← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Seventeen

Kalau Aku Tidak Datang

POV: Alfa

Hari berikutnya, Celine tidak muncul di kampus.

Aku tahu karena aku melihat ke arah gedungnya dua kali.

Tiga kali.

Empat.

Dimas tidak komentar.

Itu justru lebih buruk.

Sampai akhirnya dia berkata, “Lu mau gue pura-pura nggak lihat sampai kapan?”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Lu dari tadi nyariin satu orang.”

“Aku cuma lihat.”

“Empat kali?”

Aku mengangkat bahu.

Ponselku diam.

Tidak ada pesan pagi.

Biasanya Celine mengirim sesuatu.

Kadang cuma foto langit.

Kadang keluhan tentang kelas.

Kadang pertanyaan tidak penting seperti apakah roti tawar bisa dianggap sarapan lengkap.

Hari ini tidak ada.

Aku mencoba fokus.

Gagal.

Jam dua belas lewat sedikit, aku mengirim pesan.

Alfa

Kamu masuk?

Tidak dibalas.

Sepuluh menit.

Dua puluh.

Setengah jam.

Aku mulai merasa tidak enak.

Dimas melihat jam.

“Telepon.”

“Aku nggak mau ganggu.”

“Kalau dia tidur, tinggal nggak diangkat.”

Aku menatap layar.

Jempolku berhenti di ikon telepon.

Akhirnya aku tekan.

Satu nada.

Dua.

Tiga.

Tidak diangkat.

Aku menutup.

Lima menit kemudian ponselku bergetar.

Celine

Maaf.

Celine

Aku demam sedikit.

Aku langsung berdiri.

Dimas melihatku.

“Kenapa?”

“Celine sakit.”

“Terus?”

Aku mengambil tas.

“Aku pulang.”

Dimas mengangguk seperti sudah menduga.

Aku berhenti.

“Kenapa muka lu begitu?”

“Enggak.”

“Lu senyum?”

“Sedikit.”

“Kenapa?”

“Karena akhirnya lu ngerti sendiri.”

Aku tidak bertanya maksudnya.

Aku sudah tahu.

Di rumah, Mbah sedang menimbang tepung.

“Celine sakit,” kataku.

Beliau menoleh.

“Demam?”

“Katanya sedikit.”

“Sedikit itu berapa?”

“Enggak tahu.”

Mbah menghela napas. “Bawakan bubur.”

Aku berhenti.

“Aku?”

“Kalau Mbah yang antar, nanti dibilang agresif.”

Aku menatap beliau.

Mbah menahan senyum.

“Aku nggak tahu rumahnya.”

“Kirim pesan.”

Tentu saja.

Aku membuka chat.

Alfa

Alamat rumahmu.

Balasan datang cepat.

Celine

Kenapa?

Alfa

Alamat.

Celine

Alfa Pradipta, kamu mau ngapain?

Aku mengetik.

Alfa

Antar makanan.

Lama.

Lalu alamat dikirim.

Aku membawa bubur ayam buatan Mbah, dua roti susu, dan satu botol air mineral.

Perjalanan terasa aneh.

Aku tidak pernah datang ke rumah seorang perempuan seperti ini.

Tidak pernah punya alasan.

Tidak pernah ingin.

Rumah Celine berada di kawasan yang lebih rapi dan tenang daripada tempatku tinggal.

Aku berdiri di depan pagar, menatap nomor rumah dua kali.

Ponsel bergetar.

Celine

Aku lihat kamu dari jendela.

Aku langsung menoleh ke lantai dua.

Tirai bergerak.

Beberapa detik kemudian pintu depan terbuka.

Celine muncul memakai kaus longgar dan celana rumah.

Rambutnya diikat seadanya.

Wajahnya pucat.

Dia tetap cantik.

Pikiran itu datang tanpa izin.

Aku langsung menatap kantong makanan.

“Kamu harusnya tidur.”

Celine bersandar di kusen.

“Kamu beneran datang.”

“Aku sudah bilang.”

“Aku kira kamu bakal berubah pikiran.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Dia tersenyum kecil.

“Karena ini jauh.”

“Enggak terlalu.”

Dia melihat kantong.

“Itu apa?”

“Bubur.”

“Buatan Mbah?”

“Iya.”

“Berarti aku sakit dengan privilege.”

“Jangan lebay.”

Celine tertawa pelan lalu batuk.

Aku langsung mengernyit.

“Masuk.”

Dia berkedip. “Hah?”

“Bukan aku. Kamu.”

“Oh.”

Aku menyerahkan kantong.

Tangannya menyentuh sedikit jariku.

Aku menegang sepersekian detik.

Tapi kali ini aku tidak mundur.

Celine juga tidak membuat komentar.

Dia hanya menerima.

“Alfa.”

“Hm?”

“Makasih.”

Aku mengangguk.

Seharusnya aku pulang.

Tapi kakiku tidak bergerak.

“Kamu sendirian?”

“Mama sama Papa masih kerja. Mbak di rumah ada.”

Aku mengangguk.

“Obat sudah minum?”

“Sudah.”

“Makan dulu.”

“Iya.”

Celine menatapku beberapa detik.

“Kamu khawatir?”

Aku langsung melihat ke samping.

“Normal.”

“Normal?”

“Orang sakit ya dikhawatirin.”

“Semua orang kamu antar bubur?”

Aku diam.

Celine tersenyum lemah.

Aku tidak punya jawaban yang aman.

Akhirnya aku berkata, “Enggak.”

Itu membuat ekspresinya berubah.

Senyum kecil.

Hangat.

Tidak menggoda.

Aku merasa lebih gugup daripada kalau dia tertawa.

“Aku masuk,” katanya.

“Hm.”

“Kamu pulang hati-hati.”

Aku mengangguk.

Pintu hampir tertutup ketika dia membuka lagi.

“Fa.”

Aku menoleh.

“Besok kalau aku belum masuk, jangan panik.”

“Aku nggak panik.”

“Ya.”

Nada suaranya jelas tidak percaya.

Aku pulang.

Setengah jalan, ponselku bergetar.

Celine

Buburnya enak.

Aku membalas.

Alfa

Makan sampai habis.

Celine

Siap.

Beberapa detik kemudian:

Celine

Rotinya juga aku simpan.

Alfa

Jangan disimpan lama.

Celine

Iya, Pak Alfa.

Aku memasukkan ponsel ke saku.

Malamnya, sebelum tidur, satu pesan lagi masuk.

Celine

Demamnya turun.

Aku menatapnya cukup lama.

Alfa

Bagus.

Lalu, setelah berpikir beberapa detik, aku mengetik lagi.

Alfa

Besok kabarin lagi.

Pesan terkirim.

Aku meletakkan ponsel.

Baru beberapa menit kemudian aku sadar.

Aku bukan cuma ingin tahu dia baik-baik saja.

Aku ingin dia mengabariku.

Perbedaannya kecil.

Tapi tidak terasa kecil.

Besok pagi, aku bangun lebih cepat.

Hal pertama yang kulihat adalah layar ponsel.

Ada satu pesan.

Celine

Pagi. Masih hidup.

Aku tersenyum.

Balasan kuketik tanpa ragu.

Alfa

Bagus.

Beberapa minggu lalu, aku akan merasa lega kalau Celine tidak datang.

Sekarang satu hari tanpa dia membuat kampus terasa terlalu sepi.

Dan mungkin aku sudah terlalu jauh untuk terus berpura-pura tidak tahu apa artinya.

Aku turun ke dapur setelah membalas.

Mbah sudah bangun dan sedang menyeduh teh.

“Pagi.”

“Pagi.”

Beliau melihat wajahku.

“Kabarnya?”

“Demam turun.”

Mbah mengangguk puas.

Aku mengambil piring.

“Mbah.”

“Hm?”

“Kalau orang sakit, biasanya harus diapain selain makan dan obat?”

Beliau berhenti menuang teh.

Aku langsung menyesal bertanya.

“Mbah cuma nanya.”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu jarang nanya hal normal.”

Aku menatap beliau.

“Tidur cukup,” kata Mbah akhirnya. “Minum. Jangan banyak aktivitas.”

Aku mengangguk.

“Terus jangan cerewet.”

“Aku nggak cerewet.”

“Maksud Mbah Celine.”

Aku menahan tawa.

Sore harinya, setelah kelas, aku tidak langsung pulang.

Aku duduk di tangga belakang gedung sambil membuka ponsel.

Tidak ada pesan baru.

Aku hampir mengirim pertanyaan lagi.

Kutahan.

Dia perlu istirahat.

Beberapa menit kemudian justru ada panggilan masuk.

Celine.

Aku melihat layar cukup lama sebelum mengangkat.

“Halo.”

“Alfa.”

Suaranya masih sedikit serak.

“Kamu kenapa telepon?”

“Bosen.”

“Tidur.”

“Aku sudah tidur.”

“Tidur lagi.”

“Kamu kayak Mbah.”

“Itu pujian.”

Celine tertawa pelan.

Lalu hening.

Aku mendengar suara kipas dari sisi sana.

Anehnya, aku tidak merasa perlu mengisi diam.

“Aku cuma mau dengar suara orang,” katanya akhirnya.

Aku menatap halaman belakang kampus.

“Temanmu?”

“Tara kelas. Nadine ada acara.”

“Oh.”

“Kalau kamu sibuk, tutup aja.”

Aku hampir bilang aku tidak sibuk.

Padahal seharusnya aku pulang.

Tapi aku tetap duduk.

“Enggak.”

Celine diam.

“Enggak apa?”

“Enggak sibuk.”

Bohong kecil.

Tapi untuk sekali ini aku tidak keberatan.

Kami bicara hampir dua puluh menit.

Sebagian besar tentang hal tidak penting.

Mbah yang marah karena supplier terlambat.

Dimas yang salah mengumpulkan file.

Kucing Croissant yang akhirnya resmi dipanggil begitu oleh Bu Siska sehingga aku kalah total.

Celine tertawa lebih banyak.

Sebelum menutup, dia berkata, “Fa.”

“Hm?”

“Kemarin aku bilang jangan panik.”

“Aku nggak panik.”

“Ya.”

Aku tahu dia tersenyum dari suaranya.

“Besok kalau badanku enak, aku masuk.”

“Jangan dipaksa.”

“Iya.”

“Serius.”

“Serius.”

Panggilan berakhir.

Aku melihat durasinya.

Dua puluh tiga menit.

Aku tidak pernah telepon selama itu dengan perempuan yang bukan Mbah.

Dimas keluar dari pintu belakang dan melihatku.

“Lu belum pulang?”

“Sebentar lagi.”

“Telepon siapa?”

Aku memasukkan ponsel ke saku.

Dimas berhenti.

“Oh.”

“Kenapa oh?”

“Gue nggak bilang apa-apa.”

Dia berjalan melewatiku.

Sebelum masuk tangga, dia menoleh.

“Fa.”

“Hm?”

“Kalau lu terus nyebut semua ini ‘normal’, definisi normal lu perlu diperiksa.”

Aku mengambil botol air dan melemparkannya pelan.

Dia menghindar sambil tertawa.

Aku tinggal sendiri lagi.

Mungkin dia benar.

Aku tidak mengantar bubur ke semua orang.

Tidak menunggu kabar demam semua orang.

Tidak mau mendengar suara semua orang hanya karena mereka bosan.

Semua hal yang selama ini kusebut normal ternyata hanya normal kalau orangnya Celine.

Kesadaran itu seharusnya membuatku takut.

Memang membuat takut.

Tapi kali ini aku tidak mencari alasan untuk lari.

Aku hanya duduk sebentar lagi dan menunggu besok.

Besok terasa lebih dekat daripada biasanya, dan aku tidak membencinya.