← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Twenty Eight

Aku Masih Marah

POV: Alfa

Aku menceritakan Selina kepada Celine tiga hari kemudian.

Bukan karena dia bertanya.

Justru karena dia tidak bertanya.

Mungkin itu yang membuatku akhirnya bicara.

Kami duduk di lantai dapur setelah toko tutup.

Satu batch pastry percobaan gagal karena filling bocor.

Celine tetap makan.

Aku sudah menyerah melarang.

Dia menggigit ujung pastry.

“Enak.”

“Bentuknya jelek.”

“Mulutku nggak lihat bentuk.”

Aku hampir tertawa.

Kemudian diam.

Celine tidak mengisi hening.

Aku memegang satu pastry yang belum kumakan.

“Waktu SMA,” kataku.

Celine berhenti mengunyah.

Aku menatap lantai.

“Selina bukan yang pertama.”

Dia tidak bereaksi besar.

Bagus.

“Ada tiga sebelumnya.”

Kata-kata mulai keluar.

Pelan.

Tidak rapi.

Aku cerita tentang SMP.

Perempuan yang mendekat karena tantangan.

Teman-temannya yang tertawa.

Aku cerita tentang yang kedua.

Yang sering minta bantuan.

Tugas.

Barang.

Antar jemput.

Lalu aku dengar dia menyebutku “anjing baik” ke temannya.

Celine menggenggam pastry terlalu kuat.

Aku pura-pura tidak lihat.

Yang ketiga lebih buruk dengan cara berbeda.

Dia mendekat karena ingin mantannya cemburu.

Aku bahkan tidak tahu sampai mantannya kembali.

Lalu dia berhenti bicara seolah aku tidak pernah ada.

Celine masih diam.

Aku menarik napas.

“Terus Selina.”

Kali ini lebih sulit.

“Dia nggak salah kayak mereka.”

Aku ingin adil.

“Dia nggak pernah pura-pura suka.”

Aku yang suka duluan.

Aku yang salah baca.

Aku yang mengaku.

“Dia cuma nolak.”

Celine akhirnya berkata, “Tapi ekspresinya?”

Aku melihatnya.

Bagaimana dia tahu?

Mungkin dari caraku bicara.

Aku mengangguk.

“Dia lihat aku kayak…”

Kata itu sulit.

Jijik.

Aku tidak mau mengatakannya.

Tapi Celine menunggu.

“Kayak aku bikin dia nggak nyaman cuma karena suka.”

Suara sendiri terdengar jauh.

“Aku tahu mungkin itu cuma kaget. Tapi waktu itu…”

Aku tertawa kecil.

“Tiga kali sebelumnya sudah cukup.”

Celine meletakkan pastry.

“Aku benci mereka.”

Aku menoleh.

Dia tampak marah.

Bukan marah yang berisik.

Rahangnya kencang.

Aku buru-buru berkata, “Udah lama.”

“Terus?”

Aku terdiam.

Celine melihatku.

“Udah lama bukan berarti otomatis nggak sakit.”

Aku memandang tangan.

“Aku juga salah.”

“Di mana?”

“Aku percaya.”

Celine langsung mengernyit.

“Alfa.”

“Aku seharusnya tahu.”

“Nggak.”

“Tanda-tandanya—”

“Nggak.”

Nada suaranya tegas.

Aku menatapnya.

“Percaya orang bukan kesalahan.”

Aku ingin membantah.

Dia melanjutkan.

“Yang salah orang yang pakai kepercayaan itu buat main.”

Dadaku panas.

Aku menelan.

“Kadang aku masih marah.”

Kalimat itu keluar lebih kecil.

Celine tidak bicara.

“Aku bilang ke Selina udah lupa.”

Aku tertawa hambar.

“Bohong.”

Aku memegang lutut.

“Aku masih ingat semuanya.”

Ada sesuatu di tenggorokan.

Aku benci.

“Aku benci mereka.”

Akhirnya keluar.

Bukan “aku kesal”.

Bukan “nggak suka”.

Benci.

Aku menunggu Celine bereaksi.

Takut.

Kecewa.

Mungkin bilang jangan begitu.

Celine justru berkata, “Ya.”

Aku menoleh.

Dia melihat lurus ke depan.

“Kalau aku jadi kamu, mungkin aku juga benci.”

Aku tidak tahu kenapa kalimat itu membuat mata panas.

Aku menunduk.

“Aku nggak mau jadi orang yang nyimpan dendam.”

“Marah bukan berarti kamu jahat.”

“Aku udah maafin.”

“Bisa jadi.”

Celine menatapku.

“Tapi memaafkan juga bukan berarti harus lupa atau pura-pura nggak sakit.”

Aku diam.

Dia benar.

Aku benci itu.

“Selina minta maaf,” kataku.

“Iya.”

“Aku bilang udah nggak apa-apa.”

Celine menarik napas.

“Kamu mau aku bilang apa?”

Aku menggeleng.

“Enggak tahu.”

“Kalau gitu aku nggak akan bilang apa-apa.”

Kami diam.

Beberapa menit.

Aku sadar tanganku gemetar sedikit.

Celine melihat.

Tapi tidak langsung menyentuh.

“Boleh?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Dia menggenggam tanganku.

Hangat.

Aku mengencangkan genggaman.

Kemudian, tanpa benar-benar merencanakan, aku bergeser lebih dekat.

Celine tidak bergerak.

Aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Dia mengangkat tangan yang lain.

“Boleh peluk?”

Aku mengangguk lagi.

Tangannya melingkar pelan.

Aku menutup mata.

Tidak menangis.

Belum.

Tapi napasku kacau.

Celine tidak bilang semuanya akan baik-baik saja.

Tidak bilang masa lalu sudah selesai.

Tidak bilang aku kuat.

Dia cuma ada.

Setelah beberapa menit, aku berkata,

“Aku takut kamu suatu hari lihat aku kayak mereka.”

Tubuh Celine diam.

“Kayak apa?”

“Kayak aku…”

Aku tidak sanggup menyelesaikan.

Tidak perlu.

Celine mengerti.

Dia tidak menjawab cepat.

Bagus.

Jawaban cepat biasanya terdengar bohong.

Akhirnya dia berkata, “Aku nggak bisa janji kita nggak akan pernah saling bikin sakit.”

Aku membuka mata.

“Tapi kalau aku bikin kamu sakit, aku mau kamu bilang. Jangan hilang.”

Aku menelan.

“Dan kalau aku marah?”

“Marah.”

“Kalau aku jelek?”

Celine menarik diri sedikit supaya bisa melihat wajahku.

“Alfa.”

“Hm?”

“Kamu pikir aku suka kamu cuma pas kamu baik?”

Aku tidak jawab.

Celine menghela napas.

“Aku suka kamu waktu kamu nyebelin juga.”

“Itu sering.”

“Banget.”

Aku hampir tersenyum.

Dia menatapku lama.

Lalu mengangkat tangan ke wajahku.

Berhenti beberapa sentimeter.

“Boleh?”

Aku mengangguk.

Jarinya menyentuh sisi rambutku.

Bukan mengusap wajah.

Cuma merapikan poni.

Aku tidak menegang.

Celine tersenyum kecil.

Aku tiba-tiba ingin mendekat.

Jadi aku melakukannya.

Aku mencium keningnya.

Celine membeku.

Aku mundur sedikit.

“Kenapa?”

Dia menutup mata.

“Alfa.”

“Hm?”

“Jangan tiba-tiba manis habis bikin aku mau nangis.”

“Aku cuma…”

Aku tidak punya alasan.

Dia menatapku dengan mata basah.

Aku menghela napas.

“Ya udah.”

“Ya udah apaan?”

Aku mencium keningnya lagi.

Kali ini sedikit lebih lama.

Celine menutup wajah dengan tangan.

Aku tertawa kecil.

Beberapa minggu lalu aku tidak bisa membayangkan diriku melakukan ini.

Sekarang rasanya sederhana.

Bukan karena aku berubah total.

Karena orang di depanku membuat setiap langkah terasa seperti pilihanku.

Malam itu, setelah Celine pulang, aku berdiri di dapur.

Ada dua pastry gagal tersisa.

Biasanya aku akan makan sendiri.

Aku memasukkan satu ke kotak.

Untuk besok.

Untuk Celine.

Karena ternyata ada hal-hal jelek yang lebih ringan kalau dibagi.

Setelah aku bicara, kami tetap duduk di lantai.

Tidak ada musik.

Tidak ada keharusan pindah topik.

Aku mengambil pastry kedua.

Celine menatap.

“Katanya jelek.”

“Aku lapar.”

“Jadi standar turun kalau lapar?”

“Iya.”

Dia tertawa.

Aku makan.

Untuk beberapa menit, rasanya normal lagi.

Kemudian aku berkata, “Ada satu hal yang paling aku benci.”

Celine melihat.

“Aku jadi takut sama orang yang sebenarnya nggak ngapa-ngapain.”

“Maksudmu?”

“Kadang ada perempuan cuma ramah.”

Aku memutar pastry di tangan.

“Aku langsung mikir ada maksud.”

Celine tidak menyela.

“Kalau cantik, malah lebih parah.”

Dia mengangkat alis.

“Wah. Jadi aku korban profiling.”

Aku menatapnya.

“Serius.”

“Aku juga serius sedikit.”

Aku hampir tersenyum.

Lalu kembali menunduk.

“Aku tahu itu nggak adil.”

Celine mengangguk.

“Iya.”

Jawaban jujur.

Aneh, tapi aku suka.

Dia tidak membenarkan semuanya hanya karena aku terluka.

“Tapi ngerti asalnya bukan berarti kamu harus terus begitu selamanya,” lanjutnya.

Aku mengangguk.

“Aku lagi coba.”

“Aku tahu.”

“Kadang capek.”

“Aku juga tahu.”

Aku menatapnya.

“Dari mana?”

“Karena tiap langkah kecil buat orang lain biasa, buat kamu kadang perlu mikir semalaman.”

Aku tertawa pelan.

“Kelihatan ya?”

“Banget.”

Aku menghela napas.

Celine menyandarkan bahunya ke bahuku.

Kali ini tidak tanya.

Sudah aman.

Aku membiarkan.

Kemudian aku berkata, “Kalau suatu hari aku mundur lagi…”

Celine langsung menoleh.

“Pasti.”

Aku mengernyit.

“Kok yakin?”

“Karena sembuh bukan garis lurus.”

Aku diam.

“Kalau kamu mundur, ya nanti maju lagi.”

Nada Celine ringan.

Bukan meremehkan.

Lebih seperti fakta.

Aku memandang tangannya.

Lalu mengambil.

“Gini?”

“Gini.”

Aku tersenyum tipis.

Mungkin itu yang kubutuhkan.

Bukan seseorang yang percaya aku tidak akan pernah takut lagi.

Seseorang yang tahu aku mungkin takut, tapi tidak langsung menganggap semua kemajuan hilang.

Celine mengambil pastry terakhir lalu membaginya dua.

Separuh diserahkan kepadaku.

“Kenapa?”

“Bagi rata.”

Aku menerima.

“Ini jelek.”

“Makanya cocok dibagi.”

Aku menatapnya.

Celine tersenyum.

Aku makan.

Entah kenapa kalimat itu terasa lebih dalam daripada seharusnya.

Mungkin karena selama ini aku selalu mengambil bagian buruk sendirian.

Sekarang seseorang justru memecahnya menjadi dua tanpa diminta.

Dan ternyata dibagi memang terasa lebih ringan. Juga.