Chapter Fifteen
Jatah yang Disimpan
POV: Alfa
Ada satu roti yang bentuknya tidak sempurna.
Sedikit terlalu miring.
Bagian atasnya mengembang tidak rata.
Biasanya itu otomatis masuk ke rak belakang.
Jatahku.
Tanganku sudah mengambilnya ketika Mbah berkata, “Yang itu jangan.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Buat Celine.”
Aku melihat roti di tangan.
“Mbah ngapain hafal?”
“Karena tiap yang jelek sekarang kamu simpan.”
“Itu kebetulan.”
Mbah mengangguk.
“Kalau begitu kebetulanmu konsisten.”
Aku meletakkan roti itu ke kotak kecil.
Tidak membantah.
Mbah tidak mengatakan apa-apa lagi, yang justru lebih menyebalkan.
Hari itu Celine tidak muncul sampai jam lima.
Tidak ada pesan.
Aku tahu dia punya kelas sampai sore.
Aku juga tahu seharusnya aku tidak perlu tahu.
Jam setengah enam, Bu Siska datang membeli dua roti sobek.
“Celine nggak datang?”
Aku hampir menjatuhkan penjepit.
“Kenapa nanya aku?”
“Biasanya ada.”
“Dia punya hidup.”
Bu Siska mengangguk. “Kamu juga harusnya.”
Aku menatap beliau.
Bu Siska tersenyum puas lalu pergi.
Pak Yono datang dua puluh menit kemudian.
Dia melihat kursi dekat kasir.
Kosong.
Lalu melihatku.
Aku langsung berkata, “Jangan.”
“Saya belum ngomong.”
“Itu lebih bahaya.”
Pak Yono mengambil satu kopi botolan dari kulkas.
“Dalam hubungan—”
“Kami nggak punya hubungan.”
“Dalam ketidakpunyaan hubungan, komunikasi juga penting.”
Aku menunjuk pintu.
Pak Yono tertawa.
Aku mengeluarkan ponsel.
Tidak ada pesan baru.
Akhirnya aku membuka chat Celine.
Jempolku berhenti cukup lama di atas layar.
Alfa
Kamu hari ini nggak ke toko?
Aku menatap kalimat itu.
Terlalu jelas.
Aku menghapus.
Mengetik lagi.
Alfa
Sudah selesai kelas?
Lebih aman.
Aku kirim.
Lima menit.
Tidak ada jawaban.
Sepuluh menit.
Masih tidak ada.
Aku mulai tidak fokus menata roti.
Mbah memperhatikan.
“Telepon.”
“Kenapa?”
“Kalau khawatir.”
“Aku nggak khawatir.”
Mbah menatapku seperti menatap anak kecil yang baru bilang matahari dingin.
Aku memasukkan ponsel ke saku.
Lima menit kemudian benda itu bergetar.
Celine
Maaf baru lihat.
Celine
Aku ketiduran di ruang organisasi.
Aku membaca dua kali.
Alfa
Kenapa tidur di sana?
Balasan datang.
Celine
Karena kalau tidur di kelas dosennya marah.
Aku menghela napas.
Alfa
Kamu sakit?
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Celine
Enggak. Cuma capek.
Aku tidak percaya sepenuhnya.
Alfa
Sudah makan?
Tidak langsung dibalas.
Itu jawaban.
Aku mengambil kotak kecil berisi roti miring tadi.
“Mbah, aku keluar sebentar.”
Mbah bahkan tidak melihatku.
“Bawa payung.”
Aku berhenti.
“Di luar nggak hujan.”
“Biar ada alasan kalau ditanya.”
Aku tidak menjawab.
Perjalanan ke kampus tidak jauh.
Tetap saja aku merasa bodoh sepanjang jalan.
Aku bisa saja menyuruh Celine beli makan.
Bisa mengirim pesan.
Bisa melakukan banyak hal yang tidak mengharuskanku datang.
Tapi kakiku tetap membawaku ke gedung organisasinya.
Aku tidak masuk.
Aku mengirim pesan.
Alfa
Keluar sebentar.
Balasan datang cepat.
Celine
Hah?
Alfa
Aku di depan.
Tiga titik muncul sangat lama.
Kemudian pintu kaca terbuka.
Celine berdiri di sana.
Rambutnya agak berantakan.
Wajahnya tanpa energi.
Dan, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia terlihat benar-benar tidak siap dilihat siapa-siapa.
Dia menatapku seperti aku datang dari planet lain.
“Kamu ngapain?”
Aku mengangkat kotak.
“Makan.”
Celine melihat kotak itu.
Lalu aku.
“Kamu datang cuma buat ngasih makan?”
“Sekalian lewat.”
Dia melihat jalan di belakangku.
“Rumahmu arah sana.”
Aku diam.
Celine mulai tersenyum.
“Jangan.”
“Aku belum ngomong.”
“Wajahmu ngomong.”
Dia tertawa kecil.
Aku menyerahkan kotak.
“Buka.”
Celine membukanya.
Roti miring itu ada di dalam.
Matanya langsung berubah.
“Yang jelek.”
“Bentuknya kurang bagus.”
“Berarti jatahmu.”
Aku mengangkat bahu.
“Sekarang jatahmu.”
Celine memandangku terlalu lama.
Aku mulai tidak nyaman.
“Kalau nggak mau—”
“Aku mau.”
Dia langsung memeluk kotaknya ke dada.
Aku menoleh ke samping.
Celine berdiri di sebelahku.
Tidak terlalu dekat.
“Alfa.”
“Hm?”
“Makasih udah nyariin.”
“Aku nggak nyariin.”
“Kamu datang ke gedung yang bukan fakultasmu.”
“Bawa makanan.”
“Untuk aku.”
Aku tidak punya jawaban yang aman.
Jadi aku berkata, “Kamu belum makan.”
Celine terdiam.
Lalu senyumnya mengecil.
“Orang sering perhatian ke aku kalau aku lagi kelihatan bagus.”
Aku menoleh.
Dia menatap kotaknya.
“Kalau lagi capek begini, biasanya aku sembunyi dulu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Akhirnya aku berkata, “Kamu tetap Celine.”
Dia melihatku.
Kalimat itu keluar tanpa rencana.
Aku langsung merasa telingaku panas.
“Maksudku—”
“Aku tahu.”
Suaranya lembut.
Tidak menggoda.
Kami duduk di bangku luar gedung.
Celine makan perlahan.
Aku tidak banyak bicara.
Setelah setengah roti habis, dia berkata, “Besok aku nggak ke toko.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
Dia tersenyum tipis. “Mau istirahat.”
Aku mengangguk.
Bagus.
Seharusnya aku lega.
Tapi ada rasa kecil yang aneh.
Mungkin karena aku mulai terbiasa melihatnya di sana.
Celine menutup kotak.
“Kamu bakal kangen?”
“Enggak.”
Jawabanku terlalu cepat.
Dia tertawa.
“Oke.”
Aku berdiri.
“Pulang jangan terlalu malam.”
“Siap.”
Aku baru berjalan beberapa langkah ketika dia memanggil.
“Fa.”
Aku menoleh.
Celine mengangkat kotak.
“Besok kalau aku nggak datang, jangan kasih jatah roti jelekku ke orang lain.”
Aku ingin bilang tidak ada jatah seperti itu.
Tapi ternyata aku sudah menyisihkannya beberapa hari berturut-turut.
Jadi aku hanya menjawab, “Kalau ada.”
Celine tersenyum.
Aku pulang dengan perasaan yang lebih ringan.
Malamnya, saat membantu Mbah menutup toko, aku melihat satu roti gagal lagi.
Tanganku mengambil kotak kecil.
Mbah melirik.
“Katanya besok dia nggak datang.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
Aku memasukkan roti itu.
“Bisa disimpan sampai besok malam.”
Mbah tersenyum.
Aku mengabaikannya.
Tapi aku tidak mengeluarkan roti dari kotak.
Di perjalanan pulang dari kampus, Dimas mengirim pesan.
Dimas
Lu tadi ke gedung organisasi Celine?
Aku berhenti di trotoar.
Alfa
Kenapa?
Dimas
Fikri lihat.
Tentu saja.
Dimas
Tenang, gue cuma mau bilang.
Aku menunggu.
Dimas
Bagus.
Aku mengernyit.
Alfa
Apanya?
Balasan tidak langsung.
Dimas
Lu mulai ngelakuin sesuatu karena lu mau, bukan karena didorong orang.
Aku membaca kalimat itu cukup lama.
Dimas jarang bicara seperti itu.
Biasanya dia lebih suka mengomentari pilihan makananku atau mengatakan aku perlu tidur.
Aku mengetik.
Alfa
Lebay.
Dimas
Iya.
Dimas
Tapi tetap bagus.
Aku memasukkan ponsel ke saku.
Di rumah, Mbah sedang memotong buah.
Beliau menunjuk kursi.
“Makan.”
“Aku baru makan.”
“Buah bukan makan.”
Aku duduk.
Mbah menaruh piring di depanku.
Beberapa detik kami diam.
Kemudian beliau berkata, “Dia capek?”
Aku langsung tahu siapa.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Banyak kegiatan.”
“Terus kamu antar roti?”
Aku menatap Mbah.
“Siapa yang kasih tahu?”
“Pak Yono lihat kamu jalan ke kampus.”
Aku menarik napas panjang.
“Lingkungan ini perlu hobi.”
“Mereka punya.”
“Apa?”
“Kamu.”
Aku menyerah.
Mbah tertawa.
Aku mengambil satu potong pepaya.
“Kalau suatu hari toko sepi,” katanya, “jangan marah kalau orang-orang masih datang.”
Aku tidak mengerti.
“Maksud Mbah?”
“Kadang orang datang bukan karena rotinya.”
Aku menatap beliau.
Mbah tidak menjelaskan.
Beliau hanya mengambil piring kosong dan berdiri.
Aku tahu kalimat itu bukan tentang pelanggan.
Malam semakin larut.
Aku naik ke kamar.
Ponselku menyala.
Celine
Udah sampai rumah?
Alfa
Udah.
Celine
Roti cacatnya habis.
Aku menatap layar.
Alfa
Bagus.
Celine
Besok aku beneran istirahat.
Alfa
Iya.
Beberapa detik kemudian:
Celine
Jangan kangen.
Aku hampir tidak membalas.
Lalu pikiranku kembali ke kotak kecil yang sudah kusiapkan untuk besok.
Aku mengetik.
Alfa
Istirahat aja.
Balasan datang cepat.
Celine
Itu bukan jawaban.
Aku tersenyum kecil.
Alfa
Memang.
Aku menaruh ponsel.
Besok Celine tidak akan datang.
Tapi untuk pertama kalinya, aku sudah tahu akan menyimpan sesuatu untuknya.
Bukan karena dia meminta.
Bukan karena Mbah menyuruh.
Karena aku sendiri ingin.
Dan mungkin itu alasan sebenarnya kenapa aku pergi ke gedungnya hari ini.
Bukan untuk mengantar roti.
Bukan karena kebetulan lewat.
Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja.
Mengakuinya di dalam kepala saja sudah cukup membuat dadaku tidak nyaman.
Tapi anehnya, aku tidak ingin menarik kembali langkah yang sudah kuambil.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan reading
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru