← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Four

Si Cantik dan Si Hoodie

POV: Alfa

Pada hari ketiga, aku menemukan bahwa rumor bergerak lebih cepat daripada koneksi internet kampus.

Aku baru duduk ketika Fikri meletakkan ponselnya di depan wajahku.

“Jelaskan.”

Di layar ada foto buram seseorang memakai hoodie hitam sedang keluar dari kantin. Di belakangnya terlihat Celine berdiri sambil memegang kursi.

Judul unggahan akun anonim kampus itu berbunyi:

SIAPA COWOK HOODIE YANG BIKIN CELINE PANDUWINATA NGEJAR?

Aku menatap Fikri.

“Bukan aku.”

Dimas, yang duduk di sebelah, melihat hoodie yang sedang kupakai.

Warnanya hitam.

Fikri juga melihat.

“Fa.”

“Banyak hoodie hitam.”

“Di foto ada tas dengan gantungan roti kecil.”

Aku menurunkan pandangan ke tasku.

Gantungan berbentuk croissant pemberian Mbah menggantung seperti saksi kriminal.

Aku memasukkannya ke saku tas.

“Terlambat,” kata Dimas.

Aku membuka laptop.

“Aku tidak peduli.”

Fikri duduk di depan meja. “Ada seratus delapan puluh komentar.”

“Aku semakin tidak peduli.”

“Sebagian mendukung lu.”

“Kenapa?”

“Underdog.”

Aku berhenti mengetik.

“Aku tidak sedang bertanding.”

Fikri menggeser layar. “Ada juga yang bilang lu pasti anak orang kaya yang nyamar.”

Dimas menyahut, “Toko roti depan rumah termasuk konglomerat?”

Aku menoleh tajam.

Fikri langsung mendekat. “Lu punya toko roti?”

“Bukan punyaku.”

“Kenapa gue baru tahu?”

“Karena kamu tidak pernah tanya.”

“Diskon teman?”

“Tidak.”

“Persahabatan kita palsu.”

Dimas menepuk bahunya. “Kalian kenal baru empat bulan.”

“Empat bulan tanpa diskon tetap pengkhianatan.”

Kelas dimulai sebelum aku perlu mendengar lebih banyak.

Sayangnya, ketenangan hanya bertahan sampai makan siang.

Aku, Dimas, dan Fikri memilih kantin gedung belakang. Tempat itu lebih kecil dan biasanya dipenuhi mahasiswa tingkat akhir yang terlalu lelah untuk peduli urusan orang lain.

Hari ini aku salah.

Baru lima menit duduk, seseorang dari meja lain berbisik terlalu keras, “Itu dia.”

Aku langsung kehilangan selera makan.

Dimas menghela napas. “Mau pindah?”

Aku hendak mengangguk ketika Fikri berkata, “Terlambat.”

Celine masuk bersama dua perempuan.

Yang satu kukenal sebagai Tara dari beberapa kegiatan kampus. Yang lain mungkin Nadine. Mereka sedang bicara sampai Tara melihat meja kami dan ekspresinya berubah seperti orang menemukan tontonan gratis.

Celine mengikuti arah pandangnya.

Mata kami bertemu.

Tubuhku otomatis bersiap berdiri.

Celine berhenti.

Kemudian dia hanya mengangkat tangan dari jauh.

Tidak datang.

Tidak memanggil.

Tidak duduk di sampingku.

Dia dan teman-temannya memilih meja lain.

Aku perlahan duduk kembali.

Fikri menatapku, lalu Celine, lalu aku lagi.

“Kenapa lu kelihatan kecewa?”

“Aku tidak kecewa.”

“Wajah lu—”

Dimas menyodorkan sendok ke mulutnya. “Makan.”

Aku tidak kecewa.

Aku hanya... heran.

Beberapa kali tanpa sengaja aku melihat ke meja Celine. Dia sibuk bicara dengan Tara, tertawa, sesekali menunjukkan sesuatu di ponselnya. Tidak pernah sekalipun dia melihat ke arahku lebih dari satu detik.

Aneh.

Seharusnya itu bagus.

Sangat bagus.

Aku bisa makan tenang.

Lima menit kemudian, seorang laki-laki dari fakultas mereka datang menghampiri meja Celine. Tinggi, memakai jaket olahraga, dan tampak cukup akrab. Tara langsung memberi tempat.

Fikri berbisik, “Itu Ezra Mahardika.”

“Aku tidak tanya.”

“Gue kasih konteks.”

“Aku tidak butuh.”

“Katanya udah lama suka Celine.”

Aku mengambil teh.

Dimas melihatku sambil menahan senyum.

“Apa?” tanyaku.

“Nggak ada.”

Aku minum.

Fikri masih belum selesai. “Ezra itu sebenarnya paket lengkap.”

“Kenapa kamu promosi laki-laki lain ke aku?”

“Biar lu tahu kompetisi.”

“Aku bukan kompetitor.”

“Semua orang bilang begitu sebelum turnamen dimulai.”

Dimas menendang kakinya di bawah meja.

“Aw,” kata Fikri. “Kenapa?”

“Biar diam.”

Aku seharusnya berterima kasih kepada Dimas. Namun perhatianku sudah kembali ke meja seberang. Ezra memberikan sesuatu kepada Celine—sebuah flashdisk, ternyata—lalu menunjuk layar laptop Nadine. Sangat biasa. Sangat tidak romantis.

Jadi tidak ada alasan dadaku terasa tidak nyaman.

Aku mencoba fokus pada makanan.

Dua suap kemudian, ada sekelompok mahasiswa baru datang meminta foto dengan Celine. Dia berdiri, melayani mereka dengan sabar, lalu kembali duduk seperti itu hal biasa.

Aku baru memahami sedikit kenapa kehadirannya mengubah suasana ruang. Bukan hanya wajahnya. Dunia di sekelilingnya memang bereaksi. Orang melambat, melihat, mencari alasan menyapa.

Aku tidak ingin berada di pusat lingkaran seperti itu.

Mungkin itu alasan terbaik untuk terus menjaga jarak.

Celine tertawa karena sesuatu yang dikatakan Ezra.

Aku menaruh gelas sedikit lebih keras dari yang diperlukan.

Fikri membungkuk ke Dimas. “Catat.”

“Aku dengar,” kataku.

“Bagus.”

Aku akhirnya menghabiskan makan lebih cepat.

Saat berdiri, ponselku bergetar.

Celine

Maaf nggak nyamperin. Tadi kelihatannya kamu lagi sama teman-teman.

Aku membaca dua kali.

Lalu mengetik.

Alfa

Tidak perlu minta maaf.

Tiga titik muncul.

Celine

Tapi kamu aman, kan? Gara-gara postingan itu.

Aku menatap foto buram yang tadi diperlihatkan Fikri.

Alfa

Aman.

Aku ragu sebentar, lalu menambahkan:

Alfa

Kamu?

Balasan tidak datang secepat biasanya.

Ketika muncul, hanya satu kalimat.

Celine

Aku aman :) makasih udah nanya.

Aku mengunci layar.

Fikri berdiri di sampingku seperti hantu.

“Lu nanya kabar dia?”

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

“Sejak kapan kamu di situ?”

“Cukup lama untuk menyaksikan perkembangan karakter.”

Dimas menarik Fikri menjauh sebelum aku perlu melakukan kejahatan.

Sore itu aku pulang lebih lambat karena dosen menambah diskusi. Saat keluar gerbang, gerimis sudah turun.

Aku membuka payung kecil dari tas.

Di dekat pos keamanan, Celine berdiri sendirian sambil memandangi langit.

Tidak membawa payung.

Aku berhenti.

Jangan.

Aku mengenal kata itu dengan baik.

Jangan mendekat.

Jangan beri ruang untuk salah paham.

Jangan ulangi kebodohan lama.

Aku seharusnya berjalan terus.

Lalu hujan mendadak membesar.

Celine mundur mendekat ke atap pos, tetapi bagian pundaknya sudah terkena air.

Aku menghela napas.

Mbah akan memukulku pakai centong kalau tahu aku meninggalkan orang kehujanan sementara membawa payung.

Aku berjalan mendekat.

Celine melihatku dan tampak benar-benar terkejut.

“Kamu belum pulang?”

“Ayo.”

Dia melihat payungku.

“Ke halte?”

“Kamu parkir di mana?”

“Gedung sebelah.”

Itu lebih jauh dari halte.

Aku menyesal sudah bertanya.

“Antar sampai selasar.”

Celine masuk ke bawah payung dengan hati-hati, menjaga jarak sampai separuh bahunya masih terkena hujan.

Aku menggeser payung ke arahnya.

“Kamu basah.”

“Kalau dekat nanti kamu kabur.”

Aku menatap jalan.

“Kalau aku kabur sekarang, payungnya ikut.”

Celine tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya, suara itu tidak membuatku ingin mencari pintu keluar.

Kami berjalan tanpa bicara terlalu banyak.

Payungku terlalu kecil untuk dua orang, jadi sesekali lengan kami bersentuhan. Setiap kali itu terjadi aku otomatis bergeser sedikit. Celine menyadarinya pada sentuhan ketiga.

Dia kemudian berjalan lebih ke pinggir sampai air mengenai lengannya.

Aku melihatnya. “Masuk.”

“Nanti sempit.”

“Daripada basah.”

Celine bergerak setengah langkah mendekat. Tidak lebih.

“Kamu selalu pulang naik bus?” tanyanya.

“Biasanya.”

“Jauh?”

“Tidak terlalu.”

“Terus habis pulang ngapain?”

“Kerja.”

Dia menoleh. “Kerja?”

Aku baru sadar belum pernah menjelaskan. “Bantu toko.”

“Toko apa?”

“Roti.”

Mata Celine langsung berubah. “Kamu bikin roti?”

“Kadang.”

“Alfa.”

Nada suaranya terlalu serius.

“Apa?”

“Informasi sepenting ini kenapa baru keluar sekarang?”

Aku menatapnya. “Sepenting apa?”

“Roti itu penting.”

Aku hampir tertawa. Hampir.

Jaraknya hanya dua gedung.

Tetapi saat sampai di selasar, Celine memegang tali tasnya dan berkata, “Makasih, Alfa.”

Aku mengangguk.

“Kamu baik.”

Kalimat itu membuat langkahku berhenti sepersekian detik.

Ada sesuatu yang tidak kusukai dari pujian semacam itu.

Sesuatu yang lama.

Aku menarik tudung hoodie lebih maju.

“Cuma payung.”

Lalu aku pergi sebelum Celine sempat mengatakan hal lain.

Di belakangku tidak ada tawa.

Tidak ada suara memanggil.

Hanya hujan.

Aku baru berjalan beberapa meter ketika Celine memanggil sekali, tidak keras.

“Alfa.”

Aku menoleh.

Dia tetap berdiri di bawah selasar dan hanya mengangkat tangan. “Hati-hati.”

Aku mengangguk. “Kamu juga.”

Tidak ada tambahan. Tidak ada godaan yang memaksaku kembali bertahan di sana.

Aku berjalan lagi. Payung kecil itu terasa lebih ringan setelah beberapa langkah, meski hujan justru makin deras. Aku tidak tahu kenapa aku memperhatikan hal semacam itu.

Mungkin karena hari ini Celine akhirnya tahu kapan harus berhenti.

Entah kenapa, justru itu yang membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan.