Chapter Twenty
Tangan
POV: Celine
Aku punya masalah baru.
Tanganku ingin memegang tangan Alfa.
Masalah itu muncul sejak pagi dan terus membesar.
Kami berjalan berdampingan menuju gedung perpustakaan. Jarak di antara kami tidak jauh, mungkin dua puluh sentimeter.
Tangannya ada di sana.
Sangat dekat.
Sangat bisa dijangkau.
Sangat bukan milikku tanpa izin.
Aku memasukkan kedua tangan ke saku jaket.
Alfa melirik.
“Kedinginan?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Menjaga keamanan.”
Alfa menatapku beberapa detik.
Lalu memilih tidak bertanya.
Keputusan bijak.
Sejak kami jadian tiga hari lalu, aku menemukan banyak hal lucu.
Alfa ternyata lebih gugup setelah punya status daripada ketika aku masih mengejarnya.
Kalau dulu aku mendekat, dia kabur karena takut.
Sekarang dia kadang diam di tempat, tapi telinganya merah.
Kemajuan.
Sangat menyenangkan.
Tapi aku juga tidak mau mengubah kemajuan itu menjadi alasan untuk mendorong terlalu jauh.
Kami masuk perpustakaan.
Nadine sudah menunggu di meja pojok.
Begitu melihat Alfa, dia mengangguk sopan.
“Hai.”
“Hai,” jawab Alfa.
Aku duduk.
Alfa duduk di sebelahku.
Nadine memandang jarak kursi kami yang sekarang lebih dekat dibanding biasanya.
Lalu melihatku.
Tidak berkata apa-apa.
Tapi wajahnya jelas mengatakan: akhirnya.
Aku menendang kakinya pelan di bawah meja.
Dia tersenyum.
Kami mengerjakan tugas hampir satu jam.
Alfa fokus sekali kalau sudah membuka laptop.
Poninya jatuh ke depan lagi karena hari ini tidak dijepit.
Tangannya bergerak cepat di keyboard.
Sesekali dia mendorong kacamatanya ke atas.
Aku menatap terlalu lama.
Tanpa melihat, dia berkata, “Kenapa?”
“Enggak apa-apa.”
“Kamu lihat terus.”
“Aku punya pacar ganteng. Lagi dimanfaatkan.”
Jari Alfa berhenti mengetik.
Nadine langsung menunduk ke buku untuk menyembunyikan tawa.
Aku menggigit bibir.
Alfa menatap layar.
“Jangan ngomong sembarangan di perpustakaan.”
“Aku bisik-bisik.”
“Lebih parah.”
Setelah selesai, Nadine pulang lebih dulu.
Aku dan Alfa berjalan keluar.
Langit mendung.
Udara dingin.
Tangannya masih ada di sampingku.
Otakku mulai berisik lagi.
Aku bisa saja menunggu.
Tidak ada urgensi.
Tapi kalau aku terus menunggu hanya karena takut membuatnya takut, itu juga bukan hubungan.
Kami sudah sepakat bicara.
Jadi aku berhenti.
Alfa ikut berhenti.
“Kenapa?”
Aku mengeluarkan satu tangan dari saku.
“Boleh pegangan tangan?”
Alfa membeku.
Aku menahan napas.
Bukan freeze seperti waktu kusentuh tiba-tiba di toko.
Yang ini lebih mirip sistemnya sedang loading.
“Sekarang?” tanyanya.
Aku hampir tertawa.
“Iya.”
“Di sini?”
Aku melihat sekitar.
Ada mahasiswa lewat, tapi tidak ramai.
“Iya.”
Alfa memandang tanganku.
Lalu sekeliling.
Lalu tanganku lagi.
“Aku bisa batal kalau kamu nggak nyaman.”
“Enggak.”
“Enggak apa?”
Dia menghela napas.
“Boleh.”
Aku tidak langsung meraih.
Aku membiarkan tanganku tetap terbuka di antara kami.
Alfa melihatnya.
Kemudian pelan-pelan, dia meletakkan tangannya di sana.
Hangat.
Jari kami menyentuh.
Aku menggenggam ringan.
Tidak erat.
Tidak menarik.
Cuma cukup untuk membuat telapak kami menempel.
Jantungku berdebar keterlaluan.
Lucu.
Aku sudah berkali-kali digandeng teman ketika menyeberang.
Pernah berpegangan tangan dengan sepupu.
Tidak pernah terasa seperti ini.
Alfa menatap lurus ke depan.
Telinganya merah.
“Fa.”
“Jangan.”
“Aku belum ngomong.”
“Aku tahu.”
“Kamu lucu.”
“Nah.”
Aku tertawa.
Kami mulai berjalan lagi.
Langkah Alfa awalnya sedikit kaku.
Seperti dia terlalu sadar tangannya terhubung dengan tanganku.
Beberapa meter kemudian, ritmenya normal.
Aku menatap tangan kami.
Dia tidak melepas.
Di depan gedung fakultasku, Tara berdiri bersama dua teman.
Matanya langsung jatuh ke tangan kami.
Mulutnya terbuka.
Aku menggeleng keras.
Jangan.
Tara menutup mulut dengan kedua tangan.
Matanya menjerit.
Alfa mengikuti tatapanku.
Begitu melihat Tara, genggamannya melemah.
Aku langsung berhenti.
“Kalau mau lepas, boleh.”
Alfa diam.
Tara pura-pura melihat pohon.
Sangat buruk.
“Aku nggak mau kamu merasa dipamerin,” kataku pelan.
Alfa melihat tangan kami.
Kemudian Tara.
Lalu aku.
Akhirnya dia menggenggam kembali.
Sedikit lebih erat.
“Enggak apa-apa.”
Aku tidak bergerak beberapa detik.
“Celine?”
“Hm?”
“Kelasmu.”
“Oh.”
Aku baru sadar kami sudah sampai.
Aku melepaskan tangannya duluan.
Ada sedikit rasa kehilangan aneh saat kontak itu putus.
Alfa memasukkan tangan ke saku hoodie.
Aku tersenyum.
“Nanti?”
“Nanti.”
Aku masuk gedung.
Tara menunggu sampai Alfa cukup jauh.
Kemudian dia mencengkeram bahuku.
“GUE BARUSAN MELIHAT SEJARAH?”
“Pelan.”
“PEGANGAN TANGAN?”
“Tar.”
“DIA YANG GENGGAM BALIK?”
Aku menutup mulutnya.
“Kalau kamu bikin satu fakultas tahu, aku blokir.”
Tara mengangguk.
Aku melepaskan.
Dia menarik napas.
“Gue cuma mau bilang…”
Aku menyipit.
“Manis banget.”
Aku tidak bisa menahan senyum.
Siang itu, aku menerima pesan saat kelas.
Alfa
Tanganmu dingin.
Aku membaca dua kali.
Celine
Kamu baru sadar sekarang?
Beberapa detik.
Alfa
Tadi.
Aku menahan senyum sambil mengetik di bawah meja.
Celine
Besok boleh cek lagi.
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul.
Alfa
Lihat nanti.
Aku hampir tertawa.
Nadine yang duduk di samping menoleh.
“Apa?”
“Enggak.”
“Kamu senyum sendiri.”
“Pacarku.”
Nadine mengangguk seolah itu menjelaskan penyakit tertentu.
Sore hari aku mampir ke Ratri Bakehouse.
Alfa sedang memasukkan roti ke etalase.
Mbah Ratri di kasir.
Aku baru masuk ketika Mbah berkata, “Pegangan tangan?”
Aku tersandung kaki sendiri.
Alfa hampir menjatuhkan baki.
“MBAH.”
Aku menatap beliau. “Mbah tahu dari mana?”
Pintu terbuka.
Bu Siska masuk sambil membawa wadah plastik.
“Saya lihat tadi lewat kampus.”
Aku memandang Alfa.
Alfa memandangku.
Kami sama-sama melihat Bu Siska.
“Bu,” kata Alfa pelan, “kenapa Ibu lewat kampus?”
“Antar pesanan.”
“Tepat saat kami lewat?”
“Rezeki.”
Aku mulai tertawa.
Alfa menutup wajah dengan satu tangan.
Mbah Ratri menunjuk kami.
“Bagus.”
“Apanya?” tanya Alfa.
“Pegangan tangannya.”
“Kenapa dibahas?”
“Karena perkembangan.”
Aku tertawa sampai perut sakit.
Alfa mengambil baki dan pergi ke dapur.
Aku mengikuti beberapa menit kemudian.
Dia sedang menyusun loyang dengan ekspresi pasrah.
Aku berdiri di ambang pintu.
“Fa.”
“Hm?”
“Tadi…”
Dia menoleh.
Aku mengangkat tanganku sedikit.
“Terima kasih.”
Alfa tampak bingung. “Buat apa?”
“Karena nggak lepas waktu lihat Tara.”
Ekspresinya berubah.
Dia melihat tanganku, lalu wajahku.
“Aku sempat mau.”
“Aku tahu.”
“Tapi…”
Dia mencari kata.
Aku menunggu.
“Aku nggak mau keputusan orang lain lihat atau enggak selalu bikin aku kabur.”
Dadaku terasa penuh.
Aku tidak menggoda.
Tidak bercanda.
“Pelan-pelan aja.”
Alfa mengangguk.
Aku berbalik hendak keluar.
“Celine.”
Aku menoleh.
Tangannya terulur.
Bukan sepenuhnya.
Cuma terbuka sedikit di samping tubuh.
Tapi aku mengerti.
Aku kembali mendekat dan meletakkan tanganku di sana.
Alfa menggenggam.
Tidak ada orang yang melihat.
Tidak ada Tara.
Tidak ada Bu Siska.
Tidak ada alasan untuk membuktikan apa-apa.
Hanya kami di dapur dengan aroma mentega dan loyang hangat.
Dan justru karena tidak ada yang melihat, genggaman itu terasa jauh lebih penting.
Saat aku pulang malam itu, aku masih bisa merasakan hangat tangannya.
Konyol.
Kami cuma pegangan tangan.
Tapi otakku mengulangnya seperti adegan penting.
Aku membuka grup kecilku dengan Tara dan Nadine.
Jempolku hampir mengetik.
Hari ini Alfa yang minta tangan duluan.
Aku berhenti.
Kemudian menghapus.
Bukan karena rahasia.
Lebih karena aku mulai mengerti bahwa tidak semua perkembangan harus jadi bahan laporan.
Ada bagian hubungan ini yang ingin kusimpan hanya untuk kami.
Ponsel bergetar.
Tara
Gue masih mikirin tadi.
Aku langsung curiga.
Celine
Jangan.
Tara
Gue cuma mau bilang tangan kalian matching.
Aku menutup wajah.
Celine
Apa maksudnya tangan matching?
Tara
Gatau. Gue terharu aja.
Nadine masuk.
Nadine
Tara menangis karena orang pegangan tangan. Abaikan.
Aku tertawa.
Keesokan paginya, aku bertemu Alfa dekat gerbang.
Hari ini aku sengaja tidak menawarkan tangan.
Aku ingin tahu apakah dia akan memilih sendiri.
Kami berjalan hampir sampai gedung tanpa sentuhan apa pun.
Aku tidak kecewa.
Serius.
Sedikit mungkin.
Tapi tidak banyak.
Kemudian kami sampai di zebra cross dalam kampus.
Motor lewat cukup cepat.
Alfa refleks mengulurkan tangannya di depanku, menahan langkahku.
Gerakannya spontan.
Setelah motor lewat, tangannya belum turun.
Aku menatapnya.
Alfa mengikuti tatapanku ke tangannya sendiri.
Dia seperti baru sadar.
“Apa?” katanya defensif.
“Enggak.”
“Jangan senyum.”
“Aku nggak senyum.”
“Kamu senyum.”
Aku menahan lebih kuat.
Alfa menghela napas.
Lalu, alih-alih menarik tangannya, dia memutar telapak dan menggenggam jariku.
Jantungku langsung kacau.
Kami menyeberang.
Di seberang jalan aku berkata, “Sekarang nggak ada Tara.”
“Aku tahu.”
“Bu Siska juga nggak ada.”
“Aku tahu.”
“Jadi ini buat siapa?”
Alfa memandang lurus ke depan.
“Berisik.”
Aku tertawa.
Tapi dia tidak melepas.
Dan saat itu aku tahu: kemarin bukan kebetulan atau keberanian sesaat.
Dia sedang membangun kebiasaan baru.
Bukan menghindari sentuhan.
Melainkan memilih sentuhan yang terasa aman.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan reading
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru