← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Sixteen

Bukan Kebetulan

POV: Celine

Aku benar-benar tidak datang ke toko keesokan harinya.

Bukan karena ingin mengetes Alfa.

Aku bukan orang gila.

Setidaknya, tidak separah itu.

Aku hanya tidur hampir sebelas jam, bangun siang, makan, lalu kembali tidur.

Tubuhku rupanya punya hak veto.

Saat sore, ponselku bergetar.

Alfa

Sudah makan?

Aku menatap pesan itu sambil masih setengah tertutup selimut.

Senyumku muncul sendiri.

Celine

Sudah.

Alfa

Beneran?

Aku tertawa.

Celine

Iya, Pak Pengawas.

Beberapa detik.

Alfa

Bagus.

Aku hampir mengetik sesuatu yang menggoda.

Tidak jadi.

Alfa sedang mendekat dengan caranya sendiri.

Aku tidak mau setiap langkahnya langsung kujadikan bahan bercanda.

Jadi aku hanya membalas:

Celine

Makasih udah nanya.

Tidak ada jawaban beberapa menit.

Lalu:

Alfa

Hm.

Aku tertawa kecil.

Keesokan harinya aku kembali ke kampus.

Jam terakhir selesai lebih cepat.

Ketika keluar gedung, Tara menyikut lenganku.

“Target jam dua.”

Aku menoleh.

“Target apa?”

Dia mengangguk ke arah pohon dekat parkiran.

Alfa berdiri di sana.

Aku berhenti.

Nadine ikut melihat.

“Dia sudah di situ sekitar sepuluh menit,” katanya.

Aku menoleh cepat. “Kalian lihat?”

Tara tersenyum. “Kami punya mata.”

Aku langsung ingin berjalan ke sana.

Nadine menahan lenganku.

“Tunggu.”

“Kenapa?”

“Biar dia yang datang.”

Aku melihat Alfa.

Dia juga melihatku.

Beberapa detik.

Kemudian dia mulai berjalan.

Dadaku terasa hangat.

Tara berbisik, “Gila.”

“Diam.”

Alfa berhenti beberapa langkah di depan kami.

“Hai,” kataku.

“Hm.”

Tara memasang wajah paling polos yang pernah kulihat.

“Kita duluan ya.”

Aku menoleh tajam.

“Kalian—”

Mereka sudah pergi.

Pengkhianat.

Aku kembali melihat Alfa.

“Kamu nunggu?”

“Sedikit.”

“Kenapa?”

“Mau ke toko.”

Aku mengangkat alis.

Dia menghela napas.

“Dan…”

Aku menunggu.

Alfa menatap ke arah lain.

“Sekalian.”

Aku hampir tertawa.

“Sekalian apa?”

Dia menatapku.

“Mau ketemu kamu.”

Semua suara kampus seperti mengecil.

Aku tahu kalimat itu sederhana.

Tapi dari Alfa, rasanya seperti sesuatu yang jauh lebih besar.

Aku benar-benar kehilangan kata selama beberapa detik.

Alfa mulai gelisah.

“Kalau kamu ada urusan—”

“Enggak.”

Jawabanku terlalu cepat.

Dia berkedip.

Aku menarik napas.

“Enggak ada. Ayo.”

Kami berjalan ke arah halte.

Untuk sekali ini aku tidak menggoda.

Aku takut kalau kubuat terlalu besar, dia akan menyesal sudah mengatakan jujur.

Di tengah jalan, tangan kami hampir bersentuhan.

Aku otomatis menarik tanganku sedikit.

Bukan karena takut.

Karena aku tidak mau menyentuhnya tanpa izin.

Alfa melihat gerakanku.

Kami terus berjalan.

Beberapa meter kemudian dia berkata, “Kamu nggak perlu sejauh itu.”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Tanganmu.”

Aku melihat tangan kami.

Jaraknya sekitar satu telapak.

“Aku cuma jaga.”

“Aku tahu.”

“Hm.”

Alfa diam sebentar.

“Kalau nggak tiba-tiba… aku nggak masalah.”

Aku berhenti berjalan.

Dia ikut berhenti.

Aku menatapnya.

“Serius?”

“Tapi bukan berarti kamu boleh iseng.”

Aku mengangkat dua tangan. “Aku orang terhormat.”

“Kamu menamai kucing Croissant.”

“Itu tidak relevan.”

Alfa hampir tersenyum.

Kami berjalan lagi.

Aku tidak menyentuhnya.

Bukan sekarang.

Tapi ada sesuatu yang berubah.

Batas itu masih ada.

Bedanya, sekarang Alfa sendiri mulai memberitahuku di mana pintunya.

Di Ratri Bakehouse, Mbah Ratri langsung menunjuk satu kotak kecil di rak belakang.

“Punya kamu.”

Aku menatap Alfa.

Dia langsung sibuk mengambil baki.

Aku membuka kotak.

Dua roti gagal bentuk.

Aku tersenyum.

“Disimpan?”

Alfa tidak melihatku.

“Masih bagus.”

“Dari kemarin?”

“Masih bagus.”

“Alfa.”

“Apa?”

“Makasih.”

Dia akhirnya melihatku.

“Hm.”

Aku membawa kotak itu ke meja kecil.

Bu Mina kebetulan masuk.

Beliau melihat kotak.

Lalu aku.

“Sudah punya jatah?”

Aku hampir tersedak.

“Jatah roti, Bu.”

“Saya juga ngomong roti.”

Dari belakang, Alfa berkata, “Bu Mina sengaja.”

Bu Mina duduk. “Kamu tahu berarti.”

Aku tertawa sampai perut sakit.

Sore berjalan ringan.

Aku membantu membungkus roti.

Hasilku sudah lebih baik.

Alfa bahkan mengakui satu bungkus “lumayan”.

Itu pujian tertinggi darinya.

Saat pelanggan terakhir pergi, aku duduk di kursi dekat dapur.

Alfa keluar membawa dua gelas teh.

Satu ditaruh di depanku.

“Apa ini?”

“Teh.”

“Aku tahu bentuk teh.”

“Terus?”

“Kamu bikinin?”

“Mbah lagi telepon.”

Aku menahan senyum.

Kami minum dalam diam.

Setelah beberapa menit aku berkata, “Tadi kamu bilang mau ketemu aku.”

Alfa hampir tersedak.

Aku langsung menyesal.

“Maaf. Aku nggak mau godain.”

Dia batuk kecil.

“Aku memang bilang.”

Aku menatapnya.

Alfa memegang gelas dengan dua tangan.

“Aku cuma… mau bilang jangan terlalu dibesar-besarkan.”

“Oke.”

“Serius.”

“Aku serius.”

Dia melihatku, seolah memeriksa apakah aku akan menertawakannya.

Aku tidak.

Akhirnya bahunya turun sedikit.

Aku tersenyum.

“Aku juga mau ketemu kamu.”

Telinganya langsung merah.

Aku tertawa kecil, tapi tidak mengejek.

“Yang itu boleh aku bilang, kan?”

Alfa menatap tehnya.

“Iya.”

Sederhana.

Tapi untuk pertama kalinya, kami mengakui hal yang sama.

Bukan cinta.

Belum.

Hanya ingin bertemu.

Dan ternyata itu sudah cukup membuat sore biasa di toko roti terasa jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.

Menjelang malam, Tara datang ke bakery.

Aku tahu itu bukan kebetulan karena dia masuk sambil tersenyum seperti orang yang membawa agenda.

“Permisi.”

Alfa yang sedang menyusun roti menatapnya.

“Kamu Tara.”

Tara memegang dada. “Dia ingat nama gue.”

Aku langsung tahu masalah akan terjadi.

“Tar.”

“Apa? Gue cuma terharu.”

Alfa melihatku minta penjelasan dengan mata.

Aku mengangkat bahu.

Tara memesan tiga donat, lalu sengaja berdiri dekat meja kasir terlalu lama.

“Celine bilang donat sini enak.”

Alfa menjawab, “Dia bias.”

“Kenapa?”

“Gratis kadang.”

Aku memelototinya. “Aku bayar.”

“Kadang.”

Tara menoleh padaku dengan wajah puas.

“Oh, sudah ada privilege.”

“Tidak ada,” kata Alfa.

Mbah lewat di belakang sambil membawa baki.

“Ada.”

Alfa memejamkan mata.

Aku tertawa.

Tara akhirnya pergi, tapi tidak sebelum berbisik kepadaku, “Gue suka versi Alfa yang ini.”

Aku menatap punggungnya.

“Aku juga,” jawabku pelan.

Sayangnya Alfa mendengar.

Dia berhenti bergerak.

Aku ikut membeku.

Beberapa detik kami saling menatap.

Aku bisa saja mengubahnya jadi lelucon.

Biasanya aku akan melakukan itu.

Tapi hari ini aku memilih tidak.

“Aku memang suka,” kataku.

Alfa menelan ludah.

Aku melanjutkan, “Bukan berarti kamu harus jawab apa-apa.”

Dia menatap meja.

“Aku tahu.”

“Bagus.”

Aku kembali menyusun kantong.

Jantungku berdetak terlalu cepat.

Mungkin karena untuk pertama kalinya aku mengatakan perasaanku tanpa menjadikannya senjata godaan.

Tidak ada tawa setelahnya.

Tidak ada “lihat, kamu merah”.

Hanya kenyataan yang diletakkan di antara kami.

Aku suka dia.

Dia tahu.

Dan dia tetap berdiri di sana.

Itu saja sudah cukup.

Ketika aku hendak pulang, hujan turun.

Aku berdiri di bawah kanopi.

Alfa keluar membawa payung.

“Pakai.”

“Kamu?”

“Aku di rumah.”

Aku menerima payung itu.

“Besok kubalikin.”

“Hm.”

Aku membuka payung.

Lalu berhenti.

“Alfa.”

Dia menatapku.

“Yang tadi…”

“Hm?”

“Makasih karena nggak kabur.”

Wajahnya berubah sedikit.

Aku langsung merasa mungkin kalimat itu terlalu berat.

Tapi Alfa tidak mundur.

Dia memasukkan tangan ke saku hoodie.

“Aku juga capek kabur.”

Aku tidak tahu apakah dia sengaja mengatakan sesuatu sebesar itu.

Mungkin tidak.

Tapi aku menyimpannya.

Aku berjalan ke mobil dengan payungnya.

Setelah masuk, aku menoleh ke kaca.

Alfa masih berdiri di depan toko.

Tidak masuk sampai mobilku bergerak.

Aku mengangkat tangan.

Dia membalas kecil.

Di pangkuanku ada kotak roti yang dia simpan.

Di sampingku ada payungnya.

Dan di kepalaku ada satu kalimat yang terus berulang.

Aku juga capek kabur.

Untuk pertama kalinya, aku berani berharap bahwa suatu hari nanti Alfa bukan hanya berhenti menjauh.

Mungkin dia akan memilih mendekat.

Di rumah, aku baru sadar aku masih menggenggam gagang payung terlalu erat.

Aku mengirim foto payung itu ke Alfa.

Celine

Barang bukti sudah diamankan.

Balasan datang beberapa menit kemudian.

Alfa

Jangan hilang.

Celine

Payungnya atau orangnya?

Lama tidak ada jawaban.

Aku tertawa sendiri.

Lalu layar menyala.

Alfa

Dua-duanya.

Aku benar-benar terdiam.

Mungkin dia hanya menjawab asal.

Mungkin tidak.

Tapi malam itu aku tidak menggoda lagi.

Aku hanya memeluk bantal sambil menatap satu kata yang rasanya jauh terlalu besar untuk sebuah pesan pendek.