Chapter Two
Tangga Darurat
POV: Alfa
Besoknya, aku datang dua puluh menit lebih awal.
Ini bukan karena Celine.
Aku hanya sedang memperbaiki kualitas hidup.
Dimas tidak percaya.
“Kualitas hidup lu biasanya dimulai jam delapan kurang tiga menit.”
Kami berdiri di depan ruang kelas. Dimas memegang kopi, aku memegang roti isi yang kubawa dari rumah.
“Aku mau belajar disiplin.”
“Setelah dikejar Celine Panduwinata?”
“Aku tidak dikejar.”
Dimas menatapku datar.
Kemudian dari ujung koridor terdengar suara perempuan memanggil, “Alfa!”
Aku berbalik ke arah berlawanan.
Dimas mengangkat alis.
“Apa?” tanyaku.
“Nggak dikejar.”
Aku berjalan.
“Fa.”
“Aku mau toilet.”
“Toilet ke kanan.”
“Aku tahu.”
“Kamu ke kiri.”
Aku mempercepat langkah.
Dimas tidak ikut. Pengkhianatan kadang datang dari orang terdekat.
Aku melewati tikungan, membuka pintu tangga darurat, lalu mulai turun.
Lantai tiga.
Lantai dua.
Aku berhenti di bordes antara lantai dua dan satu ketika pintu di atas terbuka.
“Serius?”
Suara Celine menggema di tangga.
Aku menutup mata sebentar.
Langkah sepatunya turun cepat.
“Aku cuma mau bilang pagi.”
“Pagi.”
“Nah, selesai.”
Aku mengangguk dan kembali turun.
“Eh, tunggu.”
Aku berhenti.
Kesalahan kedua minggu ini.
Celine berdiri dua anak tangga di atasku. Hari ini dia membawa map biru dan sebotol air mineral. Tidak ada Tara atau siapa pun di belakangnya.
“Aku kemarin terlalu mendadak, ya?”
“Iya.”
“Maaf.”
Aku menatapnya.
Tidak banyak orang meminta maaf begitu saja setelah membuatku tidak nyaman. Biasanya ada penjelasan panjang lebih dulu tentang kenapa sebenarnya mereka tidak salah.
Celine hanya menunggu.
Aku akhirnya berkata, “Nggak apa-apa.”
“Berarti kita reset.”
“Reset apa?”
“Kenalan.”
“Kita sudah kenal nama.”
“Informasi kamu ternyata sangat terbatas.”
“Aku cukup dengan nama.”
“Golongan darah?”
“Tidak perlu.”
“Makanan favorit?”
“Tidak perlu.”
“Status hubungan?”
“Lebih tidak perlu.”
Celine menutup mulut, menahan tawa.
Aku kembali turun.
Dia ikut turun, tetapi menjaga jarak satu bordes.
“Aku nggak akan ngomong suka lagi hari ini.”
Aku menoleh setengah.
“Hari ini?”
“Besok belum tahu.”
Aku menyesal menanyakan itu juga.
Di lantai satu, aku keluar ke halaman belakang gedung. Celine berhenti di pintu.
“Kelasmu bukan di bawah?” tanyanya.
“Bukan.”
“Jadi tadi kamu benar-benar kabur?”
Aku memasukkan tangan ke saku hoodie.
“Aku cari udara.”
“Lewat tiga lantai tangga?”
“Olahraga.”
Dia tertawa sampai harus memegang kusen pintu.
Aku berjalan meninggalkannya.
Dua jam kemudian, reputasiku sudah hancur.
Fikri duduk di sampingku saat kelas kosong dan menaruh kedua tangan di meja seperti konsultan profesional.
“Gue mau bantu.”
“Tidak.”
“Dengar dulu.”
“Tidak.”
“Ini masalah besar.”
“Tidak.”
“Celine Panduwinata tertarik sama lu.”
Aku membuka laptop.
Fikri menutupnya.
Aku membuka lagi.
Dia menutup lagi.
Dimas memukul tangannya. “Jangan sentuh barang orang.”
Fikri mendesis, lalu mendekat. “Fa, perempuan kayak Celine itu biasa dikejar. Kalau sekarang dia yang ngejar, lu harus pakai strategi.”
“Aku tidak mau strategi.”
“Tarik-ulur.”
“Aku sudah menjauh.”
“Bukan kabur secara literal!”
Dimas menunduk, bahunya bergetar menahan tawa.
Aku menatap keduanya. “Kenapa kalian peduli?”
Fikri menjawab tanpa malu, “Karena hidup gue lagi sepi.”
Setidaknya jujur.
Ponselku bergetar di meja.
Nomor tidak dikenal.
Aku membuka pesan.
Nomor Baru
Pagi tadi belum sempat bilang: semangat kelasnya.
Aku tahu pengirimnya tanpa perlu bertanya.
Alfa
Dapat nomor dari mana?
Balasan datang cepat.
Nomor Baru
Dari Tara yang minta ke temannya Dimas yang satu kepanitiaan sama kamu semester lalu.
Aku menoleh perlahan kepada Dimas.
Dia langsung mengangkat kedua tangan. “Gue nggak kasih.”
Ponselku bergetar lagi.
Nomor Baru
Kalau kamu nggak nyaman, bilang. Aku hapus.
Jariku berhenti di atas layar.
Kalimat itu membuatku tidak langsung menjawab.
Fikri mencoba mengintip. Aku memiringkan ponsel.
“Privasi,” kataku.
“Wah.” Fikri menunjukku. “Udah bela chat pacar.”
“Bukan pacar.”
“Belum.”
Dimas menarik kerah belakang Fikri dan menyeretnya menjauh.
Aku melihat layar lagi.
Seharusnya aku bilang hapus.
Itu paling mudah.
Aku mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.
Alfa
Tidak usah. Tapi jangan spam.
Tiga titik muncul.
Celine
Siap, Kak Admin.
Nama kontaknya belum kusimpan, tetapi entah kenapa aku sudah bisa membayangkan ekspresinya saat menulis itu.
Aku mengunci layar.
Dimas masih memperhatikanku. “Dia minta izin soal nomor?”
Aku mengangguk.
“Bagus, dong.”
Aku menatapnya.
Dimas mengangkat bahu. “Maksud gue, kalau lu bilang hapus dan dia hapus, setidaknya dia ngerti batas.”
Kalimat itu sederhana, tapi masuk terlalu jauh ke pikiranku.
Aku tidak suka mengakui bahwa Dimas benar. Selama dua hari, Celine memang menyebalkan, terlalu percaya diri, dan memiliki kemampuan muncul di tempat yang tidak seharusnya. Tetapi ketika aku menolak, dia tidak pernah membuatku terlihat bodoh karena itu.
Aku pernah mengenal orang yang menganggap kata tidak sebagai bahan tertawaan.
Ingatan itu datang terlalu cepat. Aku mendorongnya kembali sebelum wajah atau suara tertentu ikut muncul.
“Fa?”
“Apa?”
“Lu bengong.”
“Ngantuk.”
Fikri menyelip dari samping. “Kalau cinta memang bikin—”
“Pergi.”
“Belum selesai.”
“Pergi.”
Dimas menyeretnya lagi. Untuk pertama kalinya hari itu aku bersyukur punya teman yang memahami kapan harus berhenti.
Lima detik kemudian ponsel bergetar lagi.
Aku membukanya dengan kesal.
Celine
Ini bukan spam. Ini klarifikasi bahwa aku patuh.
Aku menekan pelipis.
Dimas melirik. “Kenapa?”
“Tidak ada.”
Ponsel bergetar lagi.
Celine
Yang ini baru spam sedikit.
Aku akhirnya menyimpan nomornya.
Bukan karena aku ingin.
Karena lebih mudah memblokir orang kalau ada namanya.
Setidaknya itu alasan yang kuberikan kepada diri sendiri.
Sore hari, aku sengaja menunggu sepuluh menit setelah kelas selesai sebelum keluar. Koridor sudah sepi. Langit di luar mulai mendung.
Aman.
Aku turun lewat tangga utama kali ini.
Di lantai dua, seseorang duduk di bangku dekat jendela sambil membaca catatan.
Celine.
Dia melihatku.
Aku otomatis berhenti.
Namun kali ini dia tidak berdiri.
Tidak memanggil keras.
Tidak mengejar.
Dia hanya mengangkat tangan kecil.
“Hati-hati pulang.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Kemudian mengangguk.
“Makasih.”
Aku terus berjalan.
Tidak ada langkah menyusul dari belakang.
Aneh sekali, tapi baru setelah mencapai lantai satu aku menyadari bahuku tidak setegang biasanya.
Di halte, aku membuka ponsel untuk mengecek jadwal bus. Ada satu pesan baru.
Celine
Sudah berhasil kabur tanpa tangga darurat?
Aku menatap layar.
Alfa
Aku tidak kabur.
Celine
Baik. Berhasil pindah lokasi secara strategis?
Aku tidak membalas.
Satu menit kemudian:
Celine
Jangan marah. Aku cuma bercanda.
Aku masih diam.
Lalu muncul pesan lain.
Celine
Serius, kalau candaan seperti itu bikin kamu nggak nyaman, bilang ya. Aku berhenti.
Jempolku menggantung di atas layar.
Ada sesuatu yang berbeda ketika orang memberikan jalan keluar sebelum diminta. Aku belum terbiasa dengan itu.
Alfa
Tidak apa-apa.
Aku ragu, lalu menambahkan:
Alfa
Sedikit mengganggu.
Balasannya datang dengan cepat.
Celine
Noted. Aku kurangi 30%.
Aku menggeleng sendiri.
Alfa
Kenapa cuma 30?
Celine
Kalau 100% nanti bukan aku.
Aku menatap pesan itu sampai bus datang. Entah bagaimana, sudut bibirku hampir bergerak.
Aku segera memasukkan ponsel ke saku.
Di rumah nanti, aku tahu Mbah akan bertanya kenapa aku pulang sedikit lebih lambat. Aku juga tahu aku akan menjawab karena bus telat, bukan karena lima menit berdiri di halte sambil membaca ulang percakapan yang seharusnya tidak penting.
Aku tidak suka kebiasaan baru itu. Celine sudah berhasil membuat dua hari biasa terasa terlalu penuh kejadian.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa kuabaikan: ketika kubilang candaan itu mengganggu, dia tidak membalas dengan menyebutku sensitif. Dia hanya mencatatnya.
Aneh kalau hal sesederhana itu terasa penting.
Mungkin standar pengalamanku memang terlalu rendah.
Aku tidak ingin memikirkan alasannya.
Bus datang dengan suara rem panjang. Aku naik, memilih kursi dekat jendela, lalu tanpa sadar mengecek ponsel sekali lagi sebelum menyimpannya. Tidak ada pesan baru. Bagus. Begitu seharusnya.
Anehnya, perjalanan pulang terasa sedikit lebih sepi.
Itu tidak berarti apa-apa.
Sama sekali tidak.
Aku hanya senang karena hari ini berhasil keluar gedung tanpa memakai tangga darurat dua kali.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat reading
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru