Chapter Thirty
Pegang Tanganku
POV: Alfa
Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai mencari tangan Celine tanpa berpikir.
Hari ini aku sadar karena dia tidak ada di sampingku.
Kami sedang di acara kampus.
Ramai.
Terlalu ramai.
Ada musik.
Booth.
Orang-orang berjalan dari segala arah.
Aku benci tempat seperti ini.
Biasanya aku bisa bertahan kalau Dimas ada.
Hari ini Dimas sibuk jadi panitia.
Celine juga panitia.
Aku datang karena dia minta.
Bukan memaksa.
Minta.
Dan aku bilang iya.
Kesalahan.
Aku berdiri di dekat booth makanan sambil memegang minuman.
Orang terus lewat.
Bahuku mulai tegang.
Aku mencari Celine.
Tidak ada.
Ponsel bergetar.
Celine
Fa, aku di belakang panggung. Ada masalah sound.
Celine
Kalau kamu mau pulang dulu, nggak apa-apa.
Aku membaca.
Sebagian diriku ingin.
Tapi aku sudah berjanji menunggu sampai acara selesai.
Aku mengetik.
Alfa
Aku tunggu.
Balasannya:
Celine
Yakin?
Alfa
Iya.
Aku memasukkan ponsel.
Lima menit kemudian, kerumunan bertambah.
Ada kelompok mahasiswa lewat sambil tertawa keras.
Seseorang menabrak bahuku.
Tidak sengaja.
Aku tahu.
Tapi tubuhku bereaksi lebih cepat.
Napas jadi pendek.
Aku pindah ke pinggir.
Salah.
Pinggir juga penuh.
Aku mencari jalan keluar.
Kemudian seseorang memanggil.
“Alfa?”
Aku menoleh.
Selina.
Lagi.
Dia berdiri bersama dua temannya.
Dadaku langsung mengeras.
Kenapa harus sekarang?
“Hi,” katanya.
Aku mengangguk.
Temannya melihatku.
Selina tampak ingin bicara.
Aku tidak.
“Maaf, aku…”
Suara sekeliling jadi terlalu keras.
Aku tidak dengar sisanya.
Aku melihat wajah Selina.
Lalu wajah lama itu muncul di kepala.
Tatapan.
Tawa orang lain dari masa lalu bercampur.
Aku tahu ini tidak rasional.
Aku tahu Selina hari ini tidak melakukan apa-apa.
Tetap saja.
Tanganku dingin.
“Alfa!”
Suara Celine memotong.
Aku menoleh.
Dia berlari kecil dari arah belakang panggung.
Wajahnya langsung berubah saat melihatku.
Dia tidak langsung menyentuh.
“Fa.”
Aku mencoba bilang aku baik.
Tidak keluar.
Celine melihat Selina.
Lalu aku.
“Boleh kita pindah?”
Aku mengangguk.
Kami berjalan ke area belakang gedung yang lebih sepi.
Celine tetap setengah langkah di samping.
Tidak menyentuh.
Aku benci betapa kacau napasku.
Begitu sampai area sepi, aku berhenti.
Celine berdiri beberapa langkah di depan.
“Tarik napas pelan.”
Aku melakukannya.
Tidak sempurna.
Tapi cukup.
Beberapa menit.
Suara acara jadi jauh.
“Aku malu,” kataku.
Celine mengernyit.
“Kenapa?”
“Gini.”
“Gini apa?”
Aku menunjuk diriku sendiri.
“Dia cuma muncul.”
Celine menarik napas.
“Tubuhmu ingat sebelum otakmu sempat bilang aman.”
Aku melihatnya.
“Dari mana kamu tahu?”
“Baca.”
Jawaban sederhana.
Aku hampir tertawa.
“Fa.”
“Hm?”
“Aku di sini.”
Aku tahu.
Tapi tanganku masih dingin.
Tanpa berpikir, aku berkata,
“Pegang tanganku.”
Celine membeku.
Aku juga baru sadar kalimatnya.
Tapi tidak menarik.
Aku mengulurkan tangan.
Celine mendekat.
Menggenggam.
Hangat.
Aku langsung mengencangkan genggaman.
Tidak malu.
Tidak peduli kalau terlalu erat.
Celine tidak komentar.
Kami berdiri begitu.
Napas perlahan normal.
“Aku lebih baik,” kataku.
“Bagus.”
“Tapi jangan lepas dulu.”
“Enggak.”
Aku menutup mata sebentar.
Ada perubahan besar yang baru kusadari.
Dulu saat takut, instingku mencari jalan keluar.
Sekarang, untuk pertama kalinya, instingku mencari seseorang.
Itu menakutkan dengan cara lain.
Tapi juga menenangkan.
Setelah beberapa menit, Selina muncul dari ujung jalan.
Dia berhenti ketika melihat kami.
Wajahnya khawatir.
“Alfa, maaf. Aku nggak tahu—”
Aku mengangkat tangan yang tidak menggenggam Celine.
“Bukan salah kamu.”
Selina berhenti.
Aku menarik napas.
“Aku cuma belum…”
Aku tidak tahu kalimatnya.
“Belum biasa ketemu.”
Dia mengangguk.
“Aku ngerti.”
Mungkin dia tidak.
Tapi tidak masalah.
Selina menatap tangan kami.
Kemudian Celine.
“Maaf juga kalau kehadiranku bikin…”
Celine langsung berkata, “Enggak perlu minta maaf ke aku.”
Nada tenang.
Selina mengangguk lagi.
Dia pergi.
Aku masih menggenggam Celine.
“Fa.”
“Hm?”
“Kamu mau pulang?”
Aku memikirkan.
Dulu aku pasti iya.
Sekarang?
Aku melihat lampu acara dari kejauhan.
Musik masih keras.
Ramai.
Tidak nyaman.
Tapi aku tidak mau pengalaman ini berakhir dengan kabur lagi.
“Enggak.”
Celine menatapku.
“Kamu yakin?”
“Aku mau tinggal.”
“Karena aku?”
Aku menggeleng.
“Karena aku tadi bilang mau nunggu sampai selesai.”
Celine tersenyum kecil.
“Oke.”
Kami kembali.
Tangan masih terhubung.
Di area acara, orang-orang melihat.
Aku tidak peduli sebanyak biasanya.
Dimas menemukan kami.
Dia melihat wajahku.
“Lu oke?”
“Lumayan.”
Dia menatap Celine.
Celine mengangguk sedikit.
Dimas tidak tanya lagi.
Bagus.
Acara selesai satu jam kemudian.
Saat orang mulai bubar, Celine duduk di pinggir panggung, kelelahan.
Aku berdiri di depannya.
Dia mengulurkan tangan.
“Kali ini bantu berdiri.”
Aku menariknya.
Celine bangkit terlalu cepat dan hampir menabrak dada.
Aku menahan bahunya.
Kami tertawa.
Dia menyandarkan dahi ke dadaku sebentar.
“Capek.”
Tanganku otomatis naik ke belakang kepalanya.
“Lima menit.”
“Katanya lima belas.”
“Situasi berbeda.”
Celine tertawa.
Aku menunduk.
Mencium puncak kepalanya.
Natural.
Tidak kupikirkan.
Begitu selesai, aku sendiri kaget.
Celine mengangkat wajah.
Matanya lebar.
Aku menghela napas.
“Jangan mulai.”
“Aku nggak ngomong.”
“Kamu mau.”
“Sedikit.”
Aku memegang tangannya lagi.
“Pulang.”
Kami berjalan ke parkiran.
Malam itu, di toko, aku memasukkan satu pastry gagal ke kotak.
Mbah melihat.
“Buat Celine?”
“Iya.”
“Kenapa yang jelek?”
“Dia suka.”
Mbah tersenyum.
Aku tahu beliau ingin komentar.
Ajaibnya tidak.
Aku menutup kotak.
Hari ini buruk.
Tapi tidak sepenuhnya.
Karena di tengah semua hal lama yang kembali, ada satu hal baru yang lebih kuat dari sebelumnya.
Aku sudah mulai tahu apa yang harus kulakukan saat takut.
Bukan kabur.
Bukan diam.
Kadang cukup satu kalimat.
Pegang tanganku.
Besoknya, aku datang ke kampus dengan sedikit rasa malu.
Bukan karena panic kemarin.
Karena aku takut semua orang melihat.
Dimas langsung tahu.
Dia tidak tanya detail.
Cuma menyerahkan sebotol air.
“Minum.”
Aku menerimanya.
“Thanks.”
“Kemarin Celine bilang lu sempat sesak.”
Aku menatap.
“Dia cerita?”
“Cuma bilang gue jangan bikin lu ikut bersihin acara karena lu udah capek.”
Aku mengangguk.
Lagi-lagi Celine memberi konteks tanpa membuka cerita.
Fikri datang.
“Kenapa mukanya?”
“Kurang tidur,” jawab Dimas sebelum aku.
Fikri duduk.
“Pacaran emang begitu.”
Aku hampir tersedak air.
Dimas menatapnya.
“Lu tahu dari mana?”
“Observasi sosial.”
“Kamu belum pernah pacaran.”
“Itu membuat gue objektif.”
Aku tertawa.
Aneh.
Kemarin aku hampir tidak bisa bernapas.
Hari ini bisa tertawa.
Mungkin benar.
Mundur tidak menghapus maju.
Siang hari, aku bertemu Celine di tangga.
Dia membawa dua gelas.
Satu diserahkan padaku.
“Tanpa gula.”
“Thanks.”
Kami turun bersama.
Aku tidak langsung menggenggam tangan.
Bukan karena takut.
Tanganku memegang minuman.
Celine juga.
Di bawah, kami berhenti.
Dia berkata, “Aku bangga kemarin.”
Aku langsung tidak suka.
“Jangan.”
“Bukan karena kamu panik.”
Aku menatapnya.
“Karena kamu bilang apa yang kamu butuh.”
Aku diam.
Pegang tanganku.
Kalimat itu terasa rentan kalau dipikir ulang.
Tapi juga benar.
“Aku takut ketergantungan,” kataku.
Celine tidak terkejut.
“Ke aku?”
Aku mengangguk.
Dia berpikir.
“Menurutku beda antara bergantung dan percaya seseorang bisa bantu.”
“Bedanya tipis.”
“Mungkin.”
Dia menyerahkan gelasnya ke tangan kiri.
Lalu mengulurkan tangan kanan.
Tidak mengambil.
“Kalau hari ini nggak perlu, nggak usah.”
Aku melihat tangannya.
Hari ini aku tidak panik.
Tidak takut.
Tidak butuh grounding.
Tapi aku tetap ingin.
Aku menggenggam.
Celine tersenyum.
“Nah.”
“Apa?”
“Kamu boleh pegang tangan aku bukan cuma pas takut.”
Aku menatap tangan kami.
Dia benar.
Itu mungkin tahap berikutnya.
Sentuhan tidak harus jadi alat pertolongan.
Bisa cuma karena ingin.
Aku mengangkat tangan kami sedikit.
“Gini?”
“Gini.”
Kami berjalan.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar rasa aman bukan berarti Celine harus selalu menyelamatkanku.
Rasa aman juga berarti aku boleh mendekat saat tidak ada yang salah.
Sebelum berpisah, aku berkata, “Makasih kemarin.”
Celine menggeleng.
“Jangan terus-terusan makasih buat hal yang memang seharusnya aku lakukan sebagai pasangan.”
Aku mengernyit.
“Kalau aku tetap mau?”
Dia tertawa kecil.
“Ya boleh.”
Aku mengangguk.
“Thanks.”
Celine tertawa lebih keras.
Aku ikut tersenyum.
Mungkin suatu hari aku tidak akan merasa perlu berterima kasih untuk setiap kali seseorang tinggal.
Tapi belum hari ini.
Dan itu tidak masalah.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku reading
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru