Chapter Twenty Four
Sedikit Cemburu
POV: Celine
Aku baru tahu Alfa bisa cemburu karena Ezra Mahardika.
Dan proses menemukannya membutuhkan tiga hari, dua kebohongan buruk, serta satu interogasi yang bahkan tidak sengaja kurencanakan.
Ezra satu fakultas denganku.
Kami satu tim untuk proyek acara kampus.
Dia gampang diajak kerja, cukup kompeten, dan punya kebiasaan mengirim pesan jam sebelas malam karena baru ingat sesuatu.
Aku tidak pernah menganggap itu penting.
Sampai Alfa melihat namanya muncul di layar ponselku.
Kami sedang duduk di Ratri Bakehouse setelah tutup.
Aku membantu memasukkan data pesanan.
Ponsel di meja menyala.
Ezra
Kei, revisi rundown udah gue kirim. Cek yang bagian sponsor ya.
Aku mengambil ponsel.
Alfa yang sedang membersihkan mesin kopi melirik sekali.
Cuma sekali.
Tapi setelah itu dia jadi lebih diam.
Aku tidak langsung curiga.
Alfa memang bisa diam karena seratus alasan.
Besoknya, di kampus, Ezra menghampiriku dekat kantin.
“Kei, file kemarin salah versi.”
Aku mengerang.
“Serius?”
“Iya. Yang gue kirim draft.”
“Gue udah kasih catatan dua halaman.”
“Makanya gue takut bilang.”
Aku memukul lengannya dengan map.
Ezra tertawa.
Dari seberang kantin, aku melihat Alfa bersama Dimas.
Mata kami bertemu.
Aku melambaikan tangan.
Alfa membalas kecil.
Saat makan siang, aku bertanya.
“Kamu kenal Ezra?”
“Sedikit.”
“Dia pernah sekelas pilihan sama Dimas.”
“Oh.”
Aku menunggu.
Tidak ada apa-apa.
“Kenapa?” tanyaku.
“Enggak.”
Normal.
Tapi malamnya, dia tidak mengirim pesan seperti biasanya.
Aku yang mulai.
Celine
Udah makan?
Alfa
Udah.
Celine
Kamu kenapa?
Alfa
Enggak apa-apa.
Kalimat paling tidak meyakinkan dalam sejarah manusia.
Hari ketiga, Ezra datang lagi saat aku dan Alfa keluar perpustakaan.
“Kei.”
Aku berhenti.
Ezra menyerahkan flashdisk.
“Ini punya lo.”
“Oh, iya. Thanks.”
Dia melihat Alfa.
“Alfa, kan?”
Alfa mengangguk.
“Ezra.”
“Tau.”
Suasananya tidak kasar.
Tidak juga hangat.
Ezra tersenyum padaku.
“Nanti malam call jam sembilan, jangan lupa.”
“Iya.”
Dia pergi.
Aku dan Alfa melanjutkan jalan.
Tiga puluh meter dalam diam.
Aku akhirnya berhenti.
Alfa ikut berhenti.
“Kamu cemburu?”
Dia menatapku.
“Enggak.”
Terlalu cepat.
Aku menyilangkan tangan.
“Alfa.”
“Enggak.”
“Lihat aku.”
Dia melihat.
Aku hampir tertawa karena wajahnya sangat serius.
“Bener?”
“Iya.”
“Jadi kamu nggak masalah Ezra chat aku malam?”
“Kenapa harus masalah?”
“Karena dia cowok.”
“Kamu punya banyak teman cowok.”
“Benar.”
“Dan aku nggak mau ngatur.”
Aku menurunkan tangan.
Nada itu berbeda.
Bukan cuek.
Defensif.
“Aku nggak bilang kamu harus ngatur.”
Alfa memasukkan tangan ke saku.
“Ya udah.”
“Kamu terganggu?”
“Enggak.”
“Kamu bohong.”
Dia menatap jalan.
Aku mendekat setengah langkah.
Tidak menyentuh.
“Fa.”
“Aku cuma…”
Dia berhenti.
Aku menunggu.
“Aku cuma mikir dia lebih cocok.”
Dadaku langsung dingin.
“Cocok apa?”
“Ya…”
“Alfa.”
Dia menghela napas.
“Dia kenal lingkunganmu. Orang-orangmu. Kalian satu fakultas. Dia gampang ngobrol. Kalau berdiri sama kamu juga…”
Kalimatnya putus.
Aku tahu sisanya.
Terlihat cocok.
Cantik dengan populer.
Bintang fakultas dengan orang yang dianggap selevel.
Aku menahan kesal.
Bukan karena dia cemburu.
Karena dia kembali mengambil keputusan untukku.
“Terus?”
“Enggak ada.”
“Jadi menurutmu aku seharusnya sama Ezra?”
“Aku nggak bilang begitu.”
“Tapi kamu mikir.”
Alfa diam.
Aku menarik napas supaya suaraku tidak naik.
“Lihat aku.”
Dia akhirnya melihat.
“Kalau aku lebih suka Ezra, aku bakal pacaran sama Ezra.”
Alfa berkedip.
“Aku nggak pacaran sama dia.”
“Aku tahu.”
“Aku pacaran sama siapa?”
Dia tahu jebakannya.
Wajahnya berubah pasrah.
“Kamu.”
“Sebut nama.”
“Celine.”
Aku memejamkan mata sebentar.
“Salah.”
Alfa mengernyit.
“Aku pacaran sama siapa?”
Dia mengerti.
“Alfa.”
“Nah.”
Aku mendekat lagi.
“Karena aku pilih Alfa.”
Dia tidak menjawab.
“Aku boleh punya teman. Kamu boleh bilang kalau ada sesuatu yang bikin kamu nggak nyaman. Itu bukan berarti kamu mengatur hidupku.”
“Aku nggak mau jadi posesif.”
“Bagus. Jangan.”
Aku menahan senyum.
“Tapi minta reassurance bukan posesif.”
Alfa memandang tangannya sendiri.
Aku melanjutkan lebih pelan.
“Kalau kamu cemburu sedikit, bilang.”
“Memalukan.”
“Buat aku lucu.”
“Makanya.”
Aku tertawa kecil.
Kemudian serius lagi.
“Dan jangan putuskan sendiri.”
Alfa menatapku.
Kalimat itu pernah kukatakan sebelumnya, jauh sebelum kami pacaran.
Sekarang maknanya lebih berat.
“Jangan putuskan sendiri kalau orang lain lebih cocok buat aku. Itu pilihanku.”
Beberapa detik dia diam.
Lalu mengangguk.
“Oke.”
“Oke?”
“Oke.”
Aku menunggu.
Alfa tampak menderita.
Akhirnya dia berkata, “Aku agak nggak suka dia sering chat malam.”
Senyumku langsung keluar.
Alfa menunjuk wajahku.
“Nah. Ini alasan aku nggak ngomong.”
“Kamu cemburu.”
“Sedikit.”
Aku mengambil ponsel.
“Aku harus kasih tahu Tara.”
Alfa langsung menangkap pergelangan tanganku.
“Jangan.”
Aku membeku.
Bukan karena sentuhan.
Karena dia yang memulai.
Tangannya hangat di kulitku.
Alfa juga sadar beberapa detik kemudian.
Dia hampir melepas.
Aku berkata cepat, “Aku nggak kirim.”
Tangannya tetap sebentar.
Lalu perlahan turun dan menggenggam tanganku seperti lebih aman begitu.
Aku tersenyum.
“Serius, aku nggak akan cerita.”
“Fikri juga jangan.”
“Apalagi Fikri.”
Kami berjalan lagi.
Tangan tetap tergenggam.
Malamnya aku benar-benar melakukan panggilan proyek dengan Ezra.
Jam sembilan tepat.
Selesai jam sembilan tiga puluh.
Setelah itu aku mengirim pesan ke Alfa.
Celine
Call selesai.
Alfa
Oke.
Aku tersenyum.
Celine
Bukan laporan wajib. Cuma ngasih tahu.
Beberapa detik.
Alfa
Makasih.
Aku rebah di tempat tidur.
Kemudian pesan baru masuk.
Alfa
Dan maaf tadi.
Celine
Untuk?
Alfa
Hampir mutusin sendiri lagi.
Aku menatap layar cukup lama.
Ada sesuatu yang hangat di dada.
Dia mengerti.
Bukan langsung sembuh.
Bukan tiba-tiba percaya diri.
Tapi dia mendengar.
Celine
Dimaafkan.
Aku menambahkan.
Celine
Sebagai hukuman, besok traktir aku donat.
Alfa
Kamu tiap datang juga makan gratis.
Celine
Itu fasilitas pacar.
Alfa
Siapa yang bikin aturan?
Celine
Aku.
Aku tertawa sendiri.
Besok sore aku datang ke toko.
Di atas meja kasir ada satu donat cokelat.
Bentuknya sedikit miring.
Alfa menunjuk.
“Itu hukuman.”
Aku mengambilnya.
“Cacat.”
“Makanya buat kamu.”
Aku menggigit.
“Enak.”
Alfa menggeleng.
Aku berjalan mendekat.
“Fa.”
“Hm?”
“Kalau nanti cemburu lagi, bilang.”
“Jangan berharap.”
“Aku berharap sedikit.”
Dia menatapku.
Aku tersenyum.
Alfa mengulurkan tangan.
Kali ini tanpa diminta.
Aku menggenggamnya.
Dan rasanya seperti kemenangan yang jauh lebih besar daripada membuatnya mengaku cemburu.
Karena perlahan, Alfa tidak hanya belajar bahwa aku boleh tinggal.
Dia mulai belajar bahwa dia juga boleh meminta sesuatu dariku.
Aku mengira pembicaraan soal Ezra selesai hari itu.
Ternyata efeknya muncul dalam bentuk yang tidak kusangka.
Dua hari kemudian, aku dan Alfa makan siang di kantin.
Ezra lewat bersama tim acara.
Dia melihatku dan melambaikan tangan.
“Kei, sponsor udah approve.”
“Oke!”
Ezra kemudian mengangguk ke Alfa.
Alfa membalas.
Tidak ada ketegangan.
Setelah Ezra pergi, aku melirik pacarku.
“Aman?”
Alfa menghela napas.
“Jangan mulai.”
“Aku cuma cek.”
“Aman.”
Aku tersenyum.
Dia menatapku.
“Kenapa?”
“Bangga.”
“Jangan.”
“Kamu komunikasi.”
“Standar rendah.”
“Buat orang lain mungkin.”
Aku sengaja tidak melanjutkan.
Alfa tahu maksudnya.
Dia mengambil satu kentang goreng dari piringku.
Aku menatap tangannya.
“Itu punya aku.”
“Pacar boleh.”
Aku tercengang.
“Siapa yang bikin aturan?”
Alfa mengunyah.
“Aku.”
Aku menunjuknya.
“Kamu belajar terlalu cepat.”
Dia hampir tersenyum.
Kemudian ponselku berbunyi.
Pesan Ezra.
Alfa melihat nama itu.
Aku tidak sengaja memperhatikan reaksinya.
Dia menarik napas kecil.
Lalu kembali makan.
Tidak menarik diri.
Tidak berubah dingin.
Tidak membuat kesimpulan.
Aku membuka pesan.
Ezra
Kei, meeting besok jadi jam dua.
Aku membalas singkat.
Setelah itu aku menaruh ponsel terbalik.
Bukan karena Alfa meminta.
Aku memang sedang makan bersamanya.
Alfa berkata, “Kamu nggak perlu sembunyiin chat.”
“Aku tahu.”
“Serius.”
“Aku juga serius. Aku lagi makan sama kamu.”
Dia diam.
Aku menyentuh punggung tangannya dengan ujung jari.
“Ini bukan soal pilih siapa yang boleh kirim pesan.”
“Hm.”
“Ini soal siapa yang lagi ada di depanku.”
Alfa akhirnya melihatku.
Aku tersenyum.
Dia membalik tangannya dan menggenggam jariku.
Di tengah kantin.
Banyak orang.
Tidak lama.
Cuma beberapa detik.
Tapi dia yang memilih.
Saat melepaskan, Alfa berkata, “Aku masih nggak suka chat malam.”
Aku tertawa.
“Nah, begitu.”
“Jangan senang.”
“Sulit.”
Dia mengambil kentangku lagi.
Aku protes.
Alfa cuma berkata, “Hukuman.”
“Untuk apa?”
“Bikin aku belajar komunikasi.”
Aku tertawa sampai hampir menjatuhkan sendok.
Hubungan kami belum sempurna.
Alfa masih mudah takut.
Aku masih terlalu cepat bergerak.
Tapi hari itu aku menyadari sesuatu yang membuatku tenang.
Kami mulai bisa menemukan masalah kecil sebelum berubah menjadi luka besar.
Mungkin itu yang membuat hubungan bertahan.
Bukan tidak pernah cemburu, takut, atau salah.
Tapi tahu kapan harus berhenti menebak dan mulai bicara.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu reading
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru