← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Eight

Kalau Ini Taruhan

POV: Alfa

Hari ketika Celine bilang dia tidak akan datang seharusnya menjadi hari yang tenang.

Aku sudah menyiapkan diri untuk itu.

Kuliah pagi.

Makan bersama Dimas.

Pulang.

Toko.

Tidak ada suara perempuan yang memanggil namaku dari ujung koridor. Tidak ada pesan absurd. Tidak ada Mbah yang sengaja menyuruhku melayani satu pelanggan tertentu.

Normal.

Jam sebelas lewat dua belas menit, aku melihat pintu kantin.

Tidak ada Celine.

Aku makan.

Jam sebelas lewat dua puluh, aku melihat lagi.

Masih tidak ada.

Dimas berhenti mengunyah.

“Lu nunggu siapa?”

“Enggak.”

“Lu udah lihat pintu empat kali.”

“Ada orang lewat.”

“Memang fungsi pintu begitu.”

Aku menunduk ke nasi.

Fikri datang membawa es teh dan duduk tanpa diundang.

“Mana Celine?”

Aku menatapnya. “Kenapa tanya aku?”

“Karena dia sekarang kayak event harian di hidup lu.”

Dimas mengangguk. “Benar juga.”

Aku mempertimbangkan pindah meja.

Ponselku bergetar.

Aku membukanya terlalu cepat.

Celine

Rapatku mundur. Hidup tidak adil.

Aku menatap pesan itu.

Celine

Semoga makan siangmu enak.

Aku mengetik.

Alfa

Lumayan.

Tiga titik muncul.

Celine

Wah dibalas. Hari bersejarah.

Aku mengunci layar.

Dimas menatapku.

“Dia?”

“Grup kelas.”

“Grup kelas bikin telinga lu merah?”

Aku berdiri membawa piring.

“Aku selesai.”

“Fa, nasinya masih setengah.”

“Aku kenyang.”

Fikri mengangkat tangan seperti dosen. “Diagnosis: denial.”

Aku meninggalkan mereka.

Sore hari di toko, Mbah menyuruhku membentuk donat.

Aku sedang menimbang adonan ketika pintu terbuka.

Refleks, aku menoleh.

Pak Yono masuk.

Entah kenapa aku kecewa.

Itu mengganggu.

“Kenapa mukamu?” tanya Pak Yono.

“Kenapa?”

“Kayak nunggu paket tapi yang datang tagihan.”

“Aku nggak nunggu apa-apa.”

Pak Yono mengangguk pelan. “Oh.”

Nada “oh”-nya tidak meyakinkan.

Dia membeli dua roti kacang, lalu berdiri terlalu lama di depan etalase.

“Pak.”

“Hm?”

“Bengkel nggak dijaga?”

“Ada anak.”

“Terus?”

“Lagi lihat perkembangan.”

“Perkembangan apa?”

Pak Yono menatap pintu.

Aku mengikuti arah pandangnya.

Kosong.

Aku menghela napas. “Keluar, Pak.”

Dia tertawa dan pergi.

Aku benci lingkungan ini.

Celine benar-benar tidak datang.

Harusnya bagus.

Aku bisa bekerja tanpa terganggu.

Aku bahkan selesai membuat satu batch donat lebih cepat.

Tapi setiap lonceng pintu berbunyi, kepalaku otomatis terangkat.

Menjelang tutup toko, aku mulai kesal kepada diriku sendiri.

Baru beberapa hari.

Kenapa kebiasaan bisa terbentuk secepat itu?

Mbah sedang menghitung uang kas ketika ponselku bergetar.

Celine

Rapat selesai.

Aku tidak langsung membalas.

Celine

Aku selamat.

Aku mengetik.

Alfa

Selamat.

Celine

Besok boleh mampir toko?

Aku membaca pertanyaan itu dua kali.

Boleh.

Bukan “aku datang besok”.

Boleh.

Alfa

Boleh.

Pesan berikutnya muncul.

Celine

Yeay.

Aku hampir tersenyum.

Lalu layar ponselku menyala lagi.

Bukan pesan.

Sebuah unggahan media sosial yang dikirim Fikri.

Foto Celine sedang duduk bersama beberapa orang setelah rapat. Salah satu laki-laki di sampingnya menunjuk kamera sambil tersenyum.

Di bawahnya ada komentar.

Masih ngejar anak hoodie itu?

Balasan lain:

Katanya cuma tantangan.

Dadaku langsung dingin.

Aku membaca kalimat itu sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Tangan yang memegang ponsel mengeras.

Suara toko seolah menjauh.

Aku tahu komentar internet tidak berarti apa-apa.

Orang bicara sembarangan.

Mungkin bercanda.

Mungkin tidak tahu apa-apa.

Tapi kata itu—

tantangan.

Ada suara lama di kepalaku.

Tawa.

Lorong sekolah.

Seseorang berkata, Serius lu percaya?

Aku mematikan layar.

“Alfa?”

Suara Mbah membuatku tersentak.

“Hm?”

“Kamu pucat.”

“Capek.”

“Kamu sakit?”

“Enggak.”

Aku membawa baki ke dapur sebelum beliau bisa bertanya lagi.

Malam itu aku tidur buruk.

Besoknya, Celine menungguku di dekat gedung kampus.

Dia tersenyum ketika melihatku.

“Pagi.”

Aku berhenti beberapa meter darinya.

Senyumnya perlahan turun.

“Alfa?”

“Ada kelas.”

“Iya. Aku cuma mau kasih—”

“Aku telat.”

Aku berjalan melewatinya.

Celine tidak mengejar.

Itu seharusnya membuatku lega.

Tidak.

Sepanjang kelas, pikiranku berisik.

Aku tahu aku tidak adil.

Celine tidak pernah melakukan apa pun yang sama dengan mereka.

Dia bahkan berhenti menyentuhku setelah aku kaget.

Dia bertanya sebelum datang.

Dia mendengar ketika aku bilang sesuatu mengganggu.

Tapi pengalaman tidak selalu peduli pada logika.

Siang hari, ketika aku keluar kelas, Celine berdiri jauh dari pintu.

Tidak menghadang.

Hanya menunggu.

“Aku boleh bicara sebentar?”

Aku melihat sekeliling.

Beberapa mahasiswa lewat.

Aku tidak suka tempat ramai.

Celine seperti membaca itu.

“Di taman belakang?”

Aku mengangguk.

Kami duduk di bangku yang berjauhan cukup lebar.

Celine tidak langsung bicara.

“Aku bikin salah?”

“Enggak.”

“Kalau aku bikin, bilang.”

Aku menatap tanah.

“Alfa.”

Nada suaranya tidak mendesak.

Justru itu membuat kalimat di kepalaku semakin sulit ditahan.

“Aku lihat komentar.”

“Komentar apa?”

Aku membuka ponsel, mencari tangkapan layar yang kukirim ke diriku sendiri tanpa tahu kenapa.

Celine membaca.

Wajahnya berubah.

“Oh.”

Aku menunggu.

Dia tidak tertawa.

Tidak mengatakan itu cuma bercanda.

Tidak bilang aku terlalu sensitif.

“Yang nulis bukan temanku dekat,” katanya. “Aku bahkan nggak tahu dia dapat cerita dari mana.”

Aku mengangguk.

“Dan nggak ada tantangan.”

Aku tetap diam.

Celine menaruh ponselku di antara kami.

“Alfa, aku serius.”

Aku ingin percaya.

Itu masalahnya.

Aku pernah ingin percaya sebelumnya.

“Kalau ini taruhan…” Suaraku lebih pelan dari yang kuinginkan. “Atau permainan kalian sudah selesai, bilang aja.”

Celine membeku.

Aku memaksa lanjut.

“Aku nggak akan marah.”

Ekspresinya membuatku ingin berhenti, tapi sudah terlambat.

“Kalau kamu cuma mau lihat aku bereaksi, atau temanmu penasaran karena aku selalu kabur… ya udah.”

Aku tertawa kecil tanpa humor.

“Bilang sekarang aja.”

Beberapa detik tidak ada suara.

Ketika akhirnya Celine bicara, suaranya jauh lebih pelan.

“Pernah ada yang melakukan itu ke kamu?”

Aku menatap lurus ke depan.

Itu jawaban yang cukup.

Celine menarik napas.

“Aku nggak akan tanya siapa.”

Aku menoleh.

Dia memandang tangannya sendiri.

“Aku juga nggak akan bilang ‘percaya aja sama aku’, karena kayaknya aku belum punya hak minta itu.”

Dadaku terasa aneh.

“Tapi nggak ada taruhan, Alfa.”

Aku menatapnya.

“Aku mendekat karena aku mau.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu keluar terlalu cepat.

Celine menatapku cukup lama.

Ada sesuatu di matanya yang tidak kumengerti.

“Karena aku pengin kenal kamu.”

“Kenapa aku?”

Dia tersenyum kecil, tapi tidak seperti biasanya.

“Itu jawaban panjang.”

Aku langsung waspada.

“Jangan.”

Celine tertawa pelan. “Oke. Nanti.”

Sebelum aku sempat benar-benar pergi, Celine membuka tasnya dan mengeluarkan kotak kecil berwarna putih.

“Aku sebenarnya mau kasih ini pagi tadi.”

Aku menatap kotaknya. “Apa?”

“Bukan bom.”

“Aku nggak bilang bom.”

“Wajahmu bilang.”

Aku hampir membalas bahwa wajahku sebagian tertutup poni, lalu sadar dia akan memakai kalimat itu melawanku lagi.

Celine membuka tutup kotak. Di dalamnya ada dua potong kue kecil.

“Temanku bikin. Aku bilang mau minta pendapat orang yang ngerti pastry.”

“Kenapa aku?”

Celine mengangkat alis. “Karena kamu bikin pastry hampir tiap hari?”

Masuk akal. Tetap terasa seperti jebakan.

Aku mengambil satu potong. Rasanya terlalu manis, tetapi teksturnya bagus.

“Gimana?”

“Kurangi gula sedikit.”

Celine langsung membuka catatan di ponselnya. “Berapa sedikit?”

Aku menatapnya. “Aku nggak tahu resepnya.”

“Oh iya.”

Untuk pertama kalinya sejak tadi, aku hampir tertawa.

Celine melihat wajahku dan ikut tersenyum, tetapi tidak menyinggungnya.

Aneh. Percakapan sesederhana itu membuat napasku terasa lebih ringan, seperti ada sesuatu yang akhirnya dilepas dari dada.

Aku berdiri.

Dia ikut berdiri, tetapi tetap menjaga jarak.

Sebelum pergi, aku berkata, “Maaf.”

“Jangan.”

“Aku nuduh kamu.”

“Kamu nanya.”

“Mirip.”

“Enggak.”

Aku melihatnya.

Celine memasukkan tangan ke saku jaket.

“Kalau kamu takut sesuatu terulang, tanya aja. Aku mungkin kesel kalau dituduh macam-macam suatu hari nanti, tapi aku lebih pilih kamu ngomong daripada hilang.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Jadi aku hanya mengangguk.

Kami berjalan ke arah gedung berbeda.

Setelah beberapa langkah, aku menoleh.

Celine masih berjalan.

Tidak melihat ke belakang.

Tidak mengejar.

Untuk pertama kalinya, itu bukan terasa seperti kelegaan.

Lebih seperti rasa bersalah.

Dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Keinginan untuk memercayainya.