Chapter Thirty Four
Jangan Putuskan Sendiri
POV: Alfa
Aku membawa dua cinnamon roll.
Satu untuk Celine.
Satu lagi karena dia biasanya bilang satu kurang.
Aku datang ke kafe jam satu kurang lima.
Celine sudah duduk.
Bukan sendiri.
Selina ada di sana.
Dan seorang perempuan lain.
Aku mengenal wajahnya bahkan sebelum nama muncul.
Marsha.
Tubuhku berhenti di pintu.
Suara kafe hilang.
Celine berdiri.
“Fa.”
Aku melihatnya.
Bukan Selina.
Bukan Marsha.
Celine.
“Kamu bilang makan siang.”
Wajahnya pucat.
“Iya.”
Aku memegang kotak roti.
Tanganku mulai dingin.
“Ini apa?”
Celine mendekat satu langkah.
“Aku bisa jelasin.”
Aku hampir tertawa.
Kalimat paling buruk.
Marsha berdiri.
“Alfa, gue—”
“Jangan.”
Dia berhenti.
Aku tidak berteriak.
Aneh.
Aku pikir kalau suatu hari bertemu Marsha, aku akan marah.
Yang datang justru kosong.
Celine berkata, “Aku cuma pikir kalau mereka bisa minta maaf—”
“Kamu tahu?”
Dia diam.
“Kamu tahu mereka ada di sini?”
“Iya.”
“Dan aku enggak?”
Wajah Celine runtuh.
“Fa, aku mau kasih kamu kesempatan—”
“Kesempatan apa?”
Suaraku tetap rendah.
Orang di meja sebelah mulai melihat.
Aku tidak peduli.
“Buat dengar mereka.”
“Aku udah bilang aku nggak mau mikirin.”
“Aku tahu.”
Dua kata itu jauh lebih sakit.
Aku tahu.
“Terus?”
Celine tidak punya jawaban.
Marsha berkata pelan, “Ini salah gue juga. Gue yang minta—”
Aku melihatnya.
Untuk pertama kali.
Wajah yang dulu tertawa bersama teman-temannya.
Sekarang dewasa.
Takut.
Menyesal mungkin.
Aku tidak peduli.
“Bukan kamu yang ngajak aku ke sini.”
Marsha diam.
Aku kembali ke Celine.
Dia menangis sedikit.
Aku benci melihatnya.
Lebih benci karena sebagian diriku ingin langsung menghibur.
Tidak.
“Aku mau pulang.”
“Fa, tunggu.”
Aku mundur.
Celine berhenti sendiri.
Bagus.
Dia masih ingat batas.
Tapi kali ini batas itu terasa terlambat.
“Aku minta maaf.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih.”
Wajah Celine berubah.
Dia tahu nada itu.
Aku pernah memakai sopan santun sebagai pintu keluar.
“Jangan begitu,” katanya.
“Gimana?”
“Kayak…”
Dia tidak selesai.
Aku memegang kotak roti lebih erat.
“Kamu juga jangan putuskan sendiri apa yang terbaik buat aku.”
Hening.
Kalimat itu kembali kepadanya.
Dulu dia yang mengajarkannya.
Sekarang dia yang melanggar.
Celine menutup mulut.
Aku berjalan keluar.
Dia tidak mengejar.
Aku bersyukur.
Di luar, napasku mulai kacau.
Aku berjalan.
Tidak tahu arah.
Kotak roti masih di tangan.
Cinnamon roll untuk Celine.
Aku hampir membuang.
Tidak.
Bukan salah roti.
Pikiran bodoh.
Aku duduk di halte.
Ponsel bergetar.
Tidak kubuka.
Lagi.
Lagi.
Akhirnya aku lihat.
Bukan Celine.
Dimas.
Dimas
Lu di mana?
Aku tidak tahu bagaimana dia tahu.
Mungkin Celine.
Aku mengirim lokasi.
Sepuluh menit kemudian dia datang.
Duduk di samping.
Tidak tanya.
Aku memberikan kotak.
“Makan.”
Dimas membuka.
“Ini buat Celine.”
“Sekarang buat kamu.”
Dia tidak mengambil.
“Gue nggak mau makan roti konflik.”
Aku hampir tertawa.
Tidak jadi.
Dimas menutup kotak.
“Apa yang terjadi?”
Aku cerita singkat.
Wajahnya mengeras.
“Dia ngajak tanpa bilang?”
“Iya.”
“Anjir.”
Aku menatap jalan.
“Aku tahu dia niat bantu.”
Dimas melihatku.
“Tapi?”
“Aku merasa…”
Kata yang tepat muncul.
“Dijebak.”
Dimas mengangguk.
Itu saja.
Aku pulang sore.
Celine tidak datang ke toko.
Bagus.
Tidak bagus.
Aku tidak tahu.
Mbah melihat wajahku.
“Berantem?”
“Iya.”
“Siapa salah?”
Aku tertawa hambar.
“Dia.”
Mbah mengangguk.
“Jarang.”
Aku menatap beliau.
“Mbah.”
“Apa?”
Aku cerita.
Mbah mendengarkan.
Setelah selesai, beliau tidak membela Celine.
“Dia salah.”
Aku mengangguk.
“Tapi kamu masih sayang?”
Aku menegang.
“Mbah.”
“Pertanyaan gampang.”
“Enggak gampang.”
Beliau berdiri pelan.
“Ya sudah. Jangan jawab sekarang.”
Malamnya ponselku tetap diam.
Aku tahu Celine sengaja tidak menghubungi.
Dia memberi ruang.
Harusnya itu benar.
Tapi ketiadaan pesannya terasa aneh.
Aku membuka chat.
Pesan terakhir kemarin.
Celine
Datang.
Di bawahnya:
Alfa
Bagus.
Aku mematikan layar.
Marah datang terlambat.
Aku marah kepada Celine.
Benar-benar marah.
Bukan takut dia pergi.
Bukan insecure.
Marah.
Dan itu sendiri menakutkan.
Karena selama ini aku selalu menelan.
Memaafkan cepat.
Bilang enggak apa-apa.
Kali ini tidak.
Tidak apa-apa.
Dia salah.
Aku berhak marah.
Keesokan harinya, kami bertemu di kampus.
Tidak sengaja.
Celine berdiri di ujung koridor.
Aku berhenti.
Dia juga.
Biasanya dia akan datang.
Hari ini tidak.
Jarak sepuluh meter terasa seperti seratus.
Aku berjalan mendekat karena kelas di arah sana.
Saat sejajar, Celine berkata pelan, “Alfa.”
Aku berhenti.
“Aku minta maaf.”
Aku menatapnya.
Matanya merah.
Aku ingin menyentuh.
Tanganku tetap di saku.
“Aku tahu.”
“Aku nggak akan jelasin niatku.”
Bagus.
“Karena niatku nggak bikin itu jadi benar.”
Dadaku sakit.
Aku mengangguk.
“Aku belum bisa biasa.”
“Aku tahu.”
Kami diam.
Celine berkata, “Aku akan kasih ruang.”
Aku hampir bilang jangan.
Tidak.
Aku butuh.
“Oke.”
Dia mengangguk.
Aku pergi.
Tidak ada genggaman tangan.
Tidak ada ciuman pipi.
Tidak ada bahu bersentuhan.
Absennya sentuhan ternyata punya berat sendiri.
Malam itu aku berdiri di dapur.
Ada satu roti cacat.
Tanganku otomatis mengambil kotak kedua.
Berhenti.
Celine tidak datang.
Aku meletakkan kotak kembali.
Untuk pertama kali setelah berminggu-minggu, aku makan roti jelek sendirian.
Rasanya sama.
Entah kenapa jauh lebih pahit.
Hari kedua tanpa Celine lebih buruk.
Bukan karena aku sudah tidak marah.
Aku masih marah.
Tapi rutinitas punya ingatan sendiri.
Jam empat sore, aku melihat pintu.
Tidak ada.
Jam lima, Bu Siska masuk.
Dia melihat kursi kosong dekat kasir.
Tidak komentar.
Itu justru membuatku sadar semua orang tahu.
Pak Yono datang jam enam.
Membeli roti sungguhan kali ini.
Dia berdiri di kasir.
“Mau nasihat?”
“Enggak.”
“Bagus.”
Aku menatapnya.
“Terus kenapa tanya?”
“Biar tahu.”
Dia membayar.
Sebelum pergi, dia berkata, “Marah itu boleh.”
Aku diam.
“Tapi jangan pakai marah buat menghukum diri sendiri.”
“Pak habis nonton apa?”
“Episode delapan belas.”
Aku hampir tersenyum.
Dia pergi.
Mbah sedang menyusun struk.
“Kamu lihat pintu terus.”
“Enggak.”
“Bohong.”
Aku menghela napas.
“Aku masih pengin dia datang.”
“Terus?”
“Tapi aku juga nggak pengin ketemu.”
Mbah mengangguk seolah itu masuk akal.
“Bisa dua-duanya.”
Aku melihat beliau.
“Perasaan nggak harus rapi.”
Kalimat sederhana.
Aku menyandarkan punggung ke meja.
“Aku takut kalau aku maafin cepat, berarti yang dia lakukan nggak penting.”
“Siapa suruh cepat?”
“Enggak ada.”
“Ya jangan.”
Mbah menutup buku kas.
“Tapi jangan juga sengaja lama cuma buat bikin dia sakit.”
Aku mengangguk.
Itu batasnya.
Aku berhak marah.
Tapi Celine bukan musuh.
Malamnya Dimas menelepon.
Aku jarang angkat telepon.
Hari ini kuangkat.
“Ya?”
“Lu hidup?”
“Sayangnya.”
“Bagus.”
Hening.
“Celine chat gue,” katanya.
Dadaku langsung tegang.
“Apa?”
“Cuma nanya lu masuk kelas.”
Aku diam.
“Gue bilang iya.”
“Oke.”
“Dia nggak nanya yang lain.”
Aku tahu.
Celine sedang menjaga jarak.
Dimas berkata, “Gue nggak mau jadi kurir.”
“Jangan.”
“Bagus.”
Kami diam lagi.
“Fa.”
“Hm?”
“Lu mau putus?”
Pertanyaan itu menghantam.
Aku langsung menjawab, “Enggak.”
Terlalu cepat.
Dimas diam.
Aku juga.
Jawaban sudah keluar.
Enggak.
Aku marah.
Aku terluka.
Aku tidak ingin putus.
Dimas berkata, “Ya berarti ada sesuatu yang nanti perlu dibenerin.”
Aku menutup mata.
“Iya.”
Setelah telepon selesai, aku membuka chat Celine.
Tidak mengetik.
Hanya membaca percakapan lama.
Tanganmu dingin.
Besok datang?
Udah sampai?
Pesan-pesan kecil.
Hubungan kami dibangun dari hal kecil.
Mungkin rusaknya juga tidak harus berarti semuanya hilang.
Tapi belum malam ini.
Aku mengunci layar.
Besok.
Mungkin.
Untuk sekarang aku membiarkan diriku marah tanpa membuat keputusan yang tidak bisa kutarik kembali.
Sebelum tidur, satu pesan akhirnya masuk.
Celine
Aku nggak akan ganggu. Cuma semoga kamu bisa tidur.
Aku menatap lama.
Tidak ada permintaan balasan.
Tidak ada “maafin aku”.
Aku mengetik beberapa kali.
Menghapus.
Akhirnya:
Alfa
Kamu juga.
Kirim.
Dadaku sakit setelahnya.
Tapi sedikit lebih ringan.
Aku belum memaafkan.
Dia juga tidak meminta aku melakukannya sekarang.
Mungkin untuk pertama kalinya, kami sedang belajar bahwa hubungan tidak selalu diperbaiki dengan segera.
Kadang dua orang harus berdiri di sisi luka masing-masing dulu sebelum bisa mendekat lagi.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri reading
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru