← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Forty Two

Foto Baru

POV: Alfa

Panti Pelita selalu bau campuran sabun lantai, kertas, dan makanan.

Hari ini ada tambahan aroma cinnamon roll.

Aku membawa empat kotak.

Celine membawa tiga karena katanya empat tidak cukup.

Dia benar.

Begitu masuk, anak-anak menyerbu.

“Kak Roti!”

Aku menghela napas.

“Nama aku Alfa.”

Tidak ada yang peduli.

Seorang anak kecil menunjuk Celine.

“Kak, ini pacarnya?”

Aku berhenti.

Dulu mungkin aku akan pura-pura tidak dengar.

Atau menyangkal karena malu.

Sekarang aku melihat Celine.

Dia menunggu.

Tidak menjawab untukku.

“Iya,” kataku.

Anak-anak langsung bersorak.

Celine diam.

Aku melirik.

Matanya berkaca.

“Jangan nangis.”

“Aku nggak.”

“Bohong.”

Anak-anak menarik kami masuk.

Naya sudah ada di dalam.

Dia memegang ponsel.

“Ayo foto!”

Aku langsung menggeleng.

“Enggak.”

Celine tertawa.

“Katanya bikin foto baru.”

Aku menatapnya.

Dia ingat.

Naya mengangkat ponsel.

“Ayo.”

Aku menyerah.

Kami berdiri bersama anak-anak.

Celine di sampingku.

Aku hampir otomatis menyembunyikan wajah dengan poni.

Lalu berhenti.

Aku mengangkat kepala sedikit.

Klik.

Foto diambil.

Naya melihat hasil.

“Bagus.”

Aku tidak minta lihat.

Celine melihat dan tersenyum.

“Bagus.”

Aku percaya.

Siang hari kami membagikan kue.

Aku memperbaiki satu mobil mainan.

Celine membantu anak-anak menghias donut.

Hasilnya mengerikan.

Aku berkata begitu.

Dia melempar sprinkle.

Satu anak tertawa sampai jatuh duduk.

Aku juga tertawa.

Kemudian suara familiar datang dari pintu.

“Alfa!”

Aku menoleh.

Mbah Ratri masuk.

Di belakangnya Bu Siska.

Aku berdiri.

“Mbah kenapa ikut?”

“Naik mobil Bu Siska.”

Bu Siska melambaikan tangan.

Aku menutup mata.

“Siapa yang kasih tahu?”

“Naya,” jawab tiga orang bersamaan.

Pengkhianatan kolektif.

Mbah duduk.

Anak-anak langsung mengerubungi.

Beliau senang.

Terlalu senang.

Kemudian seorang anak berkata, “Mbah, Kak Celine pacarnya Kak Alfa!”

Mbah mengangguk.

“Tahu.”

“Kalau nanti nikah?”

Aku membeku.

Celine menutup mulut.

Mbah menjawab, “Nah itu saya tunggu.”

“Mbah.”

Celine mulai tertawa.

Bu Siska ikut.

Aku menunjuk Celine.

“Jangan.”

Dia berkata, “Aku sih siap, Mbah.”

“CELINE.”

Anak-anak bersorak.

Aku ingin masuk ke kotak kue.

Mbah tertawa sampai batuk.

Aku menyerahkan air.

“Jangan terlalu semangat.”

“Makanya cepat.”

Aku menyerah.

Sore kami pulang.

Di mobil, Celine masih tersenyum.

“Calon suami.”

“Turun.”

“Kita lagi jalan.”

“Makanya nanti.”

Dia tertawa.

Aku memandang keluar.

Anehnya, kata-kata itu tidak membuatku takut seperti seharusnya.

Bukan karena aku siap menikah sekarang.

Jelas tidak.

Tapi masa depan bersama Celine tidak terasa absurd lagi.

Malamnya, Ratri Bakehouse sudah tutup.

Mbah tidur.

Celine masih di dapur.

Kami mencoba menu pastry baru.

Gagal.

Filling bocor.

Bentuk jelek.

Celine mengambil satu.

“Jelek.”

“Makanya gagal.”

Dia menggigit.

“Enak.”

“Kamu selalu bilang begitu.”

“Karena buatan pacarku.”

Aku menatap.

Dia mengangkat alis.

“Apa?”

Aku mendekat.

Mencium dia sebentar.

Celine membeku setengah detik.

Kemudian tersenyum.

“Sekali lagi.”

“Serakah.”

“Iya.”

Aku mencium lagi.

Lebih lama sedikit.

Tidak ada panik.

Tidak ada perasaan harus lari.

Setelahnya kami duduk di lantai.

Celine bersandar di bahuku.

Tanganku di pinggangnya.

Natural.

Di meja ada satu roti cacat.

Aku membaginya dua.

Celine mengambil bagian lebih besar.

“Curang.”

“Pacar.”

“Itu bukan alasan.”

“Buat aku iya.”

Aku tertawa.

Ponselnya berbunyi.

Naya

Foto tadi aku kirim.

Celine membuka.

Foto kami di panti.

Aku melihat.

Wajahku terlihat jelas.

Tidak sepenuhnya.

Poni masih ada.

Kacamata masih ada.

Hoodie juga.

Tapi aku tidak menunduk.

Celine di samping.

Anak-anak di depan.

Aku tidak terlihat seperti orang lain.

Tidak ada makeover.

Tidak ada versi baru.

Cuma aku.

Aku menyukai foto itu.

“Bagus,” kataku.

Celine tersenyum.

“Katanya nggak mau lihat.”

“Sekarang mau.”

Dia menyimpan foto.

Aku mengambil ponselnya.

“Kirim ke aku.”

Celine menatap.

“Serius?”

“Hm.”

Dia mengirim.

Ponselku berbunyi.

Celine

Foto baru.

Aku tersenyum.

Alfa

Bagus.

Dia menatapku.

“Kamu jawab padahal aku duduk di sini.”

“Format.”

“Bodoh.”

Aku meletakkan ponsel.

Celine kembali menyandar.

Malam sunyi.

Tidak ada klimaks besar.

Tidak ada janji selamanya.

Aku tidak membutuhkan itu.

Dulu aku pikir cara paling aman hidup adalah tidak berharap.

Tidak mencintai.

Tidak memberi siapa pun kesempatan menyakitiku.

Sekarang aku tahu itu memang aman.

Tapi sempit.

Celine tidak menyembuhkanku.

Dia pernah menyakitiku juga.

Aku pernah menyakitinya.

Yang berubah adalah aku berhenti menganggap rasa sakit sebagai bukti bahwa cinta pasti salah.

Aku belajar bertanya.

Marah.

Meminta.

Menunggu.

Kembali.

Dan yang paling sulit:

membiarkan seseorang memilihku.

Celine menguap.

“Ngantuk?”

“Hm.”

“Pulang.”

“Lima menit.”

Aku melihat jam.

“Lima.”

Dia merapat.

Tanganku mencari tangannya.

Jari kami bertaut.

Aku menatap dapur kecil yang sudah menjadi tempat begitu banyak hal.

First kiss.

Pertengkaran.

Tangis.

Roti gagal.

Pelukan.

Rumah.

Aku menunduk dan mencium kening Celine.

Dia tidak membuka mata.

“Fa.”

“Hm?”

“Besok ketemu?”

Dulu pertanyaan itu mungkin membuatku mencari jalan keluar.

Sekarang jawabannya mudah.

“Iya.”

Celine tersenyum.

Aku menggenggam tangannya sedikit lebih erat.

Tidak bersembunyi.

Tidak melepas.

Besok datang.

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar menantikannya. Seminggu setelah foto itu, Mbah mencetaknya.

Aku menemukan satu frame kecil di dekat kasir.

Aku menatap.

“Mbah.”

“Hm?”

“Kenapa ini di sini?”

“Bagus.”

“Itu bukan jawaban.”

“Buat pelanggan lihat cucuku punya pacar.”

Aku memijat pelipis.

Bu Siska masuk tepat waktu untuk membuat semuanya lebih buruk.

“Oh, fotonya dipajang.”

Aku melihat beliau.

“Ibu tahu?”

“Saya yang cetak.”

Tentu.

Celine datang lima menit kemudian.

Melihat frame.

Wajahnya langsung bahagia.

“Bagus.”

Aku dikelilingi pengkhianat.

Tapi aku tidak memindahkan foto.

Hari-hari berikutnya kembali sederhana.

Kuliah.

Toko.

Panti tiap minggu.

Celine tidak datang setiap hari.

Kadang sibuk.

Aku juga.

Dan itu bagus.

Hubungan kami tidak perlu menjadi seluruh hidup.

Tapi ia punya tempat.

Suatu sore Celine tidak datang karena ujian.

Aku menyimpan satu roti cacat.

Besok dia datang.

Melihat kotak.

“Ini?”

“Jatah.”

Dia tersenyum.

“Masih?”

“Hm.”

Dia membagi dua dan menyerahkan separuh padaku.

Kami makan di belakang kasir.

Mbah melihat.

“Romantisnya aneh.”

Aku menjawab, “Mbah yang ngajarin jangan buang makanan.”

“Bukan berarti pacaran pakai roti gagal.”

Celine tertawa.

Aku juga.

Malamnya kami berjalan pulang sebentar sebelum Celine naik mobil.

Dia bertanya, “Kamu masih takut wanita cantik?”

Aku menatap.

“Masih.”

Dia berhenti.

“Serius?”

“Kalau datang tiba-tiba.”

Celine memukul lenganku.

Aku tertawa.

Kemudian serius.

“Enggak kayak dulu.”

Dia tersenyum.

“Bagus.”

“Aku masih takut hal lain.”

“Apa?”

“Kehilangan.”

Celine tidak menjawab dengan janji selamanya.

Dia cuma menggenggam tanganku.

“Aku juga.”

Aneh.

Dulu aku akan menganggap itu jawaban buruk.

Sekarang aku mengerti.

Dua orang bisa takut kehilangan dan tetap memilih hidup sekarang.

Kami sampai mobil.

Celine membuka pintu.

“Besok?”

“Iya.”

“Janji?”

Aku berpikir.

Dulu kata janji terasa berat.

Aku tersenyum.

“Selama nggak ada kiamat.”

“Alfa.”

“Datang.”

Dia tersenyum.

“Good.”

Sebelum masuk mobil, dia menarik ujung hoodie.

Aku mendekat.

Kiss singkat.

Tidak minta.

Sudah menjadi kebiasaan aman kami.

Dia masuk.

Aku melambaikan tangan.

Mobil pergi.

Aku berjalan kembali ke toko.

Lampu depan masih menyala.

Mbah menunggu.

Rumah.

Dulu rumah cuma tempat yang kutahu tidak akan menolakku.

Sekarang pengertianku berubah.

Rumah bisa berupa orang.

Bukan karena orang itu tidak pernah salah.

Tapi karena ketika salah, kalian masih bisa bicara, marah, meminta maaf, dan memilih kembali.

Aku membuka pintu.

Lonceng berbunyi.

Mbah berkata, “Lama.”

“Celine.”

“Oh.”

Seolah itu menjelaskan semuanya.

Mungkin memang.

Aku masuk.

Besok akan datang.

Mungkin ada masalah baru.

Mungkin aku takut lagi.

Tidak apa.

Sekarang aku tahu rasa takut bukan perintah untuk lari.

Kadang ia cuma suara.

Dan aku boleh memilih suara lain.

Suara Celine tertawa.

Mbah mengomel.

Anak-anak memanggil Kak Roti.

Dan suaraku sendiri yang akhirnya bisa berkata:

Aku mau tinggal.

Di meja kasir, frame foto baru tetap berdiri.

Aku tidak memindahkannya.

Mungkin besok Bu Siska akan mengejek lagi.

Tidak masalah.

Untuk pertama kalinya, terlihat bukan sesuatu yang ingin kuhindari.

Aku punya tempat di foto itu.

Dan aku tidak keberatan orang tahu. Aku tersenyum.