← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Twenty Nine

Hari yang Biasa

POV: Celine

Aku tidak tahu kapan tepatnya hubungan kami berubah dari kumpulan milestone menjadi kebiasaan.

Mungkin hari ini.

Hari ini tidak ada confession.

Tidak ada trauma besar.

Tidak ada first anything.

Cuma Sabtu di toko.

Dan anehnya, itu terasa lebih intim daripada banyak hal sebelumnya.

Aku datang jam dua siang.

Mbah Ratri sedang duduk di kasir.

Alfa di dapur.

Aku masuk sambil membawa minuman.

“Siang, Mbah.”

“Siang.”

“Alfa?”

“Belakang.”

Aku masuk.

Alfa sedang menimbang tepung.

Aku meletakkan satu minuman di sampingnya.

“Ini.”

Dia melihat gelas.

“Punyaku?”

“Iya.”

“Tanpa gula?”

“Seperti hidupmu sebelum ketemu aku.”

Alfa menatapku.

“Pulang.”

Aku tertawa.

Tanpa pikir panjang, aku berdiri di sampingnya dan menyandarkan kepala ke bahunya.

Alfa tidak membeku.

Tidak menoleh kaget.

Dia cuma melanjutkan menimbang.

“Berat,” katanya.

“Kemarin katanya lima belas menit boleh.”

“Ini jam kerja.”

Aku tetap menyandar.

Lima detik kemudian tangannya menyentuh kepalaku ringan.

Sekali.

Seperti refleks.

Jantungku langsung bahagia.

Aku tidak komentar.

Kalau aku komentar, dia pasti berhenti.

Kami bekerja.

Aku membantu memberi label.

Alfa membentuk adonan.

Mbah beberapa kali masuk dan mengomel karena kami terlalu lambat.

Sore hari, toko ramai.

Bu Mina datang.

Pak Yono datang.

Dua anak kecil tetangga datang hanya untuk minta donut gula.

Aku sudah cukup sering berada di sini sampai tahu pesanan orang.

“Bu Mina, roti keju dua?”

Beliau mengangguk.

“Dan teh.”

Aku menyiapkan.

Alfa lewat membawa baki.

Bu Mina melihat kami.

“Sudah seperti istri.”

Aku hampir menjatuhkan cangkir.

Alfa berhenti.

“Bu.”

“Apa?”

“Jangan.”

Bu Mina minum teh.

“Kenapa?”

Aku menutup mulut supaya tidak tertawa.

Pak Yono yang duduk di luar ikut berkomentar, “Belum waktunya, Bu.”

“Makanya dipercepat.”

Alfa membawa baki pergi.

Aku melihat telinganya merah.

Aku menyusul ke dapur.

“Calon suami.”

“Keluar.”

Aku tertawa.

Alfa meletakkan baki.

Aku mendekat dari belakang.

“Boleh peluk?”

Dia menghela napas.

“Kenapa sekarang?”

“Pengen.”

Dia diam dua detik.

“Boleh.”

Aku memeluk dari belakang.

Ringan.

Tanganku melingkar di pinggang.

Alfa kaku sebentar.

Bukan takut.

Lebih karena tidak biasa.

Lalu salah satu tangannya menutup tanganku.

“Lima detik,” katanya.

“Sepuluh.”

“Enam.”

“Delapan.”

“Enam.”

“Deal.”

Aku menghitung pelan sampai delapan.

“Curang.”

“Negosiasi gagal.”

Dia hampir tertawa.

Saat aku melepas, Alfa berbalik.

Kami terlalu dekat.

Biasanya momen seperti ini akan membuatnya mundur.

Sekarang tidak.

Dia menatapku.

Aku menunggu.

Alfa mencium pipiku.

Satu detik.

Kemudian mengambil baki seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku membeku.

“Alfa.”

“Hm?”

“Kamu barusan nyium aku.”

“Iya?”

Nada “iya?” itu membuatku ingin teriak.

“Kenapa santai banget?”

Dia mengangkat bahu.

“Kenapa harus panik?”

Aku menatapnya.

Ini orang yang sama yang hampir kabur dari toko setelah first kiss.

Aku menunjuk wajahnya.

“Kamu berkembang terlalu cepat.”

“Katanya bagus.”

“Iya, tapi aku belum siap.”

Alfa akhirnya tertawa.

Aku mengejarnya keluar.

Mbah melihat kami.

“Kenapa?”

“Cucu Mbah jahat.”

Mbah melihat Alfa.

“Bagus.”

Aku tercengang.

Alfa mengangkat tangan seperti menyerah.

Hari berlanjut.

Sore berubah malam.

Aku kelelahan.

Setelah toko tutup, aku duduk di kursi dapur sambil menunggu Alfa selesai membersihkan oven.

Aku berniat cuma lima menit.

Ternyata ketiduran.

Aku bangun karena ada sesuatu hangat menutupi tubuh.

Hoodie Alfa.

Kepalaku bersandar di meja.

Lampu dapur diredupkan.

Aku mengangkat kepala.

Alfa duduk beberapa meter dariku sambil mengerjakan tugas di laptop.

“Jam berapa?” tanyaku.

Dia melihat jam.

“Setengah sebelas.”

Aku langsung duduk tegak.

“Kenapa nggak bangunin?”

“Kamu capek.”

“Aku harus pulang.”

“Aku tahu.”

Aku memegang hoodie.

“Ini punyamu.”

“Hm.”

Aku mencium aroma sabun dan sedikit mentega.

Sangat Alfa.

Aku berdiri.

Saat hendak menyerahkan, dia berkata, “Pakai aja sampai mobil.”

Aku menatapnya.

“Fa.”

“Hm?”

“Kalau aku bawa pulang?”

“Besok balikin.”

“Kalau enggak?”

Alfa menatapku.

“Ya udah.”

Aku tersenyum.

“Aku mungkin nggak balikin.”

“Punya enam.”

Aku tertawa.

Aku memakai hoodie itu.

Kebesaran.

Lengan menutupi tangan.

Alfa memandangku cukup lama.

“Apa?”

“Enggak.”

“Kamu lihat aneh.”

“Enggak.”

Aku berjalan mendekat.

“Gimana?”

Dia menatap lagi.

“Kayak pencuri.”

Aku memukul lengannya.

Alfa menangkap tanganku.

Refleks.

Kami berhenti.

Tangannya masih memegang tanganku.

Dia tidak melepas.

Aku juga tidak.

“Aku pulang,” kataku.

“Iya.”

“Besok datang.”

Bukan pertanyaan.

Alfa mengangguk.

“Datang.”

Aku tersenyum.

Dia mengangkat tanganku sedikit.

Kemudian mencium punggungnya.

Aku benar-benar berhenti berfungsi.

Alfa langsung sadar apa yang dia lakukan.

Wajahnya berubah merah.

Aku menunjuk.

“NAH.”

“Pulang.”

“KAMU PANIK.”

“Pulang.”

Aku tertawa sampai hampir menangis.

Di mobil, aku memakai hoodie Alfa dan membuka notebook biru.

Aku menulis:

Hari yang biasa.

Lalu di bawahnya:

Dan mungkin itu sebabnya terasa penting.

Hubungan yang sehat ternyata tidak selalu terasa seperti adegan besar.

Kadang cuma seseorang yang membiarkanmu tidur di dapur.

Hoodie yang dipinjamkan.

Ciuman pipi tanpa upacara.

Tangan yang otomatis menangkap tanganmu.

Dan kepastian sederhana bahwa besok, tanpa perlu membuat janji dramatis, kalian akan bertemu lagi.

Sebelum aku benar-benar pulang malam itu, hujan turun.

Lebat.

Aku berdiri di depan toko memakai hoodie Alfa.

“Bagus,” katanya.

“Kenapa?”

“Sekarang alasan kamu nggak pulang bertambah.”

Aku menoleh.

“Barusan kamu nyuruh aku pulang.”

“Itu sebelum hujan.”

“Jadi?”

“Tunggu reda.”

Aku tersenyum.

Kami duduk di lantai depan dekat etalase yang sudah mati lampu.

Mbah Ratri sudah naik.

Hanya suara hujan.

Aku memakai hoodie Alfa.

Alfa duduk di sampingku dengan kaus hitam.

“Dingin?” tanyaku.

“Enggak.”

Aku tahu bohong.

AC toko masih menyala.

Aku mendekat sedikit.

Bahuku menyentuh bahunya.

“Kalau dingin bilang.”

“Enggak.”

Aku menyandarkan kepala.

Alfa membiarkan.

Lima menit.

Sepuluh.

Aku mulai mengantuk lagi.

Tiba-tiba tangannya melingkar di bahuku.

Aku langsung membuka mata.

Tidak penuh.

Cuma merangkul.

Natural.

Aku tidak bergerak karena takut momen kabur.

“Nyaman?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Banget.”

Tangannya tetap.

Aku memandang hujan.

“Fa.”

“Hm?”

“Kalau dulu aku bilang suatu hari kita bakal duduk begini, kamu percaya?”

“Enggak.”

“Kamu bakal ngapain?”

“Pindah kota.”

Aku tertawa.

“Sekarang?”

Alfa menatap hujan.

“Sekarang…”

Dia diam cukup lama.

“…aku mungkin beli hoodie lebih banyak.”

Aku tertawa lebih keras.

Tapi dadaku terasa hangat.

Itu mungkin versi Alfa untuk mengakui aku sudah punya tempat di hidupnya.

Hujan belum reda ketika aku akhirnya berdiri.

“Aku pesan taksi aja.”

Alfa ikut berdiri.

Dia mengambil payung.

“Aku antar sampai mobil.”

“Kamu dingin.”

“Biasa.”

Aku menatap hoodie yang kupakai.

“Mau balik?”

Dia menggeleng.

“Pakai.”

Kami berjalan di bawah payung.

Jalan depan toko berkilau kena lampu.

Tangan Alfa ada di pinggangku sebentar saat aku hampir terpeleset.

Refleks.

Tidak ada kepanikan sesudahnya.

Di mobil, aku melepas hoodie.

Lalu berubah pikiran.

Aku pakai lagi.

Alfa melihat.

“Katanya mau balik.”

“Enggak jadi.”

Dia menghela napas.

“Pencuri.”

Aku tersenyum.

“Pacarmu.”

Dia menatapku.

Lalu tersenyum kecil.

“Iya.”

Cuma satu kata.

Tapi entah kenapa aku membawanya pulang bersama hoodie itu.

Keesokan paginya, aku bangun dengan hoodie Alfa masih kupakai.

Aku tertawa sendiri.

Ada pesan masuk.

Alfa

Hoodie.

Aku langsung membalas.

Celine

Disita.

Alfa

Aku tahu.

Celine

Kenapa nanya?

Lama.

Alfa

Biar ada alasan chat.

Aku membeku.

Membaca lagi.

Tidak mungkin.

Celine

Alfa Pradipta, siapa yang ngajarin kamu begini?

Alfa

Pagi.

Dia kabur lewat pesan.

Aku menutup wajah dengan bantal.

Kalau dulu aku mengejarnya supaya mau bicara, sekarang masalahnya berbeda.

Sekarang dia kadang melempar satu kalimat kecil lalu meninggalkanku sendirian menghadapi efeknya.

Sore itu aku mengembalikan hoodie.

Atau setidaknya mencoba.

Alfa melihatnya di tanganku.

“Pakai aja.”

“Serius?”

“Hm.”

“Ini pemberian?”

“Pinjaman jangka panjang.”

Aku tersenyum.

“Bedanya tipis.”

“Masih punyaku.”

Aku memeluk hoodie itu.

“Berarti aku harus sering datang buat ngembaliin.”

Alfa menatapku.

“Bagus.”

Aku berhenti.

Dia sudah berjalan ke dapur sebelum aku sempat membalas.

Aku berdiri sendiri sambil tersenyum bodoh.

Mungkin hoodie itu tetap milik Alfa. Tapi sekarang rasanya juga menyimpan sedikit tempat untukku di hidupnya. Aku menyukainya lebih dari seharusnya. Dan itu terasa menyenangkan.