Chapter Eighteen
Kalau Kamu Masih Mau
POV: Alfa
Celine kembali ke kampus dua hari kemudian.
Aku tahu sebelum melihatnya.
Tara mengirim pesan ke grup kecil yang entah sejak kapan berisi aku, Dimas, Celine, dan dirinya.
Tara
Pasien sudah turun ke bumi.
Celine
Gue cuma demam.
Dimas
Selamat.
Aku membaca.
Tidak membalas.
Lima menit kemudian pesan pribadi masuk.
Celine
Pagi.
Aku mengetik.
Alfa
Pagi.
Tiga titik muncul.
Celine
Hari ini aku ke toko.
Aku menatap layar.
Alfa
Datang aja.
Setelah kukirim, aku sadar kalimat itu pernah kukatakan sebelumnya.
Bedanya sekarang tidak terasa seperti izin.
Lebih seperti harapan.
Sepanjang hari aku beberapa kali memikirkan percakapan yang belum terjadi.
Aku capek pura-pura tidak tahu.
Capek membiarkan Celine mengatakan perasaannya sementara aku selalu berdiri setengah langkah di luar.
Aku belum yakin apa nama semua yang kurasakan.
Tapi aku tahu beberapa hal.
Aku menunggu pesannya.
Aku mencari dia di kampus.
Aku menyimpan roti untuknya.
Aku datang ketika dia sakit.
Aku tahu kapan senyumnya asli dan kapan hanya untuk orang lain.
Dan ketika dia tidak ada, aku merindukannya.
Mungkin itu cukup.
Sore hari, Celine datang ke toko.
Mbah Ratri langsung memegang dahinya.
“Sudah nggak panas?”
“Sudah, Mbah.”
“Jangan lama-lama.”
Celine mengangguk.
Lalu melihatku.
“Hai.”
“Hm.”
Dia tersenyum.
Aku langsung gugup.
Tidak masuk akal.
Kami sudah bicara berkali-kali.
Tapi hari ini rasanya berbeda karena aku tahu apa yang ingin kukatakan.
Aku hanya tidak tahu bagaimana.
Jam bergeser.
Pelanggan datang dan pergi.
Aku membantu di kasir.
Celine duduk di sudut, membaca materi kelas sambil sesekali membantu bungkus roti.
Aku menunggu momen.
Tidak ada momen yang terasa benar.
Jam tujuh.
Masih tidak.
Mbah akhirnya masuk ke dapur lebih awal.
Sebelum pergi beliau berbisik, “Kalau mau ngomong, ngomong.”
Aku menatap tajam.
“Mbah tahu apa?”
“Wajahmu kayak orang nahan bersin.”
“Beda jauh.”
“Intinya sama. Ganggu.”
Beliau pergi.
Celine menutup laptop.
“Aku pulang.”
Jantungku langsung turun.
Sekarang atau tidak.
Aku mengangguk.
Celine memasukkan laptop ke tas.
Aku masih diam.
Dia berdiri.
Aku masih diam.
Sampai tangannya memegang tali tas.
“Celine.”
Dia menoleh.
“Hm?”
Aku melihat meja.
Lalu pintu.
Lalu kembali ke dia.
“Aku mau ngomong.”
Ekspresinya berubah.
Tidak senyum berlebihan.
Tidak menggoda.
“Oke.”
Aku menarik napas.
“Aku nggak tahu ini cinta atau bukan.”
Celine diam.
Kalimat pertama sudah jelek.
Bagus.
Lanjut.
“Aku juga nggak tahu aku bisa jadi pacar yang bagus atau nggak.”
Dia tetap diam.
Tanganku mulai dingin.
“Aku masih… susah.”
Aku menelan ludah.
“Kadang kalau kamu terlalu dekat, aku masih takut.”
Celine mengangguk kecil.
“Aku tahu.”
“Tapi sekarang kalau kamu nggak datang…”
Aku berhenti.
Kata-kata itu jauh lebih sulit dari yang kupikir.
Celine menunggu.
Tidak menyelamatkanku.
Tidak menebak.
Aku memaksa diri melihat matanya.
“…aku nyariin.”
Napas Celine tertahan.
“Aku nunggu pesanmu. Aku simpan roti buat kamu. Aku bahkan tahu jadwalmu sekarang, yang agak mengerikan kalau dipikir.”
Sudut bibirnya naik.
Aku lanjut sebelum kehilangan keberanian.
“Jadi kalau kamu masih mau…”
“Mau.”
Aku mengernyit.
“Aku belum selesai.”
“Mau.”
“Celine.”
“Aku takut kalau kamu keburu berubah pikiran.”
Aku hampir tertawa.
Hampir.
“Aku nggak berubah pikiran secepat itu.”
Dia menatapku.
Matanya mulai basah sedikit.
Aku langsung panik.
“Kenapa?”
“Enggak.”
“Kamu nangis?”
“Sedikit.”
“Kenapa?”
“Karena kamu lama banget.”
Aku akhirnya tertawa kecil.
Celine ikut tertawa sambil mengusap ujung matanya.
Aku menarik napas lagi.
“Kalau kamu masih mau, kita coba.”
Dia menatapku.
“Kita?”
Aku merasa telinga panas.
“Pacaran.”
Celine menutup mulut.
Aku langsung waspada.
“Apa?”
Dia menggeleng cepat.
“Enggak. Aku cuma…”
Dia menarik napas.
“Alfa, kamu serius?”
Aku mengangguk.
“Serius.”
Celine berdiri sangat diam.
Aku belum pernah melihatnya seberisik biasanya lalu setenang ini.
Akhirnya dia bertanya, “Aku boleh mendekat?”
Aku mengangguk.
Dia melangkah satu langkah.
Tidak menyentuh.
Jarak kami tinggal sedikit.
“Aku boleh pegang tanganmu?”
Pertanyaan itu membuat dadaku sesak dengan cara berbeda.
Aku melihat tangannya.
Lalu wajahnya.
Belum.
Aku belum siap.
Aku menggeleng kecil.
Celine langsung mengangguk.
“Oke.”
Tidak kecewa.
Tidak memaksa.
Tidak membuatnya jadi lelucon.
Aku merasa lega sekaligus bersalah.
“Maaf.”
“Jangan minta maaf.”
“Aku—”
“Alfa.”
Dia tersenyum.
“Kita baru pacaran tiga puluh detik. Santai.”
Aku menatap jam.
“Belum tiga puluh.”
Celine tertawa.
“Ya Tuhan.”
Aku juga tersenyum.
Saat itulah pintu depan terbuka.
Bu Siska masuk.
Beliau melihat kami berdiri terlalu dekat.
Lalu melihat wajah Celine.
Lalu aku.
“Sudah?”
Aku menutup mata.
Celine menjawab lebih cepat.
“Sudah, Bu.”
Bu Siska mengangkat kedua tangan.
“AKHIRNYA.”
Dari seberang jalan, entah bagaimana Pak Yono ikut menoleh.
“Apa?”
Bu Siska berteriak, “SUDAH!”
Aku menatap langit-langit.
Celine tertawa sampai harus memegang meja.
Mbah Ratri muncul dari dapur.
“Apa ribut-ribut?”
Bu Siska menunjuk kami.
“Sudah.”
Mbah memandangku.
“Kamu ngomong?”
Aku mengangguk.
Beliau tersenyum.
Tidak besar.
Tapi cukup membuat dadaku hangat.
“Bagus.”
Aku menghela napas.
“Kenapa rasanya satu RT ikut pacaran?”
Pak Yono sudah masuk.
“Karena prosesnya lama.”
“Pak, keluar.”
Celine tertawa lagi.
Setelah keadaan akhirnya tenang dan semua orang dipaksa pulang, aku mengantar Celine sampai depan toko.
Mobilnya belum datang.
Kami berdiri di bawah lampu.
Status baru.
Jarak yang sama.
Tapi semuanya terasa berbeda.
Celine menoleh.
“Jadi sekarang aku boleh panggil kamu pacar?”
Aku langsung melihat jalan.
“Kalau perlu.”
“Kalau perlu?”
“Jangan diumumin.”
Celine tersenyum.
“Baik.”
Aku melihatnya curiga.
“Kamu terlalu nurut.”
“Aku sedang menjaga hubungan baru.”
Mobilnya datang.
Celine membuka pintu, lalu berhenti.
“Alfa.”
“Hm?”
“Makasih udah memilih aku.”
Kalimat itu membuatku diam.
Aku tidak pernah memikirkan dari sisi itu.
Memilih.
Selama ini aku hanya sibuk menghindari kemungkinan dipilih lalu ditinggalkan.
Tapi hari ini aku juga memilih.
Aku mengangguk.
“Besok ketemu.”
Celine tersenyum.
“Besok, pacar.”
Aku langsung menatapnya.
Dia masuk mobil sebelum aku bisa protes.
Aku berdiri sampai mobilnya hilang.
Ponselku bergetar.
Celine
Pacar.
Aku menghela napas.
Alfa
Tidur nanti.
Balasan muncul.
Celine
PACAR.
Aku memasukkan ponsel ke saku.
Aku seharusnya panik.
Anehya, tidak.
Takut masih ada.
Banyak.
Tapi di bawah rasa takut itu ada sesuatu yang baru.
Keinginan untuk mencoba.
Dan untuk malam ini, itu cukup.
Aku masuk kembali ke toko.
Mbah sedang menyusun uang kas.
Beliau tidak langsung melihatku.
“Sudah pulang?”
“Iya.”
“Senang?”
Aku berhenti.
Pertanyaan itu terlalu langsung.
Aku mengambil kain lap dan pura-pura membersihkan meja.
“Biasa.”
Mbah mendengus.
“Kalau biasa, meja itu nggak perlu dilap tiga kali.”
Aku melihat tanganku.
Benar.
Aku meletakkan kain.
“Mbah.”
“Hm?”
“Kalau nanti aku bikin salah?”
Beliau akhirnya menoleh.
Aku jarang bertanya seperti itu.
Mungkin itu sebabnya ekspresi Mbah berubah lebih lembut.
“Ya minta maaf.”
“Kalau dia bikin salah?”
“Bilang.”
“Kalau…”
Aku berhenti.
Kalau dia bosan.
Kalau dia malu.
Kalau suatu hari ekspresinya berubah seperti orang-orang dulu.
Mbah sepertinya tahu ada kalimat yang tidak keluar.
Beliau tidak memaksa.
“Pacaran bukan ujian yang harus kamu dapat seratus,” katanya. “Kamu cuma harus hadir.”
Aku menatap meja.
“Hadir?”
“Jangan kabur sebelum masalahnya datang.”
Aku diam.
Nasihat itu terasa terlalu tepat.
Mbah kembali menghitung uang.
Aku mengambil kain lagi.
Kali ini hanya sekali.
Sebelum tidur, aku membuka chat Celine.
Ada satu foto.
Kotak roti cacat yang sudah kosong.
Celine
Jatah hari ini habis.
Aku mengetik.
Alfa
Besok ada lagi.
Balasan muncul hampir seketika.
Celine
Buat pacar?
Aku menatap layar.
Dulu kata itu akan membuatku ingin mematikan ponsel.
Sekarang tetap membuat jantungku berantakan.
Tapi aku membalas.
Alfa
Iya.
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Akhirnya hanya satu pesan datang.
Celine
Selamat malam, Alfa.
Aku tahu dia sedang menahan diri supaya tidak membuatku panik.
Aku tersenyum.
Alfa
Selamat malam, Celine.
Aku menaruh ponsel di meja.
Takut tidak hilang hanya karena satu percakapan.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak tidur sambil memikirkan bagaimana hubungan ini akan berakhir.
Aku memikirkan besok.
Dan roti apa yang akan kusimpan untuknya.
- 1 Perempuan dari Fakultas Sebelah
- 2 Tangga Darurat
- 3 Tidak, Terima Kasih
- 4 Si Cantik dan Si Hoodie
- 5 Ratri Bakehouse
- 6 Nomor Telepon Nenekku
- 7 Jangan Sentuh Tiba-Tiba
- 8 Kalau Ini Taruhan
- 9 Boleh Duduk di Sini?
- 10 Jangan Putuskan Sendiri
- 11 Kencan yang Bukan Kencan
- 12 Datang Saja
- 13 Pesan Pertama
- 14 Orang yang Menunggu
- 15 Jatah yang Disimpan
- 16 Bukan Kebetulan
- 17 Kalau Aku Tidak Datang
- 18 Kalau Kamu Masih Mau reading
- 19 Pagi, Pacar
- 20 Tangan
- 21 Kencan Resmi
- 22 Kalau Aku Cium?
- 23 Keberanian Hari Ini
- 24 Sedikit Cemburu
- 25 Pacarnya
- 26 Jangan Pulang Dulu
- 27 Selina
- 28 Aku Masih Marah
- 29 Hari yang Biasa
- 30 Pegang Tanganku
- 31 Naya
- 32 Foto Lama
- 33 Aku Mau Membantumu
- 34 Jangan Putuskan Sendiri
- 35 Ruang
- 36 Kembali ke Toko
- 37 Maaf
- 38 Ternyata Tetap Bukan Karena Aku
- 39 Dua Kali
- 40 Tatapan Itu
- 41 Aku Masih di Sini
- 42 Foto Baru