← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Twenty One

Kencan Resmi

POV: Alfa

Kencan resmi ternyata lebih menakutkan daripada kencan yang bukan kencan.

Sebelum pacaran, aku dan Celine pernah pergi membeli bahan bakery, makan, bahkan jalan cukup lama.

Waktu itu aku bisa mengatakan semuanya kebetulan.

Sekarang tidak.

Sekarang namanya kencan.

Kata itu membuatku berdiri sepuluh menit di depan lemari pagi-pagi.

Aku punya enam hoodie yang warnanya hampir sama.

Entah kenapa hari ini semuanya terlihat salah.

Mbah lewat kamar dan berhenti.

“Kamu ngapain?”

“Cari baju.”

“Pakai yang biasa.”

“Yang mana?”

Mbah melihat isi lemari.

“Semua biasa.”

Aku menatap beliau.

Beliau menatapku balik.

“Kencan?”

Aku menutup pintu.

Dari luar terdengar tawa.

Akhirnya aku memakai kaus hitam, overshirt abu-abu, celana gelap, dan tetap membawa hoodie.

Aku tidak tahu apakah itu usaha atau menyerah.

Celine menunggu di depan sebuah toko buku besar di pusat kota.

Begitu melihatku, dia berhenti bicara dengan ponselnya.

Aku langsung curiga.

“Kenapa?”

“Enggak.”

“Kamu lihat aneh.”

“Enggak.”

“Kamu senyum.”

“Aku punya mata.”

“Apa hubungannya?”

Celine memasukkan ponsel ke tas.

“Kamu rapi.”

Aku melihat bajuku.

“Biasa.”

“Buat kamu, ini red carpet.”

Aku ingin pulang.

Tapi dia tertawa lalu mengulurkan tangan.

Tidak langsung mengambil.

Menunggu.

Aku menatapnya sebentar sebelum menggenggam.

Lebih mudah dari kemarin.

Masih membuat jantungku sadar dirinya punya fungsi.

Tapi lebih mudah.

Kami masuk toko buku.

Aku memilih tempat ini karena Celine pernah bilang dia suka melihat stationery meski sering membeli barang yang tidak dibutuhkan.

Dia langsung menuju bagian pena.

“Lihat.”

Dia mengangkat satu set stabilo warna pastel.

“Kamu punya.”

“Yang ini beda.”

“Warnanya sama.”

“Packaging-nya beda.”

“Itu bukan alasan.”

Celine memasukkannya ke keranjang.

“Aku tidak butuh persetujuanmu.”

“Kenapa tadi minta pendapat?”

“Biar ada interaksi pasangan.”

Aku menghela napas.

Dua lorong kemudian, dia berhenti di bagian notebook.

Aku melihat satu buku sampul biru tua.

Sederhana.

Di pojok ada gambar croissant kecil.

Aku mengambilnya.

Celine sedang melihat rak lain.

Tanpa banyak pikir, aku memasukkan buku itu ke keranjangku sendiri.

Kami makan siang di restoran kecil yang tidak terlalu ramai.

Celine tidak memilih tempat mahal.

Aku tahu dia bisa.

Aku juga tahu dia sengaja tidak membuat suasana terasa terlalu formal.

“Jadi,” katanya setelah makanan datang. “Gimana rasanya kencan sama aku?”

“Baru satu jam.”

“Review sementara.”

Aku memotong ayam.

“Berisik.”

“Bintang berapa?”

“Dua.”

“Dari?”

“Dua.”

Celine tersenyum lebar.

Aku baru sadar jebakannya.

“Licik.”

“Terima kasih.”

Setelah makan, kami berjalan ke taman kota yang bersebelahan dengan pusat perbelanjaan.

Cuaca mendung tapi tidak hujan.

Ada keluarga, anak kecil, orang lari, pasangan lain.

Aku sadar kami sekarang termasuk kategori terakhir.

Pikiran itu aneh.

Celine duduk di bangku.

Aku ikut.

Dia tidak langsung bicara.

Untuk beberapa menit kami hanya melihat orang lewat.

Aku suka itu.

Celine bisa sangat ramai, tapi dia tidak takut diam.

“Aku boleh tanya?” katanya.

“Hm.”

“Kamu kepikiran terus nggak?”

“Apa?”

“Status kita.”

Aku menatap sepatu.

“Iya.”

“Bikin nggak nyaman?”

Pertanyaannya tidak defensif.

Tidak terdengar takut.

Cuma ingin tahu.

“Bukan nggak nyaman.”

“Terus?”

Aku mencari cara menjelaskan.

“Kayak… aku terus sadar.”

Celine menunggu.

“Kalau dulu kamu ada di sebelah, aku mikir gimana caranya supaya nggak panik.”

Dia tersenyum kecil.

“Sekarang?”

“Sekarang aku sadar kamu pacarku.”

“Dan?”

“Jadi panik jenis lain.”

Celine tertawa.

Aku ikut tersenyum.

“Maaf,” katanya.

“Kenapa?”

“Lucu.”

“Sudah tahu.”

Dia memiringkan kepala.

“Tapi serius. Kalau ada yang terlalu cepat, bilang.”

Aku mengangguk.

Aku sudah mendengar versi kalimat itu beberapa kali.

Aneh bagaimana kalimat yang sama justru semakin terasa nyata setiap kali dia membuktikannya.

Setelah dari taman, kami mampir membeli minuman.

Kasir perempuan melihat kami bergantian.

“Untuk pasangan ada promo dua minuman,” katanya.

Aku hampir refleks menyangkal.

Kata itu sudah di ujung lidah.

Bukan karena aku tidak mau.

Karena kebiasaan.

Celine tidak ikut menjawab.

Dia menungguku.

Aku menarik napas.

“Boleh pakai promonya.”

Kasir tersenyum.

Celine juga.

Aku menatap menu.

“Jangan lihat aku.”

“Aku nggak bilang apa-apa.”

“Itu masalahnya.”

Kami membawa minuman keluar.

Celine berjalan lebih dekat.

Tangannya menyentuh punggung tanganku.

Aku yang menggenggam duluan.

Cuma sepersekian detik lebih cepat.

Tapi aku tahu.

Celine juga tahu.

Dia tidak komentar.

Terima kasih.

Sore menjelang ketika aku mengantarnya ke area parkir.

“Ini,” kataku.

Aku mengeluarkan notebook yang kubeli diam-diam.

Celine menerimanya.

Wajahnya langsung berubah saat melihat gambar croissant kecil.

“Buat aku?”

“Enggak. Buat Pak Yono.”

Dia menatapku.

Aku menghela napas.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Kamu suka notebook.”

“Terus croissant?”

Aku memasukkan tangan ke saku.

“Mirip toko.”

Celine membuka halaman pertama.

Kosong.

Dia menyentuh gambar kecil di sampul.

Kemudian memeluk buku itu ke dada.

“Fa.”

“Hm?”

“Aku senang.”

“Bagus.”

“Banget.”

Aku mengangguk.

Dia masih melihatku.

“Apa?”

“Boleh peluk?”

Seluruh sistem tubuhku berhenti.

Tanganku di saku mengeras.

Celine langsung menambahkan, “Kalau enggak, enggak apa-apa.”

Aku melihat sekeliling.

Tidak banyak orang.

Lalu melihat Celine.

Aku sudah pernah dipeluk singkat ketika situasi emosional, tapi belum pernah begini.

Diminta.

Dalam keadaan tenang.

Karena dia bahagia.

“Aku…”

Aku menelan ludah.

“Sebentar aja.”

Celine bergerak pelan.

Tidak menerjang.

Tangannya mengelilingi tubuhku dengan ringan.

Aku kaku pada detik pertama.

Aroma parfumnya dekat.

Pipinya hampir menyentuh bahuku.

Kemudian aku mengangkat tangan.

Ragu.

Akhirnya menyentuh punggungnya.

Cuma sebentar.

Celine tidak mempererat.

Tidak membuatku terjebak.

Dua detik kemudian dia mundur sendiri.

“Terima kasih.”

Aku menatap tanah.

“Terlalu formal.”

“Kalau aku teriak gimana?”

“Jangan.”

“Makanya.”

Aku tertawa kecil.

Malamnya, setelah pulang, ada pesan.

Celine

Notebook-nya sudah dipakai.

Disertai foto halaman pertama.

Tulisan tangannya:

First official date with Alfa.

Di bawahnya ada tanggal hari ini.

Aku menatap cukup lama.

Alfa

Kenapa dicatat?

Celine

Biar ingat.

Aku hendak bilang dia pasti ingat tanpa itu.

Tapi jariku berhenti.

Ada hal-hal yang memang ingin disimpan karena penting.

Aku melihat tanggal itu lagi.

Lalu membuka kalender di ponsel.

Diam-diam, aku menyimpan tanggal yang sama.

Bukan karena aku takut lupa.

Karena untuk pertama kalinya, aku punya hari yang ingin kuingat sebagai awal dari sesuatu, bukan akhir.

Malam setelah kencan, Mbah menemukan aku sedang melihat kalender.

“Besok ada tugas?”

“Enggak.”

“Terus?”

Aku mengunci ponsel terlalu cepat.

Beliau langsung curiga.

“Anniversary?”

“Baru sehari.”

“Jadi?”

Aku menghela napas. “Aku cuma simpan tanggal.”

Mbah tersenyum tipis.

“Bagus.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Dulu kamu lebih rajin ingat tanggal buruk.”

Kalimat itu membuatku diam.

Mbah jarang membahas masa lalu secara langsung.

Beliau tahu sebagian.

Tidak semuanya.

Tapi cukup untuk tahu ada tanggal-tanggal yang selama bertahun-tahun lebih mudah kuingat daripada ulang tahun sendiri.

Aku menatap kalender lagi.

Tanggal hari ini punya titik kecil.

Tidak ada catatan panjang.

Cuma satu kata.

Kencan.

Aneh rasanya sengaja menyimpan hari baik.

Seolah aku memberi otak pilihan lain selain mengarsipkan rasa malu.

“Alfa.”

“Hm?”

“Jangan dibandingin.”

“Apa?”

“Hari ini sama yang dulu.”

Aku tahu maksudnya.

Aku mengangguk.

Malam semakin larut.

Sebelum tidur, aku mendapat pesan foto dari Celine.

Notebook biru itu terbuka di halaman kedua.

Ada gambar sederhana dua gelas minuman dan satu tulisan kecil:

Dia yang genggam duluan.

Aku langsung mengetik.

Alfa

Kamu catat itu juga?

Celine

Penting.

Alfa

Kenapa?

Jawabannya lama.

Celine

Karena aku tahu buat kamu itu bukan hal kecil.

Aku membaca kalimat itu berulang.

Tidak ada godaan.

Tidak ada emoji.

Cuma pengertian yang tenang.

Alfa

Buat kamu?

Balasan datang.

Celine

Buat aku juga bukan hal kecil.

Aku meletakkan ponsel.

Kemudian mengambil lagi.

Alfa

Next date gantian aku pilih tempat lagi.

Celine membalas hampir seketika.

Celine

Ada next date?

Aku tahu dia sengaja.

Alfa

Enggak jadi.

Celine

ALFA.

Aku tertawa pelan.

Untuk seseorang yang dulu takut pada kemungkinan hubungan, aku baru saja membuat rencana untuk pertemuan berikutnya.

Mungkin itu inti semua perubahan ini.

Bukan menjadi berani sekaligus.

Cuma mulai berani membuat rencana yang menganggap seseorang masih akan ada di hari berikutnya.