Chapter Thirty Nine
Dua Kali
POV: Celine
Aku tidak tidur setelah Alfa berkata, “Ternyata tetap bukan karena aku.”
Bukan karena marah.
Karena aku akhirnya memahami bentuk luka yang selama ini belum bisa kusentuh.
Alfa tidak cuma takut ditinggalkan.
Dia takut dicintai karena alasan yang salah.
Pagi hari aku membuka foto lama.
Aku hampir menghapusnya.
Tidak.
Menghapus tidak mengubah sejarah.
Aku menaruhnya kembali.
Lalu membuka notebook biru.
Aku membaca halaman demi halaman.
Hari pertama dia membalas.
Roti cacat.
Pegangan tangan.
Kencan.
Kiss.
Jangan pulang dulu.
Marah.
Maaf.
Semua itu bukan anak SMA di foto.
Itu Alfa sekarang.
Siang hari, aku bertemu Naya.
“Aku bikin masalah ya?” tanyanya.
“Bukan salah kamu.”
“Aku hapus post?”
“Jangan.”
Dia menatapku.
“Kenapa?”
“Karena masalahnya bukan fotonya.”
Aku menjelaskan sedikit.
Naya diam.
Lalu berkata, “Dulu Kakak suka Kak Alfa?”
Aku berpikir.
“Suka dalam arti kagum.”
“Crush?”
“Mungkin.”
“Sekarang?”
Aku tertawa kecil.
“Sekarang beda.”
Naya tersenyum.
“Bilang.”
“Iya.”
Sore aku ke toko.
Alfa sedang di depan.
Kami tidak langsung menyentuh.
Aku berkata, “Aku punya jawaban yang kemarin belum lengkap.”
Dia berhenti.
“Kalau kamu mau dengar.”
Alfa mengangguk.
Kami duduk setelah toko sepi.
Aku menarik napas.
“Aku jatuh cinta dua kali sama orang yang sama.”
Alfa menatapku.
“Pertama, aku jatuh cinta pada ide tentang kamu.”
Aku memilih kata hati-hati.
“Anak SMA yang datang ke panti. Baik. Diam. Nggak minta apa-apa.”
Alfa melihat tangan.
“Itu yang aku kagumi.”
Aku melanjutkan.
“Tapi aku nggak kenal kamu.”
Dia menatap lagi.
“Aku nggak tahu kamu suka kopi pahit. Aku nggak tahu kamu bisa ngambek. Aku nggak tahu kamu cemburuan sedikit.”
“Sedikit.”
“Sedikit.”
Aku tersenyum.
“Aku nggak tahu kamu takut perempuan cantik.”
Alfa menghela napas.
“Aku nggak tahu kamu bisa bikin aku kesel sampai pengin mukul pakai loyang.”
“Romantis.”
“Diam.”
Dia hampir tersenyum.
Aku serius lagi.
“Terus aku ketemu kamu di kampus.”
Aku menunjuknya.
“Dan ternyata orangnya jauh lebih merepotkan daripada versi di kepalaku.”
“Terima kasih.”
“Tapi juga lebih nyata.”
Aku menelan.
“Aku jatuh cinta lagi.”
Alfa diam.
“Kali ini bukan sama Kak Roti.”
Mataku panas.
“Sama Alfa.”
Dia menatapku lama.
Aku tidak tahu apakah cukup.
Tidak ada pidato yang bisa memaksa.
“Aku nggak bisa buktiin kalau tanpa panti aku pasti tetap akan menemukan kamu.”
Aku menggeleng.
“Itu bohong.”
Alfa mengangguk pelan.
“Tapi aku bisa bilang kenapa aku tetap di sini setelah menemukanmu.”
Aku mulai menyebut.
Cara dia menyimpan roti jelek.
Cara dia ingat minumanku.
Cara dia menjaga Mbah.
Cara dia mulai berani bilang cemburu.
Cara dia meminta aku tinggal.
Cara dia marah ketika aku salah.
Cara dia memaafkan tanpa pura-pura kesalahan hilang.
“Semua itu bukan foto.”
Alfa menatap lantai.
Aku berhenti.
Tidak menambah.
Biarkan dia.
Beberapa menit.
Lalu Alfa berkata, “Dua kali?”
Aku tersenyum.
“Dua kali.”
“Orang yang sama?”
“Iya.”
“Boros.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Bodoh.”
Alfa mengangkat tangan.
Menyeka satu air mata dengan ibu jari.
Gerakannya lembut.
“Celine.”
“Hm?”
“Aku belum seratus persen.”
“Aku nggak minta.”
“Tapi…”
Dia berhenti.
“Aku pengin percaya.”
Dadaku pecah.
Bukan “aku percaya”.
Aku pengin percaya.
Itu lebih penting.
Karena dia memilih arah.
Aku mengangguk.
“Ya udah.”
Alfa menatap.
“Ya udah?”
“Kita mulai dari situ.”
Dia tersenyum kecil.
Aku membuka tangan sedikit.
Tidak meminta.
Alfa yang mendekat.
Pelukannya datang lebih dulu.
Aku memeluk balik.
Kepalaku di dadanya.
Tangannya di punggungku.
Tidak ada rasa hati-hati seperti setelah pertengkaran.
Lebih erat.
Lebih yakin.
Aku menutup mata.
Alfa berkata pelan, “Aku kangen ini.”
“Pelukan?”
“Hm.”
“Bukan aku?”
Dia menghela napas.
“Kamu.”
Aku tersenyum di dadanya.
“Bilang lagi.”
“Enggak.”
“Alfa.”
“Jangan rusak.”
Aku tertawa.
Setelah kami lepas, aku berkata, “Boleh cium?”
Alfa memandangku.
Beberapa detik.
Lalu mengangguk.
“Boleh.”
Aku mendekat.
Kiss kali ini tidak seperti pertama.
Tidak cepat.
Tidak panik.
Lembut.
Tenang.
Alfa tidak mundur setelah satu detik.
Tangannya tetap di pinggangku.
Ketika kami berpisah, dahinya menyentuh dahiku.
Aku tersenyum.
“Masih hidup?”
“Sayangnya.”
Aku tertawa.
Dia menciumku lagi.
Kali ini dia yang mulai.
Tidak ada milestone.
Tidak ada perayaan.
Cuma dua orang yang sudah melewati sesuatu dan memilih kembali mendekat.
Malamnya, aku menulis di notebook:
Dua kali.
Lalu:
Yang pertama membuatku melihatnya.
Yang kedua membuatku memilihnya.
Aku menutup buku.
Untuk pertama kalinya sejak rahasia panti terbuka, aku tidak takut pada masa lalu.
Karena masa lalu memang membawa kami ke titik awal.
Tapi semua langkah setelahnya adalah milik kami.
Sebelum tidur, pesan Alfa masuk.
Alfa
Besok aku ke panti.
Aku membaca.
Celine
Sendiri?
Alfa
Biasanya.
Aku ragu.
Kemudian pesan kedua.
Alfa
Kalau kamu mau ikut, boleh.
Aku berhenti.
Boleh.
Bukan karena Naya.
Bukan karena masa lalu.
Undangan dari Alfa sekarang.
Celine
Mau.
Alfa
Jam sembilan.
Aku tersenyum.
Besok aku akan pergi ke tempat di mana semuanya bermula.
Tapi kali ini bukan sebagai gadis enam belas tahun yang melihat dari jauh.
Aku pergi sebagai Celine yang mengenal Alfa.
Pacarnya.
Orang yang pernah salah.
Orang yang masih dipilih.
Dan mungkin itulah bedanya cinta pertama dan cinta yang nyata.
Yang pertama hidup dari bayangan.
Yang kedua bertahan setelah melihat semuanya. Besok pagi, kami benar-benar pergi ke Panti Pelita.
Alfa membawa empat kotak kue.
Aku membawa dua.
Begitu masuk, anak-anak langsung menyerbu.
“Kak Alfa!”
“Kak Roti!”
Aku tertawa.
Seorang anak perempuan kecil menunjukku.
“Ini siapa?”
Alfa membeku setengah detik.
Aku tidak membantu.
Aku ingin dia yang jawab.
“Pacarku,” katanya.
Anak-anak langsung ribut.
Aku menutup mulut supaya tidak terlalu jelas bahagianya.
Alfa menatap.
“Jangan.”
“Aku nggak bilang apa-apa.”
“Itu masalahnya.”
Aku tertawa.
Sepanjang pagi aku melihat Alfa bergerak di tempat ini.
Tidak seperti pahlawan.
Tidak seperti foto.
Lebih manusia.
Dia kesal ketika anak-anak menarik hoodie.
Dia mengomel kalau ada yang lari dekat oven portable.
Dia kalah main kartu.
Dia tertawa.
Aku melihat versi nyata.
Dan aku jatuh cinta lagi.
Mungkin yang ketiga.
Aku tidak bilang.
Nanti Alfa bilang boros.
Saat pulang, kami berjalan ke parkiran.
Alfa membawa kotak kosong.
Aku menggenggam tangannya.
Dia menggenggam balik.
“Celine.”
“Hm?”
“Sekarang aku ngerti sedikit.”
“Apa?”
“Kenapa foto itu penting.”
Aku menatap.
“Tapi aku lebih suka kalau kamu bikin foto baru.”
Dadaku langsung hangat.
“Kita foto sekarang?”
“Jangan.”
“Alfa.”
“Bukan sekarang.”
Aku tertawa.
Dia menghela napas.
“Nanti.”
Nanti.
Kata sederhana.
Tapi datang dari seseorang yang dulu tidak suka membuat rencana dengan cinta.
Aku tersenyum.
“Oke. Nanti.”
Malam setelah dari panti, Alfa mengirim foto.
Bukan selfie.
Foto dua kotak kosong di meja dapur.
Alfa
Hari ini habis.
Aku tersenyum.
Celine
Karena enak.
Alfa
Karena anak-anak rakus.
Celine
Fitnah.
Beberapa detik.
Alfa
Terima kasih udah ikut.
Aku membaca.
Celine
Terima kasih udah ngajak.
Lama.
Lalu:
Alfa
Lain kali ikut lagi.
Aku memeluk bantal.
Celine
Siap.
Aku menulis satu kalimat lagi di notebook.
Sekarang aku tidak melihatnya dari jauh.
Aku menutup buku.
Itu mungkin inti semuanya.
Dulu aku melihat Alfa sebagai gambar kecil di belakang foto.
Sekarang aku tahu suaranya saat kesal.
Tahu tangannya dingin ketika takut.
Tahu dia suka bagian pinggir pastry.
Tahu dia bisa menyakiti dan meminta maaf.
Tahu dia bisa marah kepadaku dan tetap memilih kembali.
Versi nyata jauh lebih rumit.
Dan jauh lebih aku cintai.
Hari berikutnya, foto baru itu benar-benar jadi bahan ribut.
Naya mencetak satu salinan dan menempelkannya di papan kecil kantor panti.
Alfa melihat.
“Kenapa dipajang?”
“Biar sejarah.”
“Turunin.”
“Enggak.”
Aku tertawa.
Seorang anak berkata, “Kak Alfa sekarang senyum.”
Alfa langsung menatap foto.
“Dulu enggak?”
“Dulu serem.”
Aku tertawa lebih keras.
Alfa menunjuk anak itu.
“Kue kamu aku ambil.”
Anak itu memeluk kotak donut.
“Jangan!”
Kekacauan pecah.
Aku berdiri di samping sambil melihat.
Versi masa lalu Alfa yang kusimpan dulu hanya diam di belakang foto.
Versi sekarang berdebat dengan anak umur sembilan tahun soal donut.
Jauh lebih baik.
Saat pulang, aku berkata, “Aku benar.”
“Apanya?”
“Versi nyata lebih bagus.”
Alfa menatapku.
“Versi nyata capek.”
“Ya.”
“Bisa marah.”
“Ya.”
“Bisa jelek.”
“Ya.”
Dia menghela napas.
“Kamu keras kepala.”
“Aku belajar dari pacar.”
Dia mengambil tanganku.
Tidak membantah.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali reading
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru