Chapter Twenty Six
Jangan Pulang Dulu
POV: Celine
Aku selalu mengira momen romantis besar akan datang dengan hujan, musik, atau minimal pencahayaan yang bagus.
Ternyata salah satu momen paling penting dalam hubunganku terjadi di dapur toko roti, dengan suara mixer rusak dan Alfa memegang spatula.
Hari itu buruk.
Bukan untukku.
Untuk Alfa.
Sejak siang dia sudah terlihat lebih diam.
Bukan diam normal.
Alfa memang bisa tidak bicara dua puluh menit tanpa masalah.
Tapi ini beda.
Gerakannya lebih cepat.
Jawabannya lebih pendek.
Dan ketika satu loyang croissant keluar terlalu gelap, dia menatapnya seperti itu kegagalan moral.
“Aku makan,” kataku.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Gosong.”
“Sedikit.”
“Jangan.”
Aku mengangkat kedua tangan.
“Oke.”
Mbah Ratri memperhatikan dari meja.
Beliau tidak ikut campur.
Aku juga tidak.
Dua minggu lalu mungkin aku akan terus bertanya.
Sekarang aku belajar.
Kadang ruang adalah bantuan.
Kami bekerja sampai toko tutup.
Pak Yono datang membeli roti menjelang malam, lalu pergi setelah mencoba mengajak Alfa bicara dan hanya mendapat tiga kata.
Bu Siska juga sempat mampir.
Dia langsung tahu suasana aneh.
“Berantem?” bisiknya padaku.
Aku menggeleng.
Beliau mengangguk dan tidak mengejar.
Aku mulai mengerti kenapa Alfa tumbuh jadi orang baik di lingkungan ini.
Mereka berisik.
Tapi mereka tahu kapan harus diam.
Jam sembilan lewat, Mbah naik lebih dulu.
Aku dan Alfa menyelesaikan bersih-bersih.
Dia mencuci mangkuk.
Aku mengelap meja.
Hening.
Aku ingin mendekat.
Tapi tidak tahu caranya tanpa terdengar memaksa.
Akhirnya aku bertanya pelan, “Aku pulang ya?”
Alfa berhenti mencuci.
Cuma satu detik.
Lalu lanjut.
“Hm.”
Aku mengambil tas.
Jantungku terasa berat.
Bukan karena marah.
Karena aku tahu dia sedang tidak baik-baik saja dan aku tidak tahu apa yang boleh kulakukan.
Aku sudah sampai pintu ketika suaranya datang.
“Celine.”
Aku menoleh.
Alfa berdiri di dekat wastafel.
Tangannya masih basah.
“Jangan pulang dulu.”
Aku tidak bergerak.
Dadaku langsung sesak oleh sesuatu yang hangat.
“Boleh,” jawabku.
Aku meletakkan tas lagi.
Tidak bertanya kenapa.
Tidak bilang “akhirnya”.
Tidak menggoda.
Aku hanya duduk di kursi dekat meja kasir.
Alfa menyelesaikan cucian.
Lima menit.
Sepuluh.
Kemudian dia duduk di kursi sebelahku.
Tidak terlalu dekat.
Kami diam.
Aku bisa mendengar kulkas display menyala.
“Capek?” tanyaku akhirnya.
Alfa mengangguk.
“Cuma capek?”
Dia melihat lantai.
“Entah.”
Aku menunggu.
Lalu dia berkata, “Tadi dosen bilang nilai tugasku turun.”
“Oh.”
“Terus supplier salah kirim bahan.”
“Hm.”
“Terus aku bikin dua batch jelek.”
Aku menatapnya.
“Jadi hari ini kamu merasa semuanya salah?”
Alfa mengangguk kecil.
Aku ingin bilang tidak apa-apa.
Aku ingin bilang dia tetap hebat.
Aku ingin memperbaiki.
Tapi aku tahu itu bukan yang dia minta.
Jadi aku cuma berkata, “Hari yang jelek.”
Dia menghela napas panjang.
“Iya.”
Kami diam lagi.
Beberapa menit kemudian, bahuku terasa berat.
Aku menahan napas.
Alfa menyandarkan kepala ke bahuku.
Dia sendiri yang melakukan.
Tidak meminta.
Tidak menjelaskan.
Tubuhku otomatis ingin bergerak memeluk.
Aku tahan.
Biarkan dia menentukan.
“Begini boleh?” tanyanya pelan.
Aku hampir menangis.
“Boleh.”
Kami tetap begitu.
Lima menit mungkin.
Lebih.
Aku tidak tahu.
Rambutnya menyentuh pipiku.
Napasnya perlahan lebih tenang.
Aku menaruh tanganku di meja, terbuka.
Tidak meraih.
Beberapa saat kemudian, jari Alfa mencari tanganku.
Genggamannya lemah.
Tapi cukup.
Aku menggenggam balik.
Tidak bicara.
Kadang hubungan ini terasa seperti belajar bahasa yang tidak punya suara.
Malam itu, bahasa Alfa cuma kepala di bahuku dan tangannya di tanganku.
Dan aku mengerti.
Saat akhirnya dia mengangkat kepala, wajahnya sedikit malu.
“Maaf.”
Aku langsung mengernyit.
“Kenapa?”
“Berat.”
“Alfa.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku nyender ke kamu dua jam, kamu boleh komplain.”
Dia hampir tersenyum.
“Dua jam terlalu lama.”
“Berarti satu jam.”
“Lima belas menit.”
“Pelit.”
Akhirnya dia tertawa kecil.
Itu cukup.
Aku berdiri.
“Kali ini aku pulang?”
Alfa mengangguk.
Tapi sebelum aku mengambil tas, dia berkata lagi,
“Celine.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
“Untuk?”
Dia melihat kursi tadi.
“Udah tinggal.”
Aku tersenyum.
“Kalau kamu minta, aku bisa tinggal.”
Wajah Alfa berubah sedikit.
Ada bayangan takut di sana.
Aku langsung sadar kalimatku bisa terdengar terlalu besar.
Aku menambahkan, “Selama aku bisa, ya.”
Dia mengangguk.
Bagus.
Tidak ada janji absolut.
Tidak perlu.
Aku mengambil tas.
Sebelum keluar, aku mendekat satu langkah.
“Boleh peluk?”
Alfa menatapku.
Lalu membuka satu tangan sedikit.
Aku masuk.
Pelukan kali ini berbeda.
Bukan sekadar dua detik.
Aku memeluk pinggangnya ringan.
Tangannya melingkar di punggungku.
Tidak kaku.
Tidak menghitung waktu.
Aku menutup mata.
Dada Alfa hangat.
Detak jantungnya masih cepat.
Tapi dia tidak menjauh.
Setelah beberapa detik, aku hendak mundur.
Tangannya justru mengerat sedikit.
Hanya satu detik.
Kemudian lepas.
Aku menatapnya.
Dia melihat ke samping.
“Jangan dibahas.”
Aku tersenyum.
“Baik.”
Malam itu aku pulang dengan dada penuh.
Di rumah, Tara mengirim pesan.
Tara
Besok jadi makan siang?
Aku baru ingat rencana kami.
Celine
Jadi.
Tara
Kenapa jawabnya kayak habis nangis?
Aku tertawa.
Celine
Enggak nangis.
Tara
Alfa?
Aku melihat layar.
Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menceritakan detail.
Celine
Dia cuma lagi capek.
Tara
Oke.
Tidak ada pertanyaan tambahan.
Aku bersyukur.
Aku membuka notebook biru.
Halaman kosong berikutnya menunggu.
Aku menulis:
Hari ini dia minta aku jangan pulang dulu.
Aku berhenti.
Lalu menambahkan:
Bukan karena takut sendiri. Karena dia mau aku ada di sana.
Aku menatap kalimat itu cukup lama.
Ponsel bergetar.
Alfa
Udah sampai?
Celine
Udah.
Beberapa detik.
Alfa
Oke. Selamat tidur.
Aku tersenyum.
Celine
Selamat tidur.
Lalu pesan baru muncul.
Alfa
Besok datang?
Aku menggigit bibir supaya tidak tersenyum terlalu lebar.
Celine
Datang.
Aku tahu hubungan kami masih punya banyak ruang yang belum disentuh.
Banyak luka Alfa yang belum kuceritakan.
Banyak bagian diriku yang juga belum dia lihat.
Tapi malam itu aku mengerti sesuatu.
Dulu aku selalu menjadi orang yang mengejar.
Sekarang, pelan-pelan, Alfa mulai meminta aku tetap tinggal.
Dan buatku, itu jauh lebih romantis daripada seratus pengakuan cinta.
Setelah malam itu, sesuatu berubah kecil di antara kami.
Bukan dramatis.
Besoknya aku datang ke toko dan menemukan Alfa sedang mengaduk krim.
Aku berdiri di pintu dapur.
Biasanya aku akan menyapa dulu.
Hari ini aku cuma berkata, “Capek?”
Alfa menoleh.
“Lumayan.”
Aku tidak bertanya lebih lanjut.
Beberapa menit kemudian, ketika aku sedang menempel label, dia datang dari belakang dan menyandarkan dagunya sebentar di atas kepalaku.
Aku membeku.
Bukan karena tidak nyaman.
Karena shock.
“Alfa?”
“Hm.”
“Kamu ngapain?”
“Capek.”
Aku hampir tertawa.
“Jadi aku meja?”
“Sebentar.”
Aku berdiri diam.
Lima detik.
Sepuluh.
Dia sendiri yang mundur.
Aku berbalik.
Wajahnya normal.
Sedikit merah.
Tapi normal.
“Apa?” tanyanya.
Aku menunjuk tempat dagunya tadi.
“Kamu barusan nyender.”
“Iya.”
“Dulu aku nyender bahu aja kamu kayak kena serangan.”
“Sekarang enggak.”
Jawaban sesederhana itu membuat dadaku hangat.
Aku tidak menggoda lagi.
Cuma berkata, “Oke.”
Alfa menatapku seolah curiga aku terlalu mudah membiarkan.
Lalu kembali bekerja.
Aku tersenyum sendiri.
Hubungan kami ternyata tidak berkembang karena satu momen besar.
Ia berkembang lewat izin-izin kecil yang perlahan tidak perlu lagi ditanyakan untuk hal yang sudah jelas aman.
Bukan berarti consent hilang.
Justru sebaliknya.
Kami mulai tahu bentuk nyaman satu sama lain.
Kalau sesuatu baru, tanya.
Kalau sesuatu pernah membuat salah satu tidak nyaman, tanya.
Kalau sekadar bahu menyentuh ketika bekerja dan kami berdua sudah tahu itu aman, biarkan.
Sore itu, saat aku hendak mengambil kotak di rak tinggi, Alfa berdiri di belakang.
“Biar.”
“Aku bisa.”
“Kamu pendek.”
Aku menoleh tajam.
“Aku 165.”
“Rak 190.”
“Itu diskriminasi tinggi badan.”
Alfa mengambil kotak.
Aku mencubit lengannya.
Dia tertawa.
Dan untuk beberapa menit, hari yang kemarin terasa berat berubah menjadi hal biasa lagi.
Itulah mungkin yang paling kusukai.
Dia bisa punya hari buruk tanpa hubungan kami ikut menjadi buruk.
Aku bisa tinggal tanpa harus menyelamatkan.
Dan besok kami tetap bisa bercanda soal rak terlalu tinggi.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu reading
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru