Chapter Eleven
Kencan yang Bukan Kencan
POV: Alfa
Mbah menyuruhku membeli bahan bakery setelah kelas.
Itu tugas biasa.
Yang tidak biasa adalah ketika Celine mendengar dan berkata, “Aku ikut.”
Aku langsung menjawab, “Kenapa?”
“Karena aku mau.”
“Itu bukan alasan.”
“Buatku cukup.”
Dimas, yang kebetulan berdiri di sampingku, menatap langit-langit seolah meminta kekuatan.
“Fa,” katanya, “kadang hidup ngasih lu kesempatan. Jangan ditendang.”
“Aku cuma beli butter.”
“Lebih parah lagi kalau lu gagal memanfaatkan kesempatan karena butter.”
Celine mengangkat tangan. “Aku bisa bantu bawa.”
“Aku bisa bawa sendiri.”
“Bisa, tapi kalau aku ikut kamu nggak perlu.”
Aku menatapnya.
Dia tersenyum tanpa tekanan.
“Kalau nggak boleh, bilang.”
Kalimat itu membuat penolakanku berhenti di tenggorokan.
Akhirnya aku menghela napas. “Ya sudah.”
Dimas menepuk pundakku. “Bangga.”
“Pergi.”
Kami naik angkot ke toko bahan kue yang biasa dipakai Mbah. Celine duduk di samping jendela, aku di sebelahnya. Jarak bahu kami cukup aman.
Setiap angkot berbelok, Celine refleks memegang kursi, bukan lenganku.
Aku menyadari itu.
Aku tidak tahu kenapa aku terus memperhatikan hal-hal seperti itu sekarang.
“Jauh?” tanyanya.
“Lima belas menit.”
“Kamu sering ke sana?”
“Iya.”
“Sendiri?”
“Biasanya.”
Celine menoleh kepadaku. “Berarti ini pertama kalinya kamu ditemani cewek cantik belanja butter?”
Aku melihat ke depan.
“Pertanyaan jebakan.”
“Jawabannya iya, kan?”
“Aku nggak akan jawab.”
Celine tertawa kecil.
Sampai di toko, dia langsung kagum melihat rak cokelat couverture, tepung impor, cetakan, dan berbagai jenis garnish.
“Ini surga.”
“Kamu bahkan nggak baking.”
“Surga bisa dinikmati pengunjung.”
Aku mengambil daftar dari Mbah.
Butter dua kilo.
Cream cheese.
Dark chocolate.
Vanila.
Celine mengikutiku sambil membawa keranjang.
Aku memilih butter yang biasa dipakai.
Dia melihat harga.
“Pantes croissant mahal.”
“Makanya jangan komplain kalau beli.”
“Aku nggak pernah komplain.”
“Kamu pernah bilang satu cinnamon roll terlalu kecil.”
“Itu observasi.”
Aku menatapnya.
Celine menyeringai. “Kena.”
Kami bergerak ke rak berikutnya. Seorang pegawai toko yang sudah mengenalku menyapa.
“Mas Alfa, tumben nggak sendiri.”
Aku tahu kalimat berikutnya akan buruk.
Pegawai itu tersenyum ke Celine. “Pacarnya?”
“Bukan,” jawabku terlalu cepat.
Celine tidak berkata apa-apa.
Pegawai itu hanya mengangguk. “Oh, teman.”
“Iya.”
Aku mengambil dark chocolate dan pura-pura fokus membaca label yang sudah kuhafal.
Beberapa detik kemudian, Celine berdiri di sebelahku.
“Kenapa?” tanyaku.
“Enggak.”
“Kamu senyum.”
“Aku cuma senang statusku naik dari ancaman menjadi teman.”
Aku membeku sepersekian detik.
Dia mengatakannya bercanda, tapi entah kenapa aku merasa bersalah.
“Aku nggak pernah bilang kamu ancaman.”
“Wajahmu bilang.”
“Wajahku—”
“Tertutup poni. Aku tahu.”
Aku menyerah.
Setelah semua bahan masuk keranjang, Celine mengambil satu kotak kecil sprinkles berbentuk bintang.
“Ini lucu.”
“Mbah nggak butuh.”
“Aku yang beli.”
“Buat apa?”
“Belum tahu.”
Aku melihat harga. “Mahal.”
Celine memasukkannya ke keranjang miliknya. “Kebahagiaan punya harga.”
“Kalimat marketing.”
“Berhasil ke aku.”
Kami membayar terpisah. Di luar toko, hujan turun tiba-tiba.
Aku melihat langit.
“Bagus.”
Celine berdiri di sampingku. “Kamu bawa payung?”
“Enggak.”
“Aku juga.”
Kami berteduh di bawah kanopi.
Angkot yang lewat penuh.
Aku memeriksa jam. Kalau menunggu terlalu lama, Mbah akan mulai mengirim pesan.
Ponselku bergetar.
Mbah Ratri
Udah dapat?
Aku membalas.
Alfa
Sudah. Hujan.
Balasan datang.
Mbah Ratri
Berteduh. Jangan sok kuat.
Beberapa detik kemudian pesan kedua masuk.
Mbah Ratri
Celine ikut?
Aku menatap layar.
Celine mengintip dari samping, tidak cukup dekat untuk membaca.
“Siapa?”
“Mbah.”
“Bilang aku ikut.”
Aku mengetik.
Alfa
Iya.
Balasan Mbah muncul hampir seketika.
Mbah Ratri
Bagus. Jangan ditinggal.
Aku mematikan layar.
“Kenapa?” tanya Celine.
“Tidak ada.”
“Curiga.”
Aku mengabaikannya.
Hujan belum berhenti. Celine melihat kios minuman di samping toko bahan kue.
“Mau teh?”
“Aku nggak haus.”
“Aku haus.”
“Ya beli.”
“Kamu temenin.”
“Kiosnya tiga meter.”
“Aku takut.”
“Kamu bohong.”
“Bagus, kamu makin kenal aku.”
Aku akhirnya ikut.
Kami duduk di bangku plastik kecil sambil minum teh hangat. Barang belanjaan ditaruh di bawah meja.
Celine meniup tehnya.
“Ini mirip kencan.”
Aku hampir tersedak.
“Bukan.”
“Aku bilang mirip.”
“Jangan bilang begitu.”
“Kenapa?”
“Karena bukan.”
Celine menatapku. “Kalau suatu hari aku ajak kencan beneran, kamu bakal kabur?”
Aku diam.
Pertanyaan itu terlalu jauh.
Celine langsung mengangkat tangan. “Nggak perlu jawab sekarang.”
Aku menatap teh.
Anehnya, kali ini aku tidak ingin kabur dari kios.
Kami duduk cukup lama sampai hujan mengecil.
Pembicaraan bergeser ke hal-hal sederhana. Kelas. Dosen. Makanan. Celine bercerita Tara pernah salah masuk kelas dan baru sadar setelah empat puluh menit. Aku bercerita Fikri pernah presentasi di file yang salah dan baru sadar saat slide terakhir menampilkan daftar belanja ibunya.
Aku tertawa lebih banyak daripada yang seharusnya.
Celine tidak menyinggungnya.
Itu mungkin alasan aku bisa tertawa lagi.
Saat hujan berhenti, kami membawa belanjaan ke jalan utama.
Perjalanan pulang lebih ramai. Kami berdiri di angkot karena semua kursi penuh. Aku memegang pegangan atas dengan satu tangan dan menjaga tas bahan tetap di dekat kaki. Celine berdiri di depanku, berpegangan pada tiang.
Ketika angkot mengerem mendadak, tubuhnya terdorong ke belakang.
Tanganku refleks bergerak, lalu berhenti sebelum menyentuh bahunya.
Celine berhasil menahan diri sendiri. Dia menoleh.
Aku menarik tangan kembali.
Dia tidak berkata apa-apa. Hanya menggeser posisi sedikit agar lebih stabil.
Anehnya, aku justru merasa lega karena dia tidak menjadikan gerakan refleksku bahan candaan.
Begitu sampai di Ratri Bakehouse, Mbah berdiri di depan pintu seperti petugas pemeriksaan imigrasi.
“Lama.”
“Hujan,” jawabku.
Mbah melihat Celine. “Hujannya di toko teh?”
Aku berhenti. “Mbah tahu dari mana?”
Celine tertawa. “Mbah cenayang?”
“Bu Siska lewat sana.”
Tentu saja.
Aku menarik napas panjang. “Lingkungan ini punya jaringan intelijen.”
“Kalau nggak aneh-aneh, nggak usah takut,” kata Mbah.
“Kami cuma beli teh.”
“Siapa yang tanya?”
Aku diam.
Celine menutup mulut, gagal menyembunyikan tawa.
Kami membawa semua belanjaan ke dapur. Celine mengeluarkan kotak sprinkles bintang miliknya dan menaruhnya di meja.
Mbah mengangkat alis. “Itu apa?”
“Kebahagiaan,” jawab Celine.
Aku langsung berkata, “Katanya punya harga.”
Celine menunjukku. “Nah. Dia dengar.”
Mbah melihat kami bergantian, lalu tersenyum kecil dengan cara yang membuatku curiga.
“Bagus.”
“Apa yang bagus?” tanyaku.
“Pendengaranmu.”
Aku tahu beliau bohong.
Celine membuka kotak sprinkles itu dan menuangkan beberapa di telapak tangan. “Mbah, boleh besok aku hias satu donat?”
“Boleh.”
“Jangan kasih dia akses penuh,” kataku.
Celine menatapku tersinggung. “Aku punya bakat.”
“Kertas bungkusmu kemarin bentuknya seperti barang sitaan.”
Mbah tertawa sampai harus memegang meja.
Celine menunjukku lagi. “Oke. Aku simpan ini.”
Aku baru sadar apa yang kulakukan.
Aku menggodanya lebih dulu.
Celine juga menyadari. Senyumnya berubah.
Aku langsung mengambil butter dan masuk ke kulkas.
Dari belakang terdengar suara Celine, “Alfa malu!”
“Enggak.”
“Pintunya kulkas nggak bisa nutupin telinga!”
Aku mempertimbangkan tinggal di dalam sana.
Celine mengambil satu tas berat.
“Yang itu aku bawa.”
“Berat.”
“Aku kuat.”
“Aku tahu. Tetap aku bawa.”
Dia menatapku sebentar, lalu menyerahkan tas itu.
“Baik.”
Aku mengambilnya.
Kami berjalan berdampingan.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Sebelum sampai ke halte, Celine berhenti di depan penjual jagung rebus.
“Kamu lapar?” tanyaku.
“Sedikit.”
“Kita baru minum teh.”
“Teh bukan makanan.”
Aku membeli dua karena kalau cuma satu dia akan menyuruhku ikut makan juga.
Celine menerima satu bungkus dan menatapku. “Kamu traktir?”
“Biar cepat.”
“Alasanmu romantis sekali.”
“Kalau mau bayar sendiri, kasih balik.”
Dia langsung memeluk jagungnya ke dada. “Sudah terlambat.”
Aku menggeleng, tapi sudut bibirku naik sedikit.
Di kaca sebuah toko, aku sempat melihat pantulan kami.
Seorang laki-laki berhoodie membawa dua tas besar.
Seorang perempuan di sebelahnya membawa kotak kecil sprinkles berbentuk bintang.
Entah kenapa, pemandangan itu terlihat normal.
Terlalu normal.
Dan untuk pertama kalinya, pikiran bahwa orang lain mungkin mengira kami sedang kencan tidak membuatku ingin menghilang.
Hanya membuat langkahku sedikit lebih cepat karena telingaku mulai panas.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan reading
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru