Chapter Forty One
Aku Masih di Sini
POV: Alfa
Aku kira setelah malam itu semuanya akan terasa ringan.
Ternyata Celine yang runtuh dua hari kemudian.
Kami sedang di toko.
Mbah pergi ke rumah Bu Siska.
Celine membantu memasukkan roti ke kotak.
Tiba-tiba dia berhenti.
“Aku takut,” katanya.
Aku menoleh.
“Apa?”
Dia menaruh pita.
“Sejak kita berantem.”
Aku menunggu.
“Aku takut satu kesalahan aku bikin kamu balik nutup semuanya.”
Wajahnya berusaha tenang.
Gagal.
“Aku takut kalau aku terlalu banyak ngomong, salah.”
Dia tertawa kecil.
“Kalau aku diem, juga salah.”
Aku baru sadar.
Selama ini fokus kami selalu padaku.
Pada takutku.
Lukaku.
Padahal Celine juga membawa ketakutan sekarang.
Aku mendekat.
Dia berkata cepat, “Aku tahu ini bukan tentang aku.”
“Sekarang tentang kamu.”
Celine diam.
Matanya langsung merah.
“Aku nggak mau jadi orang yang bikin kamu mundur lagi.”
Aku mengangkat tangan.
“Celine.”
“Hm?”
“Lihat aku.”
Dia melihat.
“Aku masih di sini.”
Kalimat itu keluar.
Lock phrase yang dulu selalu dia berikan kepadaku.
Sekarang milikku.
Celine menutup mulut.
Aku menariknya ke pelukan.
Dia menangis.
Aku memegang belakang kepalanya.
Tidak mencoba memperbaiki.
Hanya ada.
“Aku juga bisa salah,” kataku.
Dia mengangguk di dadaku.
“Kita bisa ribut lagi.”
Dia mengangguk.
“Aku mungkin kabur sedikit.”
Celine tertawa sambil menangis.
“Sedikit?”
“Sedikit.”
Aku mencium puncak kepalanya.
“Tapi aku akan coba balik.”
Tangannya mengerat di pinggangku.
Aku berkata, “Kamu nggak harus sempurna supaya aku tetap sayang.”
Tubuhnya gemetar.
“Fa.”
“Hm?”
“Kamu sekarang jahat.”
“Kenapa?”
“Bikin nangis.”
Aku tertawa.
Beberapa menit kemudian kami lepas.
Celine mengusap mata.
“Aku jelek.”
“Lumayan.”
Dia memukul dada.
Aku menangkap tangannya.
Menarik sedikit.
Celine hampir menabrak.
Aku mencium dia.
Tidak ada permintaan izin verbal kali ini karena pola ini sudah aman bagi kami; gerakanku pelan dan dia maju menyambut.
Kiss singkat.
Lalu satu lagi.
Celine tersenyum.
“Sekarang casual?”
Aku mengangkat bahu.
“Kayaknya.”
“Bahaya.”
“Kenapa?”
“Aku bisa minta terus.”
“Jangan.”
Dia tertawa.
Aku kembali menyusun kotak.
Celine berdiri di samping.
Beberapa menit kemudian dia menyandarkan kepala ke bahuku.
Aku tidak berhenti bekerja.
Tanganku mencari tangannya tanpa melihat.
Jari kami terhubung.
Biasa.
Natural.
Aku suka itu.
Sore, Mbah pulang.
Melihat mata Celine merah.
“Berantem?”
“Enggak,” jawab kami bersamaan.
Mbah mengangguk.
“Bagus.”
Beliau melihat tangan kami.
“Terus kerja.”
Celine tertawa.
Malamnya, setelah tutup, kami duduk di lantai dapur makan satu roti gagal.
Celine membagi dua.
“Dulu kamu makan sendiri,” katanya.
“Hm.”
“Sekarang?”
Aku menyerahkan separuh.
“Berisik.”
Dia tersenyum.
Kami makan.
Tidak ada pidato.
Aku memandang toko kecil.
Mbah.
Celine.
Roti gagal.
Hidup yang dulu terasa cukup tanpa cinta ternyata masih cukup sekarang, hanya lebih penuh.
Aku berkata, “Aku mau ngomong sesuatu.”
Celine langsung waspada.
“Apa?”
“Jangan tegang.”
“Kamu yang bikin.”
Aku tersenyum.
“Aku nggak janji akan selalu gampang.”
Dia mengangguk.
“Aku juga.”
“Tapi…”
Aku memandang tangan kami.
“Aku pengin terus belajar.”
Celine menatapku.
“Bareng?”
Aku mengangguk.
“Bareng.”
Dia menyandarkan kepala lagi.
Aku mencium rambutnya.
Untuk pertama kalinya, masa depan tidak terasa seperti jebakan.
Cuma sesuatu yang belum tahu bentuknya.
Dan kali ini, aku tidak ingin menghadapinya sendirian. Besoknya, kami pergi makan siang bersama Dimas, Tara, dan Nadine.
Fikri datang terlambat, tentu saja.
Dia duduk sambil menatap kami.
“Gue ketinggalan apa?”
Tara menjawab, “Perkembangan karakter.”
Fikri mengangguk seperti paham.
“Siapa?”
“Semua.”
Aku tertawa.
Celine menyenggol lututku di bawah meja.
Tanganku otomatis mencari tangannya.
Tara melihat.
Tidak komentar.
Aku bersyukur.
Fikri tidak sebijak itu.
“Wah, sekarang pegangan tangan di bawah meja.”
Aku melepas.
Celine menangkap lagi.
“Jangan pengecut,” katanya.
Aku menatapnya.
Semua orang tertawa.
Anehnya aku ikut.
Dulu perhatian sekecil itu bisa membuatku shutdown.
Sekarang aku cuma malu.
Malu jauh lebih mudah daripada takut.
Setelah makan, Tara berjalan di depan bersama Celine.
Aku dengan Dimas.
Dimas berkata, “Lu kelihatan lebih ringan.”
“Masih berat.”
“Ya.”
Kami berjalan.
“Gue tahu nggak semua selesai.”
Aku menatap.
Dimas mengangkat bahu.
“Cuma bilang.”
Aku mengangguk.
“Thanks.”
Sore hari, Celine membantu bakery.
Saat Mbah masuk kamar, dia menyandarkan kepala ke bahuku.
Aku sedang membaca daftar pesanan.
“Capek?”
“Hm.”
Aku merangkul.
Tidak berhenti membaca.
Lima menit kemudian dia berkata, “Ini yang aku mau.”
“Apa?”
“Biasa.”
Aku menurunkan kertas.
Celine menatap toko.
“Bukan tiap hari harus healing.”
Aku tertawa kecil.
“Bagus.”
“Besok kita boleh ribut soal hal bodoh.”
“Contoh?”
“Kamu pelit donut.”
“Aku nggak pelit.”
“Nah.”
Kami berdebat lima menit.
Aku senang.
Karena setelah semua percakapan berat, kami masih punya ruang untuk masalah kecil.
Dan cinta yang cuma bisa hidup saat semuanya dramatis mungkin bukan cinta yang ingin kupunya.
Aku ingin yang ini.
Yang bisa menangis malam lalu berdebat soal donut besoknya.
Sebelum Celine pulang, aku berdiri di depan pintu.
Dia berkata, “Sekali lagi.”
“Apa?”
“Kiss.”
“Serakah.”
“Kamu pernah bilang.”
Aku mendekat.
Menciumnya singkat.
Dia tersenyum.
“Good night.”
“Good night.”
Aku menutup pintu.
Tidak ada jantung meledak.
Tidak ada panic.
Justru itu terasa seperti ceiling yang sebenarnya.
Bukan kiss besar.
Kiss yang tidak perlu menjadi acara.
Malam setelah Celine pulang, aku memikirkan kalimatku sendiri.
Aku masih di sini.
Dulu kalimat itu selalu terdengar seperti sesuatu yang hanya Celine bisa berikan.
Dia yang datang.
Dia yang menunggu.
Dia yang tinggal.
Sekarang aku mengerti hubungan tidak bisa selamanya berjalan satu arah.
Ada hari ketika aku yang butuh ditahan.
Ada hari ketika dia.
Dan itu tidak membuat salah satu dari kami lebih lemah.
Keesokan pagi, aku datang ke kampus lebih dulu.
Biasanya Celine menungguku.
Hari ini aku yang berdiri dekat tangga fakultasnya.
Ketika dia keluar, dia berhenti.
“Ngapain di sini?”
“Nunggu.”
Dia menatapku seperti aku baru menumbuhkan sayap.
“Aku tahu fungsi kata itu.”
Celine tertawa.
Aku menyerahkan kopi.
“Tanpa gula?” tanyanya.
“Itu punyaku.”
Dia melihat gelas satunya.
“Ini?”
“Yang terlalu manis.”
“Berarti punyaku.”
Kami berjalan.
Tangan Celine dekat.
Aku menggenggam.
Tidak ada alasan.
Tidak sedang takut.
Tidak perlu grounding.
Cuma mau.
Di persimpangan, dia berkata, “Aku suka Alfa versi ini.”
Aku langsung waspada.
“Versi apa?”
“Yang nunggu aku.”
Aku berpikir.
“Jangan kebiasaan.”
“Sudah.”
Aku menghela napas.
Tapi tersenyum.
Mungkin healing paling besar memang tidak datang saat menangis.
Kadang datang saat suatu pagi aku sadar kebiasaan lama sudah bergeser.
Dulu aku selalu mencari jalan menghindar.
Sekarang aku berdiri menunggu seseorang datang.
Sore hari, Tara mengirim pesan ke Celine saat kami duduk di toko.
Tara
Gimana kondisi pasien?
Celine menunjukkan layar.
Aku mengernyit.
“Pasien?”
“Katanya kamu.”
Aku mengambil ponselnya.
Alfa
Pasien sehat.
Tara langsung membalas.
Tara
ANJIR DIA BISA BALAS.
Aku menyerahkan ponsel.
Celine tertawa.
“Kenapa semua temanmu dramatis?”
“Karena hidupku hiburan mereka.”
Aku mengangguk.
“Benar.”
Dia memukul lenganku.
Aku tertawa.
Momen kecil seperti itu membuatku sadar sesuatu.
Dulu hubungan ini selalu terasa seperti medan ujian.
Apakah aku akan percaya.
Apakah dia akan tinggal.
Apakah aku akan takut.
Sekarang ada hari-hari ketika kami cuma bodoh bersama.
Dan ternyata aku menyukai bagian itu lebih dari semua momen romantis besar.
Celine mengambil satu donut.
“Ini gratis?”
“Enggak.”
“Pacar.”
“Itu bukan mata uang.”
Dia menggigit.
“Sudah terlanjur.”
Aku menghela napas.
Kemudian mengambil satu lagi.
“Bagi.”
Dia menyerahkan separuh.
Kami makan sambil berdiri di belakang kasir.
Tidak ada yang disembuhkan.
Tidak ada yang perlu diselesaikan.
Cuma sore biasa.
Dan mungkin justru itu bukti paling kuat bahwa kami baik-baik saja.
Sebelum pulang, Celine berhenti di pintu.
“Besok aku yang nunggu.”
Aku mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Biar adil.”
Aku mengangguk.
“Boleh.”
Dia tersenyum.
Hal-hal seperti ini dulu terasa terlalu kecil untuk dihitung.
Sekarang justru aku tahu hubungan kami bertahan karena hal-hal kecil yang terus dipilih berulang kali.
Dan aku tidak ingin kehilangan kebiasaan kecil itu lagi. Lagi.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini reading
- 42 Foto Baru