Chapter Five
Ratri Bakehouse
POV: Celine
Aku menemukan Ratri Bakehouse karena tersesat.
Setidaknya itu versi yang akan terus kukatakan sampai mati.
Versi Tara berbeda.
Menurut Tara, seseorang yang turun dua halte lebih cepat karena melihat Alfa dari jendela bus tidak bisa disebut tersesat.
Aku menyebutnya kebetulan yang memerlukan sedikit usaha.
“Lu turun dari bus yang benar,” kata Tara lewat telepon.
“Aku tahu.”
“Terus jalan lima belas menit ke arah yang bukan rumah lu.”
“Aku sedang eksplorasi.”
“Stalker.”
Aku memutus sambungan.
Lingkungan tempatku berdiri jauh lebih tenang daripada sekitar kampus. Rumah-rumah tidak terlalu besar, beberapa punya pagar pendek, dan ada warung kecil di tikungan. Di sisi jalan berdiri papan kayu bertuliskan Ratri Bakehouse dengan gambar roti yang sedikit miring.
Aroma mentega keluar sampai trotoar.
Aku berhenti.
Bukan karena Alfa.
Karena roti.
Aku memiliki prinsip hidup.
Kalau tempat kecil mengeluarkan aroma sebaik itu, masuk adalah kewajiban moral.
Lonceng di pintu berbunyi ketika aku masuk.
Toko itu sederhana. Ada etalase kaca berisi pastry, rak roti, empat meja kecil, dan papan tulis menu yang beberapa hurufnya tampak ditulis ulang berkali-kali.
Seorang nenek berdiri di belakang kasir.
“Selamat sore,” sapaku.
“Sore. Mau apa?”
Aku baru hendak melihat menu ketika pintu dari belakang terbuka.
Alfa keluar membawa loyang.
Kami sama-sama berhenti.
Aku tersenyum spontan.
“Hai.”
Ekspresi Alfa terlihat seperti seseorang baru menemukan kebocoran gas.
“Kamu ngapain di sini?”
Nenek di belakang kasir langsung menoleh kepadanya. “Hei. Orang datang ke toko ya beli, bukan merampok.”
Alfa menutup mata sebentar.
Aku berusaha tidak tertawa.
“Maaf,” katanya akhirnya. “Maksudku... kok bisa di sini?”
“Tersesat.”
Dia melihat keluar jendela.
“Kamu tinggal jauh dari sini.”
Aku berkedip. “Kamu tahu rumahku di mana?”
Alfa membeku.
Neneknya tertawa kecil.
Aku menyelamatkannya. “Aku pernah bilang daerahnya di chat.”
“Oh.” Alfa mengangguk cepat. “Iya.”
Lucu.
Sangat lucu.
Aku memutuskan tidak akan menggodanya sekarang karena wajahnya sudah merah sampai telinga.
Nenek itu menatap kami bergantian. “Kenal?”
Aku membuka mulut.
Alfa menjawab lebih dulu. “Teman kampus.”
Teman.
Aku menyimpan kata itu baik-baik.
“Celine, Mbah,” lanjutnya. “Celine Panduwinata.”
Mbah Ratri menatapku dari kepala sampai kaki, bukan dengan cara menghakimi, lebih seperti menilai apakah aku cukup makan.
“Kurus.”
Aku terdiam.
Alfa menutup wajah dengan satu tangan.
“Mbah.”
“Apa? Memang kurus.”
Aku tertawa. “Saya makan kok, Mbah.”
“Kalau makan banyak harusnya lebih berisi.”
“Mbah, pelanggan.”
“Pelanggan juga manusia.”
Aku langsung suka padanya.
Dalam lima menit, aku sudah duduk di salah satu meja dengan segelas teh hangat yang tidak kupesan dan sepotong cinnamon roll yang katanya “coba dulu, nanti baru beli kalau nggak keracunan.”
Alfa bekerja di belakang etalase dengan ekspresi pasrah.
Aku mengamati diam-diam.
Di kampus, Alfa selalu seperti sedang berusaha mengecilkan keberadaannya. Bahunya sedikit membungkuk, tangan sering masuk saku, suara rendah.
Di sini dia berbeda.
Masih pendiam, tetapi gerakannya pasti.
Seorang anak kecil masuk membawa uang kusut dan menunjuk donat cokelat. Alfa mengambil donat, lalu diam-diam memasukkan satu roti kecil tambahan ke kantongnya.
“Yang itu bonus bentuk jelek,” katanya sebelum anak itu sempat bertanya.
Aku melihat roti tersebut.
Bentuknya sama sekali tidak jelek.
Tak lama kemudian seorang bapak datang meminta bantuan mengecek pesan di ponselnya karena takut tertipu link pembayaran. Alfa keluar dari balik kasir, membaca pesan, lalu menjelaskan pelan-pelan sampai bapak itu mengerti.
Kemudian seorang ibu menitipkan kunci rumah kepada Mbah Ratri dan berkata kepada Alfa, “Kalau paket saya datang, tolong taruh dalam ya.”
Alfa hanya mengangguk seperti hal itu terjadi setiap hari.
Orang-orang mengenalnya.
Bukan terkenal seperti orang kampus mengenalku.
Lebih dalam dari itu.
Mereka percaya padanya.
Kepercayaan itu terlihat dalam hal kecil.
Pak Yono dari bengkel sebelah masuk dengan tangan masih sedikit berminyak dan mengambil kopi tanpa bertanya harganya.
“Bayar besok, Fa.”
Alfa hanya mengangguk. “Jangan lupa lagi seperti minggu lalu.”
Pak Yono menunjuknya. “Saya ingat.”
Mbah Ratri menyahut dari kasir, “Dia baru ingat setelah ditagih tiga kali.”
“Fitnah.”
Lalu seorang nenek lain, yang kemudian kukenal sebagai Bu Mina, masuk dan memeriksa deretan roti kacang dengan ekspresi auditor.
“Yang ini mengecil.”
Alfa menjawab tenang, “Timbangannya sama, Bu.”
“Mataku masih sehat.”
“Makanya bisa lihat harganya juga masih sama.”
Bu Mina menatapnya dua detik, lalu tertawa sendiri dan membeli tiga.
Aku hampir tidak percaya Alfa yang di kampus bisa bicara seperti itu.
Dia bahkan sesekali membalas godaan orang tanpa terlihat panik. Di sini, tidak ada yang menertawakan dirinya. Mereka tertawa bersamanya.
Perbedaannya kecil kalau dilihat dari luar, tetapi terasa besar sekali.
Mungkin itulah yang membuat bahunya terlihat lebih santai.
Aku mulai mengerti bahwa kampus hanya memperlihatkan satu versi Alfa. Versi yang selalu mengenakan armor.
Dan entah bagaimana, aku sedang duduk di tempat di mana armor itu sedikit lebih longgar.
Aku sedang memikirkan perbedaan itu ketika seorang perempuan paruh baya masuk tanpa mengetuk dan langsung berkata, “Rat, gula saya habis.”
Mbah Ratri menunjuk dapur. “Ambil sendiri.”
Perempuan itu melihatku.
Lalu melihat Alfa.
Lalu kembali melihatku.
“Pacarnya Alfa?”
Aku hampir tersedak teh.
Alfa menjatuhkan penjepit roti.
“Bukan, Bu Siska.”
Bu Siska memandangku. “Belum?”
Aku menahan senyum. “Belum, Bu.”
“Oh.”
Dia menoleh kepada Alfa.
“Lambat.”
“Bu.”
“Apa?”
Mbah Ratri tertawa sampai batuk kecil.
Alfa mengambil penjepit dengan wajah orang yang ingin menghilang ke dalam oven.
Bu Siska akhirnya mengambil gula dan pergi sambil berkata, “Cantik, sopan lagi. Jangan bodoh, Fa.”
Pintu menutup.
Aku menatap meja supaya tidak tertawa terlalu keras.
“Maaf,” kata Alfa.
“Kenapa kamu minta maaf?”
“Lingkungan sini...”
“Jujur?”
Dia menatapku curiga.
“Aku suka.”
Ekspresinya sedikit melunak.
Hanya sedikit.
Saat toko mulai sepi, aku berdiri untuk membayar. Mbah Ratri menolak uang cinnamon roll karena itu katanya sampel. Aku membeli enam roti lain sebagai balasan.
“Banyak,” kata Alfa saat memasukkan pesanan ke kotak.
“Buat teman.”
“Tara?”
Aku menatapnya.
Dia langsung fokus pada kotak.
“Kamu ingat nama Tara?”
“Dia pernah satu acara.”
“Hmm.”
“Jangan mulai.”
Aku tersenyum.
Saat hendak keluar, aku melihat sebuah rak kecil dekat pintu belakang. Ada beberapa kotak putih polos bertumpuk, lebih banyak daripada pesanan yang terlihat di toko.
“Ada pesanan besar?” tanyaku.
Alfa langsung menoleh ke arah rak.
“Bukan.”
Jawabannya terlalu cepat.
Aku tidak mengejar.
“Okay.”
Di luar, langit sudah gelap. Aku baru membuka aplikasi transportasi ketika Alfa keluar membawa jaket tipis.
“Tunggu di dalam aja. Di luar banyak nyamuk.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Kamu perhatian.”
Dia segera memalingkan wajah. “Mbah yang bilang.”
Dari dalam toko terdengar suara Mbah Ratri, “Jangan bawa-bawa saya!”
Aku tertawa.
Alfa menatap pintu dengan ekspresi dikhianati.
Malam itu, ketika mobil jemputanku datang, aku melambaikan tangan kepada Mbah Ratri dan Alfa.
Alfa hanya mengangkat tangan kecil.
Tidak kabur.
Tidak bersembunyi.
Dan sepanjang perjalanan pulang, yang terus kupikirkan bukan wajahnya ketika panik, bukan rumor kampus, bahkan bukan fakta bahwa Bu Siska sudah hampir menikahkan kami.
Yang kupikirkan adalah bagaimana Alfa terlihat di tempat itu.
Seperti orang yang tidak pernah sadar betapa banyak ruang yang sudah ia isi dalam hidup orang lain.
Aku menatap kotak roti di pangkuan.
Rasa penasaran yang awalnya kecil sudah berubah bentuk.
Ini buruk.
Sangat buruk.
Sebelum benar-benar pergi, Mbah Ratri menyelipkan dua roti tambahan ke dalam kantongku.
“Saya sudah beli banyak, Mbah.”
“Yang ini buat di jalan.”
“Perjalanan saya cuma dua puluh menit.”
“Dua puluh menit bisa lapar.”
Alfa yang berdiri di belakangnya bergumam, “Percuma debat.”
Aku menerima kantong itu dengan dua tangan. “Makasih, Mbah.”
“Besok datang lagi.”
Alfa langsung menoleh. “Mbah.”
“Apa? Pelanggan bagus disuruh balik.”
Aku melihat Alfa. “Katanya pelanggan bagus.”
“Jangan senang dulu.”
Tapi dia tidak mengatakan jangan datang.
Hal kecil itu cukup membuat perjalanan pulang terasa jauh lebih ringan.
Aku ingin kembali besok.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse reading
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru