Chapter One
Perempuan dari Fakultas Sebelah
POV: Alfa
Jam dua belas lewat tujuh belas menit, aku mengambil keputusan paling penting hari itu: makan siang sendirian.
Bukan karena aku sedang bertengkar dengan Dimas. Bukan juga karena Fikri akhirnya berhasil membuatku muak dengan teori percintaannya yang tidak pernah diuji di dunia nyata. Aku hanya ingin makan, duduk di sudut kantin, lalu kembali ke kelas tanpa terlibat dalam percakapan yang tidak perlu.
Rencana itu seharusnya sederhana.
Sampai kantin mendadak lebih berisik.
Aku sedang membuka bungkus nasi ketika tiga laki-laki di meja sebelah secara serempak memperbaiki posisi duduk. Salah satunya bahkan menyisir rambut memakai kamera depan ponsel.
Aku menatap mereka sebentar, lalu kembali ke makananku.
Bukan urusanku.
“Kamu Alfa Pradipta, kan?”
Sendokku berhenti di udara.
Suara perempuan.
Terlalu dekat.
Aku mengangkat kepala pelan-pelan.
Seorang perempuan berdiri di samping mejaku. Rambutnya jatuh melewati bahu, tasnya tergantung di satu sisi, dan entah kenapa suasana kantin yang tadi berisik terasa berubah arah. Bukan sunyi. Justru sebaliknya. Orang-orang masih bicara, tetapi terlalu banyak kepala yang sekarang menghadap ke tempatku.
Aku pernah melihatnya.
Sulit tidak pernah melihatnya kalau kami berada di kampus yang sama.
Celine Panduwinata.
Mahasiswi fakultas sebelah yang namanya bahkan pernah muncul di obrolan kelas kami hanya karena seseorang melihatnya membeli kopi.
Aku menurunkan sendok.
“Iya.”
Wajahnya langsung cerah, seolah jawaban satu suku kata tadi menyelesaikan teka-teki hidupnya.
“Akhirnya ketemu juga.”
Aku menatap ke belakangnya.
Tidak ada siapa-siapa yang terlihat sedang memanggilnya.
Aku menatap ke belakangku.
Tembok.
Celine memiringkan kepala. “Kamu nyari siapa?”
“Memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Bukan Alfa yang lain.”
Dia berkedip dua kali, lalu tertawa.
Tawa itu membuat dua orang di meja seberang ikut menoleh.
Aku mulai merasa ini tidak sehat untuk tekanan darah.
Celine menarik kursi di depanku, tetapi belum duduk. “Boleh?”
Aku ingin mengatakan tidak.
Masalahnya, Mbah selalu mengajariku bahwa kalau seseorang meminta sesuatu dengan sopan, tolak juga dengan sopan. Jadi aku mengangguk sekali.
Dia duduk.
Kesalahan pertama hari itu.
“Aku Celine.”
“Aku tahu.”
“Wah.” Dia menopang dagu. “Aku terkenal?”
Aku melihat dua laki-laki yang pura-pura tidak menguping dari jarak tiga meter.
“Sepertinya.”
“Kalau begitu lebih mudah.”
Lebih mudah untuk apa?
Aku belum sempat bertanya ketika dia tersenyum dan berkata, “Aku tertarik sama kamu.”
Ada momen ketika otak manusia memilih untuk melindungi pemiliknya dengan berhenti bekerja.
Aku mengalami momen itu.
Dari meja belakang terdengar bunyi sendok jatuh.
Celine tetap menatapku.
Aku akhirnya menemukan suara sendiri. “Maaf?”
“Aku tertarik sama kamu.”
Dia mengulanginya.
Dengan volume yang sama.
Di kantin.
Pada jam makan siang.
Aku menatapnya cukup lama sampai rasa lapar hilang.
Lalu tubuhku mengambil keputusan sebelum pikiranku sempat mengejar.
Aku berdiri.
“Makasih.”
Celine ikut berdiri sedikit. “Hah?”
“Aku harus kelas.”
“Sekarang?”
“Iya.”
Aku memasukkan bungkus makanan yang belum selesai ke dalam tas kertas, mengangkat ransel, lalu berjalan pergi.
Aku tidak berlari.
Aku ingin menegaskan bagian itu.
Aku berjalan cepat dengan martabat yang tersisa.
Baru ketika aku melewati pintu kantin, ponselku bergetar.
Dimas
Lu di mana?
Aku mengetik sambil berjalan.
Alfa
Ke kelas.
Balasan masuk hampir seketika.
Dimas
Gue lagi di kelas.
Aku berhenti.
Benar juga.
Kelas kami baru mulai empat puluh menit lagi.
Aku menatap koridor di depanku, kemudian mendengar langkah kaki dari arah kantin.
Aku tidak menoleh.
Aku belok ke kiri.
Tangga.
Naik satu lantai.
Belok kanan.
Masuk perpustakaan.
Lima menit kemudian aku duduk di meja paling belakang dengan buku yang tidak kubaca terbuka di depan wajah.
Ponselku kembali bergetar.
Dimas
Kenapa Fikri bilang lu barusan kabur dari Celine Panduwinata?
Aku menutup mata.
Alfa
Aku tidak kabur.
Tiga titik muncul.
Dimas
Katanya lu bawa nasi sambil jalan cepat.
Alfa
Efisiensi waktu.
Kali ini balasannya lebih lama.
Dimas
Lu sakit?
Aku mengunci layar.
Perpustakaan seharusnya aman.
Tidak ada alasan Celine datang ke sini. Fakultasnya berbeda. Jadwalnya berbeda. Bahkan aku tidak yakin dia tahu aku masuk ke gedung ini.
Aku mengambil napas dan memaksa diri membaca satu paragraf.
Tiga menit berlalu.
Lalu sebuah kursi bergeser di seberang meja.
Aku tidak mau mengangkat kepala.
“Alfa.”
Aku tetap melihat buku.
“Ini bagian yang kamu baca dari tadi halaman yang sama, ya?”
Aku mengangkat kepala.
Celine duduk di depanku.
Aku melihat pintu perpustakaan yang jaraknya sekitar dua puluh meter.
Kemudian kembali melihatnya.
“Bagaimana?”
“Bagaimana apa?”
“Kamu tahu aku di sini.”
“Oh.” Dia menunjukkan ponselnya. “Tadi kamu lewat depan Tara. Dia kenal kamu dari foto daftar kelompok kegiatan kampus semester lalu.”
Aku tidak ingat pernah difoto.
Itu lebih mengkhawatirkan.
Celine menahan senyum. “Tenang. Aku nggak ngikutin kamu pakai GPS.”
“Belum.”
Dia tertawa lagi, lalu merendahkan suara ketika pustakawan melirik tajam.
“Maaf. Kamu lucu.”
“Aku tidak sedang bercanda.”
“Itu masalahnya.”
Aku menutup buku.
Celine berhenti tertawa. “Aku bikin kamu nggak nyaman?”
Pertanyaannya sederhana.
Aku menatap meja.
Ada banyak jawaban yang bisa diberikan. Yang paling jujur terlalu panjang. Yang paling aman terlalu kasar.
Jadi aku memilih yang biasa kupakai.
“Bukan begitu.”
“Terus?”
“Aku cuma nggak tertarik.”
Celine tidak langsung menjawab.
Aku menunggu wajahnya berubah. Kesal mungkin. Tersinggung. Atau senyum tipis yang terlalu familiar sebelum sesuatu yang lebih buruk datang.
Tidak ada.
Dia hanya mengangguk pelan.
“Oke.”
Aku sedikit bingung.
“Oke?”
“Iya.”
“Sudah?”
“Untuk hari ini.”
Aku tahu seharusnya aku tidak bertanya.
“Untuk hari ini?”
Senyumnya kembali.
“Nah. Berarti kamu penasaran.”
Aku menyesal.
Celine berdiri, merapikan tas, lalu menunjuk buku di depanku.
“Baca yang benar. Dari tadi kamu kebalik.”
Aku menunduk.
Bukunya memang terbalik.
Ketika aku mengangkat kepala lagi, Celine sudah berjalan menuju pintu.
Aku baru sadar satu hal setelah dia hilang dari pandangan.
Tanganku masih menggenggam ujung lengan hoodie terlalu erat.
Aku melepaskannya perlahan.
Sebelum benar-benar pulang, aku masih harus bertahan satu kelas bersama Dimas dan Fikri. Aku masuk lima menit sebelum dosen datang dan langsung memilih kursi dekat dinding.
Dimas menatapku begitu aku duduk. “Lu beneran kabur?”
“Aku ke perpustakaan.”
“Itu bukan jawaban.”
Fikri muncul dari belakang seperti hantu yang hidup dari gosip. “Gue dengar dia bilang tertarik sama lu di depan setengah kantin.”
“Tidak sampai setengah.”
“Jadi benar?”
Aku membuka laptop. “Kenapa semua orang peduli?”
“Karena Celine Panduwinata,” katanya seolah itu penjelasan ilmiah. “Orang biasanya antre buat ngajak dia kenalan. Lu malah bawa nasi kabur.”
“Aku tidak kabur.”
Dimas melihat kantong nasi yang masih ada di dalam tas kertas. “Fa, lu literally menyelamatkan makan siang lu dari lokasi kejadian.”
Aku memutuskan diam.
Yang tidak kukatakan kepada mereka adalah bagian paling mengganggu bukan perhatian orang-orang di kantin. Bukan juga Celine yang bisa menemukanku di perpustakaan.
Yang mengganggu adalah bagaimana tubuhku bereaksi lebih cepat daripada pikiranku. Telapak tangan dingin. Bahu kaku. Dorongan untuk keluar sebelum sesuatu berubah menjadi tontonan.
Aku sudah lama tidak perlu memikirkan hal seperti itu.
Rutinitasku selama ini cukup rapi untuk menghindarinya. Kuliah, pulang, toko, Mbah. Tidak ada ruang untuk permainan yang tidak kumengerti.
Malamnya, saat aku membantu Mbah menutup etalase, dia melihat kantong nasi yang kubawa pulang hampir utuh.
“Kamu nggak makan?”
“Makan.”
“Ini masih banyak.”
“Tidak lapar.”
Mbah menatapku dari balik kacamatanya. “Ada masalah?”
“Tidak.”
“Perempuan?”
Aku hampir menjatuhkan nampan.
Mbah mendengus. “Kalau bukan, kenapa mukamu kayak habis ditagih utang?”
“Capek.”
“Ya sudah. Cuci tangan. Ada adonan donat yang harus dibentuk.”
Aku menurut.
Adonan selalu lebih mudah daripada manusia. Kalau ditekan terlalu keras, hasilnya jelas. Kalau suhu salah, ada penyebabnya. Kalau gagal, bisa dicoba lagi.
Manusia tidak pernah sesederhana itu.
Hari itu aku pulang dengan kesimpulan sederhana.
Celine Panduwinata adalah masalah.
Dan karena pengalaman mengajariku bahwa masalah jarang datang sekali saja, aku seharusnya sudah tahu apa yang akan terjadi besok.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah reading
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru