← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Thirty Seven

Maaf

POV: Celine

Hari pertama setelah Alfa bilang memaafkanku tidak terasa seperti kembali ke masa sebelum kami bertengkar.

Bagus.

Kalau semuanya langsung normal, mungkin kami cuma pura-pura.

Aku datang ke Ratri Bakehouse jam empat lewat sedikit. Alfa sedang di dapur. Mbah Ratri menunjuk ke belakang tanpa berkata apa-apa.

Aku memakai celemek dan masuk.

Alfa menoleh.

“Hai.”

“Hai.”

Di meja ada dua adonan. Aku mulai membantu.

Tidak ada kecanggungan besar. Cuma kehati-hatian.

Saat tangan kami hampir bertemu mengambil scraper, aku berhenti. Alfa juga.

Dia menatapku.

Kemudian mengambil tanganku sebentar.

“Yang ini aman,” katanya.

Aku tersenyum.

“Oke.”

Kami bekerja.

Setengah jam kemudian, aku salah menimbang gula.

Alfa melihat angka timbangan.

“Celine.”

“Apa?”

“Ini dua kali.”

Aku menatap.

“Oh.”

“Kalau dimasukin, pelanggan diabetes.”

“Aku perbaiki.”

Alfa menggeleng sambil tersenyum.

Aneh. Aku sangat merindukan dia mengomel.

Malamnya, setelah toko tutup, kami duduk di lantai dapur. Tempat yang sama ketika Alfa menceritakan masa lalunya.

“Aku mau minta maaf sekali lagi,” kataku.

Dia menatap.

“Bukan supaya kamu bilang udah.”

“Oke.”

Aku menarik napas.

“Aku salah karena mengambil pilihanmu.”

Alfa diam.

“Aku dengar kamu bilang mungkin nggak mau. Aku tetap mikir aku tahu lebih baik.”

Dadaku berat.

“Aku pakai alasan sayang buat membenarkan itu.”

Alfa melihat tangannya.

“Aku nggak akan bilang niatku baik.”

“Memang baik,” katanya.

Aku menatap.

“Tapi tetap salah.”

Aku mengangguk.

Itulah yang perlu kudengar.

Aku cerita tentang Naya. Tentang masa ketika aku tidak bisa memperbaiki apa pun. Tentang bagaimana bergerak menjadi caraku melawan rasa tidak berdaya.

Alfa mendengarkan.

“Jadi waktu lihat kamu sakit, aku pengin memperbaiki.”

“Padahal aku bukan adonan.”

Aku tertawa kecil.

“Iya.”

“Adonan lebih gampang.”

“Jauh.”

Kami diam.

Kemudian Alfa berkata, “Aku juga minta maaf.”

Aku langsung mengernyit.

“Buat apa?”

“Waktu marah, aku hampir bikin semuanya jadi akhir.”

“Tapi kamu nggak.”

“Hampir.”

“Itu beda.”

Dia mengangkat bahu.

“Aku masih belajar.”

Aku tersenyum.

“Aku juga.”

Tidak ada pihak yang menyembuhkan pihak lain.

Mungkin itu yang baru kupahami.

Kami cuma dua orang dengan kebiasaan buruk berbeda.

Aku terlalu cepat maju.

Alfa terlalu cepat mundur.

Hubungan kami mungkin adalah belajar bertemu di tengah.

Aku menatap tangannya.

Tidak mengambil.

Alfa yang mengulurkan.

Aku menggenggam.

“Fa.”

“Hm?”

“Aku nggak akan janji nggak pernah salah lagi.”

“Bagus.”

“Tapi kalau aku mulai mengambil alih, bilang.”

“Aku akan coba.”

“Dan kalau kamu mulai kabur?”

Dia menatapku.

“Kamu boleh ingetin.”

“Bukan ngejar?”

“Jangan.”

Aku tertawa.

“Oke.”

Kami berdiri.

Aku hendak mengambil tas.

Alfa berkata, “Celine.”

Aku menoleh.

Dia mendekat.

Tangannya menyentuh sisi wajahku. Berhenti sejenak.

Aku tidak bergerak.

Alfa mencium keningku.

Lembut.

Lalu mundur.

Aku tersenyum.

“Belum bibir?”

Dia menghela napas.

“Jangan rusak.”

“Aku cuma tanya.”

“Belum.”

“Oke.”

Aku benar-benar oke.

Kedekatan kami tidak perlu dibuktikan dengan kembali ke semua kebiasaan sekaligus.

Aku mengambil tas.

Sebelum keluar, Alfa memanggil lagi.

“Besok datang.”

Bukan pertanyaan.

Aku tersenyum.

“Datang.”

Di rumah, aku membuka notebook biru.

Aku sempat berpikir menulis:

Kami baikan.

Tapi itu terlalu sederhana.

Aku menulis:

Hari ini kami mulai membangun lagi.

Lebih tepat.

Ponsel berbunyi.

Alfa

Udah sampai?

Aku hampir tertawa.

Rutinitas itu kembali.

Celine

Udah.

Alfa

Oke.

Aku menunggu.

Pesan lain datang.

Alfa

Terima kasih udah minta maaf tanpa nyari alasan.

Mataku panas.

Celine

Terima kasih udah mau denger.

Besok tidak akan otomatis sempurna.

Mungkin lusa kami salah lagi.

Tapi untuk pertama kalinya aku tidak merasa harus memastikan semuanya baik-baik saja malam ini.

Aku bisa membiarkan hubungan tumbuh dengan kecepatannya sendiri.

Seperti Alfa dulu mengajariku tanpa sengaja.

Tunggu.

Tanya.

Dengar.

Dan ketika seseorang akhirnya mengulurkan tangan, jangan tarik lebih keras daripada yang dia berikan.

Cukup genggam.

Keesokan sorenya, aku datang lagi.

Alfa sedang membentuk adonan. Aku berdiri di pintu dapur.

“Boleh masuk?”

Dia menatapku.

“Kamu sekarang nanya buat semua hal?”

“Trauma pribadi.”

Alfa hampir tertawa.

“Masuk.”

Aku berjalan mendekat.

Dia menyerahkan satu potongan adonan.

“Bentuk.”

Aku mulai.

Hasilnya jelek.

Alfa melihat.

“Kenapa makin parah?”

“Karena gurunya galak.”

“Gurunya sabar.”

“Kamu?”

“Ya.”

Aku tertawa.

Kami bekerja sampai bahu kami beberapa kali bersentuhan.

Tidak ada yang menjauh.

Sesederhana itu.

Saat aku salah lipat lagi, Alfa berdiri di belakangku.

Tangannya bergerak mendekati tanganku.

Dia berhenti.

Aku menoleh sedikit.

“Boleh?”

Aku mengangguk.

Tangannya membimbing lipatan.

Sangat biasa.

Tapi setelah semua yang terjadi, biasa terasa mewah.

Aku tersenyum.

Alfa berkata, “Kenapa?”

“Enggak.”

“Kamu senyum.”

“Karena ini normal.”

Dia diam sebentar.

“Bagus.”

Aku menoleh.

“Kamu senang juga?”

“Sedikit.”

“Berapa persen?”

“Jangan mulai.”

Aku tertawa.

Mungkin hubungan kami belum sepenuhnya kembali.

Tapi hari itu aku sadar satu hal.

Kami tidak sedang kembali ke tempat lama.

Kami sedang membuat tempat baru. Malam setelah itu, aku memikirkan satu hal lain.

Aku dulu menganggap hubungan yang sehat berarti tidak saling menyakiti.

Sekarang aku tahu itu mustahil.

Kami manusia.

Kami akan salah.

Yang menentukan bukan ada atau tidaknya luka, tapi apa yang kami lakukan setelahnya.

Besok, saat aku datang, Alfa sedang memasukkan roti ke etalase.

Aku berdiri di samping.

“Fa.”

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku salah lagi, jangan langsung maafin cuma karena takut aku pergi.”

Dia berhenti.

Aku melanjutkan, “Marah kalau memang marah.”

Alfa menatapku.

“Permintaan aneh.”

“Aku serius.”

Dia berpikir.

“Kalau kamu salah kecil?”

“Ya jangan lebay.”

“Aku tahu.”

Aku memukul lengannya ringan.

Alfa tersenyum.

“Kalau aku salah?”

“Hal yang sama.”

Dia mengangguk.

Kami kembali bekerja.

Beberapa menit kemudian, aku berkata, “Hubungan kita banyak aturan.”

“Karena kamu berbahaya.”

“Kamu juga.”

“Buktinya?”

“Kamu bikin aku nangis seminggu.”

“Itu karena kamu salah.”

“Ya juga.”

Kami tertawa.

Mbah Ratri melihat dari kasir.

“Kalian sudah selesai perang?”

Aku dan Alfa menoleh.

“Sudah,” jawabku.

Mbah mengangguk puas.

“Bagus. Besok pesanan banyak.”

Alfa menatapnya.

“Jadi Mbah nunggu damai buat tenaga kerja?”

“Ya.”

Aku tertawa sampai harus bersandar ke meja.

Alfa menggeleng.

Mungkin itu juga bagian dari pulang.

Setelah semua pembicaraan besar, hidup tetap minta adonan dibentuk, kas dihitung, dan pelanggan dilayani.

Dan mungkin justru keseharian itu yang menyelamatkan kami dari menjadikan setiap luka sebagai pusat dunia.

Sebelum toko tutup, Bu Mina datang.

Beliau melihat kami bergandengan tangan sebentar saat memindahkan kotak.

“Sudah normal?”

Aku hampir tertawa.

Alfa menjawab, “Sedang proses.”

Bu Mina mengangguk.

“Bagus. Yang penting jangan bodoh dua kali.”

Alfa menatapnya.

“Kenapa semua orang boleh nasihatin aku?”

“Karena kamu dari kecil susah.”

Aku menutup mulut.

Alfa menunjuk pintu.

“Bu.”

Bu Mina tertawa sambil membawa rotinya.

Setelah beliau pergi, aku berkata, “Aku suka lingkunganmu.”

“Aku tahu.”

“Kenapa?”

“Kamu cocok sama orang berisik.”

Aku menyenggol bahunya.

“Termasuk kamu?”

Alfa menatapku.

“Kadang.”

Aku tersenyum.

Saat lampu depan dimatikan, kami berdiri di bawah cahaya dapur.

Aku mengangkat tangan.

“Boleh?”

Alfa mengernyit.

“Apa?”

“Peluk.”

Dia tidak menjawab.

Cuma membuka tangan.

Aku masuk.

Pelukan itu lebih lama.

Tidak dramatis.

Tidak menangis.

Justru itu yang membuatku tenang.

Kami bisa berpelukan lagi tanpa menjadikan setiap sentuhan sebagai bukti bahwa semuanya baik-baik saja.

Kami hanya ingin dekat.

Dan itu cukup.

Sebelum tidur, aku mendapat satu pesan terakhir.

Alfa

Besok aku coba resep baru.

Aku langsung curiga.

Celine

Eksperimen korban?

Alfa

Tester.

Celine

Bedanya?

Alfa

Nama.

Aku tertawa.

Hubungan kami belum sempurna.

Tapi kami kembali bisa bercanda tanpa memakai humor untuk menghindari hal serius.

Itu juga kemajuan.

Besok aku akan datang.

Mungkin kami akan salah lagi suatu hari.

Tapi sekarang aku tahu cara meminta maaf tidak kalah penting dari cara mencintai.

Saat lampu dapur dimatikan, Alfa menunggu sampai aku benar-benar keluar pintu.

Hal kecil.

Tapi aku menyadarinya.

Kami mungkin belum kembali seperti dulu.

Mungkin kami memang tidak perlu.

Versi hubungan kami setelah luka ini terasa lebih jujur.

Dan aku menyukainya.