← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Thirty Eight

Ternyata Tetap Bukan Karena Aku

POV: Alfa

Aku pikir bagian tersulit soal foto lama sudah selesai.

Ternyata tidak.

Masalah datang dari media sosial Naya.

Dia mengunggah foto lama Panti Pelita untuk ulang tahun yayasan.

Salah satunya Celine umur enam belas.

Aku ada di belakang.

Caption Naya:

Dari dulu Kak Celine selalu bilang Kak Roti adalah orang baik yang nggak akan dia lupa.

Aku membaca kalimat itu saat istirahat kelas.

Lalu komentar.

Destiny.

First love?

Jadi Celine nyari dia bertahun-tahun?

Aku tahu komentar tidak berarti apa-apa.

Tapi kata-kata masuk.

Mencari.

Tidak lupa.

Orang baik.

Aku membuka chat Celine.

Tidak mengetik.

Pikiran lama mulai bekerja.

Jadi dia sudah punya alasan sebelum mengenalku.

Dia mengagumi seseorang yang datang ke panti.

Bagaimana kalau yang dia cintai sebenarnya bukan aku?

Bagaimana kalau aku cuma simbol dari masa ketika Naya membutuhkan bantuan?

Aku benci otakku.

Lebih benci karena setelah semua kemajuan, pertanyaan itu masih bisa muncul.

Sore, Celine datang ke toko.

Dia langsung tahu.

“Kenapa?”

“Enggak.”

Dia menatap.

Aku menghela napas.

“Naya upload.”

Wajahnya berubah.

“Oh.”

Aku menunjukkan.

Celine membaca.

“Naya…”

“Jangan marahin.”

“Aku nggak marah.”

Aku menunggu.

Dia menatapku.

“Kamu kepikiran?”

“Iya.”

“Oke.”

Aku benci betapa tenangnya dia.

“Fa, tanya.”

Aku melihat etalase.

“Kalau bukan karena panti, kamu bakal suka aku?”

Celine diam.

Jawaban lama.

Entah.

Aku sudah pernah mendengarnya.

Tapi hari ini terdengar lebih berat.

“Aku nggak tahu,” katanya.

Dadaku jatuh.

Jujur.

Tetap sakit.

“Kalau aku nggak pernah bantu Naya, mungkin kamu nggak akan lihat aku.”

“Mungkin.”

Aku tertawa kecil.

“Jadi…”

Celine mendekat setengah langkah.

“Jangan selesaiin sendiri.”

Aku tahu.

Tapi rasa takut sudah lebih cepat.

“Jadi dari awal memang bukan karena aku.”

“Alfa.”

“Karena Kak Roti.”

“Dia kamu.”

“Bukan.”

Suara keluar lebih keras.

Celine berhenti.

Aku menarik napas.

“Dia versi yang kamu lihat dari jauh. Baik. Datang tiap minggu. Bantu anak-anak.”

Aku menunjuk diriku.

“Aku yang kamu kenal sekarang kadang marah. Takut. Nyebelin. Bisa bikin kamu capek.”

“Iya.”

Jawaban itu membuatku menatap.

Celine tidak mundur.

“Iya, kamu bisa bikin aku capek.”

Matanya mulai basah.

“Kamu juga bisa bikin aku marah.”

Aku diam.

“Kamu keras kepala. Kadang terlalu cepat bilang nggak apa-apa. Kadang bikin keputusan buat aku karena merasa aku lebih cocok sama orang lain.”

Aku menelan.

“Dan aku tetap pilih kamu.”

Dadaku sakit.

“Tapi awalnya…”

“Awal bukan seluruh cerita.”

Aku tahu.

Aku ingin tahu.

Tapi luka lama punya logika sendiri.

“Ternyata tetap bukan karena aku.”

Kalimat itu keluar.

Celine membeku.

Aku langsung menyesal.

Wajahnya seperti ditampar.

Tapi aku tidak bisa menarik.

Dia berkata pelan, “Kalau bukan karena kamu, aku nggak akan bertahan sampai sekarang.”

Aku menatap lantai.

“Kalau aku cuma suka anak baik di foto itu, aku sudah pergi waktu kamu pertama kali marah.”

Aku diam.

“Aku sudah pergi waktu kamu nuduh ini taruhan.”

Diam.

“Waktu kamu cemburu.”

Diam.

“Waktu kamu nggak percaya.”

Suaranya bergetar.

“Aku nggak tinggal karena utang.”

Aku menutup mata.

“Aku tahu.”

“Enggak. Kamu tahu pakai kepala.”

Benar.

“Tapi bagian lainmu belum percaya.”

Aku membuka mata.

Celine berdiri di depanku.

Tidak menyentuh.

“Aku nggak bisa paksa bagian itu.”

Aku hampir tertawa pahit.

“Terus?”

“Aku akan jawab sebanyak yang kamu butuh.”

Dia menarik napas.

“Tapi kamu juga harus memilih mau percaya atau enggak.”

Kalimat itu menakutkan.

Karena benar.

Celine tidak bisa menyembuhkan ini.

Tidak ada bukti yang cukup kalau aku terus mencari celah.

Aku berkata, “Aku butuh waktu.”

“Oke.”

Dia tidak pergi.

Aku menatap.

“Kamu nggak pulang?”

“Kamu minta?”

Aku diam.

Tidak.

Aku tidak mau dia pergi.

“Enggak.”

Celine duduk di kursi.

Aku kembali bekerja.

Kami tidak bicara banyak.

Tapi dia ada.

Setelah toko tutup, aku duduk di sampingnya.

Jarak kecil.

Tanganku di meja.

Celine tidak mengambil.

Aku yang menyentuh jarinya.

“Maaf kalimat tadi.”

“Kamu lagi takut.”

“Tetap nyakitin.”

“Iya.”

Aku mengangguk.

“Maaf.”

Celine menggenggam jariku.

“Dimaafin.”

Aku menatap tangan kami.

“Aku belum selesai takut.”

“Aku tahu.”

“Jangan capek.”

Dia tersenyum sedih.

“Aku bisa capek, Alfa.”

Aku menegang.

“Tapi capek bukan berarti pergi.”

Aku menutup mata sebentar.

Itu mungkin salah satu kalimat paling jujur yang pernah dia berikan.

Tidak ada janji dia tidak akan lelah.

Tidak ada janji cinta selalu mudah.

Cuma pilihan.

Malam itu, aku pulang ke kamar dan membuka foto lama Naya.

Aku menatap anak SMA di belakang.

Aku tidak merasa mengenalnya.

Dia memang aku.

Tapi aku bukan hanya dia.

Aku adalah semua yang terjadi setelahnya.

Termasuk luka.

Termasuk ketakutan.

Termasuk kesalahan.

Pertanyaannya bukan apakah Celine awalnya melihatku karena panti.

Itu fakta.

Pertanyaannya apakah aku percaya dia masih di sini karena orang yang sekarang.

Aku belum bisa menjawab penuh.

Ponsel berbunyi.

Celine

Jangan mikir sendirian sampai pagi.

Aku hampir tersenyum.

Alfa

Sulit.

Celine

Ya sudah. Maksimal sampai jam satu.

Alfa

Kenapa jam satu?

Celine

Karena setelah itu kamu jadi lebih bodoh.

Aku tertawa.

Alfa

Fitnah.

Celine

Data empiris.

Aku meletakkan ponsel.

Lucu.

Bahkan saat sedang takut, dia masih bisa membuat ruang terasa sedikit lebih ringan.

Aku membuka chat lagi.

Alfa

Besok datang?

Balasan cepat.

Celine

Kalau kamu mau.

Aku menatap.

Tidak memaksa.

Tidak menganggap.

Pilihan.

Alfa

Mau.

Aku kirim.

Dadaku tetap berat.

Tapi ada satu hal yang mulai jelas.

Kalau aku ingin percaya, mungkin caranya bukan menunggu semua rasa takut hilang.

Mungkin caranya memilih satu tindakan kecil meski takut masih ada.

Besok datang.

Aku ingin dia datang.

Untuk malam ini, itu jawaban paling jujur yang kupunya. Besoknya, aku membawa satu pertanyaan lain.

Bukan ke Celine.

Ke Mbah.

Kami sedang membuka toko.

“Mbah.”

“Hm?”

“Kalau seseorang awalnya suka kita karena satu hal, terus nanti tahu kita nggak selalu kayak gitu…”

Mbah menatapku.

“Kamu ngomongin Celine?”

Aku menghela napas.

“Iya.”

Beliau menaruh kain lap.

“Kamu suka roti karena apa?”

Aku mengernyit.

“Apa hubungannya?”

“Jawab.”

“Karena… enak.”

“Kalau suatu hari bentuknya jelek?”

“Kalau enak ya tetap dimakan.”

“Kalau gosong?”

“Ya enggak.”

Mbah mengangguk.

“Nah.”

Aku menatap.

“Aku nggak ngerti.”

“Berarti kamu bodoh.”

“Mbah.”

Beliau tertawa.

Kemudian serius.

“Orang bisa tertarik karena satu hal. Tinggal karena banyak hal.”

Aku diam.

Kalimat itu sederhana.

Celine sudah bilang versi panjangnya.

Entah kenapa versi Mbah masuk dari pintu lain.

“Kalau ternyata alasan awalnya penting banget?”

“Memang.”

Mbah mengangkat bahu.

“Terus kenapa?”

Aku tidak punya jawaban.

Beliau melanjutkan membersihkan.

“Yang penting sekarang dia lihat kamu yang lengkap atau tidak.”

Aku melihat dapur.

Celine pernah melihatku marah.

Takut.

Cemburu.

Bodoh.

Diam.

Dan masih datang.

Aku tersenyum kecil.

Mbah langsung menunjuk.

“Nah.”

“Apa?”

“Sudah ngerti.”

“Sedikit.”

“Bagus.”

Siang itu, aku mengirim pesan.

Alfa

Mbah bilang orang tertarik karena satu hal, tinggal karena banyak hal.

Balasan datang.

Celine

Mbah harus bikin podcast.

Aku tertawa.

Alfa

Jangan.

Celine

Episode pertama: cara menghadapi cucu keras kepala.

Aku mengunci layar sambil tersenyum.

Rasa takut belum hilang.

Tapi sekarang ada lebih banyak suara di kepalaku daripada suara lama.

Ada Celine.

Ada Mbah.

Ada Dimas.

Dan perlahan, ada suaraku sendiri.

Mungkin aku bisa mempercayai semuanya sedikit demi sedikit.

Sore berikutnya, Celine datang membawa dua minuman.

Dia tidak menyinggung post Naya.

Aku juga tidak.

Kami duduk di bangku depan toko.

Aku berkata, “Aku takut kalau suatu hari kamu sadar versi aku sekarang mengecewakan.”

Celine menatap.

“Terus?”

“Ya itu.”

“Alfa.”

“Hm?”

“Kalau aku kecewa karena satu hal, bukan berarti aku berhenti sayang.”

Kata itu.

Sayang.

Tidak dramatis.

Diucapkan seperti fakta.

Aku menatap gelas.

“Kalau aku bikin salah?”

“Aku marah.”

“Kalau parah?”

“Aku pertimbangkan.”

Aku langsung melihatnya.

Celine tertawa.

“Lihat? Aku nggak janji bodoh.”

Aneh, tapi justru itu menenangkan.

Dia tidak menawarkan cinta tanpa syarat yang tidak masuk akal.

Dia menawarkan pilihan yang harus terus dijaga.

“Aku suka jawaban itu,” kataku.

“Syukurlah.”

Aku menatap tangannya.

Mengambil.

Celine tidak berkata apa-apa.

Aku menggenggam.

Ketakutan belum hilang.

Tapi sekarang ia duduk di samping sesuatu yang baru.

Kepercayaan.

Belum besar.

Tapi nyata.