← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Twenty Two

Kalau Aku Cium?

POV: Celine

Aku sebenarnya tidak berniat mengganggu Alfa hari ini.

Serius.

Aku datang ke Ratri Bakehouse untuk membantu Mbah Ratri memasukkan pesanan hampers kecil.

Aku bahkan memakai celemek.

Aku produktif.

Aku berguna.

Lalu Alfa berdiri terlalu dekat saat mengambil selotip.

Dan otakku berhenti menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab.

“Fa.”

“Hm?”

“Kalau aku cium kamu sekarang gimana?”

Selotip di tangannya jatuh.

Aku langsung menutup mulut.

Oke.

Itu keluar lebih cepat daripada filter.

Alfa menatapku.

Aku menatap balik.

Dari meja seberang, Mbah Ratri tetap memasukkan kue ke kotak seolah tidak mendengar.

Aku tahu beliau mendengar.

Pendengarannya selektif, bukan buruk.

“Bercanda,” kataku.

Alfa mengambil selotip.

“Bercandanya jelek.”

“Maaf.”

Dia tidak menjawab.

Aku memperhatikan bahunya.

Tidak terlalu tegang.

Tapi ekspresinya berubah serius.

Aku menyesal.

Seharusnya aku lebih hati-hati.

Sudah beberapa hari kami pegangan tangan. Kemarin bahkan pelukan.

Kemajuan membuatku terlalu santai.

Aku kembali mengikat pita.

Beberapa menit kemudian, Alfa berkata, “Kalau aku bilang jangan?”

Aku berhenti.

“Ya jangan.”

“Langsung?”

Aku menoleh.

“Iya.”

“Kamu nggak marah?”

“Kenapa marah?”

Dia mengangkat bahu.

Aku meletakkan pita.

“Alfa.”

“Hm.”

“Kamu nggak utang sentuhan apa pun cuma karena kita pacaran.”

Tatapannya turun ke meja.

“Aku tahu.”

“Tapi?”

Dia diam.

Aku menunggu.

Akhirnya dia berkata, “Kadang masih aneh.”

“Apa?”

“Orang bisa berhenti cuma karena aku bilang enggak.”

Dadaku seperti ditarik pelan.

Aku tidak bertanya siapa yang dulu tidak berhenti.

Bukan waktunya.

Aku hanya mengangguk.

“Kalau sama aku, berhenti ya berhenti.”

Alfa melihatku.

Aku tersenyum kecil.

“Bahkan kalau aku sudah dekat banget. Kalau kamu bilang enggak, aku mundur.”

“Kalau kamu kesel?”

“Bisa saja kecewa.”

Aku memilih jujur.

“Tapi kecewa bukan alasan buat maksa.”

Alfa mengangguk.

Kami kembali bekerja.

Mbah Ratri masih diam.

Lima menit kemudian beliau berkata, “Pita yang merah habis.”

Aku hampir tertawa karena beliau benar-benar memilih hidup damai.

Sore menjelang, Tara datang.

Kesalahan besar.

Dia masuk toko dengan energi orang yang punya terlalu banyak informasi dan terlalu sedikit kontrol diri.

“Celine!”

Aku menunjuk Alfa dengan mata.

Tara langsung menurunkan volume.

“Hai, Alfa.”

“Hai.”

Dia mendekatiku di meja kemasan.

“Gue butuh bantuan pilih hadiah ulang tahun Nadine.”

“Kenapa ke sini?”

“Sekalian lihat—”

Aku mencubit lengannya.

“Roti.”

“—roti.”

Alfa menatap kami.

Aku tersenyum terlalu lebar.

Dia memilih tidak ikut campur.

Tara menunduk dekat telingaku.

“Udah ciuman?”

Aku hampir tersedak ludah sendiri.

“Lu sakit?”

“Pertanyaan normal.”

“Enggak.”

“Belum?”

“Belum.”

“Kenapa bisik-bisik?”

Suara Alfa terdengar dari belakang.

Aku berbalik terlalu cepat.

“Tidak ada.”

Tara mengangguk. “Tidak ada.”

Alfa menyipitkan mata.

Mbah Ratri keluar dari dapur.

“Bahas ciuman?”

Aku dan Tara membeku.

Alfa menjatuhkan lap.

“MBAH.”

Mbah berjalan ke kasir seperti baru membicarakan cuaca.

“Apa? Tadi kedengeran.”

Aku menutup wajah.

Tara menggigit bibir sampai merah menahan tawa.

Alfa mengambil baki kosong.

“Aku ke belakang.”

Mbah memandang punggungnya.

“Anak muda sekarang malu-malu.”

Aku berkata, “Mbah, tolong.”

Beliau terkekeh.

Setelah Tara akhirnya pergi membawa dua kotak pastry dan informasi yang tidak seharusnya dia dapat, toko kembali sepi.

Aku menemukan Alfa di dapur sedang membersihkan meja.

“Fa.”

“Hm.”

“Maaf.”

“Buat apa?”

“Tara.”

“Temanmu aneh.”

“Setuju.”

Dia mengusap meja sekali lagi.

Aku bersandar di kusen pintu.

“Dan yang tadi.”

Alfa berhenti.

“Yang mana?”

“Pertanyaan aku.”

Dia menatapku.

“Kalau aku bikin kamu kepikiran, maaf.”

“Memang kepikiran.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Alfa melanjutkan membersihkan.

Beberapa detik kemudian aku bertanya, “Kepikiran buruk?”

Dia menghela napas.

“Enggak tahu.”

Aku mengangguk.

“Ya sudah.”

Aku tidak mengejar.

Malamnya, aku sudah di rumah ketika ponsel berbunyi.

Alfa

Kamu tidur?

Aku langsung duduk.

Celine

Belum.

Tiga titik muncul cukup lama.

Alfa

Kalau soal tadi.

Aku menunggu.

Alfa

Aku belum siap kalau tiba-tiba.

Jantungku berdetak lebih cepat, bukan karena kecewa.

Karena dia bicara.

Celine

Oke.

Aku menambahkan.

Celine

Aku nggak akan tiba-tiba.

Lama tidak ada balasan.

Kemudian:

Alfa

Tapi bukan berarti aku nggak mau selamanya.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Pipiku panas.

Aku merebahkan diri ke bantal.

Alfa Pradipta ternyata bisa sangat berbahaya kalau jujur.

Celine

Baik.

Aku mengetik lagi, lalu menghapus.

Mengetik lagi.

Menghapus lagi.

Akhirnya:

Celine

Kalau suatu hari kamu mau, kamu yang tentukan.

Balasan datang satu menit kemudian.

Alfa

Iya.

Aku meletakkan ponsel di dada.

Aku ingin teriak ke Tara.

Tidak.

Aku ingin menyimpan ini.

Besok pagi, aku datang ke kampus dan menemukan Alfa di koridor.

Aku mendekat.

Tidak terlalu dekat.

“Pagi.”

“Pagi.”

Kami berjalan.

Aku tidak menyebut percakapan semalam.

Alfa yang akhirnya berkata, “Celine.”

“Hm?”

“Terima kasih.”

Aku melihatnya.

“Buat?”

Dia memasukkan tangan ke saku.

“Udah ngerti.”

Aku tersenyum.

Tangannya keluar lagi.

Terbuka sedikit.

Aku menggenggamnya.

Tidak ada kiss.

Tidak ada adegan besar.

Anehnya, aku merasa lebih dekat dengannya daripada kalau aku memaksakan satu.

Karena sekarang aku tahu sesuatu yang jauh lebih penting.

Alfa mulai percaya bahwa keinginannya akan didengar.

Dan kalau suatu hari dia menciumku, aku ingin itu terjadi bukan karena dia takut mengecewakanku.

Aku ingin itu terjadi karena dia sendiri yang memilih mendekat.

Sore berikutnya, aku justru menemukan efek samping dari percakapan kami.

Alfa menjadi lebih tenang.

Bukan lebih berani menggoda.

Jangan berharap terlalu jauh.

Tapi dia tidak lagi membeku setiap kali wajah kami terlalu dekat.

Saat aku membantu menempel label, kami sama-sama meraih gunting.

Jari kami bersentuhan.

Alfa tidak menarik tangan seperti tersengat.

Dia hanya berkata, “Kamu dulu.”

Aku mengambil gunting.

Kecil sekali.

Tapi aku memperhatikan.

Kemudian saat aku menyerahkan baki, tangannya menyentuh tanganku lebih lama setengah detik.

Aku juga memperhatikan.

Masalahnya, semua perkembangan kecil itu membuatku ingin tersenyum terus.

Pak Yono masuk dan langsung menangkap.

“Kenapa, Mbak Celine?”

“Kenapa apa?”

“Senyum sendiri.”

Aku menunjuk roti. “Senang lihat roti.”

Pak Yono memandang etalase.

Lalu Alfa.

Lalu aku.

“Roti yang mana?”

Alfa berkata dari belakang, “Pak, beli atau investigasi?”

Pak Yono mengambil satu donat.

“Beli sambil investigasi.”

Aku tertawa.

Saat Pak Yono pergi, Alfa mendekat ke kasir.

“Dia sekarang terlalu nyaman.”

“Semua tetanggamu terlalu nyaman.”

“Karena kamu masuk.”

“Jadi salah aku?”

Alfa menatapku.

“Sebagian.”

Aku hendak protes ketika dia tiba-tiba menyibakkan sedikit pita yang menempel di bahuku.

Gerakannya pelan.

Sangat singkat.

Tapi dia yang menyentuh duluan.

Aku langsung diam.

Alfa melihat pita itu.

Kemudian melihatku.

“Apa?”

“Enggak.”

“Kamu lihat aneh.”

“Tidak.”

“Kamu mau bilang sesuatu.”

Aku menggigit bagian dalam pipi.

Jangan merusak momen.

“Terima kasih ambilin pita.”

Dia tampak curiga.

Tapi menerima.

Malamnya, sebelum tidur, aku sadar percakapan soal ciuman ternyata menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada ciuman itu sendiri.

Ruang.

Ruang bagi Alfa untuk memikirkan apa yang dia mau.

Ruang bagiku untuk menunggu tanpa merasa ditolak.

Dan di dalam ruang itu, sesuatu berubah.

Sekarang sentuhan tidak selalu datang dariku.

Kadang tangannya mencari tanganku.

Kadang dia membetulkan pita.

Kadang saat berjalan, bahunya sengaja tidak menjauh.

Tidak spektakuler.

Tapi nyata.

Aku menulis satu kalimat di notebook biru.

Hari ini dia mulai mendekat tanpa diminta.

Lalu kututup.

Kalau nanti kiss itu terjadi, bagus.

Kalau belum, juga tidak apa-apa.

Untuk pertama kalinya, menunggu tidak terasa seperti menahan diri.

Rasanya seperti dipercaya.

Sebelum tidur, ada satu pesan masuk dari Alfa.

Alfa

Besok datang?

Aku menatap layar sambil tersenyum.

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi beberapa minggu lalu, dia berharap aku tidak muncul.

Sekarang dia memastikan aku datang.

Celine

Datang.

Alfa

Oke.

Tidak ada tambahan.

Tidak perlu.

Aku tahu kenapa pesan itu terasa besar.

Ia bukan sedang meminta sesuatu yang romantis.

Ia cuma mulai memasukkan keberadaanku ke dalam rencana harinya.

Dan bagiku, itu lebih intim daripada rayuan mana pun.

Aku tersenyum ke layar sebelum mematikannya.

Besok ternyata sudah punya tempat kecil di pikiranku: toko, aroma mentega, dan seseorang yang dulu selalu kabur dariku, tapi sekarang justru memastikan aku akan datang.