Chapter Thirty Six
Kembali ke Toko
POV: Alfa
Toko terasa terlalu sepi tanpa Celine.
Aku baru mengakuinya setelah enam hari.
Sebelumnya aku menyebutnya lebih tenang.
Lebih efisien.
Tidak ada orang salah melipat kemasan.
Tidak ada yang mencuri tester.
Tidak ada yang debat dengan Mbah soal diskon.
Tapi tenang ternyata bukan selalu nyaman.
Jam empat lewat sepuluh, lonceng pintu berbunyi.
Aku langsung menoleh.
Celine berdiri di pintu.
Dia tidak masuk dulu.
“Boleh?”
Pertanyaan itu.
Aku mengangguk.
“Boleh.”
Dia masuk.
Mbah Ratri ada di kasir.
Beliau melihat Celine.
Tidak membuat komentar.
Cuma berkata, “Celemekmu di belakang.”
Mata Celine langsung berkaca.
“Mbah.”
“Jangan nangis. Pelanggan takut.”
Celine tertawa sambil mengusap mata.
Aku hampir tersenyum.
Dia mengambil celemek.
Hari pertama kembali terasa canggung.
Kami bekerja seperti dua orang yang baru kenal.
Tidak ada sentuhan.
Kalau lewat di belakang, Celine memberi jarak.
Kalau menyerahkan barang, tangannya berhenti sebelum menyentuh.
Aku sadar.
Dan aku benci karena aku merindukan hal-hal kecil itu.
Bu Siska datang.
Melihat Celine.
Lalu aku.
“Sudah?”
Aku menegang.
Celine juga.
Bu Siska mengangkat roti.
“Sudah matang yang keju?”
Aku menghela napas.
“Sudah.”
Beliau tersenyum licik.
Aku tahu sengaja.
Pak Yono datang setelahnya.
“Wah.”
“Pak,” kataku.
“Apa?”
“Jangan.”
“Saya cuma wah.”
“Jangan wah.”
Celine tertawa kecil.
Suara itu sudah lama tidak ada di toko.
Aku merindukannya.
Malam mulai sepi.
Mbah naik.
Aku dan Celine tinggal di dapur.
Dia mengelap meja.
Aku menyusun baki.
“Kamu masih marah?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Oke.”
“Lebih sedikit.”
Dia berhenti.
Aku menatapnya.
“Jangan senyum.”
“Aku nggak.”
“Kamu mau.”
“Sedikit.”
Aku hampir tertawa.
Kami lanjut kerja.
Saat Celine hendak mengambil mangkuk, tangannya menyentuh tanganku.
Refleks dia langsung menarik.
“Maaf.”
Aku melihat tangannya.
Ada sesuatu yang salah.
Bukan karena dia menarik.
Karena sekarang dia takut menyentuhku.
Aku tidak mau hubungan kami jadi seperti itu.
Aku mengulurkan tangan.
Celine menatap.
Aku tidak berkata apa-apa.
Telapak terbuka.
Matanya langsung basah.
“Jangan nangis.”
“Aku belum.”
“Sebentar lagi.”
Dia tertawa kecil.
Kemudian meletakkan tangannya di tanganku.
Aku menggenggam.
Rasanya familiar.
Hangat.
Aku tidak sadar betapa aku merindukannya.
“Ini bukan berarti semuanya selesai,” kataku.
“Aku tahu.”
“Aku masih mau bahas.”
“Iya.”
“Tapi…”
Aku mencari kata.
“Aku juga nggak mau menghukum kita terus.”
Celine menggenggam balik.
“Terima kasih.”
“Jangan bikin aku menyesal.”
“Enggak.”
Aku mengernyit.
Dia cepat menambahkan, “Maksudnya aku akan berusaha. Bukan janji nggak pernah salah.”
“Bagus.”
Kami berdiri.
Tangan terhubung.
Aku yang pertama melepas karena harus mengambil baki.
Tidak terasa seperti kehilangan.
Lebih seperti sesuatu yang sekarang bisa kembali.
Setelah tutup, kami duduk di meja depan.
Celine membawa dua roti cacat.
“Ini jatahmu.”
Aku mengambil satu.
“Yang satu?”
“Punyaku.”
Kami makan.
Simbolisme terlalu jelas.
Aku memilih tidak komentar.
Celine berkata, “Aku belajar sesuatu.”
“Apa?”
“Aku buruk banget kalau harus diam.”
“Aku tahu.”
“Dan aku sering merasa kalau nggak bantu, berarti aku nggak berguna.”
Aku menatapnya.
Ini baru.
“Dari Naya?”
“Dari dulu.”
Dia menceritakan sedikit tentang masa setelah orang tua Naya meninggal.
Bagaimana dia selalu ingin memperbaiki.
Bagaimana diam terasa seperti gagal.
Aku mendengarkan.
Untuk pertama kali, kesalahan Celine terlihat bukan sebagai sesuatu yang datang dari kesempurnaan.
Dia punya luka sendiri.
Bukan alasan.
Tapi konteks.
“Aku salah,” katanya lagi. “Dan aku ngerti kenapa aku bisa salah.”
Aku mengangguk.
“Itu lebih berguna.”
“Daripada?”
“Bilang nggak akan pernah lagi.”
Celine tersenyum.
Aku memakan roti.
Beberapa menit kemudian, aku berkata, “Aku juga punya kebiasaan.”
“Lari?”
“Ya.”
“Sudah tahu.”
“Diam.”
“Itu juga.”
“Dan…”
Aku melihat tanganku.
“Kalau sakit, aku cepat banget mikir orang bakal pergi.”
Celine tidak langsung menjawab.
“Waktu kita berantem, aku sempat mikir ini akhirnya.”
“Hubungan kita?”
Aku mengangguk.
“Tapi aku nggak mau.”
Dia menatapku.
“Aku juga.”
Aku menarik napas.
“Aku nggak tahu kapan marahku selesai.”
“Nggak apa.”
“Tapi aku maafin kamu.”
Celine menutup mulut.
Air matanya jatuh.
Aku menghela napas.
“Sudah dibilang jangan nangis.”
“Ini salahmu.”
“Kenapa?”
“Kamu ngomongnya tiba-tiba.”
Aku berdiri mengambil tisu.
Menyerahkan.
Celine tertawa sambil menangis.
Aku kembali duduk.
Dia tidak meminta peluk.
Aku juga tidak langsung.
Beberapa detik.
Lalu aku membuka satu tangan.
Celine melihat.
“Boleh?”
Aku mengangguk.
Dia mendekat.
Pelukan pertama setelah pertengkaran.
Hati-hati.
Ringan.
Aku merasakan tubuhnya gemetar.
Tanganku naik ke punggung.
Aku memeluk lebih erat.
Celine menangis di bahuku.
Aku tidak panik.
Tidak merasa harus memperbaiki.
Cuma membiarkan.
Mungkin ini yang dia perlu pelajari.
Mungkin aku juga.
Tidak semua rasa sakit butuh solusi.
Kadang cuma tempat.
Setelah beberapa saat, Celine mundur.
Matanya merah.
“Jelek,” kataku.
Dia memukul lenganku.
Aku tertawa.
“Aku pulang.”
“Hm.”
Dia mengambil tas.
Di pintu, dia menoleh.
“Besok?”
Aku tidak menjawab langsung.
Celine menunggu.
“Datang.”
Senyumnya muncul.
“Oke.”
Aku berdiri di pintu sampai dia masuk mobil.
Malam itu toko kembali sepi setelah Celine pergi.
Tapi bukan sepi yang sama.
Ada celemeknya di belakang.
Ada satu gelas bekas minumnya.
Ada rasa bahwa besok dia akan kembali.
Aku masih punya ketakutan.
Masih ada rahasia foto yang kadang mengganggu.
Masih ada bagian hubungan yang perlu dibicarakan.
Tapi untuk pertama kali setelah pertengkaran, aku tidak melihat semua itu sebagai tanda akhir.
Cuma masalah.
Dan masalah bisa dibicarakan.
Besok.
Bersama.
Keesokan harinya Celine datang seperti biasa.
Tidak sepenuhnya biasa.
Tapi mendekati.
Dia masuk sambil membawa kopi.
Satu untukku.
“Tanpa gula,” katanya.
Aku menerima.
“Thanks.”
Kami bekerja.
Sekitar satu jam kemudian, dia berdiri terlalu lama di depan rak tinggi.
Aku tahu apa yang dia mau.
“Kotak?”
“Iya.”
Aku mengambil.
“Kamu pendek.”
Celine menatap tajam.
Aku tersenyum.
Dia langsung menunjuk.
“Nah. Sudah berani lagi.”
“Apanya?”
“Jahat.”
“Fakta.”
Dia mencubit lenganku.
Kemudian membeku.
Karena menyentuh tanpa tanya.
Aku melihat tangannya.
Celine langsung menarik.
“Maaf.”
Aku menghela napas.
“Yang itu aman.”
Dia berkedip.
“Cubit?”
“Jangan sering.”
Senyumnya muncul.
“Oke.”
Lima menit kemudian dia mencubit lagi.
“Celine.”
“Katanya aman.”
“Bukan izin permanen.”
Dia tertawa.
Aku ikut.
Mbah dari depan berteriak, “Kalau pacaran jangan ganggu produksi!”
Aku menjawab, “Dia yang ganggu!”
Celine berteriak balik, “Fitnah, Mbah!”
Suasana toko kembali.
Aku baru sadar aku merindukan kekacauan ini.
Siang hari, Naya datang.
Dia melihat kami.
Tidak bertanya apa-apa.
Cuma mengangkat dua jempol.
Aku menatap.
“Kenapa?”
“Enggak.”
“Turunin.”
Dia menurunkan.
Lima detik kemudian naik lagi.
Celine melempar serbet.
Aku tertawa.
Malamnya, setelah Naya pulang, Celine duduk dekat kasir.
“Aku mau bilang satu hal.”
Aku menunggu.
“Aku nggak akan pakai orang lain buat cari tahu keadaanmu lagi.”
Aku mengernyit.
“Kapan?”
“Mbah chat aku waktu kita nggak ngomong.”
“Mbah duluan?”
“Iya.”
“Dia ngomong apa?”
“Cuma bilang kamu makan.”
Aku tertawa kecil.
“Itu Mbah.”
“Aku juga sempat pengin tanya Dimas. Nggak jadi.”
“Bagus.”
“Aku mau kalau ada masalah sama kamu, ya ngomong ke kamu.”
Aku mengangguk.
“Setuju.”
“Dan kamu juga.”
Aku menatap.
“Kalau marah, jangan hilang tanpa bilang.”
Aku memikirkan.
“Oke.”
“Kalau butuh ruang, bilang.”
“Oke.”
“Kalau kangen—”
“Jangan banyak.”
Celine tertawa.
Aku mengulurkan tangan.
Dia mengambil.
“Kangen sedikit,” kataku.
Wajahnya langsung berubah.
Aku menyesal memberi amunisi.
“Alfa.”
“Jangan.”
“Kamu kangen aku.”
“Sedikit.”
“Berapa persen?”
Aku melepas tangan.
“Pulang.”
Dia tertawa keras.
Aku berjalan ke dapur.
Celine mengejar.
“Lima puluh?”
“Tidak.”
“Tujuh puluh?”
“Celine.”
“Seratus?”
Aku berbalik.
Dia hampir menabrak.
Aku memegang bahunya.
Kami berhenti dekat.
Celine tersenyum.
Aku menatap.
Lalu mencium keningnya.
Bukan bibir.
Belum.
Aku ingin membangun kembali pelan.
Dia mengerti.
Tidak meminta lebih.
“Cukup?” tanyaku.
“Untuk hari ini.”
Aku mengangguk.
Itulah perbedaannya sekarang.
Kami tidak perlu kembali ke titik sebelum kesalahan seolah tidak pernah terjadi.
Kami bisa membuat sesuatu yang baru setelahnya.
Sedikit lebih hati-hati.
Sedikit lebih jujur.
Dan mungkin, kalau kami beruntung, sedikit lebih kuat. Dan untuk sekarang, itu cukup.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko reading
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru