Chapter Nineteen
Pagi, Pacar
POV: Alfa
Aku baru sadar satu hal penting tentang pacaran.
Status bisa berubah dalam satu malam.
Tubuh manusia tidak.
Pagi setelah aku dan Celine resmi bersama, aku tiba di kampus dengan niat masuk kelas seperti biasa.
Rencana itu gagal di tangga depan.
Celine berdiri di sana.
Tidak melakukan apa-apa.
Cuma berdiri sambil memegang kopi.
Tapi sekarang dia pacarku.
Entah kenapa fakta itu membuat keberadaannya terasa dua kali lebih berbahaya.
Begitu melihatku, dia tersenyum.
“Pagi.”
Aku berhenti dua anak tangga di bawahnya.
“Pagi.”
Celine mengangkat satu gelas. “Aku beliin kopi.”
“Kenapa?”
“Karena pacarku suka kopi tanpa gula.”
Aku berbalik.
“Alfa.”
“Aku belum siap.”
“Kita udah pacaran.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa kabur?”
“Aku menyesuaikan.”
Celine mengejarku sambil tertawa.
“Kamu mau menyesuaikan ke mana?”
“Gedung lain.”
“Gedung kelasmu di belakang.”
Aku berhenti.
Celine menyusul dan berdiri satu meter dariku.
Jarak aman.
Dia sudah hafal.
Itu seharusnya membuatku tenang.
Masalahnya, dia masih tersenyum seperti orang yang baru menang undian.
“Jangan lihat aku begitu.”
“Begitu gimana?”
“Kayak…”
Aku tidak menemukan kata yang aman.
“Kayak punya pacar?” bantu Celine.
Aku menutup mata.
Dia tertawa lagi.
Akhirnya aku menerima kopinya.
“Terima kasih.”
“Sama-sama, pacar.”
Aku mulai berjalan.
Dia ikut.
“Kalau kamu bilang itu terus, aku pindah kampus.”
“Pacar.”
“Celine.”
“Pacar.”
Aku mempercepat langkah.
Dia menahan tawa sampai bahunya naik turun.
Di depan kelas, Dimas sedang bersandar di pagar koridor.
Begitu melihat kami datang bersama, ekspresinya berubah.
Bukan kaget.
Lebih seperti orang yang akhirnya melihat pembangunan jalan yang sudah bertahun-tahun mangkrak selesai.
“Pagi,” katanya.
“Pagi,” jawabku.
Celine tersenyum. “Pagi, Dimas.”
Dimas memandang kopi di tanganku, lalu Celine, lalu aku.
“Oke.”
“Apa?” tanyaku.
“Enggak ada.”
Fikri muncul dari pintu kelas.
“WOI.”
Aku refleks mundur.
Dia menunjuk kami.
“KENAPA AURANYA BEDA?”
“Volume,” kata Dimas.
Fikri mendekat dengan mata menyipit.
“Lu berdua…”
Aku memotong. “Masuk kelas.”
“FA.”
Aku masuk.
Dari belakang terdengar Celine tertawa dan Fikri berteriak bahwa dia berhak mendapat laporan karena sudah menjadi konsultan hubungan sejak awal.
Dia bukan konsultan.
Dia bencana dengan akses internet.
Aku duduk di kursi biasa.
Dimas duduk di sebelahku.
Lima detik.
Sepuluh.
Aku tahu dia menunggu.
“Ya?” tanyaku.
“Jadi?”
“Jadi apa?”
“Fa.”
Aku membuka laptop.
Dimas menghela napas panjang.
“Gue cuma pengin dengar dari lu.”
Aku menatap layar kosong.
Aneh.
Mengatakannya kepada Celine semalam sulit.
Mengatakannya kepada orang lain ternyata sama anehnya.
“Kami… pacaran.”
Dimas tidak langsung bereaksi.
Lalu dia tersenyum kecil.
“Bagus.”
Cuma itu.
Tidak mengejek.
Tidak berteriak.
Entah kenapa justru itu yang membuat dadaku lebih ringan.
“Thanks.”
Dimas menepuk bahuku sekali.
Fikri menjatuhkan diri di kursi depan.
“GUE TAHU.”
“Kamu baru tahu,” kata Dimas.
“Secara spiritual gue tahu.”
Aku memasang earphone meski belum menyalakan apa-apa.
Siang hari, Celine mengirim pesan.
Celine
Makan bareng?
Aku membaca.
Jempolku menggantung di atas layar.
Dulu pesan seperti itu akan kuabaikan beberapa menit supaya tidak terlihat terlalu cepat.
Sekarang aku tidak tahu aturan pacaran.
Apa harus langsung?
Apa kalau cepat kelihatan antusias?
Kenapa aku memikirkan ini?
Alfa
Boleh.
Balasan datang.
Celine
Pacarku responsif sekali hari ini.
Aku mengetik.
Alfa
Batal.
Celine
JANGAN.
Aku tersenyum tanpa sadar.
Dimas yang duduk di seberang meja belajar melihat.
“Gue nggak mau tahu.”
“Bagus.”
“Tapi muka lu mengganggu.”
Aku mengunci ponsel.
Kami makan di kantin yang lebih sepi.
Celine sengaja memilih meja dekat jendela paling ujung.
Tidak banyak orang memperhatikan.
Aku tahu dia melakukannya untukku.
“Aku punya pertanyaan,” katanya.
“Apa?”
“Sekarang aku boleh duduk sebelahan?”
Aku melihat kursi kosong di sampingku.
Selama ini dia hampir selalu duduk berhadapan.
Batas yang dibuat tanpa pernah kami bicarakan.
“Boleh.”
Celine pindah.
Tidak terlalu dekat.
Ada jarak sekitar satu telapak tangan di antara lengan kami.
Aku tetap sadar akan keberadaannya sepanjang makan.
Aroma sampo.
Suara sendok menyentuh piring.
Cara lututnya hampir menyentuh kakiku ketika bergeser.
Semua detail kecil jadi terlalu jelas.
“Kamu tegang?” tanya Celine.
“Enggak.”
“Bahumu hampir sampai telinga.”
Aku sengaja menurunkannya.
Celine tertawa pelan.
“Tenang. Aku nggak akan tiba-tiba nyender.”
“Bagus.”
“Kalau minta izin?”
Aku menatapnya.
Dia mengangkat kedua tangan.
“Bercanda.”
Aku menghela napas.
Setelah makan, kami berjalan ke gedung masing-masing.
Di persimpangan, Celine berhenti.
“Aku ke kiri.”
“Aku kanan.”
“Iya.”
Kami berdiri.
Aku tidak tahu ritual berpisah sebagai pacar.
Apakah bilang sampai nanti?
Apakah melambaikan tangan?
Kenapa tidak ada buku manual?
Celine sepertinya juga menunggu.
Akhirnya dia berkata, “Nanti sore aku ke toko.”
“Oh.”
“Boleh?”
Aku menatapnya.
“Kamu masih nanya?”
“Masih.”
Jawabannya terlalu cepat.
Aku mengerti maksudnya.
Status tidak menghapus batas.
Pacar bukan izin permanen.
Dadaku menghangat.
“Boleh.”
Celine tersenyum.
Kali ini aku tidak kabur.
Malamnya, saat dia datang ke toko, Mbah Ratri melihat kami bergantian.
“Sudah?”
Aku hampir tersedak air.
Celine membeku satu detik.
Bu Siska yang kebetulan sedang membeli roti ikut menoleh.
Pak Yono dari depan pintu juga menoleh.
Aku tidak tahu kenapa dia ada di sana.
Mungkin radar gosip lingkungan.
“Sudah apa?” tanyaku, meski tahu.
Mbah mendecakkan lidah.
“Jangan pura-pura bodoh.”
Aku ingin menghilang.
Celine justru berdiri sedikit lebih tegak.
“Sudah, Mbah.”
Toko hening.
Lalu Bu Siska menepuk meja kasir.
“NAH.”
Pak Yono mengangguk serius. “Akhirnya.”
Bu Mina, yang entah sejak kapan duduk di sudut, berkata, “Lama.”
Aku memandang langit-langit.
“Mbah.”
“Apa?”
“Kenapa semua orang ada di sini?”
“Beli roti.”
Aku menunjuk Pak Yono.
“Dia nggak bawa apa-apa.”
Pak Yono mengambil roti secara acak dari rak.
“Sekarang beli.”
Celine menutup wajah karena tertawa.
Aku menyerah.
Malam itu, setelah semua orang pergi, Celine membantu menutup toko.
Saat hendak pulang, dia berdiri di pintu.
“Selamat malam, pacar.”
Aku menatapnya.
Masih membuat jantungku salah ritme.
Tapi tidak semenakutkan pagi tadi.
“Selamat malam.”
Celine menunggu.
Aku tahu apa yang dia tunggu.
Aku menarik napas.
“Pacar.”
Mata Celine langsung membesar.
Aku menutup pintu sebelum dia sempat bereaksi.
Dari luar terdengar suaranya.
“ALFA!”
Aku menyandarkan punggung ke pintu.
Dan untuk pertama kalinya sejak status kami berubah, aku tertawa tanpa merasa ingin kabur.
Setelah Celine pulang, Mbah Ratri tidak langsung naik.
Beliau duduk di kursi dekat kasir sambil memegang buku catatan toko.
Aku pura-pura menyusun plastik kemasan.
“Senang?” tanyanya.
Aku tidak menoleh. “Apa?”
“Punya pacar.”
Tanganku berhenti.
Pertanyaannya terdengar sederhana.
Jawabannya ternyata tidak.
“Aneh.”
Mbah mengangguk. “Aneh itu bukan jelek.”
“Aku tahu.”
“Takut?”
Aku menatap tumpukan plastik.
“Sedikit.”
“Karena Celine?”
Aku menggeleng.
Itu yang paling membingungkan.
Aku tidak takut karena Celine melakukan sesuatu.
Aku takut karena sekarang ada sesuatu yang bisa hilang.
Mbah tidak memberi ceramah.
Beliau hanya berkata, “Kalau takut kehilangan, jangan malah dibuang duluan.”
Aku menatapnya.
“Kenapa semua nasihat Mbah terdengar kayak nyindir aku?”
“Karena yang bermasalah kamu.”
Aku mendengus.
Beliau tertawa.
Ketika hendak naik, Mbah berhenti di tangga.
“Oh iya.”
“Apa?”
“Besok jangan lupa beli susu.”
Aku menunggu kelanjutan.
Tidak ada.
“Mbah nggak mau bahas Celine lagi?”
“Untuk apa?”
Aku mengernyit.
Beliau mengangkat bahu. “Kalian sudah pacaran. Sekarang tugasmu belajar jalanin, bukan bikin konferensi pers tiap malam.”
Aku tertawa kecil.
Beberapa menit kemudian, ponselku berbunyi.
Celine
Udah tutup?
Alfa
Udah.
Celine
Mbah masih interogasi?
Aku melirik tangga.
Alfa
Katanya nggak perlu konferensi pers.
Balasan datang cepat.
Celine
Aku makin sayang Mbah.
Aku menatap kalimat itu.
Kata sayang yang ditujukan ke Mbah seharusnya biasa.
Tetap saja ada sesuatu di dadaku yang bergerak.
Alfa
Jangan direbut.
Celine
Takut kalah?
Aku hampir menjawab tidak.
Lalu aku berhenti.
Alfa
Sedikit.
Tiga titik muncul sangat lama.
Celine
Hari ini banyak kemajuan ya, Pacar.
Aku tersenyum.
Mungkin dia benar.
Bukan karena aku akhirnya punya pacar.
Tapi karena untuk pertama kalinya, status itu tidak terasa seperti jebakan.
Masih asing.
Masih membuatku panik.
Tapi juga membuat hari besok terasa seperti sesuatu yang ingin kutunggu.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar reading
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru