Chapter Twelve
Datang Saja
POV: Celine
Ada tiga hal yang kupelajari setelah beberapa kali datang ke Ratri Bakehouse.
Pertama, Mbah Ratri bisa mengetahui kebohongan hanya dari cara Alfa meletakkan loyang.
Kedua, Bu Siska mengetahui semua hal bahkan sebelum orang yang terlibat menyadarinya.
Ketiga, kalau Alfa bilang “enggak capek”, artinya dia sangat capek.
Hari ini dia mengatakan itu tiga kali.
“Aku enggak capek.”
Aku berdiri di depan meja kerja sambil menatap wajahnya.
“Ini yang ketiga.”
“Apa?”
“Kamu bilang enggak capek.”
“Karena kamu nanya tiga kali.”
“Berarti aku konsisten.”
“Berarti kamu cerewet.”
Dari kursi dekat kasir, Mbah Ratri mengangkat tangan. “Saya setuju Celine.”
Alfa menoleh. “Mbah istirahat.”
“Saya sedang istirahat.”
“Jangan ikut debat.”
“Mulut saya enggak sakit.”
Aku menahan tawa.
Pagi tadi lutut Mbah sedikit kambuh. Bukan sesuatu yang gawat, tapi cukup membuat Alfa mengambil hampir semua pekerjaan toko sendiri setelah pulang kuliah. Dia membuat adonan, mengurus pelanggan, memeriksa stok, dan entah bagaimana masih sempat memperbaiki engsel lemari yang longgar.
Aku datang setelah kelas dan menemukan dia sedang mencoba membawa dua baki sekaligus.
Karena itu sekarang aku ada di sini, memakai celemek cadangan milik Mbah dan bertugas membungkus roti.
Kemampuanku sudah meningkat.
Sekarang bungkusanku hanya terlihat seperti paket barang mencurigakan, bukan barang bukti pembunuhan.
Kemajuan.
“Yang itu kebalik,” kata Alfa.
Aku melihat lipatan di tanganku. “Yang mana?”
“Sisinya.”
“Masih tertutup.”
“Tapi jelek.”
Aku menatapnya. “Kamu perfeksionis.”
“Aku jual barang.”
“Pelanggan makan rotinya, bukan bungkusnya.”
“Kalau begitu besok aku kasih pakai koran.”
Aku diam.
Alfa mengangkat satu alis.
Aku menunjuknya. “Itu sarkasme.”
“Observasi.”
Aku tertawa.
Beberapa pelanggan sore datang hampir bersamaan. Aku membantu kasir sementara Alfa mengambil pesanan. Bu Mina membeli dua roti susu dan satu donut gula.
Beliau melihat celemekku.
“Sudah kerja di sini?”
“Magang, Bu.”
“Gajinya?”
Aku menunjuk Alfa. “Belum dibahas.”
Bu Mina mengangguk serius. “Jangan mau dibayar murah.”
Alfa dari belakang berkata, “Dia datang sendiri.”
Bu Mina menoleh kepadanya. “Tetap bayar.”
“Bayar pakai apa?”
Bu Mina memandangku, lalu Alfa, lalu kembali kepadaku.
“Pikir sendiri.”
Aku langsung tertawa.
Alfa menutup wajah dengan satu tangan.
Setelah Bu Mina pergi, dia bergumam, “Aku mau pindah.”
“Ke mana?”
“Tempat yang nggak ada tetangga.”
“Antartika?”
“Pertimbangan bagus.”
Menjelang toko tutup, Mbah masuk lebih dulu ke rumah. Aku membantu menyeka meja, lalu melihat Alfa duduk untuk pertama kali sejak aku datang.
Dia menyandarkan kepala ke dinding.
“Capek?”
Dia membuka satu mata.
Aku menunjuk. “Hati-hati jawabannya.”
Alfa menutup mata lagi. “Sedikit.”
Aku tersenyum puas. “Nah.”
“Kenapa senang?”
“Karena kamu akhirnya jawab jujur.”
“Aku memang sedikit capek.”
“Kamu dari tadi kerja enam jam.”
“Biasa.”
Aku mengambil air mineral dari kulkas dan meletakkannya di meja dekat dia.
Tidak menyentuh tangannya.
Tidak menyuruh minum.
Hanya meletakkan.
Alfa membuka mata, melihat botol itu, lalu aku.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Aku duduk di kursi lain.
Beberapa menit kami diam.
Dulu aku pasti mengisi keheningan dengan bicara apa saja. Menggodanya. Bertanya. Membuat dia bereaksi.
Sekarang aku mulai tahu bahwa diam bersama Alfa bukan kegagalan percakapan.
Kadang itu justru bentuk kepercayaan.
Ponselku berbunyi.
Tara
Masih di bakery?
Aku mengetik.
Celine
Iya.
Tara
Lu sekarang kerja shift?
Celine
Volunteer.
Tara
Dibayar apa?
Aku hampir tertawa karena pertanyaannya sama dengan Bu Mina.
Celine
Roti cacat.
Tara mengirim stiker tertawa.
Alfa melirik ponselku. “Tara?”
“Iya.”
“Ngomongin aku?”
Aku menatapnya. “Kok tahu?”
“Feeling buruk.”
“Bagus. Instingmu berkembang.”
Dia menghela napas.
Aku menyimpan ponsel.
“Besok aku mungkin nggak bisa datang.”
Alfa membuka mata lagi.
Ada jeda kecil.
“Oh.”
Aku menahan senyum.
“Ada presentasi kelompok. Selesainya malam.”
“Oke.”
Aku menunggu.
Dia tidak bilang apa-apa lagi.
Baik. Jangan serakah, Celine.
Aku berdiri mengambil tas.
“Kalau gitu aku pulang.”
Alfa ikut berdiri.
“Aku antar depan.”
Kalimat sederhana itu membuatku berhenti.
Biasanya dia hanya bilang hati-hati dari dalam toko.
Kami berjalan ke depan bersama. Jalanan sudah lebih sepi. Lampu bengkel Pak Yono masih menyala.
Pak Yono sedang menutup rolling door saat melihat kami.
“Pulang, Celine?”
“Iya, Pak.”
Pak Yono melihat Alfa yang berdiri di sampingku. “Antar.”
“Aku sampai depan aja,” kata Alfa.
“Depan mana?”
“Depan toko.”
Pak Yono menggeleng seperti kecewa pada generasi muda. “Episode awal sekali.”
Aku tertawa. “Pak Yono habis nonton drama lagi?”
Pak Yono langsung defensif. “Istri saya yang nonton.”
Dari dalam bengkel terdengar suara televisi Korea.
Alfa berkata datar, “Ibu lagi pulang kampung, Pak.”
Pak Yono menutup rolling door lebih cepat. “Malam.”
Aku tertawa sampai harus memegang perut.
Alfa juga tersenyum kecil.
Ketika tawaku reda, aku melihat dia.
“Apa?” tanyanya.
“Enggak.”
“Kamu lihat-lihat.”
“Aku baru tahu kamu suka menjatuhkan orang.”
“Fakta.”
“Kasihan Pak Yono.”
“Dia akan pulih.”
Mobil belum datang juga setelah beberapa menit. Kami akhirnya berdiri di bawah lampu depan toko.
Alfa melihat jam. “Sopirmu masih lama?”
“Katanya lima menit.”
“Lima menit versi orang Jakarta atau lima menit beneran?”
Aku menatapnya. “Kamu mulai banyak bercanda.”
“Bukan bercanda. Pengalaman.”
Aku tertawa kecil.
Ada suara kucing dari bawah bangku depan toko. Seekor kucing belang keluar perlahan dan langsung mendekati Alfa.
Aku menunjuk. “Itu pelanggan juga?”
“Preman.”
Alfa jongkok, mengambil potongan kecil roti tawar dari kantong sisa produksi, lalu meletakkannya di mangkuk plastik dekat dinding.
“Kamu kasih makan tiap hari?”
“Kadang.”
Aku langsung tersenyum. “Kadang lagi.”
Dia menatapku. “Kenapa?”
“Enggak. Aku mulai hafal kamusmu.”
Kucing itu makan dengan tenang. Alfa berdiri lagi, lalu menyapu remah dari tangannya.
“Namanya siapa?”
“Enggak punya.”
“Kasihan.”
“Dia kucing liar.”
“Bisa tetap punya nama.”
“Kamu mau kasih?”
Aku menatap kucing itu serius. “Croissant.”
Alfa langsung menggeleng. “Jangan.”
“Kenapa?”
“Dia nggak berbentuk croissant.”
“Itu bukan syarat nama.”
“Kamu punya sprinkles bintang dan sekarang mau menamai kucing Croissant. Aku mulai meragukan penilaianmu.”
Aku menatapnya tak percaya. “Kamu sekarang berani menghina aku?”
“Observasi.”
Aku menunjuk wajahnya. “Nah, ini akibat aku terlalu baik.”
Alfa hampir tersenyum lagi.
Dan entah kenapa, melihat senyum kecil yang dulu hampir tidak pernah muncul itu terasa jauh lebih menyenangkan daripada semua godaan yang berhasil membuat telinganya merah.
Aku mulai mengerti bahwa kemenangan terbesar bukan membuat Alfa bereaksi.
Kemenangan terbesar adalah membuatnya lupa bahwa dia harus menjaga diri setiap detik.
Mobil yang menjemputku muncul di ujung jalan.
Aku berbalik kepada Alfa.
“Besok jangan kerja terlalu banyak.”
“Kamu juga jangan gagal presentasi.”
Aku ternganga. “Supportive sekali.”
“Realistis.”
Aku membuka pintu mobil, lalu berhenti.
“Alfa.”
“Hm?”
“Makasih udah bolehin aku bantu hari ini.”
Dia memasukkan tangan ke saku hoodie.
“Kamu nggak perlu minta izin terus buat bantu toko.”
Aku menatapnya.
Alfa tampak sadar kalimatnya bisa diartikan lebih luas. Telinganya mulai merah.
Aku sengaja tidak menyelamatkannya.
“Berarti aku boleh datang kapan aja?”
Dia diam beberapa detik.
Lalu, sangat pelan, dia mengangguk.
“Datang aja.”
Aku masuk ke mobil sebelum senyumku membuatnya berubah pikiran.
Ponselku bergetar bahkan sebelum mobil keluar dari ujung jalan.
Alfa
Kabari kalau sudah sampai.
Aku menatap layar terlalu lama.
Sopir di depan sampai melihat lewat kaca tengah. “Mbak, kenapa?”
“Enggak apa-apa.”
Aku mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik lagi. Aku ingin mengirim sesuatu yang menggoda. Ingin bilang dia mulai perhatian. Ingin membuatnya menyesal sudah mengirim pesan.
Tapi akhirnya aku memilih sederhana.
Celine
Iya.
Beberapa detik kemudian muncul satu balasan.
Alfa
Oke.
Aku tersenyum sendiri.
Kadang satu “oke” dari Alfa terasa lebih berharga daripada paragraf panjang dari orang lain, terutama karena aku tahu dia tidak memberikannya sembarangan.
Sepanjang perjalanan pulang, dua kata itu terus berputar di kepalaku.
Datang aja.
Beberapa minggu lalu, Alfa selalu mencari cara pergi ketika aku mendekat.
Sekarang dia memberiku tempat untuk kembali.
Belum besar.
Belum bernama.
Tapi ada.
Dan untuk sekarang, itu cukup.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja reading
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru