Chapter Six
Nomor Telepon Nenekku
POV: Alfa
Aku tahu sesuatu yang buruk terjadi ketika Mbah tersenyum melihat ponselnya.
Bukan karena Mbah tidak pernah tersenyum.
Masalahnya, senyum itu terlalu puas.
Aku sedang mengoles egg wash ke dua belas croissant ketika Mbah duduk di kursi dekat dapur, kacamata baca turun ke ujung hidung, jempolnya mengetik sesuatu dengan kecepatan yang mengejutkan untuk seseorang yang setiap hari mengeluh layar ponsel terlalu kecil.
Aku menatapnya.
“Mbah chat siapa?”
“Orang.”
“Siapa?”
“Kenapa kepo?”
Aku kembali ke loyang.
Sepuluh detik kemudian ponselku bergetar di meja.
Celine
Jangan lupa sarapan.
Aku berhenti.
Perlahan aku menoleh kepada Mbah.
Mbah masih melihat layar, tetapi sudut bibirnya bergerak.
Aku membuka chat.
Alfa
Kenapa tiba-tiba bilang begitu?
Balasan masuk cepat.
Celine
Informasi intelijen.
Aku menatap Mbah lagi.
“Mbah.”
“Hm?”
“Mbah kasih nomor Celine?”
Mbah akhirnya mengangkat kepala. “Iya.”
“Kenapa?”
“Dia minta.”
“Terus Mbah kasih begitu saja?”
“Nomor telepon, bukan sertifikat rumah.”
Aku meletakkan kuas.
“Mbah baru kenal dia kemarin.”
“Orangnya sopan.”
“Banyak penipu sopan.”
Mbah menyipitkan mata. “Kamu nuduh Celine mau nipu nenekmu?”
Aku diam.
Itu terdengar bodoh kalau diucapkan keras-keras.
Mbah menang.
Ponselku bergetar lagi.
Celine
Mbah bilang kamu tadi cuma minum kopi.
Aku mengetik dengan dua jempol.
Alfa
Jangan kerja sama dengan Mbah.
Celine
Terlambat.
Lalu muncul foto.
Mbah Ratri sedang tersenyum ke kamera kemarin sore, memegang roti susu seperti iklan.
Aku menatap Mbah.
“Mbah kirim foto juga?”
“Bagus kan?”
Aku tidak punya jawaban.
Pintu depan berbunyi. Bu Siska masuk membawa wadah plastik kosong.
“Rat, wadah kemarin.”
Kemudian dia melihat ekspresiku.
“Kenapa mukamu begitu?”
“Mbah kasih nomor ke Celine.”
Bu Siska meletakkan wadah. “Bagus.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kenapa bagus?”
“Biar ada yang ngawasin kamu.”
“Aku dua puluh tahun.”
“Makanya bahaya. Merasa dewasa.”
Mbah mengangguk serius.
Aku dikeroyok warga senior.
Hari itu di kampus, keadaan tidak membaik.
Dimas menyadari sesuatu begitu melihatku duduk.
“Lu kenapa?”
“Nenekku bersekutu dengan Celine.”
Dimas memproses kalimat itu.
“Gue butuh konteks.”
“Tidak ada.”
Fikri datang dua menit kemudian dan langsung berkata, “Gue dukung nenek lu.”
“Kamu bahkan belum tahu.”
“Intuisi.”
Aku menghela napas.
Celine tidak muncul sepanjang pagi.
Aku tahu karena... kebetulan memperhatikan.
Bukan menunggu.
Kami punya dua gedung yang terhubung selasar, jadi wajar kalau aku melihat orang yang lewat.
Jam sebelas, tidak ada.
Jam dua belas, tidak ada.
Jam satu kurang, masih tidak ada.
Aku sedang membuka bekal ketika Dimas berkata, “Kalau mau nanya, chat aja.”
Aku menatapnya.
“Nanya apa?”
“Celine di mana.”
“Aku nggak peduli.”
“Gue nggak bilang lu peduli.”
Aku menutup kotak bekal sedikit lebih keras.
Dimas tersenyum tipis dan memilih hidup dengan berhenti bicara.
Ponselku bergetar beberapa menit kemudian.
Celine
Hari ini aku ada presentasi seharian. Jadi aman, aku nggak akan tiba-tiba muncul dari belakang pilar.
Aku membaca pesan itu sekali.
Lalu lagi.
Alfa
Aku tidak pernah bilang kamu muncul dari pilar.
Celine
Belum.
Aku tanpa sadar tersenyum sedikit.
Fikri yang duduk di seberang langsung menunjuk.
“NAH.”
Aku mengangkat pandangan.
“Apa?”
“Lu senyum.”
“Tidak.”
“Dimas, saksi.”
Dimas menyesap minum. “Saya tidak mau terlibat perkara domestik.”
Aku memasukkan ponsel ke saku.
Sebelum kelas berikutnya, aku membuka ponsel lagi tanpa alasan yang jelas. Chat Celine berada cukup tinggi di daftar. Aku menatap nama itu, lalu akhirnya mengganti nama kontak yang sebelumnya cuma “Celine” menjadi “Celine Panduwinata”.
Tidak ada alasan khusus.
Aku hanya menyukai kontak yang rapi.
Dimas melihat layar dari samping. “Lu simpan nama lengkap?”
“Supaya jelas.”
“Kontak gue cuma Dimas.”
“Itu karena tidak ada Dimas lain yang menggangguku.”
Dia tertawa. “Oke.”
Aku tahu dia sengaja tidak melanjutkan. Aku menghargainya.
Sore menjelang saat aku kembali ke rumah. Toko cukup ramai. Dua anak sekolah memilih donat, Pak Yono dari bengkel sebelah duduk sambil minum kopi, dan Bu Mina sedang mengeluh ukuran roti kacang sekarang lebih kecil padahal sebenarnya sama.
Aku baru memakai celemek ketika lonceng pintu berbunyi.
Celine masuk.
Entah kenapa, ruangan terasa berhenti satu detik.
Pak Yono melihatku.
Bu Mina melihat Celine.
Dua anak sekolah saling sikut.
Mbah tersenyum seperti dalang yang rencananya berjalan sempurna.
Aku menarik napas.
“Kamu datang.”
Celine berhenti di depan pintu.
Lalu senyumnya berubah sedikit.
“Kedengarannya kamu nungguin.”
Aku langsung menyadari kesalahan.
“Bukan.”
“Padahal aku belum nuduh.”
Pak Yono batuk ke cangkir untuk menyembunyikan tawa.
Aku ingin pindah kota.
Celine datang ke kasir dan menyapa semua orang yang dikenalnya dari kemarin. Dalam lima menit, Bu Mina sudah tahu nama lengkapnya, fakultasnya, dan fakta bahwa dia “belum” pacarku karena Bu Siska rupanya telah mendistribusikan informasi lingkungan secara efisien.
“Cantik,” kata Bu Mina sambil menatap kami.
Celine tersenyum. “Terima kasih, Bu.”
Bu Mina menggeleng. “Bukan kamu. Cocoknya.”
Aku menjatuhkan kantong kertas.
Celine menggigit bibir menahan tawa.
Mbah tidak membantu sama sekali.
Ketika toko mulai sepi, Celine menawarkan bantuan melipat kotak. Aku hendak menolak, tetapi Mbah sudah memberinya tumpukan karton.
“Begini lipatnya,” kata Mbah.
Celine belajar cepat.
Aku berdiri di meja seberang, memasukkan roti yang sudah dingin ke kotak pesanan. Sesekali aku melihat ke arahnya.
Celine dan Mbah bicara tentang hal-hal biasa: dosen, lalu lintas, harga telur, bagaimana aku dulu pernah menangis karena adonan donat jatuh waktu umur sembilan tahun.
“Mbah.”
“Apa?”
“Itu rahasia.”
“Rahasia apanya? Satu gang tahu.”
Celine menutup mulut sambil tertawa.
Anehnya, aku tidak terlalu keberatan.
Sampai Celine bertanya, “Alfa dari dulu memang suka bikin kue?”
Mbah menjawab, “Dari kecil. Kalau lagi banyak pikiran, tangannya pasti cari adonan.”
Tanganku berhenti sepersekian detik.
Celine melihatku.
Aku kembali bekerja.
Mbah melanjutkan tanpa sadar, “Anaknya susah cerita. Jadi ya begitu.”
“Hmm,” jawab Celine pelan.
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Aku bersyukur.
Malam semakin larut. Setelah toko tutup, Celine bersiap pulang. Dia berpamitan kepada Mbah, lalu berdiri di dekat pintu bersamaku.
“Besok aku nggak ganggu.”
Aku mengernyit. “Kenapa?”
“Ada rapat sampai sore.”
“Oh.”
Aku seharusnya berhenti di sana.
Tapi mulutku bergerak.
“Kamu bisa datang kalau mau.”
Celine tidak menjawab.
Aku menatapnya.
Senyumnya hilang.
Bukan karena marah.
Lebih seperti dia sedang memastikan tidak salah dengar.
“Ke sini?”
Aku mengangguk kecil.
“Kalau selesai rapat?”
“Iya.”
“Alfa.”
“Apa?”
“Kalau kamu tarik kembali ucapan itu, aku akan protes.”
Aku hampir mengatakan tidak jadi hanya untuk menghentikan ekspresinya yang terlalu bahagia.
Tapi aku tidak melakukannya.
“Pulang sana.”
Celine tertawa pelan. “Baik.”
Setelah mobilnya pergi, aku menutup pintu toko.
Mbah berdiri di belakangku.
“Lumayan.”
Aku tidak menoleh. “Apa?”
“Sudah bisa ngajak datang lagi.”
“Aku cuma bilang boleh.”
“Ya.”
“Mbah jangan bikin aneh.”
“Yang aneh kamu.”
Aku mematikan lampu etalase.
Saat berjalan menuju dapur, ponselku bergetar.
Celine
Makasih sudah mengizinkan aku datang lagi.
Aku membaca kalimat itu.
Terlalu formal untuk Celine.
Aku mengetik:
Alfa
Tidak usah lebay.
Tiga titik muncul.
Celine
Siap. Besok aku lebay langsung.
Aku hampir tersenyum lagi.
Lalu pesan berikutnya masuk.
Celine
Selamat malam, Alfa.
Jariku diam di atas layar.
Aku teringat kantin. Tangga darurat. Hujan. Semua kali ketika naluri pertamaku adalah menjauh.
Aku masih tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan Celine dariku.
Aku juga belum tahu kenapa perempuan seperti dia bisa terus kembali.
Pengalaman mengajariku untuk tidak terlalu cepat percaya pada perhatian yang datang tiba-tiba.
Perhatian bisa menjadi hiburan bagi orang lain.
Kedekatan bisa berubah menjadi lelucon.
Dan senyum bisa punya arti berbeda begitu orang-orang lain ikut tertawa.
Aku menggenggam ponsel sedikit lebih keras.
Lalu menatap percakapan kami lagi.
Celine tidak pernah tertawa ketika aku mengatakan tidak.
Tidak sekali pun.
Itu seharusnya tidak cukup untuk membuatku merasa aman.
Belum.
Tapi untuk pertama kalinya setelah lama sekali, aku tidak langsung menutup pintu hanya karena seseorang mengetuk.
Aku mengetik satu balasan.
Alfa
Selamat malam.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku reading
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru