← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Three

Tidak, Terima Kasih

POV: Celine

Aku sudah pernah ditolak.

Penting untuk menjelaskan itu sejak awal.

Ada beberapa laki-laki yang tidak tertarik padaku, dua yang sudah punya pacar, dan satu orang di SMA yang menjawab pernyataan suka dari temanku dengan kalimat, “Aku sedang fokus olimpiade.” Jadi konsep penolakan bukan hal asing dalam hidupku.

Yang asing adalah seseorang yang terlihat seperti ingin mengajukan permohonan pindah kampus hanya karena aku duduk di depannya.

“Menurut gue dia jual mahal,” kata Tara.

“Menurut gue dia takut,” kata Nadine.

Kami bertiga duduk di kafe kecil depan fakultas. Tara sedang mengaduk es kopi yang sudah habis. Nadine membaca sesuatu di tablet sambil tetap mengikuti percakapan seperti orang yang punya dua otak.

Aku menunjuk Nadine. “Takut apa?”

“Kamu.”

Tara tertawa keras.

Aku tidak.

“Serius?”

Nadine akhirnya mengangkat kepala. “Kemarin kamu bilang dia langsung tegang waktu kamu datang.”

“Dia introvert.”

“Introvert bukan alergi.”

Tara menyela, “Mungkin Celine terlalu cantik. Sistemnya overload.”

Aku melempar tisu ke arahnya.

“Jangan bantu.”

“Gue membantu secara ilmiah.”

Aku bersandar di kursi.

Masalahnya, Nadine mungkin benar.

Pagi tadi aku sengaja tidak mendekati Alfa setelah melihat dia keluar kelas. Aku hanya menyapa dari jauh. Ekspresinya saat menyadari aku tidak mengejar... bukan lega biasa. Lebih seperti seseorang yang baru saja mengetahui alarm kebakaran ternyata palsu.

Aku tidak suka perbandingan itu.

“Gue kelewatan?” tanyaku.

Tara langsung berkata, “Sedikit.”

Nadine berkata, “Lumayan.”

Aku menatap keduanya.

“Terima kasih atas dukungannya.”

“Lu nyatain tertarik di kantin sebelum ngobrol lima menit,” kata Tara. “Itu bukan pendekatan. Itu serangan udara.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

Kalau dipikir ulang, memang tidak elegan.

Tapi aku sudah mencari Alfa beberapa minggu.

Bukan mengejar. Mencari.

Aku pertama kali benar-benar memperhatikan namanya dari daftar kegiatan lintas fakultas. Ada sesuatu yang familiar dari fotonya, walau waktu itu poni dan kacamata membuatku ragu. Setelah beberapa kali melihatnya dari jauh, keyakinanku tumbuh.

Ada cara dia menarik lengan hoodie sampai menutupi sebagian telapak tangan.

Ada caranya sedikit menunduk saat berjalan.

Ada sesuatu yang pernah kulihat bertahun-tahun lalu.

Namun itu belum cukup untuk menjelaskan kenapa sekarang aku penasaran pada dirinya yang ada di depan mataku.

Alfa di kampus berbeda dari ingatanku yang samar.

Dia pendiam, tetapi bukan dingin.

Kemarin, sebelum aku mendekati mejanya, aku melihat dia menyerahkan kursinya kepada petugas kebersihan yang sedang makan sebentar. Dia sendiri berdiri sambil menyelesaikan makan, lalu baru duduk lagi setelah kursi lain kosong.

Tidak ada yang memperhatikan.

Dia juga tidak melihat apakah ada yang memperhatikan.

Hal-hal seperti itu berbahaya untuk rasa penasaran.

“Jadi?” Tara menyentil mejaku. “Rencana berikutnya apa?”

“Tidak ada serangan udara.”

“Bagus.”

“Aku akan bicara biasa.”

Nadine menatapku. “Dan kalau dia bilang tidak?”

Aku membuka mulut, lalu berhenti.

Itu pertanyaan yang seharusnya mudah.

“Ya... aku berhenti.”

Tara mengangkat satu alis.

Aku menunjuknya. “Jangan begitu.”

“Gue nggak ngomong.”

“Wajahmu ngomong.”

Siang itu kesempatan datang tanpa direncanakan.

Aku sedang berjalan menuju gedung administrasi ketika melihat Alfa berdiri di depan mesin minuman otomatis. Tangannya memegang uang kertas yang terus ditolak mesin.

Aku berhenti tiga meter darinya.

Biasanya aku akan langsung mendekat.

Kali ini aku menunggu.

Alfa mencoba sekali lagi.

Mesin tetap menolak.

Dia menatap uang itu seolah baru dikhianati teman lama.

Aku tidak tahan.

“Dilipat sedikit ujungnya.”

Dia menoleh cepat.

Ekspresi waspada itu muncul lagi, tetapi tidak separah kemarin.

Aku menunjuk uangnya. “Mesinnya sensitif. Coba ratakan.”

Alfa mengikuti saranku.

Mesin menerima.

Satu botol teh jatuh.

Dia mengambilnya. “Makasih.”

“Sama-sama.”

Aku tidak bergerak lebih dekat.

Dia juga tidak langsung pergi.

Kemajuan.

Aku tersenyum. “Kelas?”

“Sudah selesai.”

“Pulang?”

“Iya.”

“Naik apa?”

Dia menatapku.

Aku mengangkat tangan. “Pertanyaan biasa. Bukan interogasi.”

“Bus.”

“Halte depan?”

“Iya.”

Aku hampir berkata aku juga lewat sana, padahal mobilku parkir di arah sebaliknya.

Aku menahan diri.

“Oke. Hati-hati.”

Alfa terlihat sedikit bingung.

“Kamu nggak ikut?”

Pertanyaan itu keluar sebelum dia sempat menariknya kembali.

Aku ingin sekali tertawa dan menjadikannya bahan godaan sampai semester depan.

Tapi wajahnya langsung berubah seolah menyesal sudah bicara.

Jadi aku hanya menjawab, “Nggak. Aku ada urusan.”

“Oh.”

Dia mengangguk.

Lalu, sangat pelan, “Sampai besok.”

Aku menahan senyum sampai dia berbalik.

Begitu Alfa sudah cukup jauh, aku mengeluarkan ponsel.

Celine

Dia bilang sampai besok duluan.

Balasan Tara datang.

Tara

GILA. NIKAH KAPAN?

Nadine

Jangan rusak kemajuan dengan terlalu heboh.

Aku mengetik cepat.

Celine

Aku sangat tenang.

Lalu menghapus tiga emoji menjerit sebelum mengirim.

Aku memang bisa tenang.

Kadang-kadang.

Sore harinya, aku melihat Alfa lagi di halte dari seberang jalan. Ia berdiri paling ujung, sedikit jauh dari kerumunan. Seorang ibu tua datang membawa dua kantong belanja besar. Alfa langsung mengambil salah satunya tanpa banyak bicara dan membantu ibu itu naik ketika bus datang.

Dia tidak melihatku.

Aku tidak memanggil.

Entah kenapa, aku justru lebih suka begitu.

Ada rasa puas aneh ketika bisa melihat seseorang melakukan sesuatu tanpa sadar sedang diperhatikan.

Aku berjalan kembali menuju fakultas sambil memikirkan percakapan singkat di mesin minuman. Hal paling aneh dari Alfa adalah dia tidak pernah mencoba membuat dirinya menarik.

Di dekat gedung administrasi, aku melihat dua mahasiswa menghentikannya karena salah satu dari mereka menjatuhkan lembar tugas. Alfa ikut jongkok mengambil kertas-kertas yang tertiup, menyerahkannya, lalu pergi sebelum ucapan terima kasih selesai.

Tidak ada senyum untuk dipamerkan. Tidak ada usaha memperpanjang percakapan.

Aku mengerti kenapa orang mungkin salah membaca sikapnya sebagai dingin.

Tapi semakin diperhatikan, semakin terasa bahwa Alfa bukan dingin. Dia hanya seperti seseorang yang selalu menjaga jarak aman dari dunia.

Sore itu Tara kembali menelepon.

“Update.”

“Kenapa ini terdengar seperti proyek kelompok?”

“Karena lu membuat kami ikut investasi emosional.”

Aku tertawa. “Hari ini nggak ada pengejaran.”

“Bagus.”

“Dia ngomong sampai besok duluan.”

Tara menjerit begitu keras sampai aku menjauhkan ponsel dari telinga.

“Lu jangan bikin itu jadi terlalu besar,” kata Nadine dari kejauhan, mungkin sedang bersama Tara.

“Sudah terlambat,” jawab Tara. “Nama anak mereka—”

Aku memutus sambungan.

Aku masih tersenyum saat melihat layar mati.

Yang membuatku senang sebenarnya bukan kalimat sampai besok itu. Lebih kecil dari itu. Alfa tidak langsung pergi ketika melihatku. Untuk beberapa menit, dia memilih tetap berdiri.

Aneh sekali bagaimana sesuatu yang biasa bisa terasa seperti hadiah kalau datang dari orang yang selalu bersiap mundur.

Aku kembali teringat tempat yang jauh dari kampus, beberapa tahun lalu, dan seorang anak laki-laki berhoodie yang juga tidak pernah melihat siapa yang sedang memperhatikannya.

Aku menggenggam tali tas sedikit lebih erat.

Mungkin aku salah orang.

Mungkin juga tidak.

Tapi satu hal sudah jelas.

Aku tidak ingin membuat Alfa takut.

Kalau aku benar-benar ingin mengenalnya, aku harus berhenti memperlakukannya seperti permainan mengejar.

Aku masih akan mengejar sedikit.

Aku bukan orang suci.

Tapi malam itu aku membuat satu aturan untuk diriku sendiri. Tidak datang tanpa alasan ke kelasnya. Tidak mencari informasi pribadi dari orang lain hanya karena aku penasaran. Dan kalau Alfa mundur, aku tidak akan menganggapnya tantangan yang harus dimenangkan.

Tara menyebut aturan itu “standar minimum manusia waras”.

Aku menyebutnya kemajuan karakter.

Nadine hanya mengirim jempol ketika kuberitahu di grup. Itu mungkin bentuk pujian tertinggi darinya.

Aku memandangi nama Alfa di daftar chat beberapa detik sebelum meletakkan ponsel.

Aneh. Biasanya ketika menyukai seseorang, aku ingin mendekat secepat mungkin. Kali ini aku justru mulai berpikir soal jarak yang tepat.

Mungkin karena satu langkah terlalu dekat bisa membuatnya mundur tiga langkah.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak keberatan bergerak lebih pelan.

Kalau tujuan akhirnya memang mengenal Alfa, tidak ada gunanya sampai lebih dulu sementara dia masih berdiri jauh di belakang. Itu terdengar sangat bijak di kepalaku. Tara pasti akan menertawakannya kalau tahu.

Tapi kali ini, kalau Alfa bilang tidak, aku akan benar-benar mendengarnya.