← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Twenty Seven

Selina

POV: Alfa

Aku bertemu Selina di depan minimarket.

Tidak dramatis.

Tidak ada hujan.

Tidak ada musik.

Cuma pintu otomatis, suara mesin kasir, dan satu orang dari masa lalu yang seharusnya tetap berada di masa lalu.

Aku baru keluar membawa susu dan telur untuk toko.

Celine menunggu di motor parkir sambil membalas pesan.

Aku melangkah dua langkah.

Lalu seseorang berkata,

“Alfa?”

Tubuhku langsung tahu sebelum otakku selesai mengenali suara.

Aku berhenti.

Perempuan itu berdiri dekat rak promosi.

Rambutnya lebih pendek.

Wajahnya lebih dewasa.

Tapi sama.

Selina Hartanto.

Dia juga diam.

Mungkin karena tidak yakin.

Mungkin karena ekspresiku.

“Alfa Pradipta?”

Aku mengangguk.

Celine menoleh dari kejauhan.

Selina tersenyum kecil.

“Hai.”

Aku tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan orang normal.

Jadi aku berkata, “Hai.”

Tiga tahun.

Empat?

Aku bahkan tidak tahu.

Selina memegang satu botol minuman.

“Lama banget.”

“Hm.”

“Kamu kuliah di sini?”

“Iya.”

“Jurusan apa?”

Aku menjawab.

Percakapan terasa seperti wawancara yang dua-duanya ingin selesai tapi tidak tahu caranya.

Lalu Celine mendekat.

Tidak menempel.

Berdiri di sampingku.

Selina melihatnya.

Matanya bergerak ke tangan kami yang tidak bergandengan.

Kemudian kembali ke wajahku.

“Teman?”

Aku menarik napas.

“Pacarku.”

Kata itu keluar lebih mudah daripada Bab 25.

Selina berkedip.

“Oh.”

Aku membenci “oh” itu meski mungkin tidak berarti apa-apa.

Celine tersenyum sopan.

“Hai, aku Celine.”

“Selina.”

Mereka berjabat tangan.

Aku melihat tangan itu.

Tidak ada apa-apa.

Tapi dadaku sesak.

Selina menatapku lagi.

“Aku sebenarnya…”

Dia berhenti.

Aku tahu apa yang akan datang.

Aku tidak ingin.

“Maaf,” katanya.

Satu kata.

Terlambat bertahun-tahun.

Aku menatapnya.

“Buat?”

Wajah Selina berubah.

Dia tahu aku tahu.

“Aku dulu…”

“Enggak apa-apa.”

Kalimat itu keluar otomatis.

Terlalu cepat.

“Udah lama.”

Selina menelan ludah.

“Aku tetap harus minta maaf.”

Aku mengangguk.

“Udah.”

Celine tidak berkata apa-apa.

Selina menatapku beberapa detik.

“Aku nggak bermaksud—”

“Aku tahu.”

Itu bohong.

Atau setidaknya setengah bohong.

Aku tidak tahu apa yang dia maksud waktu itu.

Yang aku tahu cuma ekspresinya.

Tatapan itu.

Seolah pengakuanku sesuatu yang kotor.

Sesuatu yang membuat dia ingin mundur.

Selina berkata, “Aku sering kepikiran.”

Aku tidak ingin tahu.

Tapi mulutku berkata, “Oh.”

Dia menatap Celine sekilas.

Lalu aku.

“Semoga kalian bahagia.”

“Thanks,” jawab Celine.

Aku cuma mengangguk.

Selina pergi.

Aku berdiri.

Pintu minimarket terbuka dan tertutup beberapa kali.

Orang-orang lewat.

Celine tidak menyentuhku.

Tidak bertanya.

Itu mungkin satu-satunya alasan aku bisa bernapas.

“Pulang?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk.

Di perjalanan, aku hampir tidak bicara.

Celine juga tidak.

Kami sampai toko.

Mbah Ratri sedang di belakang.

Aku meletakkan belanjaan.

“Thanks udah nemenin,” kataku.

Celine berdiri dekat pintu.

“Kamu mau sendiri?”

Pertanyaan itu membuatku berhenti.

Bukan “kamu kenapa?”

Bukan “siapa dia?”

“Mungkin.”

“Oke.”

Tidak ada rasa tersinggung.

Aku benci betapa baiknya dia mengerti.

Celine memakai tas.

Sebelum pergi, dia berkata, “Aku nggak akan tanya kalau kamu belum mau cerita.”

Aku mengangguk.

“Tapi aku ada.”

Aku melihatnya.

Kalimat sederhana.

Aku hampir bilang jangan.

Jangan terlalu baik.

Jangan membuatku bergantung.

Tapi aku tidak.

“Thanks.”

Dia pulang.

Aku bekerja sampai malam.

Tangan bergerak otomatis.

Adonan.

Mentega.

Loyang.

Timer.

Hal-hal yang punya aturan selalu lebih mudah.

Masalahnya, pikiran tidak.

Wajah Selina muncul terus.

Bukan wajah hari ini.

Wajah dulu.

Aku masih ingat ruangan kelas kosong.

Aku masih ingat keberanian bodoh yang kukumpulkan berminggu-minggu.

Aku bilang aku suka dia.

Selina diam.

Kemudian ekspresi itu.

Sedikit alis terangkat.

Mulut menegang.

Mata yang mundur sebelum tubuhnya mundur.

“Maaf… aku nggak pernah lihat kamu seperti itu.”

Kalimatnya sebenarnya tidak kejam.

Banyak orang ditolak.

Masalahnya bukan itu.

Masalahnya aku sudah punya tiga pengalaman sebelumnya.

Taruhan.

Dimanfaatkan.

Dijadikan alat.

Selina seharusnya berbeda.

Aku yang memilih.

Aku yang benar-benar suka.

Dan hasilnya tetap sama.

Tatapan.

Aku menutup oven terlalu keras.

Mbah keluar.

“Alfa.”

“Hm?”

“Kamu kenapa?”

“Enggak.”

Beliau menatapku cukup lama.

“Celine pulang?”

“Iya.”

“Berantem?”

“Enggak.”

Mbah mengangguk.

Tidak mengejar.

Malamnya, aku berbaring tanpa tidur.

Ponsel ada di meja.

Tidak ada pesan Celine.

Dia benar-benar memberiku ruang.

Aneh.

Sebagian diriku lega.

Sebagian lain menunggu.

Jam sebelas lewat, akhirnya layar menyala.

Celine

Aku cuma mau bilang selamat tidur.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada nama Selina.

Aku menatap lama.

Alfa

Selamat tidur.

Aku meletakkan ponsel.

Lima menit.

Sepuluh.

Aku mengambil lagi.

Alfa

Dia orang yang dulu aku suka.

Pesan terkirim.

Dadaku langsung berdebar.

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Celine

Oke.

Cuma itu.

Aku menunggu.

Pesan kedua.

Celine

Kalau mau cerita, aku dengerin.

Aku menelan ludah.

Jari bergerak.

Alfa

Dia nolak.

Aku hampir menambahkan semuanya.

Tidak.

Belum.

Celine

Pasti berat ketemu lagi.

Aku menatap kalimat itu.

Bukan “cuma ditolak”.

Bukan “wajar”.

Bukan “udah lama”.

Pasti berat.

Dadaku terasa penuh.

Alfa

Sedikit.

Aku tahu itu bohong.

Celine juga mungkin tahu.

Tapi dia tidak memaksa.

Celine

Tidur dulu kalau bisa.

Alfa

Iya.

Aku meletakkan ponsel lagi.

Kali ini tidak mengambil.

Besok pagi, Celine menungguku di kampus.

Tidak di depan.

Tidak menghadang.

Dia berdiri dekat pohon, minum kopi.

Aku yang berjalan mendekat.

Dia melihatku.

“Pagi.”

“Pagi.”

Tidak ada pertanyaan soal Selina.

Aku berdiri di sampingnya.

Celine mengangkat satu tangan sedikit.

Aku tahu.

Aku menggenggam.

Baru setelah tangan kami terhubung, napasku terasa lebih mudah.

“Fa,” katanya pelan.

“Hm?”

“Kita nggak harus ngomong hari ini.”

Aku menatap tangan kami.

“Aku tahu.”

Kami mulai berjalan.

Beberapa meter kemudian aku berkata,

“Tapi mungkin nanti.”

Celine menggenggam sedikit lebih erat.

“Oke.”

Dan anehnya, untuk pertama kalinya ketika mengingat Selina, pikiranku tidak berhenti pada tatapan jijik itu.

Ada gambar lain sekarang.

Tangan Celine di tanganku.

Bukan menggantikan.

Belum.

Tapi setidaknya masa lalu tidak lagi satu-satunya hal yang punya tempat di kepala.

Dua hari setelah bertemu Selina, Dimas menemuiku sebelum kelas.

“Lu ketemu siapa?”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Celine bilang lu lagi butuh ruang.”

Aku langsung mengernyit.

“Dia cerita?”

“Enggak. Dia cuma bilang kalau gue lihat lu bengong, jangan dipaksa.”

Aku diam.

Itu sangat Celine.

Bahkan ketika meminta bantuan orang lain, dia tidak membocorkan cerita.

“Selina,” kataku akhirnya.

Dimas berhenti.

Dia tahu nama itu.

Tidak detail.

Tapi tahu cukup.

“Oh.”

Aku mengangguk.

“Dia minta maaf.”

“Terus?”

“Aku bilang udah lupa.”

Dimas menatapku.

“Kok lu bohong?”

Aku mendengus.

“Semua orang tahu ya?”

“Fa, lu kalau bohong soal perasaan buruk banget.”

Aku menatap jendela.

Dimas duduk di meja depan.

“Lu nggak harus jawab baik-baik cuma karena dia minta maaf.”

“Aku nggak mau bikin suasana.”

“Terus sekarang suasananya pindah ke kepala lu.”

Aku benci dia benar.

“Aku nggak tahu harus marah buat apa lagi.”

“Ya bukan soal harus.”

Dimas mengangkat bahu.

“Kalau masih sakit ya masih sakit.”

Aku menatapnya.

“Sejak kapan lu bijak?”

“Sejak Fikri jadi pembanding.”

Aku tertawa.

Pintu kelas terbuka.

Mahasiswa mulai masuk.

Dimas berdiri.

Sebelum pergi ke kursinya, dia berkata pelan, “Yang penting jangan bikin Celine bayar kesalahan orang lain.”

Kalimat itu menempel.

Aku tahu itu kemungkinan terburukku.

Suatu hari takut.

Lalu mendorong Celine.

Bukan karena dia salah.

Karena orang lain dulu salah.

Siang itu aku mengirim pesan.

Alfa

Makan siang?

Balasan Celine langsung datang.

Celine

Mau.

Aku hampir mengetik “kalau sibuk enggak apa-apa”.

Kuhapus.

Dia sudah bilang mau.

Tidak perlu memberinya jalan keluar setiap kali dia memilih mendekat.

Kami makan di tempat sepi.

Celine tidak menyinggung Selina.

Aku yang akhirnya berkata,

“Aku mungkin bakal aneh beberapa hari.”

Dia mengunyah lalu mengangguk.

“Oke.”

“Kalau aku tiba-tiba diem—”

“Aku tanya sekali.”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu bilang butuh ruang, aku kasih.”

“Kalau aku bilang jangan pulang?”

Celine tersenyum kecil.

“Aku tinggal kalau bisa.”

Aku mengangguk.

Aturan sederhana.

Jauh lebih menenangkan daripada janji sempurna.