Chapter Thirty Five
Ruang
POV: Celine
Hari pertama tanpa datang ke Ratri Bakehouse terasa seperti menahan kebiasaan tubuh.
Jam empat, aku sudah membuka chat Alfa tiga kali.
Tidak mengirim apa-apa.
Aku sudah bilang akan memberi ruang.
Jadi aku memberi.
Ternyata menghormati ruang seseorang jauh lebih sulit ketika aku tahu aku penyebab dia membutuhkannya.
Tara datang ke apartemenku membawa makanan.
Dia tahu versi singkat.
Aku tidak menyembunyikan kesalahanku.
“Gue goblok,” kataku.
Tara mengangguk.
“Lumayan.”
Aku menatapnya.
“Harusnya lu bilang enggak.”
“Lu mau dibohongin?”
Aku menghela napas.
Nadine datang kemudian.
Dia tidak bilang “kan gue udah bilang”.
Aku justru berharap dia bilang.
“Aku tahu,” kataku sebelum dia bicara.
Nadine duduk.
“Bagus.”
“Aku dengar Alfa bilang mungkin nggak mau.”
“Iya.”
“Aku tetap lakuin.”
“Iya.”
“Aku pikir kalau hasilnya bagus…”
“Kei.”
Aku berhenti.
Nadine menatapku.
“Jangan bikin kesalahanmu jadi tentang seberapa buruk perasaanmu.”
Aku diam.
Benar.
Aku mulai tenggelam dalam rasa bersalah sampai hampir lupa pusatnya Alfa.
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Yang dia minta.”
“Ruang.”
“Ya.”
Aku menutup wajah.
“Aku benci nggak bisa ngapa-ngapain.”
Nadine berkata pelan, “Itu masalahmu.”
Kalimat itu tajam.
Tapi benar.
Aku selalu bergerak.
Waktu Naya kehilangan orang tua.
Waktu keluarga kacau.
Waktu ada masalah kampus.
Bergerak membuatku merasa berguna.
Diam membuatku merasa gagal.
Tapi kali ini cinta meminta aku diam.
Malamnya aku menulis satu pesan.
Celine
Aku nggak akan ganggu. Cuma semoga kamu bisa tidur.
Aku menaruh ponsel jauh.
Lima menit kemudian layar menyala.
Alfa
Kamu juga.
Aku hampir menangis.
Bukan karena semuanya baik.
Belum.
Karena dia membalas.
Besoknya aku melihat Alfa di koridor.
Kami berhenti.
Aku minta maaf lagi.
Tidak menjelaskan niat.
Aku bilang aku salah mengambil pilihan.
Dia bilang belum bisa biasa.
Aku mengerti.
Aku pergi.
Tidak menyentuh.
Tanganku terasa kosong sepanjang hari.
Hari ketiga, Mbah Ratri mengirim pesan.
Mbah Ratri
Makan?
Aku tersenyum sedih.
Celine
Sudah, Mbah.
Mbah Ratri
Bohong?
Aku tertawa kecil.
Celine
Sudah beneran.
Lama.
Mbah Ratri
Alfa juga makan.
Aku menatap kalimat itu.
Beliau tidak memihak.
Tidak menjadi kurir.
Cuma memberi tahu dua orang bodoh bahwa yang lain masih hidup.
Celine
Makasih, Mbah.
Aku hampir bertanya apakah Alfa marah.
Tidak.
Itu bukan hakku lewat Mbah.
Hari keempat, aku menulis surat.
Bukan untuk dikirim.
Isinya semua alasan.
Aku ingin membantu.
Aku takut Alfa terus membawa luka.
Aku ingin dia tahu mereka menyesal.
Setelah selesai, aku membaca.
Lalu merobek.
Karena semua kalimat itu tetap berpusat pada niatku.
Aku mengambil kertas baru.
Menulis satu kalimat:
Aku salah karena mengambil pilihanmu.
Itu inti.
Tidak perlu lebih cantik.
Hari kelima, aku pergi ke kafe tempat semuanya terjadi.
Sendiri.
Selina datang karena aku minta.
Marsha tidak.
“Aku minta maaf,” kata Selina.
Aku menggeleng.
“Bukan salah kamu.”
“Aku ikut.”
“Tapi aku yang bawa Alfa tanpa bilang.”
Selina diam.
Aku menyerahkan suratnya kembali.
“Kalau suatu hari Alfa mau, dia yang hubungi.”
Selina menerima.
“Gue ngerti.”
Aku juga mengirim pesan ke Marsha.
Celine
Jangan hubungi Alfa lewat aku lagi. Kalau suatu hari dia ingin bicara, keputusan ada di dia.
Marsha membalas:
Marsha
Oke. Maaf.
Aku menghapus percakapan.
Bukan untuk menghapus kejadian.
Untuk menutup pintu yang seharusnya tidak kubuka.
Malam itu aku ingin mengirim Alfa bukti.
Lihat, aku sudah memperbaiki.
Aku berhenti.
Tidak.
Itu lagi.
Aku tidak perlu mendapat poin karena akhirnya melakukan hal yang benar.
Hari keenam.
Tidak ada pesan.
Aku mulai menerima bahwa mungkin Alfa butuh lebih lama.
Aku duduk di kamar dengan hoodie miliknya.
Masih ada di kursi.
Aku belum berani memakai.
Ponsel berbunyi.
Jantungku melonjak.
Bukan Alfa.
Naya.
Naya
Kak, aku mau ke toko besok. Aman?
Aku menatap.
Celine
Pergi aja. Jangan bahas aku kecuali Alfa yang mulai.
Naya
Oke.
Aku menaruh ponsel.
Kemudian membuka notebook biru.
Aku membaca halaman tentang pegangan tangan.
First date.
First kiss.
Jangan pulang dulu.
Aku menangis akhirnya.
Bukan karena takut kehilangan semua itu.
Karena aku baru memahami betapa konsisten Alfa memberiku pilihan setelah dia mulai percaya.
Boleh datang.
Boleh duduk.
Boleh pegang.
Boleh peluk.
Bahkan ketika dia takut.
Lalu saat giliranku, aku mengambil pilihan darinya.
Aku menutup notebook.
Malam semakin larut.
Aku tidak mengirim pesan.
Jam sebelas lewat, ponsel berbunyi.
Alfa
Besok kamu ada kelas?
Aku menatap layar sampai kabur.
Celine
Ada. Sampai jam dua.
Lama.
Alfa
Oke.
Aku tidak bertanya kenapa.
Tidak berani berharap.
Besok jam dua lewat sepuluh, aku keluar gedung.
Alfa berdiri dekat pohon.
Tempat aku dulu sering menunggunya.
Aku berhenti.
Dia melihatku.
Aku berjalan mendekat, tapi berhenti dengan jarak aman.
“Hai.”
“Hai.”
Alfa memasukkan tangan ke saku.
“Aku belum selesai marah.”
Dadaku sakit.
“Oke.”
“Tapi aku nggak mau terus nggak ngomong.”
Aku mengangguk.
“Oke.”
Dia menatapku.
“Aku juga nggak mau putus.”
Air mataku langsung naik.
Aku menahan.
“Jangan nangis.”
“Sulit.”
Alfa hampir tersenyum.
Belum ada sentuhan.
Tidak perlu.
Dia berkata, “Aku mau bicara. Bukan hari ini mungkin.”
“Kapan kamu siap.”
Dia mengangguk.
Aku tidak berkata aku masih di sini.
Belum.
Kalimat itu terlalu besar untuk dipakai sembarangan.
Tapi aku berdiri.
Tidak mengejar.
Tidak menarik.
Dan Alfa tidak pergi.
Untuk hari itu, itu cukup.
Kami berjalan ke taman belakang.
Tempat yang dulu dipakai Alfa menanyakan apakah pengejaranku taruhan.
Ironis.
Kami duduk di bangku yang sama.
Jarak di antara kami lebih lebar daripada biasanya.
Alfa melihat ke depan.
“Aku takut marah sama kamu.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Karena kamu beda.”
Aku menunggu.
“Kalau aku marah sama mereka, gampang. Mereka bukan orang yang aku…”
Dia berhenti.
Dadaku berdebar.
Tidak menyelesaikan.
Tidak apa.
“Tapi kamu orang yang aku percaya.”
Aku menelan.
“Jadi pas kamu yang bikin…”
Dia mengusap tangan.
“Rasanya lebih sakit.”
Aku menunduk.
“Maaf.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak akan minta kamu cepat maafin.”
“Bagus.”
Aku hampir tertawa karena jawabannya begitu Alfa.
Dia melanjutkan, “Aku juga sadar aku punya kebiasaan kalau sakit langsung mikir semuanya selesai.”
Aku menatapnya.
“Kali ini aku nggak mau.”
Air mataku jatuh satu.
Sial.
Alfa melihat.
“Aku bilang jangan nangis.”
“Tubuhku tidak menerima instruksi.”
Dia menghela napas.
Tangannya bergerak sedikit.
Berhenti.
Aku melihat.
Dia hampir menyentuh.
Tidak jadi.
Aneh bagaimana ketidakhadiran sentuhan terasa lebih keras daripada sentuhan.
Aku tidak mengambil tangannya.
Belum.
Alfa berkata, “Mbah bilang marah boleh, tapi jangan sengaja lama buat nyakitin kamu.”
Aku tertawa kecil sambil mengusap mata.
“Mbah bijak.”
“Kadang.”
“Jangan bilang gitu ke Mbah.”
“Aku masih mau hidup.”
Kami diam.
Burung terdengar dari pohon.
Mahasiswa lewat jauh.
Aku berkata, “Aku sudah bilang Selina dan Marsha jangan hubungi lewat aku lagi.”
Alfa mengangguk.
“Aku nggak bilang buat dapat pujian.”
“Aku tahu.”
“Kalau suatu hari kamu mau dengar mereka, kamu yang pilih.”
“Hm.”
“Kalau nggak pernah juga boleh.”
Alfa akhirnya melihatku.
“Thanks.”
Aku mengangguk.
Kami belum kembali normal.
Bagus.
Kalau langsung normal, mungkin kami hanya menutup luka.
Saat hendak berdiri, Alfa berkata, “Celine.”
“Hm?”
“Aku kangen toko berisik.”
Aku tertawa kecil.
“Maksudnya?”
Dia melihat ke samping.
“Kamu bikin toko berisik.”
Dadaku kembali sesak.
“Jadi aku boleh datang?”
“Belum hari ini.”
Jujur.
Aku mengangguk.
“Oke.”
“Mungkin besok.”
Aku tersenyum.
“Oke.”
Kami berdiri.
Berjalan ke persimpangan.
Biasanya di sini kami bergandengan.
Hari ini tangan kami tetap terpisah.
Tapi jarak bahu kami lebih dekat daripada ketika datang.
Sebelum berpisah, Alfa berkata, “Sampai besok.”
Bukan mungkin.
Bukan nanti.
Besok.
Aku pulang dengan tangan kosong.
Anehnya, untuk pertama kalinya selama hampir seminggu, kekosongan itu tidak terasa seperti kehilangan.
Lebih seperti ruang yang sedang kami bangun ulang dengan benar.
Malamnya, satu pesan datang.
Alfa
Besok datang setelah jam empat.
Aku tersenyum sambil menangis lagi.
Celine
Oke.
Tidak lebih.
Aku tidak perlu lebih.
Pintu yang kututup dengan kesalahanku belum terbuka penuh.
Tapi Alfa sendiri baru saja membukanya sedikit.
Kali ini aku akan menunggu sampai dia yang menentukan seberapa lebar.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang reading
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru