Chapter Thirty One
Naya
POV: Celine
Ada satu jenis ketakutan yang tidak pernah kubayangkan akan kurasakan saat membawa Naya ke Ratri Bakehouse.
Takut seorang gadis tujuh belas tahun membuka rahasia yang kusimpan bertahun-tahun hanya dengan satu kalimat.
Hari itu Naya ikut karena Tante harus menghadiri acara kantor dan aku sudah berjanji mengajaknya melihat kampus. Setelah berkeliling, dia lapar.
Kesalahan pertamaku adalah berkata, “Aku tahu toko roti enak.”
Kesalahan kedua adalah lupa bahwa Alfa sedang menjaga kasir.
Begitu pintu terbuka, lonceng berbunyi.
Alfa menoleh.
Naya berhenti.
Aku melihat wajah sepupuku berubah. Matanya membesar.
Tidak. Jangan.
Naya menunjuk Alfa.
“Kak Roti?”
Alfa berkedip.
Aku menutup mata.
Selesai.
“Naya,” kataku.
Dia menoleh kepadaku, lalu kembali ke Alfa.
“INI KAK ROTI?”
Alfa melihatku perlahan.
“Celine?”
Aku ingin masuk ke oven.
Mbah Ratri keluar dari dapur.
“Ada apa?”
Naya sudah berjalan mendekati Alfa.
“Kakak dulu suka datang ke Panti Pelita, kan?”
Alfa masih terlihat bingung.
“Iya.”
Naya menepuk kedua tangannya.
“Aku Naya!”
Alfa menatap wajahnya beberapa detik. Lalu ekspresinya berubah.
“Naya yang dulu rambutnya pendek?”
Naya hampir melompat.
“KAKAK INGAT?”
“Sedikit.”
“Sedikit apaan? Kakak pernah bantu aku bikin gunung dari bubur kertas!”
Aku berdiri seperti terdakwa.
Alfa menatapku lagi.
“Kamu tahu?”
Nada itu tidak marah. Belum.
Aku menarik napas.
“Iya.”
Naya melihat kami bergantian.
“Kalian kenal?”
Mbah menjawab dari belakang, “Pacaran.”
Naya menjerit.
Aku benar-benar ingin masuk oven.
“CELINE!”
“Naya, volume.”
“KAMU PACARAN SAMA KAK ROTI?”
Alfa memijat pelipis.
Mbah tertawa.
Naya menyerangku dengan pertanyaan.
“Sejak kapan? Kok nggak cerita? Jadi ini yang kamu bilang cowok hoodie? KENAPA NGGAK BILANG KAK ROTI?”
Alfa menangkap satu kata.
“Cowok hoodie?”
Aku menunjuk Naya.
“Dia pengkhianat.”
Naya berbalik ke Alfa.
“Kak, dulu semua anak nungguin hari Sabtu karena Kakak datang.”
Alfa terlihat tidak nyaman.
“Jangan lebay.”
“Bener!”
“Naya.”
“Apa?”
“Pilih roti.”
Dia akhirnya teralihkan.
Aku menunggu sampai Naya dan Mbah pindah ke etalase.
Alfa berdiri di depanku.
“Kamu tahu aku pernah ke sana?”
Aku mengangguk.
“Sejak kapan?”
“Sejak sebelum kita kenal di kampus.”
Alfa diam.
“Aku bisa jelasin.”
“Aku nggak marah.”
Itu justru membuatku lebih gugup.
“Aku cuma bingung.”
“Naya dulu tinggal di sana beberapa bulan setelah orang tuanya meninggal. Aku sering datang.”
“Hm.”
“Dan aku pernah lihat kamu.”
Alfa menatap lantai.
“Kapan?”
“Waktu SMA.”
Dia mengusap tengkuk.
“Kenapa nggak bilang?”
“Awalnya aku takut kamu mikir aku mendekat cuma karena itu. Setelah aku tahu soal pengalamanmu, aku makin takut.”
Dia tidak langsung menjawab.
Dari etalase terdengar Naya dan Mbah berdebat soal donut.
“Jadi kamu memang udah tahu aku?”
“Wajahmu enggak jelas waktu itu.”
Dia menunjuk poni.
“Karena ini?”
Aku hampir tertawa.
“Iya.”
“Aku baru yakin setelah lihat beberapa kebiasaanmu.”
“Kayak?”
“Lengan hoodie. Bekas luka dekat ibu jari. Dan suara.”
Dia melihat bekas kecil di tangannya.
“Fa.”
“Hm?”
“Kalau kamu kesal aku nggak cerita, bilang.”
“Aku belum tahu.”
Jawaban jujur.
“Oke.”
Naya kembali membawa kotak donut.
“Kak Alfa, masih datang ke panti?”
“Masih. Kalau sempat.”
Wajah Naya cerah.
“Aku ikut kapan-kapan boleh?”
“Boleh.”
Dia menunjukku.
“Celine juga.”
Alfa menatapku.
“Kalau mau.”
“Mau.”
Sore itu kami bertiga makan dekat jendela. Naya menceritakan boneka yang diperbaiki, kue ulang tahun, dan anak-anak yang dulu memanggil Alfa Kak Roti.
Alfa berkali-kali menyuruhnya berhenti.
Naya tidak peduli.
Tanganku ada di meja.
Tanpa menoleh, Alfa menyentuh jari kelingkingku dengan jarinya. Kemudian dia menggenggam tanganku di bawah meja.
Aku menatapnya.
Alfa tetap melihat Naya.
Genggamannya hangat.
Mungkin dia belum tahu bagaimana perasaannya soal rahasia ini.
Aku juga tidak berharap semuanya selesai hari ini.
Tapi dia masih menggenggam tanganku.
Untuk sekarang, itu cukup.
Saat Naya ke toilet, Alfa berkata, “Aku dulu nggak tahu kamu ada.”
“Aku tahu.”
“Agak nggak adil.”
“Apa?”
“Kamu punya head start.”
Aku tertawa kecil.
“Makanya aku yang ngejar.”
Alfa menatapku.
Lalu sudut bibirnya naik.
“Masuk akal.”
Aku hampir lega terlalu cepat.
Dia belum marah. Tapi ada pertanyaan di matanya yang belum selesai.
Malamnya, Naya mengirim pesan.
Naya
CELINE.
Celine
Apa.
Naya
Kamu pacaran sama first crush hero masa kecilmu.
Aku menutup wajah.
Celine
Bukan hero.
Naya
Terus kenapa kamu masih simpan foto panti yang ada dia di belakang?
Aku membeku.
Foto.
Sial.
Celine
Jangan pernah bilang itu ke Alfa.
Naya
Kenapa?
Aku menatap layar.
Karena aku takut dia mengambil semua perasaanku sekarang dan mengubahnya menjadi sesuatu yang berasal dari masa lalu.
Padahal tidak.
Anak SMA di panti membuatku penasaran.
Alfa yang sekarang membuatku jatuh cinta.
Celine
Nanti aku jelasin sendiri.
Aku membuka foto lama itu.
Buram. Alfa hanya terlihat di belakang, duduk di lantai bersama anak-anak.
Aku sudah menyimpannya bertahun-tahun.
Tapi sekarang, ketika melihat foto itu, yang kurindukan bukan anak laki-laki di sana.
Yang ingin kutemui besok adalah pacarku yang mengomel soal roti gosong, mencuri kentangku, dan mulai mencari tanganku ketika takut.
Itulah kebenarannya.
Aku hanya berharap saat waktunya tiba, Alfa bisa mempercayainya.
Ponsel berbunyi lagi.
Alfa
Naya udah sampai rumah?
Aku tersenyum.
Celine
Udah.
Alfa
Dia masih berisik?
Celine
Sekarang interogasi aku.
Alfa
Bagus.
Celine
Pacar macam apa kamu?
Lama.
Alfa
Yang tadi masih pegang tangan kamu.
Aku membeku lagi.
Hari ini semua orang rupanya ingin membunuhku.
Aku menutup wajah dengan bantal.
Masalah rahasia itu belum selesai.
Tapi kalimat Alfa mengingatkanku pada sesuatu.
Hubungan kami tidak dibangun di masa lalu.
Ia sedang terjadi sekarang.
Dan aku harus berhati-hati agar keinginanku melindunginya tidak membuatku lupa memberi Alfa hak menentukan cerita hidupnya sendiri.
Keesokan sore aku datang ke toko sendirian.
Aku sempat berhenti di depan pintu.
Biasanya aku masuk tanpa berpikir. Hari ini rasanya berbeda karena Alfa sekarang tahu ada bagian masa lalunya yang pernah kulihat tanpa dia tahu.
Begitu masuk, dia sedang melayani Bu Mina.
“Yang biasa?” tanyanya.
Bu Mina mengangguk, lalu melihatku.
“Datang.”
“Iya, Bu.”
“Bagus.”
Aku tidak tahu apa yang bagus, tapi memilih menerima.
Setelah Bu Mina pergi, Alfa mengambil satu kotak dari bawah meja.
“Ini.”
Aku membuka.
Dua roti cacat.
Aku menatapnya.
“Jatahmu?”
“Hm.”
“Masih dikasih?”
Alfa mengernyit.
“Kenapa enggak?”
Pertanyaan sederhana itu membuat kekhawatiranku sedikit mengendur.
Aku berdiri di samping kasir.
“Fa.”
“Hm?”
“Kamu benar-benar nggak marah?”
Dia berpikir cukup lama.
“Aku agak kesal kamu nggak bilang.”
Aku mengangguk.
“Tapi aku ngerti kenapa.”
“Boleh kesal.”
“Aku tahu.”
Aku tersenyum kecil.
Kemudian dia berkata, “Aku lebih takut sama alasan kamu suka.”
Dadaku berhenti.
“Takut gimana?”
Alfa menatap etalase.
“Kalau ternyata kamu cuma…”
Dia tidak selesai.
“Kasihan?”
Dia mengangkat bahu.
“Atau merasa utang.”
Aku langsung ingin menyangkal dengan keras.
Tapi aku menahan.
Kalau aku terlalu cepat, dia mungkin mengira aku sedang menutup percakapan.
“Awalnya aku kagum,” kataku.
Alfa menunggu.
“Bukan kasihan. Bukan utang.”
Aku menunjuk dirinya.
“Dan sekarang aku suka kamu karena kamu.”
“Definisi yang sangat membantu.”
Aku tertawa kecil.
“Karena kamu ingat aku nggak suka kismis. Karena kamu selalu makan roti jelek. Karena kamu pura-pura nggak nunggu aku padahal lihat pintu sepuluh kali. Karena kamu bisa nyebelin.”
“Yang terakhir bukan pujian.”
“Buat aku iya.”
Alfa hampir tersenyum.
Aku melanjutkan, “Aku nggak minta kamu langsung percaya seratus persen.”
Dia menatapku.
“Cuma jangan bikin kesimpulan sendirian.”
Kalimat itu hampir mirip lock phrase kami, tapi aku sengaja tidak mengucapkannya penuh.
Belum waktunya.
Alfa mengangguk.
Kemudian mengulurkan tangan.
Aku mengambil.
Kami berdiri di belakang kasir, bergandengan seperti dua orang bodoh.
Pintu terbuka.
Pak Yono masuk.
Dia melihat tangan kami.
Berbalik.
“Pak?” panggil Alfa.
“Saya kembali nanti.”
“Kenapa?”
“Tidak mau ganggu perkembangan karakter.”
Aku tertawa keras.
Alfa menutup mata.
“Pak Yono kebanyakan nonton drama.”
Dari luar Pak Yono menjawab, “Episode enam belas!”
Aku tertawa lebih keras.
Dan suasana yang tadi berat pecah.
Mungkin itu alasan aku menyukai tempat ini.
Bahkan percakapan yang menakutkan tidak harus berakhir dalam kesunyian.
Kadang setelahnya ada roti cacat, tangan yang tetap menggenggam, dan tetangga yang tidak tahu kapan harus berhenti menonton drama.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya reading
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru