu?”

Aku terdiam.

Aku baru sadar jebakannya setelah masuk.

Celine menutup mulut, jelas menahan tawa.

“Aku pergi.”

“Kamu belum kelas.”

“Aku mau cari udara.”

“Kantin terbuka.”

Aku menatapnya.

Dia tertawa.

Aneh, tapi tidak terasa menjengkelkan seperti biasanya.

Sore harinya, Celine tidak datang ke toko. Dia mengirim pesan bahwa harus mengerjakan tugas kelompok.

Aku membantu Mbah menyusun roti di etalase.

Mbah menatap pintu, lalu aku.

“Celine nggak datang?”

“Enggak.”

“Kamu tahu?”

“Dia bilang.”

Tangan Mbah berhenti.

Aku baru menyadari kesalahan beberapa detik terlambat.

“Dia bilang?”

“Iya.”

“Ke kamu?”

Aku mengambil baki kosong. “Mbah, aku ke dapur.”

“Alfa.”

“Ada kerjaan.”

“Alfa Pradipta.”

Aku mempercepat langkah.

Dari belakang, terdengar tawa Mbah.

Aku mengabaikannya.

Malamnya, saat hendak tidur, ponselku berbunyi.

Celine

Hari ini makasih ya.

Aku mengetik.

Alfa

Buat apa?

Celine

Udah bolehin aku duduk.

Aku membaca kalimat itu cukup lama.

Aku hampir membalas bahwa itu cuma kursi.

Tapi aku tahu bagi Celine bukan itu intinya.

Dan, kalau jujur, bagiku juga bukan.

Jempolku bergerak.

Alfa

Besok kalau kursinya kosong, nggak perlu tanya lagi.

Pesan terkirim.

Tiga titik muncul hampir seketika.

Lalu hilang.

Muncul lagi.

Akhirnya:

Celine

Oke.

Hanya itu.

Tidak ada lelucon.

Tidak ada hati.

Tidak ada teriakan kapital.

Entah kenapa, justru itu membuat dadaku terasa hangat.

Aku mematikan layar dan berbaring. Ada perasaan aneh seperti baru saja membuat keputusan yang sangat kecil tapi tidak bisa ditarik lagi. Mungkin memang cuma kursi. Mungkin juga bukan. Yang jelas, untuk pertama kalinya aku tidak merasa perlu menyiapkan alasan kalau besok Celine duduk di sebelahku. Aku sudah memberinya izin. Dan, lebih aneh lagi, aku tidak menyesal.

Untuk pertama kalinya sejak Celine masuk ke hidupku, aku tidak memikirkan bagaimana caranya menghindarinya besok.

Aku justru sudah menyediakan satu kursi.