Chapter Twenty Five
Pacarnya
POV: Alfa
Aku tidak sengaja mengaku punya pacar di depan tiga puluh orang.
Masalahnya, tiga puluh orang itu teman-teman Celine.
Dan aku baru sadar setelah kalimatnya keluar.
Hari itu ada acara gabungan antar fakultas. Aku datang karena Dimas memaksaku ikut rapat teknis, lalu menghilang setelah mendapat telepon dari dosen.
Aku ditinggal sendirian di ruangan penuh orang yang sebagian besar tidak kukenal.
Celine ada di seberang, sedang bicara dengan panitia.
Aku seharusnya aman.
Sampai seorang perempuan di sampingku menunjuk.
“Kamu Alfa, kan?”
Aku mengangguk.
Dia tersenyum. “Temannya Celine?”
Aku menjawab terlalu cepat.
“Pacarnya.”
Hening.
Bukan satu ruangan penuh.
Cuma area kecil di sekitar kami.
Tapi rasanya cukup.
Perempuan itu berkedip.
Temannya berhenti minum.
Aku sendiri berhenti bernapas.
Lalu dari seberang, Celine menoleh karena seseorang memanggil namanya.
Matanya bertemu denganku.
Perempuan di depanku melambaikan tangan ke arahnya.
“Kei! Ini pacarmu?”
Aku ingin kabur.
Tidak.
Aku sudah belajar sesuatu.
Jadi aku berdiri.
Tetap di tempat.
Celine datang dengan ekspresi yang terlalu tenang.
“Kenapa?” tanyanya.
Perempuan tadi menunjukku.
“Dia bilang pacarmu.”
Celine melihatku.
Aku melihat lantai.
“Ya memang,” katanya.
Nada biasa.
Sangat biasa.
Tapi aku tahu.
Aku bisa lihat sudut bibirnya.
Dia menahan senyum.
Jangan.
Jangan mulai.
“Kenapa lihat aku begitu?” tanyaku.
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Itu masalahnya.”
Orang-orang di sekitar mulai tertawa kecil.
Aku memasukkan tangan ke saku hoodie.
Celine berdiri di sampingku.
Tidak menempel.
Tidak menyentuh.
Memberi ruang kalau aku berubah pikiran.
Anehnya, aku tidak.
Rapat dimulai.
Kami duduk terpisah.
Tapi selama satu jam, aku sadar beberapa orang melirik.
Dulu itu cukup untuk membuatku ingin keluar.
Sekarang aku masih tidak nyaman.
Tapi tidak seperti dulu.
Karena setiap kali pandanganku menemukan Celine, dia terlihat sama seperti biasa.
Tidak malu.
Tidak canggung.
Tidak berusaha menjauh supaya tidak diasosiasikan denganku.
Itu lebih penting daripada yang ingin kuakui.
Setelah rapat selesai, Celine menungguku di lorong.
“Pacarnya?”
Aku langsung berjalan.
Dia mengejar.
“Alfa.”
“Jangan.”
“Pacarnya?”
“Celine.”
Dia tertawa.
Aku mempercepat langkah.
“Lucu banget.”
“Enggak.”
“Kamu yang bilang duluan.”
“Kesalahan administrasi.”
“Di depan orang.”
“Refleks.”
“Refleksmu mulai bagus.”
Aku berhenti.
Celine ikut berhenti.
“Kamu senang?”
Dia tidak bercanda kali ini.
“Iya.”
Jawaban itu sederhana.
Dadaku jadi hangat.
“Bagus.”
Celine menatapku beberapa detik.
Lalu bertanya, “Boleh?”
Dia mengangkat tangan sedikit.
Aku langsung tahu.
Aku mengulurkan tanganku.
Dia menggenggam.
Kami berjalan keluar gedung.
Tidak terlalu erat.
Tidak terlalu lama.
Tapi cukup.
Di parkiran, kami bertemu Ezra.
Dia membawa map tebal dan terlihat lelah.
“Kei.”
Celine menoleh.
“Kenapa?”
“Vendor minta revisi lagi.”
“Serius?”
Ezra mengangguk, lalu melihat tangan kami.
Matanya naik ke wajahku.
Ada satu detik aneh.
Bukan permusuhan.
Lebih seperti konfirmasi.
“Oh,” katanya.
Celine mengangkat alis. “Oh apaan?”
Ezra menatapku. “Resmi?”
Aku tidak tahu kenapa dia tanya aku.
Mungkin karena Celine terlalu jelas.
Aku mengangguk.
“Resmi.”
Ezra juga mengangguk.
“Nice.”
Tidak ada drama.
Tidak ada tatapan menantang.
Aneh sekali.
Aku sempat menyiapkan diri untuk kemungkinan buruk.
Yang datang justru pria yang terlihat terlalu capek untuk peduli.
Ezra menunjuk map.
“Kei, nanti gue kirim file.”
“Iya.”
Dia pergi.
Celine menoleh padaku.
“Kamu oke?”
“Hm.”
“Bener?”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Kami melanjutkan jalan.
Aku baru sadar tanganku masih menggenggam tangan Celine.
Bahkan saat Ezra datang tadi.
Aku tidak melepas.
Kesadaran itu membuat langkahku sedikit melambat.
Celine memperhatikan.
“Kenapa?”
“Enggak.”
Dia tidak memaksa.
Malamnya, di Ratri Bakehouse, Bu Siska datang membeli roti.
Aku sedang menyusun etalase.
Celine membantu Mbah di belakang.
Bu Siska meletakkan dua roti di meja kasir.
“Katanya tadi ngaku sendiri.”
Aku berhenti.
“Siapa yang kasih tahu?”
Bu Siska tersenyum.
“Informasi bergerak cepat.”
“Di kampus?”
“Anak Bu Rina kuliah sana.”
Aku menatap beliau.
“Kenapa jaringan Ibu seluas itu?”
“Silaturahmi.”
Aku menghela napas.
Mbah keluar dari dapur.
“Ngaku apa?”
Aku ingin menghilang.
Bu Siska langsung menjawab, “Ngaku Celine pacarnya.”
Mbah menatapku.
Lalu tersenyum puas.
“Bagus.”
Celine muncul di belakang dengan nampan.
“Apa yang bagus?”
Aku menunjuk Bu Siska.
“Beliau mata-mata.”
Bu Siska mengambil kantong roti.
“Fitnah.”
Celine melihat Mbah.
Mbah menjawab sebelum ditanya.
“Alfa ngakuin kamu di kampus.”
Celine menutup mulut supaya tidak tertawa.
Aku mengambil nampan dari tangannya.
“Kerja.”
“Baik, pacar.”
“Kerja.”
Malam semakin sepi.
Saat toko tutup, Celine berdiri di dekat meja kerja sambil mengikat rambut.
Beberapa helai jatuh di sisi wajah.
Tanpa berpikir, aku mengulurkan tangan dan menyelipkan satu helai ke belakang telinganya.
Gerakanku berhenti setelah selesai.
Celine juga diam.
Aku baru sadar apa yang kulakukan.
Tanganku hampir turun cepat.
Tapi Celine tidak bergerak.
Matanya lembut.
“Kenapa?” tanyaku defensif.
“Enggak.”
“Kamu lihat aneh.”
“Aku cuma…”
Dia tersenyum.
“…senang.”
Aku menurunkan tangan.
Bukan karena panik.
Cuma karena memang sudah selesai.
Celine mendekat sedikit.
“Boleh?”
Aku tahu pertanyaannya sekarang.
Aku mengangguk.
Dia mencium pipiku.
Singkat.
Ringan.
Aku membeku setengah detik.
Lalu menghela napas.
Celine mundur.
“Masih hidup?”
“Sayangnya.”
Dia tertawa.
Aku membuka pintu untuknya.
Sebelum keluar, Celine menoleh.
“Selamat malam, pacar.”
Kali ini aku tidak pura-pura kesal.
“Selamat malam.”
Dia sudah melangkah satu langkah ketika aku menambahkan,
“Pacar.”
Celine berhenti.
Aku menutup pintu.
Dari luar terdengar:
“ALFA!”
Aku tertawa sendiri.
Yang paling aneh bukan karena sekarang aku bisa bilang kata itu.
Yang paling aneh adalah aku tidak lagi merasa kata itu terlalu besar untuk kumiliki.
Siang setelah rapat, aku menerima pesan dari nomor yang tidak kusimpan.
Unknown
Hai, Alfa. Aku Rani, tadi yang nanya kamu temannya Celine. Maaf kalau bikin suasana canggung ya.
Aku membaca dua kali.
Alfa
Enggak apa-apa.
Pesan berikutnya:
Rani
Btw salut. Celine jarang banget keliatan sesantai itu sama cowok.
Aku hampir mengunci layar.
Lalu berhenti.
Kalimat itu tidak seharusnya penting.
Tapi ternyata penting.
Selama ini aku terus berpikir Celine bisa memilih siapa saja.
Pria yang lebih populer.
Lebih percaya diri.
Lebih mudah berdiri di sampingnya.
Aku jarang memikirkan kemungkinan sebaliknya.
Bahwa mungkin Celine juga berbeda ketika bersamaku.
Bukan karena aku lebih hebat.
Cuma karena dia merasa nyaman.
Aku menyimpan ponsel.
Dimas yang duduk di samping memperhatikan.
“Siapa?”
“Teman Celine.”
“Ngapain?”
“Enggak.”
Dimas mengangguk.
Lima detik.
“Lu lagi mikir lu nggak cocok sama dia?”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Karena muka lu.”
“Apa hubungannya?”
“Udah hafal.”
Aku menghela napas.
Dimas menutup laptop.
“Fa.”
“Hm?”
“Orang lain lihat hubungan lu cuma dari luar.”
Aku diam.
“Yang jalanin kalian.”
Aku tahu.
Celine juga sudah mengatakan hal serupa.
Tapi mendengar dari Dimas terasa berbeda.
“Kalau dia milih lu, ya jangan sibuk nyari alasan kenapa dia harusnya pilih orang lain.”
Aku menatap meja.
“Semua orang sekarang jadi konselor.”
“Gue cuma capek lihat lu kalah debat sama pikiran sendiri.”
Aku hampir tertawa.
Sore itu, saat bertemu Celine, aku tidak menceritakan pesan Rani.
Tidak perlu.
Tapi waktu kami berjalan keluar kampus, aku sengaja mengambil tangannya lebih dulu.
Celine menoleh.
Tidak bertanya.
Hanya menggenggam.
Dan untuk beberapa langkah, aku membiarkan orang melihat.
Bukan untuk membuktikan apa-apa kepada mereka.
Untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa aku tidak perlu bersembunyi dari sesuatu yang sebenarnya membuatku bahagia.
Di gerbang kampus, Celine berhenti sebentar.
“Fa.”
“Hm?”
“Terima kasih sudah bilang sendiri.”
Aku tahu yang dia maksud.
Pacarnya.
Aku mengangkat bahu.
“Harusnya biasa.”
“Buat kamu belum tentu.”
Aku menatapnya.
Celine tidak tersenyum mengejek.
Cuma hangat.
Aku mengangguk kecil.
“Masih aneh.”
“Boleh aneh.”
Dia menggenggam tanganku sedikit lebih erat.
Aku membiarkan.
Dan kali ini, ketika dua mahasiswa lewat dan melirik, aku tidak menarik tangan.
Aku cuma terus berjalan.
Di jalan pulang, aku baru sadar satu hal: menyebut Celine sebagai pacarku tidak lagi terdengar seperti sesuatu yang terlalu bagus untuk menjadi milikku. Dan itu terasa baik.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya reading
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru