Chapter Ten
Jangan Putuskan Sendiri
POV: Celine
Alfa mulai membiarkanku duduk di dekatnya.
Itu tidak berarti dia berhenti aneh.
Hari ini, misalnya, dia sudah lima menit menatap satu pesan dariku tanpa membalas padahal aku duduk dua meja di depannya.
Aku mengetik lagi.
Celine
Kalau nggak mau jawab, kedip dua kali.
Dari kejauhan, Alfa mengangkat kepala dan menatapku.
Aku mengangkat dua jari.
Dia memejamkan mata lama sekali.
Tara melihat dari sebelahku. “Kalian pacaran jarak delapan meter?”
“Belum.”
“Kenapa ada ‘belum’?”
Aku mengabaikannya.
Nadine menutup laptop. “Celine, kasih dia napas.”
“Aku kasih.”
“Kamu kirim lima pesan dalam tujuh menit.”
“Itu napas digital.”
Tara tertawa.
Beberapa saat kemudian, Alfa berdiri dari meja bersama Dimas. Mereka melewati kami menuju pintu.
Aku tidak memanggil.
Alfa berjalan tiga langkah, lalu menoleh.
“Celine.”
Aku langsung tersenyum. “Hm?”
“Besok jadi ke toko?”
Aku berhenti sepersekian detik.
Tara juga berhenti bernapas.
“Jadi,” jawabku.
Alfa mengangguk lalu pergi.
Begitu pintu kantin menutup, Tara mencengkeram lenganku.
“Dia nanya duluan.”
“Aku dengar.”
“DIA NANYA DULUAN.”
“Aku masih punya telinga.”
Nadine tersenyum kecil. “Progress.”
Aku menatap pintu tempat Alfa menghilang.
Iya.
Progress.
Tapi semakin aku melihat perubahan kecil itu, semakin aku takut merusaknya karena terlalu bersemangat.
Sore berikutnya aku datang ke Ratri Bakehouse setelah kelas.
Mbah Ratri sedang duduk di depan sambil memijat lutut.
“Mbah sakit?” tanyaku.
“Biasa. Umur.”
Aku langsung jongkok. “Sudah minum obat?”
“Sudah.”
Dari dapur, Alfa muncul membawa loyang.
“Mbah jangan duduk terlalu lama di depan.”
“Ini toko saya.”
“Makanya jangan bikin pemiliknya masuk rumah sakit.”
Mbah mendecakkan lidah. “Cerewet.”
Aku menatap Alfa.
Dia menatapku balik. “Apa?”
“Kamu mirip Mbah.”
Dua orang itu menjawab bersamaan.
“Enggak.”
Aku tertawa.
Mbah akhirnya masuk ke rumah setelah Alfa mengancam akan menutup toko lebih cepat. Aku membantu menjaga kasir sementara Alfa bekerja di belakang.
Tugas itu ternyata jauh lebih serius daripada perkiraanku.
Bu Siska datang membawa wadah plastik dan langsung meletakkannya di meja.
“Celine, tolong bilang Alfa nanti kalau roti sobeknya dua.”
Aku melihat wadah itu. “Bu, ini apa?”
“Rendang.”
“Kenapa dikasih ke Alfa?”
“Karena dia kemarin benerin printer saya.”
Dari belakang, Alfa menyahut, “Bu, nggak usah balas apa-apa.”
Bu Siska tidak menoleh. “Makanya saya nggak kasih apa-apa. Ini rendang.”
Aku menggigit bibir supaya tidak tertawa.
Alfa muncul dari dapur dengan ekspresi lelah. “Itu termasuk sesuatu.”
“Kalau mau debat, rendangnya saya kasih Celine.”
Alfa langsung diam.
Aku menatap Bu Siska. “Saya menerima dengan terbuka.”
“Jangan,” kata Alfa.
Bu Siska tertawa puas, lalu berbisik kepadaku dengan volume yang tetap bisa didengar satu toko, “Dari kecil begitu. Disuruh terima kasih malah bingung.”
“Bu.”
“Iya, iya. Saya pulang.”
Setelah beliau pergi, aku melihat wadah rendang itu. “Kamu sering bantu tetangga?”
“Kadang.”
“Printer?”
“Kadang.”
“Motor Pak Yono?”
“Kadang.”
“Antar Bu Mina ke klinik?”
Alfa menoleh cepat. “Kamu tahu dari mana?”
“Bu Mina cerita.”
Dia menghela napas.
Aku tersenyum. “Banyak ‘kadang’-nya.”
“Lingkungan kecil.”
“Jadi semua orang saling bantu?”
“Kurang lebih.”
Aku memandangnya beberapa detik.
Alfa sadar. “Kenapa?”
“Enggak.”
“Celine.”
“Aku cuma lagi ngerti kenapa semua orang di sini sayang kamu.”
Dia berhenti bergerak.
Aku langsung melihat ke kasir lagi sebelum dia sempat membangun dinding.
“Total Bu Siska tadi belum dibayar, kan?”
“Sudah. Dia transfer pagi.”
“Oh.”
Kami kembali bekerja. Tapi dari sudut mata, aku melihat Alfa menyentuh ujung telinganya yang memerah.
Aku berpura-pura tidak lihat.
Untuk sekali ini, aku cukup baik.
Menjelang petang, toko sepi.
Aku berdiri di dekat meja kerja sambil memperhatikan Alfa memberi lapisan telur pada pastry.
“Fa.”
“Hm?”
“Kenapa kamu selalu pulang cepat habis kelas?”
“Bantu toko.”
“Enggak pernah nongkrong?”
“Kadang.”
“Sama Dimas?”
“Iya.”
“Fikri?”
“Kalau dia ikut sendiri.”
Aku tertawa.
Alfa menyusun pastry ke loyang.
“Kalau kamu?” tanyanya balik.
Aku agak terkejut.
“Aku apa?”
“Sering nongkrong?”
“Lumayan.”
“Pantes.”
Aku menyipitkan mata. “Pantes apa?”
“Kenal banyak orang.”
Aku bersandar ke meja. “Itu pujian?”
“Observasi.”
“Dari Alfa Pradipta, observasi sudah mendekati pujian.”
Dia mengabaikanku.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Seorang mahasiswa yang kukenal dari fakultasku masuk bersama dua temannya.
“Celine?”
Aku menoleh. “Eh, Rio.”
Rio tersenyum, lalu melihat Alfa di belakang meja.
“Oh. Jadi bener?”
Aku langsung tahu ke mana percakapan ini akan pergi.
“Bener apa?”
“Lu lagi deket sama dia?”
Nada suaranya tidak jahat. Lebih ke penasaran.
Tetap saja, aku melihat tangan Alfa berhenti sepersekian detik.
Aku menjawab santai. “Aku lagi kenal Alfa.”
Rio mengangguk, lalu terkekeh. “Gue kira lu cuma iseng. Soalnya beda banget sama tipe yang biasanya ngejar lu.”
Aku tidak suka kalimat itu.
Sebelum aku membalas, Alfa sudah kembali bekerja.
Rio membeli roti, lalu pergi setelah obrolan singkat yang tidak penting.
Begitu pintu tertutup, suasana berubah.
Alfa tidak bicara.
Aku menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
“Alfa.”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
Jawaban terlalu cepat.
Aku mendekat satu langkah, lalu berhenti sebelum melewati jarak yang biasanya dia nyaman.
“Tadi kamu dengar?”
“Dengar apa?”
“Omongan Rio.”
Alfa mengangkat bahu. “Biasa.”
“Biasa bukan berarti nggak ganggu.”
Dia akhirnya menatapku.
“Memang masuk akal.”
“Apa yang masuk akal?”
“Kamu nanti bosan.”
Aku diam.
Alfa mengatakannya begitu datar sampai aku hampir tidak menangkap betapa seriusnya dia.
“Kenapa kamu pikir begitu?”
Dia menaruh kuas pastry.
“Kamu punya banyak teman. Banyak orang yang lebih… ya, cocok.”
“Cocok menurut siapa?”
Alfa tidak menjawab.
Aku mulai kesal.
Bukan kepadanya sepenuhnya.
Lebih kepada cara dia mengatakan semua itu seperti keputusan sudah dibuat dan aku hanya belum diberi tahu.
“Fa.”
“Hm?”
“Jangan putuskan sendiri.”
Dia mengernyit.
“Kalau aku bosan, biar aku yang bilang aku bosan.”
“Aku cuma—”
“Kalau aku mau berhenti datang, biar aku yang memutuskan berhenti datang.”
Alfa terdiam.
Aku menurunkan suara.
“Jangan tentukan dari sekarang kalau aku pasti pergi.”
Ada sesuatu berubah di wajahnya.
Sedikit saja.
Aku menyesal karena mungkin terdengar terlalu keras.
Tapi aku juga tidak mau menarik kata-kataku.
Alfa melihat loyang di depannya.
“Kenapa kamu peduli banget?”
Pertanyaan itu hampir sama dengan yang dia tanyakan beberapa hari lalu.
Kenapa aku?
Aku tahu jawabannya.
Aku juga tahu belum waktunya mengatakan semuanya.
Jadi aku memilih bagian yang aman.
“Karena aku suka ada di sini.”
Alfa menatapku.
“Di toko?”
Aku tersenyum tipis. “Salah satunya.”
Telinganya memerah.
Akhirnya.
Aku hampir merasa menang, lalu mengingat percakapan serius kami dan menahan diri untuk tidak menggodanya.
Alfa mengambil kuas lagi.
“Besok datang?” tanyanya.
Aku tidak langsung menjawab.
Kali ini aku sengaja membiarkan dia menunggu satu detik.
“Kalau boleh.”
Alfa mengangguk.
“Boleh.”
Dari arah pintu rumah terdengar suara Mbah.
“Saya dengar.”
Alfa menutup mata. “Mbah belum tidur?”
“Belum tuli juga.”
Aku menahan tawa.
Mbah muncul dengan tongkat kecil yang kadang dipakainya kalau lutut sedang rewel. “Besok datang, Celine. Biar ada orang waras di toko.”
“Aku juga ada,” kata Alfa.
Mbah menatap cucunya. “Saya tahu.”
“Itu terdengar menghina.”
“Kalau merasa, berarti sadar.”
Aku akhirnya tertawa. Alfa memandangku seperti korban pengkhianatan.
“Kamu jangan kompak sama Mbah.”
“Aku nggak bisa janji.”
“Kenapa semua orang di rumah ini melawanku?”
Mbah langsung menjawab, “Karena kamu gampang digoda.”
Alfa mengambil loyang dan pergi ke dapur.
Aku masih tersenyum ketika suara peralatannya terdengar dari belakang.
Tadi percakapan kami sempat berat. Tapi mungkin justru karena itu, tawa kecil setelahnya terasa lebih penting. Tidak menghapus apa yang dia takutkan. Hanya membuat ruang di antara ketakutan itu sedikit lebih hangat.
Aku tersenyum.
Bukan kemenangan besar.
Tidak ada pengakuan.
Tidak ada sentuhan.
Hanya satu kata.
Tapi untuk seseorang yang beberapa hari lalu selalu mencari jalan keluar setiap kali aku muncul, satu kata itu terasa seperti pintu yang dibuka sedikit lebih lebar. Dan aku tahu lebih baik daripada mendorongnya terlalu cepat.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri reading
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru