← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Fourteen

Orang yang Menunggu

POV: Celine

Tara menunggu sampai Alfa benar-benar hilang dari pandangan.

Lalu dia menoleh kepadaku.

“Gue cuma mau memastikan.”

Aku masih memegang bungkus roti susu.

“Apa?”

“Barusan Alfa Pradipta duduk nungguin lo?”

“Dia nggak nungguin.”

“Dia bawa roti.”

“Dia memang dari toko roti.”

“Dia ngechat duluan?”

Aku diam.

Tara menutup mulut.

Aku menunjuknya. “Jangan.”

Dia mengeluarkan suara tertahan yang mirip teko mendidih.

“Tara.”

“Gue nggak ngomong.”

“Wajahmu teriak.”

“CELINE.”

Beberapa orang menoleh.

Aku langsung menarik lengannya.

“Pelan!”

“Cowok itu beberapa minggu lalu pindah jalur cuma buat menghindari lo.”

“Aku tahu.”

“Sekarang dia ngechat duluan, bawain roti, terus duduk nemenin lo tanpa diminta.”

Aku menatap sisa roti di tangan.

“Iya.”

Tara mendadak lebih tenang.

“Oh.”

Aku tahu nada itu.

“Apa?”

“Lo senang banget.”

Aku ingin membantah.

Tidak jadi.

Karena memang benar.

Aku senang bukan karena Alfa mulai melakukan hal romantis besar.

Dia bahkan tidak tahu apakah yang dilakukannya romantis.

Justru itu.

Setiap langkah kecil darinya terasa seperti sesuatu yang dipilih dengan susah payah.

Dan aku tahu betapa mudahnya merusak itu kalau aku terlalu cepat.

Besoknya, aku berusaha bersikap normal.

Definisi normal versi diriku mungkin tidak terlalu membantu.

Aku mengirim pesan pagi.

Celine

Selamat pagi.

Balasan datang tujuh menit kemudian.

Alfa

Pagi.

Aku hampir mengirim enam stiker kemenangan.

Kutahan.

Celine

Hari ini kelasmu sampai jam berapa?

Alfa

Dua.

Aku mengetik, menghapus, lalu akhirnya memilih kalimat aman.

Celine

Oke. Semangat.

Dia membalas.

Alfa

Kamu juga.

Sederhana.

Tapi aku menatap dua kata itu terlalu lama.

Nadine yang duduk di depanku menutup buku.

“Kamu kalau senyum begitu bikin orang takut.”

Aku mengangkat wajah. “Kenapa?”

“Seperti habis memenangkan tender.”

Tara menyela, “Lebih besar. Alfa ngechat duluan kemarin.”

Nadine menatapku.

Lalu dia mengangguk pelan.

“Bagus.”

“Cuma bagus?”

“Kamu mau saya pasang spanduk?”

“Boleh.”

Tara menepuk meja. “Gue urus desain.”

Aku tertawa.

Sore hari aku selesai kelas lebih cepat. Niat awalnya langsung ke bakery.

Tapi saat keluar gedung, aku melihat seseorang berdiri dekat mesin minuman otomatis.

Hoodie abu-abu.

Kacamata.

Poni yang kembali menutupi sebagian mata.

Alfa.

Aku berhenti.

Dia sedang melihat ponsel.

Bukan kebetulan.

Gedung fakultasku bukan jalur menuju fakultasnya.

Bukan jalur menuju halte yang biasa dia pakai.

Bukan jalur menuju Ratri Bakehouse.

Aku berjalan mendekat.

“Alfa.”

Dia mengangkat kepala.

Ekspresinya tenang, tapi telinganya berubah sedikit merah.

“Kamu ngapain di sini?”

“Ada urusan.”

Aku melihat sekeliling.

“Urusan apa?”

“Fotokopi.”

Aku menunjuk gedung di belakangnya. “Tempat fotokopi terdekat ada di arah sebaliknya.”

Alfa diam.

Aku menggigit bagian dalam pipi supaya tidak tersenyum terlalu lebar.

“Terus?”

Dia memasukkan ponsel ke saku. “Aku mau ke toko.”

“Lewat fakultasku?”

“Hari ini.”

Aku mengangguk serius. “Jalanan pindah, ya?”

Alfa menatapku datar.

Aku akhirnya tertawa.

“Oke. Aku nggak godain.”

“Barusan kamu godain.”

“Sudah selesai.”

Kami mulai berjalan.

Aku sengaja menjaga jarak yang biasa.

Tidak terlalu dekat.

Alfa juga tidak mempercepat langkah.

Di depan gedung lain, dua mahasiswa menyapaku. Aku membalas seperti biasa.

Setelah mereka lewat, Alfa berkata, “Kamu capek lagi?”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Senymu beda.”

Aku benar-benar berhenti berjalan.

Alfa ikut berhenti beberapa langkah di depan.

“Apa?”

Aku menatapnya.

Entah kapan dia mulai memperhatikan itu.

Bahkan teman-temanku yang sudah lama mengenalku kadang tidak langsung sadar.

“Aku nggak apa-apa,” kataku.

Alfa mengangkat alis kecil.

Aku tertawa pelan. “Oke, sedikit capek.”

Dia mengangguk, seolah itu cukup.

Tidak mengejar penjelasan.

Tidak mengatakan aku harus istirahat.

Tidak menawarkan solusi.

Kami lanjut berjalan.

Aku baru sadar betapa menyenangkan rasanya tidak selalu harus terlihat baik.

Saat sampai dekat halte, ada seorang laki-laki dari fakultasku memanggil.

“Celine!”

Aku menoleh.

Ezra berjalan cepat sambil membawa map.

“Lo pulang?”

“Iya.”

Dia melihat Alfa.

Aku bisa melihat momen ketika dia menghubungkan wajah dengan rumor.

“Oh.”

Alfa berdiri tenang.

Aku memperkenalkan mereka.

“Ezra, ini Alfa. Alfa, Ezra.”

Ezra mengulurkan tangan.

Alfa menatap tangannya sepersekian detik, lalu menjabat.

“Ezra.”

“Alfa.”

Hening.

Aku hampir bisa mendengar Tara tertawa dari jarak ratusan meter jika dia melihat ini.

Ezra menunjuk map. “Gue mau kasih file revisi. Besok dicek ya.”

“Iya.”

Dia menatap Alfa lagi, kali ini dengan rasa ingin tahu yang terang-terangan.

“Lu yang punya bakery itu?”

Alfa mengangguk. “Punya Mbah.”

“Cinnamon roll-nya enak.”

“Terima kasih.”

Hening lagi.

Ezra akhirnya tersenyum. “Oke. Gue cabut.”

Setelah dia pergi, aku melihat Alfa.

“Apa?”

“Enggak.”

“Kamu mau tanya sesuatu?”

“Enggak.”

“Yakin?”

“Iya.”

Aku menahan senyum.

“Dia teman kelompok.”

“Aku nggak tanya.”

“Makanya aku kasih info gratis.”

Alfa menatap lurus.

Telinganya merah lagi.

Aku hampir kehilangan kendali.

“Alfa.”

“Hm?”

“Kamu cemburu?”

Dia langsung berhenti.

“Enggak.”

Cepat sekali.

Aku tertawa sampai harus menutup mulut.

“Aku cuma bercanda.”

“Bercandamu nggak lucu.”

“Menurutku lucu.”

“Kamu bias.”

Kami sampai di toko menjelang sore.

Mbah Ratri sedang menyusun roti.

Begitu melihat kami masuk bersama, beliau berhenti.

Pandangan Mbah pindah dari aku ke Alfa.

“Jemput?”

Alfa menjawab terlalu cepat. “Enggak.”

Aku menjawab bersamaan, “Mungkin.”

Alfa menoleh tajam.

Aku tersenyum polos.

Mbah mengangguk seolah menerima laporan resmi.

“Bagus.”

“Mbah, jangan ikut.”

“Aku nggak ngomong apa-apa.”

“Itu justru mencurigakan.”

Aku membantu menata kantong.

Alfa masuk ke dapur.

Beberapa menit kemudian dia kembali membawa satu piring kecil.

Ada dua potong pastry baru.

“Coba.”

Aku mengambil satu.

“Menu baru?”

“Hm.”

Aku menggigit.

Kulitnya renyah, bagian tengahnya lembut dan sedikit asam dari selai buah.

“Enak.”

Alfa menatap reaksiku, bukan makanannya.

Aku sadar.

Dan tiba-tiba dadaku terasa hangat.

“Kenapa?”

“Enggak.”

“Kamu nunggu aku bilang enak?”

“Biar tahu perlu dibenerin apa.”

“Kalau aku bilang jelek?”

“Berarti lidahmu rusak.”

Aku tertawa.

Mbah dari belakang berkata, “Dia dari pagi bilang mau minta kamu coba.”

Alfa membeku.

Aku menoleh pelan.

“Mbah.”

“Apa?”

“Kenapa informasi rahasia keluar semua?”

“Biar cepat.”

Alfa mengambil piring kosong dan berbalik.

Aku memanggil, “Fa.”

Dia berhenti.

“Makasih.”

Tidak ada godaan.

Tidak ada komentar tambahan.

Alfa mengangguk kecil.

Aku melihat punggungnya masuk ke dapur.

Tara benar.

Aku memang senang.

Tapi bukan karena Alfa mulai mengejarku.

Belum.

Aku senang karena untuk pertama kalinya, arah hubungan ini tidak lagi hanya satu arah.

Kadang aku mendekat.

Kadang dia menungguku.

Sedikit demi sedikit, jarak di antara kami tidak lagi sesuatu yang harus kuterobos.

Alfa mulai berjalan menyeberanginya sendiri.

Malam itu, setelah toko hampir tutup, aku duduk di bangku depan bersama Mbah Ratri.

Alfa sedang di dapur mencuci loyang.

Mbah memberiku teh hangat.

“Dia mulai aneh,” kata beliau.

Aku menoleh. “Alfa?”

“Siapa lagi?”

“Memangnya biasanya nggak aneh?”

Mbah tertawa.

“Dulu kalau ada orang nunggu di depan, dia pura-pura sibuk sampai orangnya pulang.”

Aku memegang cangkir.

“Sekarang?”

“Sekarang dia lihat jam terus.”

Aku mencoba tidak tersenyum.

Mbah menepuk lututku.

“Jangan senang dulu.”

Aku langsung menoleh.

Beliau menatap pintu dapur, memastikan Alfa tidak keluar.

“Anak itu kalau takut, bukan marah dulu.”

Aku diam.

“Dia pergi.”

Aku mengingat semua kali Alfa berbalik, mengubah jalur, menghilang dari kantin, atau menjawab pendek hanya supaya percakapan selesai.

Mbah melanjutkan, “Mbah nggak tahu semua yang ada di kepalanya. Dia juga nggak pernah cerita lengkap. Tapi kalau suatu hari dia mundur lagi, jangan langsung pikir dia benci.”

Aku menelan ludah.

“Kenapa Mbah bilang ini ke aku?”

“Karena kamu masih datang.”

Sederhana.

Berat.

Aku melihat cangkir di tanganku.

“Aku nggak mau maksa dia.”

“Bagus.”

“Tapi aku juga nggak mau pura-pura nggak suka.”

“Jangan.”

Aku tertawa kecil. “Berarti susah.”

“Memang. Kalau gampang, namanya bikin mi instan.”

Aku tertawa cukup keras sampai Alfa keluar dari dapur.

“Kenapa?”

“Rahasia.”

Dia memandang Mbah.

Mbah mengangkat cangkir. “Perempuan.”

Alfa langsung berbalik masuk lagi.

Aku tertawa makin keras.

Sebelum pulang, Alfa berdiri di dekat pintu sambil membawa satu kantong kecil.

“Ini.”

Aku menerimanya.

“Apa lagi?”

“Pastry tadi.”

“Yang menu baru?”

“Hm.”

“Buat dibawa pulang?”

“Kalau nggak mau—”

“Aku mau.”

Dia berhenti.

Aku tersenyum.

“Terima kasih.”

Alfa mengangguk.

Aku masuk mobil.

Beberapa menit kemudian, ketika jalan sudah mulai sepi, aku membuka kantong itu.

Ada satu kertas kecil ditempel pada kotaknya.

Tulisan tangan Alfa pendek.

Kalau terlalu asam, bilang.

Aku menatap kalimat itu.

Bukan surat cinta.

Jauh sekali.

Tapi Alfa memikirkan apakah aku suka sesuatu bahkan setelah aku pergi.

Aku menyandarkan kepala ke kursi dan tersenyum sendiri.

Mungkin Mbah benar.

Alfa bisa saja mundur lagi.

Dan mungkin suatu hari aku akan salah langkah.

Tapi sekarang aku mulai memahami ritmenya.

Aku tidak perlu menarik tangannya setiap saat.

Kadang cukup berdiri di tempat yang sama.

Karena belakangan ini, Alfa mulai datang sendiri.