Chapter Thirty Two
Foto Lama
POV: Alfa
Tiga hari setelah bertemu Naya, aku datang ke rumah Celine untuk pertama kalinya.
Naya memaksaku karena ingin menunjukkan album lama Panti Pelita.
Kesalahan.
Rumah Celine lebih besar daripada rumahku. Tidak berlebihan, tapi cukup membuatku sadar dunia kami berbeda.
Ibunya menyambut ramah.
Aku hampir kabur dua kali.
Celine menangkap ujung hoodie.
“Jangan.”
“Aku cuma lihat pintu.”
“Kamu ukur jarak kabur.”
“Fitnah.”
Naya muncul membawa album.
“Kak Alfa!”
Aku menyerah.
Kami duduk di ruang keluarga.
Album dibuka.
Foto anak-anak. Acara ulang tahun. Kegiatan sekolah.
Aku melihat diriku beberapa kali.
Lebih kurus.
Poni bahkan lebih parah.
Naya tertawa.
“Kak Alfa dulu kayak kriminal yang identitasnya disensor.”
“Terima kasih.”
“Serius, wajahnya nggak pernah jelas.”
Celine tertawa.
Aku menatapnya.
“Kamu bisa kenal?”
“Makanya butuh waktu.”
Naya membalik halaman.
Satu foto terlepas.
Celine langsung bergerak.
Terlambat.
Aku mengambil.
Foto yang sama, tapi bukan dari album.
Aku di belakang.
Di bagian depan ada Naya dan Celine.
Foto itu sudah agak kusam.
Di belakangnya ada tulisan tangan.
Sabtu. Kak Roti datang lagi.
Aku membaca.
Celine diam.
“Ini punyamu?”
“Iya.”
“Kamu simpan?”
“Iya.”
Naya melihat suasana dan untuk pertama kalinya punya insting bertahan hidup.
“Aku ambil minum.”
Dia kabur.
Aku memegang foto.
“Kenapa?”
Celine menarik napas.
“Karena waktu itu hari itu Naya lagi susah banget.”
Dia menjelaskan Naya hampir tidak mau makan seminggu.
Lalu aku datang membawa donut beruang.
“Jelek banget,” katanya.
“Aku baru belajar.”
“Memang jelek.”
“Terus?”
“Naya makan.”
Aku melihat foto.
“Cuma itu?”
“Buat kamu mungkin. Buat aku waktu itu besar.”
Celine berusia enam belas tahun. Naya kehilangan orang tuanya. Urusan wali belum selesai. Celine merasa tidak bisa melakukan apa-apa.
“Terus ada anak SMA yang bahkan nggak kenal kami, datang tiap minggu dan bikin dia punya sesuatu buat ditunggu.”
Aku tidak tahu harus melihat ke mana.
“Makanya kamu suka aku?”
Pertanyaan itu keluar.
“Awalnya aku kagum.”
Awalnya.
Kata itu masuk terlalu dalam.
“Terus kampus?”
“Aku kenal kamu.”
“Hm.”
“Alfa.”
“Aku cuma tanya.”
“Dan aku jawab.”
Celine bergeser menghadapku.
“Aku nggak jatuh cinta sama foto.”
Aku hampir tersenyum.
“Orang yang kulihat di panti bikin aku ingin tahu siapa kamu. Orang yang bikin aku jatuh cinta itu yang selalu kabur dari aku, nyebelin, pelit donut, takut bilang cemburu, dan sekarang suka nyium pipi tanpa peringatan.”
Wajahku panas.
“Jangan campur.”
“Aku serius.”
Aku mengulurkan tangan.
Celine langsung mengambil.
“Kalau aku nggak pernah ke panti?” tanyaku.
Dia berpikir.
“Entah.”
Jawaban itu menusuk sedikit.
Tapi jujur.
“Mungkin aku nggak akan memperhatikan kamu secepat itu.”
Aku mengangguk.
“Tapi kalau setelah kenal ternyata kamu brengsek, aku juga nggak akan tetap suka.”
“Standarnya rendah.”
“Jangan merusak momen.”
Naya kembali membawa tiga gelas.
Dia melihat tangan kami.
“Sudah aman?”
Celine melempar bantal.
Aku tertawa.
Malamnya, sebelum pulang, Celine mengantarku ke depan.
“Kamu masih kepikiran?” tanyanya.
“Iya.”
“Boleh.”
Aku menatap.
“Boleh kepikiran?”
“Iya. Aku juga mungkin kepikiran kalau posisinya kebalik.”
Aku menarik napas.
“Aku percaya kamu.”
Celine membeku.
“Tapi aku belum ngerti semuanya.”
“Itu cukup.”
“Bener?”
“Percaya bukan berarti nggak boleh punya pertanyaan.”
Aku membuka tangan.
Celine masuk ke pelukan.
Aku memeluk lebih erat daripada biasanya.
Saat dia hendak mundur, aku menahan.
“Sebentar.”
Dia diam.
Aku menyandarkan dagu di atas kepalanya.
Dulu aku takut bergantung.
Sekarang aku mulai mengerti beda antara bergantung dan memilih bersandar.
Aku melepas.
Celine menatapku.
Aku mencium keningnya.
“Pulang,” katanya.
“Kamu yang rumahnya di sini.”
“Oh iya.”
Aku tertawa.
Di perjalanan, pikiranku kembali ke foto.
Tapi foto itu tidak lagi terasa seperti bukti seluruh hubungan kami palsu.
Lebih seperti halaman pertama sebuah buku yang baru kubaca jauh setelah cerita berjalan.
Aku mungkin belum suka halaman itu.
Tapi aku tidak ingin menutup bukunya.
Besoknya di kampus, Dimas bertanya kenapa aku kelihatan kurang tidur.
“Ketemu keluarga Celine.”
Dia langsung menepuk bahuku.
“Turut berduka.”
“Kenapa?”
“Pertama kali ke rumah pacar selalu survival.”
“Aku selamat.”
“Bagus.”
Fikri muncul.
“Ketemu bokapnya?”
“Enggak.”
“Berarti belum final boss.”
Aku menatap Dimas.
“Kenapa dia selalu ada?”
“Takdir.”
Aku tertawa.
Siang itu Celine mengirim foto notebook biru.
Celine
Halaman hari ini.
Ada tulisan:
Dia bilang percaya.
Aku langsung mengetik.
Alfa
Kenapa semua dicatat?
Celine
Karena penting.
Aku menatap lama.
Alfa
Jangan kasih Naya baca.
Celine
Itu prioritas utama.
Aku tersenyum.
Lalu teringat foto lama lagi.
Masih ada rasa tidak nyaman.
Aku tidak akan pura-pura hilang.
Tapi sekarang aku punya sesuatu yang dulu tidak punya.
Aku bisa bertanya.
Dan Celine menjawab tanpa marah karena aku belum langsung yakin.
Sore, saat dia datang ke toko, aku sedang mengeluarkan roti.
Celine masuk ke dapur.
“Hai.”
“Hai.”
Aku melewatinya.
Lalu berhenti.
Kembali dua langkah.
Mencium pipinya.
Celine membeku.
Aku melanjutkan jalan.
“Alfa.”
“Hm?”
“Kamu barusan—”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku mengangkat bahu.
“Pengen.”
Dia menutup wajah.
Aku tertawa.
Mungkin aku memang belum mengerti semua bagian awal cerita kami.
Tapi bagian sekarang semakin jelas.
Aku mencintai—tidak.
Belum sanggup mengatakan kata itu.
Aku menginginkan dia ada.
Aku mempercayainya.
Aku mencari tangannya.
Aku ingin menciumnya.
Dan semua itu adalah pilihanku sekarang.
Tidak ada foto lama yang bisa membuat hal-hal itu menjadi tidak nyata.
Malam itu, Celine belum pulang ketika hujan turun lagi.
Kami duduk di depan toko seperti beberapa hari sebelumnya.
Bedanya, kali ini dia tidak memakai hoodiekku.
“Foto tadi bikin kamu nggak nyaman banget?” tanyanya.
Aku memikirkan.
“Bukan fotonya.”
“Terus?”
“Rasanya kayak kamu punya versi aku di kepala sebelum aku kenal kamu.”
Celine mengangguk pelan.
“Itu fair.”
Aku menoleh.
Dia tidak membela diri.
“Aku memang punya.”
Jawaban jujur lagi.
“Tapi versi itu salah di banyak hal.”
“Contoh?”
“Aku pikir kamu tipe orang yang sangat tenang.”
Aku menatapnya.
Celine tertawa.
“Ternyata kamu panikan.”
“Terima kasih.”
“Aku pikir kamu dewasa banget.”
“Terus?”
“Ternyata kalau Mbah nyuruh potong rambut kamu ngambek.”
“Aku nggak ngambek.”
“Kamu sembunyiin gunting.”
Aku terdiam.
Dia tahu.
“Siapa yang kasih tahu?”
“Mbah.”
“Pengkhianatan keluarga.”
Celine tertawa.
Aku ikut.
Kemudian dia berkata, “Aku suka versi nyata lebih banyak.”
Kalimat itu sederhana.
Aku menatap hujan.
“Kenapa?”
“Karena versi nyata bisa bikin aku kesel.”
Aku mengernyit.
“Itu bagus?”
“Bagus. Berarti manusia.”
Aku memikirkan.
Mungkin selama ini aku juga melakukan hal serupa pada Celine.
Aku punya gambaran perempuan cantik.
Populer.
Berbahaya.
Lalu Celine nyata datang dan merusak semua kategori itu.
Dia bisa salah.
Bisa terlalu agresif.
Bisa cerewet.
Bisa takut.
Bisa menunggu.
“Berarti kita impas,” kataku.
“Kenapa?”
“Aku juga punya versi kamu di kepala sebelum kenal.”
Celine tersenyum tipis.
“Versi yang jahat?”
“Lumayan.”
“Sekarang?”
Aku melihatnya.
“Masih jahat.”
Dia memukul lenganku.
Aku tertawa.
Kemudian mengambil tangannya.
“Bercanda.”
“Aku tahu.”
Aku menggenggam.
“Sekarang lebih berisik.”
“Alfa.”
“Dan…”
Aku berhenti.
Celine menunggu.
“Lebih aman.”
Dia tidak bicara.
Matanya langsung berkaca.
Aku panik.
“Kenapa nangis?”
“Enggak.”
“Matamu.”
“Diam.”
Aku mendekat.
Celine menyeka sendiri.
Aku tidak tahu harus melakukan apa.
Akhirnya aku mencium keningnya.
Dia tertawa sambil masih berkaca.
“Solusimu sekarang cium kening?”
“Kalau nggak suka—”
“Suka.”
Cepat sekali.
Aku tersenyum.
Hujan terus turun.
Kami duduk berdampingan.
Tidak ada foto.
Tidak ada masa SMA.
Cuma sekarang.
Dan untuk malam itu, sekarang terasa cukup.
Sebelum Celine masuk mobil, aku memanggilnya.
Dia menoleh.
Aku mendekat, merapikan ujung hoodienya yang terlipat, lalu berkata, “Besok datang?”
Celine tersenyum.
“Datang.”
Aku mengangguk.
Dulu pertanyaan itu selalu terasa seperti mengakui kelemahan.
Sekarang cuma terdengar seperti rencana.
Aku menyukainya.
Celine membuka pintu mobil, lalu menoleh lagi.
“Fa.”
“Hm?”
“Aku juga lebih suka versi nyata.”
Aku hampir bilang berisik.
Tidak jadi.
“Bagus.”
Dia masuk.
Aku menunggu sampai mobil pergi sebelum kembali ke toko.
Foto lama mungkin menjelaskan kenapa Celine pertama kali melihatku.
Tapi besok, dia datang karena aku memintanya.
Dan aku akan menunggu karena aku memang ingin dia datang.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama reading
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru