← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Thirteen

Pesan Pertama

POV: Alfa

Ada satu masalah baru dalam hidupku.

Aku mulai hafal jadwal Celine.

Bukan sengaja.

Setidaknya, awalnya bukan sengaja.

Senin dia selesai kelas jam tiga. Selasa ada rapat organisasi sampai sore. Rabu kelasnya kosong setelah makan siang. Kamis biasanya dia mampir ke toko. Jumat jadwalnya berubah-ubah tergantung kegiatan fakultas.

Informasi itu terkumpul sendiri karena Celine suka bicara.

Masalahnya, sekarang ketika jam menunjukkan pukul tiga lewat dua puluh dan tidak ada satu pun pesan darinya, aku tahu ada yang berbeda.

Aku sedang duduk di perpustakaan bersama Dimas.

Dia mengetik tugas.

Aku membaca satu halaman yang sama untuk kelima kalinya.

“Fa.”

“Hm?”

“Kalau bukunya salah cetak, lu nggak perlu menatap sampai hurufnya memperbaiki diri.”

Aku membalik halaman.

Dimas melirik ponselku yang tergeletak di meja.

“Kenapa?”

“Enggak kenapa-kenapa.”

“Celine?”

Aku menatapnya.

Dimas kembali mengetik. “Berarti iya.”

“Aku nggak bilang apa-apa.”

“Muka lu terlalu gampang.”

“Katanya poniku nutupin.”

“Telinga lu nggak.”

Aku menyentuh telinga sendiri secara refleks, lalu langsung menyesal ketika Dimas tertawa tanpa suara.

Ponselku tetap diam.

Kemarin Celine bilang ada presentasi besar siang ini.

Dia bahkan mengirim foto slide terakhir sambil mengeluh bahwa warna grafiknya membuat mata sakit.

Biasanya setelah sesuatu selesai, dia akan mengirim pesan.

Entah kemenangan.

Entah keluhan.

Entah kalimat yang tidak penting seperti aku lapar.

Sekarang tidak ada.

Aku mencoba membaca lagi.

Tidak berhasil.

Akhirnya aku mengambil ponsel.

Membuka ruang chat.

Mengetik.

Menghapus.

Mengetik lagi.

Alfa

Presentasinya selesai?

Aku menatap pesan itu setelah terkirim.

Sederhana.

Normal.

Tidak ada yang aneh.

Dimas berhenti mengetik.

“Lu barusan ngechat duluan?”

Aku menaruh ponsel telungkup.

“Kerjain tugas.”

“Ini lebih penting.”

“Enggak.”

“Buat sejarah hidup lu, penting.”

Aku mengabaikannya.

Tiga menit.

Lima menit.

Sepuluh.

Tidak ada balasan.

Aku mulai merasa bodoh.

Mungkin Celine sedang sibuk.

Mungkin ponselnya mati.

Mungkin dia sedang bersama teman-temannya dan tidak perlu—

Ponselku bergetar.

Tanganku bergerak lebih cepat daripada pikiranku.

Celine

Selesai.

Lalu satu pesan lagi.

Celine

Aku masih hidup, tapi harga diriku luka.

Aku mengembuskan napas yang ternyata kutahan.

Alfa

Kenapa?

Balasan kali ini tidak langsung.

Celine

Dosenku membedah presentasi kami seperti autopsi.

Aku hampir tertawa.

Alfa

Berarti masih bisa diperbaiki.

Celine

Kamu jahat.

Alfa

Realistis.

Tiga titik muncul.

Celine

Alfa Pradipta ngechat duluan cuma buat menghibur aku?

Aku mengunci layar.

Dimas melihat.

“Kenapa berhenti?”

“Sudah selesai.”

“Lu merah.”

“Diam.”

Dia tersenyum seperti orang menyebalkan yang baru menang taruhan.

Sore itu aku pulang lebih lambat karena ada kelas tambahan.

Aku sempat berpikir Celine mungkin sudah pulang.

Tapi ketika melewati taman di antara fakultas kami, aku melihatnya duduk sendirian di bangku.

Tidak ada Tara.

Tidak ada Nadine.

Tidak ada senyum yang biasanya selalu siap ketika seseorang mendekat.

Dia menatap satu titik di tanah dengan bahu turun.

Aku berhenti.

Ada dua pilihan.

Terus jalan.

Atau mendekat.

Dulu jawabannya jelas.

Sekarang kakiku bergerak sebelum aku selesai memikirkan.

Celine baru sadar aku datang ketika bayanganku jatuh di depannya.

Dia mendongak.

Wajahnya langsung berubah.

Senyum muncul.

Cepat sekali.

Terlalu cepat.

“Eh. Kamu.”

Aku berdiri di depannya. “Kamu belum pulang?”

“Nunggu Tara. Dia masih urusan.”

Aku mengangguk.

Celine menepuk tempat kosong di sebelahnya, lalu berhenti.

“Boleh duduk kalau mau.”

Aku duduk.

Ada jarak satu orang di antara kami.

Beberapa mahasiswa lewat sambil melirik.

Aku menyadarinya.

Anehnya, aku tidak berdiri.

“Presentasinya separah itu?” tanyaku.

Celine tertawa kecil. “Enggak separah dramaku.”

“Kamu kelihatan capek.”

Dia menoleh.

Aku tidak tahu kenapa kalimat itu membuat wajahnya diam.

“Apa?”

“Kamu capek.”

“Aku baik-baik aja.”

“Bohong.”

Celine berkedip.

Aku menatap tasnya.

“Kamu dari tadi senyum setiap ada orang lewat.”

Dia tidak menjawab.

Aku baru sadar mungkin aku terlalu jauh.

“Maaf.”

“Jangan.”

Suaranya pelan.

Aku menoleh.

Celine menatap ke depan lagi.

“Orang biasanya bilang aku kelihatan baik-baik aja.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Jadi aku membuka tas dan mengeluarkan satu bungkus roti susu.

Aku memang membawa dua dari toko pagi tadi.

Satu untukku.

Satu—

Aku tidak mau memikirkan kenapa ada dua.

“Kamu sudah makan?”

Celine melihat roti itu.

“Belum.”

“Nih.”

Dia tidak langsung mengambil.

“Ini buat aku?”

“Kalau nggak mau, aku makan.”

Tangannya langsung mengambil.

“Aku mau.”

Aku hampir tersenyum.

Celine membuka bungkus perlahan. “Kamu bawa dua?”

“Hm.”

“Yang satu memang buat aku?”

“Yang satu cadangan.”

“Cadangan berbentuk aku?”

Aku menatap lurus ke depan.

Celine terkekeh kecil.

Tapi kali ini tawanya tidak terdengar seperti topeng.

Dia menggigit roti.

Kami duduk dalam diam.

Tidak canggung.

Hanya diam.

Itu hal baru.

Biasanya Celine mengisi setiap ruang kosong dengan kata-kata.

Hari ini dia tidak perlu.

Beberapa menit kemudian Tara datang dari arah gedung.

Begitu melihat kami, langkahnya melambat.

Matanya turun ke roti di tangan Celine.

Lalu ke aku.

Lalu kembali ke Celine.

Aku tahu tatapan itu.

Tatapan orang yang sedang menyimpan bahan untuk dipakai nanti.

“Gue ganggu?” tanyanya.

“Iya,” jawab Celine.

“Bagus.”

Aku berdiri.

Celine ikut berdiri. “Kamu pulang?”

“Iya.”

Dia mengangkat roti yang tinggal setengah. “Makasih.”

Aku mengangguk.

Aku baru beberapa langkah ketika dia memanggil.

“Alfa.”

Aku menoleh.

Senyumnya kali ini kecil.

Tidak dibuat untuk siapa-siapa.

“Makasih udah nyariin.”

Aku ingin bilang aku tidak mencarinya.

Bahwa aku cuma lewat.

Bahwa semuanya kebetulan.

Kalimat-kalimat itu sudah sampai di ujung lidah.

Tapi aku mengingat pesan yang kukirim lebih dulu.

Aku mengingat bagaimana aku tahu dia seharusnya selesai presentasi jam berapa.

Aku mengingat dua roti yang kubawa.

Jadi aku hanya berkata, “Hm.”

Tara menatapku seperti ingin bertepuk tangan.

Aku pergi sebelum dia sempat bicara.

Di halte, ponselku bergetar.

Celine

Rotinya enak.

Aku membalas.

Alfa

Memang.

Celine

Orangnya juga lumayan.

Aku menatap layar.

Lalu mengetik.

Alfa

Rotinya aja.

Balasan muncul cepat.

Celine

Berarti orangnya nggak menyangkal lumayan.

Aku memasukkan ponsel ke saku.

Senyumku sudah muncul sebelum sempat kutahan.

Dan itu masalah berikutnya.

Aku mulai menunggu pesannya.

Lebih buruk lagi, aku mulai menjadi orang yang mengirim lebih dulu.

Malamnya, ketika aku sudah selesai membantu Mbah menutup toko, beliau duduk di meja makan sambil mengupas jeruk.

Aku membawa dua gelas air.

Mbah memandangku.

“Apa?”

“Tidak apa-apa.”

“Kalau tidak apa-apa, jangan lihat begitu.”

“Begitu bagaimana?”

“Seperti mau interogasi.”

Mbah memasukkan satu potong jeruk ke mulut.

“Kamu hari ini pulang lebih lambat.”

“Ada kelas.”

“Terus?”

“Terus apa?”

“Celine?”

Aku berhenti menuang air.

Aku seharusnya sudah tahu.

“Kenapa setiap topik ujungnya Celine?”

“Karena kalau ujungnya listrik, kamu jawab cepat.”

Aku menarik kursi.

Mbah tertawa kecil.

Aku menatap meja.

“Dia habis presentasi.”

“Oh.”

“Capek.”

“Oh.”

Aku mulai curiga.

“Kenapa cuma oh?”

“Kalau Mbah banyak komentar, kamu kabur.”

Aku menatap beliau.

Mbah masih fokus mengupas jeruk.

Kalimat itu sederhana.

Tapi tepat.

Belakangan semua orang sepertinya mulai belajar bagaimana menghadapi kebiasaanku mundur.

Celine paling banyak.

Aku tidak tahu apakah harus berterima kasih atau malu.

Ponselku bergetar.

Aku tidak langsung mengambil.

Mbah menunjuknya dengan pisau kecil.

“Kalau dari dia, jawab.”

“Mbah.”

“Kalau dari pinjol, blok.”

Aku membuka layar.

Celine

Sudah sampai rumah?

Aku hampir mengetik ini rumahku juga toko lalu menghapusnya.

Alfa

Sudah.

Balasan muncul.

Celine

Hari ini makasih lagi.

Aku membaca.

Kemudian, tanpa terlalu banyak berpikir:

Alfa

Besok makan dulu sebelum kelas.

Aku menatap kalimat itu.

Terlambat untuk menariknya.

Tiga titik muncul cukup lama.

Celine

Baik, Pak Alfa.

Celine

Anda juga.

Aku memasukkan ponsel ke saku.

Mbah menatapku.

“Kamu senyum.”

“Enggak.”

“Bohong.”

Aku mengambil satu jeruk.

Mbah menepuk tanganku.

“Itu punya Mbah.”

Aku mengambil satu lagi.

“Yang itu juga.”

Aku berdiri.

Dari belakang, Mbah tertawa.

Di kamar, sebelum tidur, aku membuka chat Celine sekali lagi.

Tidak ada pesan baru.

Aku tetap melihat beberapa detik.

Dulu pesan dari perempuan seperti dia membuatku mencari jalan keluar.

Sekarang aku mulai merasa aneh ketika layar terlalu lama sunyi.

Perubahan itu tidak terasa seperti kemenangan.

Lebih seperti berdiri di tepi sesuatu yang belum bisa kulihat dasarnya.

Aku masih takut.

Tapi untuk pertama kalinya, rasa takut itu tidak otomatis membuatku ingin mundur.