← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Forty

Tatapan Itu

POV: Alfa

Ada satu bagian cerita yang belum pernah kuberikan kepada Celine.

Bukan kejadian.

Perasaan.

Malam itu toko tutup lebih cepat karena hujan besar. Mbah sudah tidur. Celine duduk di dapur.

Kami baru selesai bicara tentang foto lagi.

Tidak ada konflik.

Justru terlalu tenang.

Mungkin itu sebabnya aku akhirnya berkata,

“Aku pernah benci perempuan kayak kamu.”

Celine tidak bergerak.

Aku langsung menyesal.

Tapi kali ini aku tidak ingin menarik kembali.

“Cantik. Populer. Ramah.”

Aku tertawa kecil tanpa humor.

“Kadang aku lihat orang kayak kamu dan langsung mikir kalian pasti sama.”

Celine mendengarkan.

“Aku tahu itu nggak adil.”

“Hm.”

“Dan waktu kamu mulai ngejar, sebagian diriku pengin kamu gagal.”

Aku menatap meja.

“Supaya aku bisa bilang ke diri sendiri aku benar.”

Suara hujan keras.

Aku melanjutkan.

“Aku juga pernah benci diriku sendiri karena tetap pengin percaya.”

Tenggorokanku sakit.

“Karena setiap kali aku percaya, aku ngerasa bodoh.”

Celine tidak menyentuh.

Bagus.

Aku belum selesai.

“Aku masih marah sama mereka.”

Napas mulai kacau.

“Aku masih takut.”

Tanganku mengepal.

“Kadang aku lihat kamu bicara sama cowok lain dan bagian kecil di kepala langsung bilang, nanti juga dia sadar kamu nggak cukup.”

Aku tertawa pendek.

“Jelek, kan?”

Celine berkata pelan, “Manusia.”

Aku menggeleng.

“Enggak. Aku iri. Aku benci. Aku takut. Aku bisa mikir buruk tentang orang yang nggak salah.”

Mata panas.

Aku benci.

“Aku nggak sebaik yang kamu lihat waktu di panti.”

Celine menarik napas.

“Aku tahu.”

Aku menatapnya.

“Jangan jawab cepat.”

“Aku serius.”

Dia masih tidak mendekat.

“Kamu pikir aku nggak pernah lihat kamu jelek?”

Aku diam.

“Aku lihat kamu marah sama aku.”

“Iya.”

“Aku lihat kamu hampir mendorong aku pergi.”

“Iya.”

“Aku lihat kamu salah.”

Aku menunduk.

“Dan aku juga salah.”

Hujan memukul kaca.

Aku berkata, “Kalau suatu hari kamu lihat semuanya…”

Kalimat berhenti.

Celine menunggu.

Aku memaksa.

“…dan jijik?”

Kata itu akhirnya keluar.

Seluruh tubuhku seperti kembali ke kelas lama.

Selina.

Tatapan.

Semua tawa.

Aku menatap meja.

Tidak berani mengangkat kepala.

Celine tidak bicara.

Detik terasa panjang.

Aku akhirnya mengangkat wajah.

Menunggu.

Itu.

Tatapan itu.

Tapi Celine menangis.

Bukan jijik.

Bukan takut.

Dia hanya menangis.

“Aku benci kamu nunggu ekspresi itu dari aku,” katanya.

Suaranya pecah.

Dadaku sakit.

“Aku nggak tahu cara berhenti.”

Celine mengangguk.

“Aku tahu.”

Aku menatapnya.

Dia masih menjaga jarak.

“Kalau aku mau pergi,” katanya, “biar aku yang memutuskan.”

Air mata jatuh.

“Jangan putuskan sendiri.”

Kalimat itu.

Terakhir.

Bukan perintah.

Pilihan.

Aku tertawa sambil menangis.

Aneh.

Aku jarang menangis di depan orang.

Sekarang tidak bisa berhenti.

Celine membuka tangan sedikit.

Tidak maju.

Aku yang bergerak.

Satu langkah.

Dua.

Lalu memeluknya.

Keras.

Lebih keras daripada sebelumnya.

Wajahku di bahunya.

Tangannya melingkar.

Aku menangis.

Benar-benar.

Tidak bagus.

Tidak tenang.

Celine tidak bilang jangan menangis.

Tidak bilang semuanya selesai.

Dia cuma memegang.

Beberapa menit.

Mungkin lebih.

Aku berkata di bahunya, “Aku capek.”

“Aku tahu.”

“Aku takut.”

“Aku tahu.”

“Aku sayang kamu.”

Kalimat keluar sebelum sempat kupikir.

Celine membeku.

Aku juga.

Sial.

Aku hampir mundur.

Tangannya justru mengerat.

“Bilang lagi,” bisiknya.

“Jangan.”

“Alfa.”

Aku tertawa kecil di antara napas kacau.

“Aku sayang kamu.”

Celine menangis lebih keras.

“Kenapa kamu yang nangis?”

“Diam.”

Aku memeluk.

Untuk pertama kalinya, kata itu tidak terasa seperti senjata yang bisa dipakai orang lain.

Tidak terasa seperti permintaan yang memalukan.

Cuma kebenaran.

Setelah kami tenang, Celine menyeka wajah.

Aku melakukan hal sama.

“Kacau,” kataku.

“Banget.”

Aku melihatnya.

Tidak ada jijik.

Hanya mata merah.

“Aku masih mungkin takut lagi.”

“Pasti.”

Aku mengernyit.

“Optimis sekali.”

“Realistis.”

Aku hampir tertawa.

Celine melanjutkan, “Tapi nanti kalau takut, bilang.”

Aku mengangguk.

“Jangan bikin keputusan sendiri.”

“Iya.”

Aku mengambil tangannya.

Menciumnya.

Bukan karena panik.

Bukan untuk memastikan dia tetap tinggal.

Karena aku ingin.

Kiss itu pelan.

Celine membalas.

Ketika kami lepas, aku tidak mundur jauh.

Dahi kami bersentuhan.

Aku menarik napas.

“Sekarang aku malu.”

Celine tertawa.

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Berarti kamu balik normal.”

Aku memukul dahinya pelan dengan dahiku.

Dia tertawa lagi.

Hujan masih turun.

Dunia tidak berubah.

Trauma tidak hilang.

Aku tetap Alfa.

Tapi ada satu gambar lama yang akhirnya punya lawan.

Tatapan jijik itu masih ada di memori.

Sekarang ada tatapan lain.

Celine menangis karena aku akhirnya membiarkan dia melihat semuanya.

Dan dia tetap di sini. Setelah Celine pulang malam itu, aku tidak langsung tidur.

Aku duduk di dapur gelap.

Mbah turun mengambil air.

Melihatku.

“Kamu habis nangis?”

Aku menatap.

“Mbah kenapa langsung tahu?”

“Wajahmu kayak habis kehujanan padahal di dalam.”

Aku menghela napas.

Beliau duduk.

“Aku bilang ke Celine aku sayang.”

Mbah diam dua detik.

Lalu mengangguk.

“Bagus.”

“Cuma bagus?”

“Mau saya kasih sertifikat?”

Aku tertawa kecil.

Beliau menepuk lututku.

“Takut?”

“Hm.”

“Masih?”

“Hm.”

Mbah mengambil gelas.

“Ya bagus.”

Aku menatap.

“Kenapa?”

“Berarti kamu ngerti sayang itu penting.”

Aku tidak menjawab.

Mbah berkata, “Berani bukan kalau nggak takut.”

Aku tahu kelanjutannya.

Tetap jalan.

Klise.

Tapi kadang klise tetap benar.

Besoknya aku bertemu Celine di kampus.

Dia berjalan ke arahku.

Biasanya setelah malam emosional seperti itu aku akan malu setengah mati.

Aku memang malu.

Tapi tidak kabur.

Celine berhenti di depan.

“Pagi.”

“Pagi.”

Dia tersenyum kecil.

Aku mengulurkan tangan.

Dia menggenggam.

Tidak ada pembicaraan soal semalam.

Kami berjalan.

Beberapa meter kemudian Celine berkata, “Aku juga.”

Aku menatap.

“Apa?”

Dia melihat lurus ke depan.

“Sayang kamu.”

Sekarang giliranku diam.

Celine tertawa.

“Sekarang siapa yang rusak?”

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Diam.”

Dia tertawa lagi.

Di kantin, Dimas melihat kami.

“Lu kenapa mukanya?”

“Enggak.”

Celine langsung berkata, “Dia confess.”

Aku hampir tersedak.

“CELINE.”

Dimas menatapku.

Kemudian tersenyum.

“Bagus.”

Aku menunjuk.

“Kenapa semua orang cuma bilang bagus?”

“Lu mau parade?”

Fikri datang dari belakang.

“PARADE APA?”

Aku berdiri.

“Pergi.”

Terlambat.

Hari itu seluruh circle tahu dalam dua puluh menit.

Aku kesal.

Tapi tidak menyesal.

Itu perbedaan besar.

Malam berikutnya, saat Celine hendak pulang dari toko, dia berhenti di pintu.

“Fa.”

“Hm?”

“Lihat aku.”

Aku melihat.

“Masih ada?”

Aku tahu maksudnya.

Tatapan takut.

Aku menarik napas.

“Ada sedikit.”

Dia mengangguk.

“Gak apa.”

Aku mendekat.

“Mungkin lama hilangnya.”

“Gak apa.”

Aku mengangguk.

Kemudian mencium dahinya.

“Besok?”

“Datang.”

Bagus.

Aku tidak butuh kemenangan besar setiap hari.

Kadang cukup satu hari lagi tanpa kabur.

Besok malam, aku berdiri di depan cermin kamar.

Wajahku sama seperti biasa.

Mata sedikit bengkak.

Poni masih berantakan.

Tidak ada perubahan besar.

Tapi ada satu hal yang berbeda.

Aku sudah mengatakan sesuatu yang selama bertahun-tahun kupikir terlalu berbahaya untuk diucapkan.

Aku sayang kamu.

Dulu kalimat itu terasa seperti menyerahkan senjata.

Sekarang terasa seperti membuka pintu.

Masih rentan.

Masih bisa menyakitkan.

Tapi bukan kelemahan.

Aku membuka chat Celine.

Alfa

Udah tidur?

Celine

Belum.

Aku mengetik cukup lama.

Alfa

Tadi aku takut kamu bakal lihat aku beda setelah semuanya.

Balasan tidak langsung datang.

Lalu:

Celine

Aku memang lihat kamu beda.

Dadaku langsung jatuh.

Pesan kedua muncul.

Celine

Lebih lengkap.

Aku menatap layar.

Tertawa kecil.

Alfa

Jahat.

Celine

Jujur.

Aku merebahkan diri.

Untuk pertama kalinya, “dilihat sepenuhnya” tidak terasa seperti ancaman.

Mungkin itu inti malam tadi.

Bukan Celine membuktikan aku selalu baik.

Dia justru melihat aku tidak selalu baik.

Dan tetap memilih tinggal.

Aku menutup mata.

Tatapan lama masih ada.

Tapi sekarang ketika muncul, ada jawaban baru.

Bukan pidato.

Bukan logika.

Wajah Celine yang menangis dan tetap mendekat.

Itu cukup untuk malam ini.

Aku tahu rasa takut itu mungkin kembali besok. Tapi sekarang aku punya pilihan selain mempercayainya. Dan untuk malam ini, aku memilih Celine. Dan itu cukup sekarang.