← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Thirty Three

Aku Mau Membantumu

POV: Celine

Kesalahan terbesar sering tidak terasa seperti kesalahan saat kita mulai melakukannya.

Milikku dimulai dari satu pesan Selina.

Selina

Celine, maaf ganggu. Bisa bicara? Soal Alfa.

Aku membaca pesan itu saat menunggu kelas.

Insting pertamaku: tidak.

Lalu pesan kedua datang.

Selina

Aku nggak mau bikin dia nggak nyaman lagi. Aku cuma pengin minta maaf dengan benar.

Aku membalas.

Celine

Kamu mau apa?

Selina menjelaskan. Dia tidak ingin memaksa bertemu. Dia ingin menyerahkan surat.

Dan ada satu perempuan lain dari masa SMP Alfa yang sekarang satu komunitas dengannya.

Marsha.

Orang yang dulu melakukan taruhan.

Selina bilang Marsha juga menyesal.

Aku seharusnya berhenti.

Seharusnya bilang: bicara dengan Alfa kalau dia bersedia.

Tapi pikiranku mulai menyusun solusi.

Kalau Alfa mendengar permintaan maaf.

Kalau mereka mengakui kesalahan.

Kalau dia tahu bukan dirinya yang menjijikkan.

Mungkin luka itu bisa sedikit menutup.

Aku tahu trauma tidak selesai dengan satu pertemuan.

Tapi aku berpikir closure bisa membantu.

Aku bertemu Selina di kafe.

Tanpa Alfa tahu.

Selina membawa amplop.

“Aku dulu nggak ngerti ekspresiku bakal ngaruh sejauh itu.”

Aku menahan marah.

“Dia sudah punya pengalaman buruk sebelum kamu.”

Selina menunduk.

“Aku tahu sekarang.”

“Dari mana?”

“Marsha.”

Selina berkata dia baru tahu cerita taruhan setelah lulus.

“Aku cuma pengin bilang aku nggak pernah jijik sama dia.”

Dadaku mengencang.

Kalimat yang mungkin perlu Alfa dengar.

“Aku kaget,” lanjut Selina. “Ekspresiku buruk. Tapi bukan jijik.”

Aku membawa surat pulang.

Tidak langsung memberi.

Dua hari.

Tiga.

Aku menyimpannya di tas.

Setiap kali melihat Alfa, aku ragu.

Dia sedang lebih baik.

Kami nyaman.

Apakah perlu membuka lagi?

Lalu Marsha menghubungiku.

Marsha

Aku dengar kamu pacarnya Alfa.

Aku tidak membalas.

Marsha

Aku mau minta maaf langsung kalau dia bersedia.

Kalau dia bersedia.

Seharusnya aku bertanya.

Sederhana.

Tapi aku takut Alfa langsung menolak karena menghindar.

Dan di sinilah aku membuat pembenaran.

Mungkin kalau tempatnya aman.

Mungkin kalau aku ada.

Mungkin kalau Selina ada.

Mungkin kalau Alfa bisa melihat mereka benar-benar menyesal.

Aku bicara dengan Nadine tanpa detail.

“Kalau orang yang pernah nyakitin seseorang mau minta maaf, menurutmu bagus dipertemukan?”

Nadine bertanya, “Orang yang disakiti tahu?”

Aku diam.

Dia langsung mengernyit.

“Kei.”

“Aku belum ngapa-ngapain.”

“Jangan.”

“Aku cuma mikir.”

“Jangan mikir ke arah situ.”

Aku tersinggung.

“Aku cuma mau bantu.”

“Dia minta?”

Aku diam.

Nadine menghela napas.

“Kamu punya kebiasaan kalau sayang orang, kamu ambil alih.”

Kalimat itu menusuk.

“Aku nggak ambil alih.”

“Belum.”

Aku melihat meja.

Nadine berkata lebih lembut, “Kalau dia nolak setelah kamu tanya, itu juga jawaban.”

Aku tahu.

Aku benar-benar tahu.

Tapi bagian diriku yang selalu ingin menyelesaikan masalah berkata: bagaimana kalau penolakan itu cuma takut?

Malamnya aku ke toko.

Alfa sedang membuat pastry.

Dia melihatku dan langsung mengulurkan tangan.

Aku menggenggam.

Natural.

Aman.

Rasa bersalah muncul.

“Kenapa?” tanyanya.

“Enggak.”

“Kamu bohong.”

Aku tertawa kecil.

“Capek.”

Setengah bohong.

Alfa mengambil satu pastry kecil.

“Coba.”

Aku menggigit.

“Enak.”

“Bener?”

“Iya.”

Dia terlihat puas.

Aku hampir mengeluarkan surat Selina.

Tidak.

Belum.

“Fa,” kataku.

“Hm?”

“Kalau ada orang dari masa lalu mau minta maaf…”

Tangannya berhenti.

Aku langsung tahu.

Wajahnya berubah.

“Siapa?”

“Hipotetis.”

“Celine.”

Aku menelan.

“Kalau ada?”

Alfa menatap adonan.

“Enggak tahu.”

“Kamu mau dengar?”

“Mungkin enggak.”

Jawaban itu seharusnya cukup.

Tapi aku bertanya lagi.

“Kalau mereka benar-benar nyesel?”

Alfa menatapku.

“Aku harus ngapain?”

“Enggak harus apa-apa.”

“Terus?”

Aku tidak punya jawaban bagus.

Dia kembali bekerja.

“Aku nggak pengin mikirin.”

“Oke.”

Aku mengatakan oke.

Tapi di kepalaku, aku belum melepaskan rencana.

Itulah kesalahanku.

Bukan karena aku tidak mendengar.

Aku mendengar.

Aku hanya menganggap aku tahu sesuatu yang lebih baik untuknya.

Dua hari kemudian Marsha mengirim pesan lagi.

Marsha

Aku cuma akan datang kalau kamu bilang aman.

Aku menatap layar lama.

Aku mengetik.

Celine

Jangan dulu.

Hampir kukirim.

Aku berhenti.

Menghapus.

Lalu menulis:

Celine

Aku akan cari waktu yang tenang. Jangan bicara sebelum aku kasih tanda.

Kirim.

Begitu pesan terkirim, dadaku tidak lega.

Justru berat.

Aku tahu Nadine benar.

Aku tahu Alfa sudah memberi jawaban.

Mungkin enggak.

Aku berdiri dan berjalan ke kamar.

Notebook biru ada di meja.

Aku membukanya.

Halaman-halaman awal penuh catatan kecil.

Dia balas pesan.

Dia menyimpan roti.

Dia bilang pacar.

Dia minta aku jangan pulang.

Semua kemajuan itu terjadi karena aku belajar menunggu.

Lalu kenapa sekarang aku merasa harus mendorong?

Aku menutup notebook.

Ponsel bergetar.

Alfa

Besok kamu datang?

Aku membaca.

Celine

Datang.

Alfa

Bagus.

Satu kata.

Kepercayaan sederhana.

Aku hampir membatalkan semuanya.

Hampir.

Tapi aku meyakinkan diri bahwa aku hanya ingin memberinya kesempatan closure.

Bukan memaksa.

Dia masih bisa pergi.

Dia masih bisa bilang tidak.

Aku akan ada.

Aku akan melindungi.

Pembenaran terasa masuk akal kalau kita sangat ingin mempercayainya.

Besok sore, aku menghubungi Selina.

Celine

Sabtu. Kafe dekat kampus. Aku bawa Alfa.

Selina membalas:

Selina

Dia tahu?

Aku menatap pertanyaan itu.

Lama.

Celine

Belum. Aku akan jelasin.

Aku menaruh ponsel.

Tanganku dingin.

Ada suara kecil di kepala.

Jangan.

Aku mengabaikan.

Karena aku mencintai Alfa.

Dan saat itu, aku belum memahami bahwa cinta bisa berubah menjadi bentuk kesombongan kalau aku mulai percaya bahwa perasaanku memberiku hak menentukan apa yang terbaik untuknya.

Sabtu pagi, aku bangun lebih cepat.

Pesan Alfa sudah ada.

Alfa

Jam berapa?

Aku menatap.

Kami memang punya rencana makan siang.

Dia tidak tahu ada dua orang lain yang akan menunggu.

Celine

Jam satu.

Alfa

Oke.

Aku hampir mengetik semuanya.

Jempolku berhenti.

Kemudian Naya mengetuk pintu kamar.

“Kak.”

“Hm?”

“Kamu kenapa?”

“Enggak.”

Dia masuk.

“Wajahmu kayak mau ujian.”

Aku menaruh ponsel.

Naya melihat notebook biru.

“Berantem sama Kak Alfa?”

“Belum.”

Kata itu keluar salah.

Naya langsung curiga.

“Belum?”

Aku menghela napas.

Akhirnya aku menceritakan versi paling singkat.

Ada orang masa lalu Alfa yang ingin minta maaf.

Aku mengatur pertemuan.

Naya diam.

Aku menunggu dia mendukung.

Dia malah berkata, “Kak Alfa tahu?”

Pertanyaan yang sama.

“Belum.”

Naya mengerutkan dahi.

“Kenapa?”

“Kalau aku bilang, dia mungkin nggak mau datang.”

“Terus?”

Aku menatapnya.

Naya, yang biasanya paling berisik, berkata pelan, “Kalau dia nggak mau datang, bukannya berarti dia nggak mau?”

Aku tidak punya jawaban.

Dia melanjutkan, “Waktu aku di panti, aku paling benci kalau orang dewasa bilang sesuatu bagus buat aku tanpa tanya aku.”

Kalimat itu menghantam.

“Naya…”

“Aku tahu Kakak mau bantu.”

Dia duduk di ujung kasur.

“Tapi mungkin jangan bikin surprise buat hal yang bikin orang sedih.”

Aku menutup mata.

Dua orang sudah memperingatkan.

Nadine.

Naya.

Dan Alfa sendiri sudah berkata mungkin tidak mau.

Kenapa aku masih bergerak?

Karena ada satu bagian diriku yang takut kalau aku tidak melakukan apa-apa, aku gagal mencintainya.

Itu pola lama.

Waktu Naya kehilangan orang tuanya, aku tidak bisa memperbaiki apa pun.

Aku hanya bisa datang.

Menunggu.

Melihat dia sedih.

Aku membenci ketidakberdayaan itu.

Mungkin sejak saat itu aku belajar bergerak terus agar tidak merasa tidak berguna.

Aku melihat ponsel.

Masih bisa batal.

Aku membuka chat Selina.

Sebelum mengetik, pesan masuk dari Alfa.

Alfa

Aku bawa roti yang kamu suka.

Dadaku sakit.

Aku mengetik kepada Selina.

Celine

Kita perlu—

Berhenti.

Aku menghapus.

Entah kenapa.

Mungkin karena aku masih ingin percaya rencanaku bisa berhasil.

Aku membenci bagian ini saat mengingatnya nanti.

Momen ketika aku sudah tahu aku salah, tapi tetap berjalan karena mengakui kesalahan terasa lebih sulit daripada melanjutkan.

Aku mengambil tas.

Naya berdiri di pintu.

“Kak.”

“Hm?”

“Jangan bikin dia merasa dijebak.”

Aku menatap sepupuku.

Kemudian mengangguk.

Tapi anggukan itu tidak cukup.

Karena satu jam kemudian, aku tetap pergi ke kafe.

Dan di meja pojok, Selina sudah menunggu bersama seorang perempuan yang belum pernah kutemui.

Marsha.

Aku melihat mereka.

Lalu melihat pintu.

Alfa akan datang sebentar lagi.

Untuk pertama kalinya sejak mengejarnya, aku berharap dia terlambat.