← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Twenty Three

Keberanian Hari Ini

POV: Alfa

Hari ini aku membuat kesalahan.

Bukan di adonan.

Bukan pesanan.

Bukan tugas kuliah.

Kesalahanku adalah terlalu banyak memikirkan satu pesan Celine.

Kalau suatu hari kamu mau, kamu yang tentukan.

Kalimat itu menempel di kepala selama tiga hari.

Aku sedang menimbang tepung.

Teringat.

Sedang kuliah.

Teringat.

Sedang mandi.

Teringat.

Aku mulai membenci otakku sendiri.

Yang lebih buruk, sejak percakapan itu Celine benar-benar tidak pernah menyinggung soal ciuman lagi.

Tidak menggoda.

Tidak mendekat berlebihan.

Seharusnya bagus.

Justru karena dia diam, pikiranku semakin berisik.

Malam Jumat, Celine membantu di toko sampai tutup.

Mbah Ratri naik ke lantai atas lebih dulu karena lututnya sakit.

Aku dan Celine menyelesaikan pekerjaan terakhir.

Dia menyapu.

Aku menghitung baki.

Normal.

Sangat normal.

“Besok kamu ada kelas pagi?” tanyanya.

“Enggak.”

“Aku ada acara fakultas sampai siang.”

“Oh.”

“Nanti sore mungkin nggak mampir.”

Tanganku berhenti.

“Oh.”

Celine tersenyum.

“Kenapa?”

“Enggak.”

“Kamu kecewa?”

“Enggak.”

“Cepat banget jawabnya.”

Aku membawa baki ke rak.

Celine tertawa kecil.

“Kamu sekarang gampang dibaca.”

“Itu bukan hal bagus.”

“Buat aku bagus.”

Kami selesai sekitar jam sembilan.

Celine mengambil tas.

Aku mematikan lampu dapur.

Kami berdiri di ruang depan yang hanya diterangi lampu dekat kasir.

Etalase sudah kosong sebagian.

Toko terasa jauh lebih besar kalau tidak ada pelanggan.

“Aku pulang dulu,” katanya.

“Hm.”

Dia memakai tas di bahu.

“Besok ketemu kalau sempat.”

“Iya.”

Celine melangkah ke pintu.

Aku melihat punggungnya.

Ada dorongan aneh di dada.

Bukan panik.

Lebih seperti kalau aku membiarkan dia keluar sekarang, aku akan menghabiskan malam memikirkan hal yang sama lagi.

“Celine.”

Dia berhenti.

“Hm?”

Aku mendekat satu langkah.

Dia menunggu.

Aku tidak tahu caranya.

Tidak ada tutorial yang terasa berguna.

Aku pernah lihat film.

Tidak membantu.

Semua orang di film sepertinya tahu sudut kepala.

Aku tidak.

Celine memiringkan kepala sedikit.

“Fa?”

Aku berdiri di depannya.

Jarak kami dekat.

Dia tidak bergerak.

Tidak menyentuh.

Memberiku seluruh pilihan.

Jantungku memukul tulang rusuk.

Aku bisa mundur.

Dia tidak akan marah.

Justru karena aku tahu itu, aku tidak ingin mundur.

Aku mengangkat tangan, ragu, lalu menyentuh sisi lengannya.

Celine menarik napas kecil.

Aku hampir kehilangan keberanian.

“Boleh?” tanyaku.

Matanya melembut.

“Boleh.”

Aku mendekat.

Terlalu pelan mungkin.

Tapi dia tidak tertawa.

Tidak membantu.

Tidak mengambil alih.

Bibirku menyentuh bibirnya.

Singkat.

Sangat singkat.

Mungkin bahkan tidak sampai dua detik.

Lalu aku mundur.

Celine diam.

Aku menunggu.

Dia masih diam.

Wajahnya kosong.

Dadaku langsung jatuh.

“Celine?”

Tidak ada jawaban.

Aku mulai panik.

“Kamu…”

Dia berkedip.

“Celine?”

“Sekali lagi.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Sekali lagi.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku sudah menghabiskan keberanian hari ini.”

Celine menutup mulut.

Bahunya bergetar.

Aku baru sadar dia menahan tawa.

“Jangan ketawa.”

“Aku nggak—”

Dia gagal.

Tawanya keluar.

Aku memalingkan wajah.

“Pulang.”

“Fa.”

“Pulang.”

Dia menangkap ujung lengan hoodiekku.

Bukan menarik.

Cuma menahan kain.

Aku menoleh.

Celine masih tersenyum, tapi matanya agak basah.

“Terima kasih.”

Aku mengernyit. “Kenapa semua orang bilang terima kasih habis hal aneh?”

“Karena aku senang.”

Aku tidak tahu harus menjawab.

Dia melepas kain hoodiekku.

“Dan aku bangga.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Kayak aku anak TK.”

“Bukan begitu.”

Aku membuka pintu.

Udara malam masuk.

Celine berdiri di ambang.

Sebelum keluar, dia menoleh lagi.

“Selamat malam.”

“Selamat malam.”

Dia tersenyum.

Aku menambahkan, “Hati-hati.”

“Iya.”

Pintu tertutup.

Aku berdiri sendiri.

Kemudian menyentuh bibir sendiri.

Kesalahan.

Otakku langsung memutar ulang kejadian tadi dengan detail yang tidak dibutuhkan.

Aku pergi ke dapur dan minum air.

Tidak membantu.

Lima menit kemudian ponsel bergetar.

Celine

Aku sudah di mobil.

Aku membalas.

Alfa

Iya.

Celine

Aku senyum sendiri.

Aku menatap layar.

Alfa

Jangan.

Celine

Tidak bisa.

Aku menutup chat.

Dua detik kemudian pesan baru datang.

Celine

Good night, first-kiss-ku.

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Aku mengetik.

Alfa

Blokir.

Balasan langsung.

Celine

Pacar sendiri kok diblokir.

Aku memasukkan ponsel ke saku dan naik ke lantai atas.

Mbah Ratri sedang menonton televisi.

Beliau menoleh saat aku lewat.

“Kenapa mukamu merah?”

“Panas.”

“AC nyala.”

Aku terus berjalan.

“Alfa.”

“Hm?”

“Ciuman?”

Aku berhenti.

Perlahan menoleh.

“Mbah pasang kamera?”

Beliau tertawa keras.

“Jadi benar?”

Aku menutup wajah.

“Kenapa hidupku begini?”

“Bagus dong.”

Aku masuk kamar.

Pintu kututup.

Ponselku bergetar lagi.

Celine

Maaf tadi ketawa.

Lalu:

Celine

Aku cuma senang karena kamu yang mulai.

Aku duduk di tepi tempat tidur.

Kalimat itu menghentikan rasa malu sejenak.

Aku yang mulai.

Bukan karena dipaksa.

Bukan karena takut dia kecewa.

Aku ingin.

Dan dia menunggu sampai aku ingin.

Aku mengetik pelan.

Alfa

Aku juga senang.

Aku hampir menghapus.

Tidak.

Kukirim.

Lama sekali tidak ada balasan.

Kemudian:

Celine

Oke sekarang aku benar-benar nggak bisa tidur.

Aku tertawa kecil.

Besok paginya, aku bangun lebih awal.

Hal pertama yang kulakukan adalah membuka chat.

Tidak ada pesan baru.

Aku justru merasa lega.

Lalu, saat hampir menaruh ponsel, satu notifikasi muncul.

Celine

Pagi, pacar yang nyium aku duluan.

Aku menutup layar dan menaruh ponsel telungkup.

Mbah mengetuk pintu.

“Sarapan!”

“Iya!”

Aku berdiri.

Kemudian mengambil ponsel lagi.

Alfa

Pagi.

Beberapa detik.

Aku menambahkan:

Alfa

Jangan bahas di kampus.

Celine

Tidak janji.

Aku tahu hidupku akan sulit.

Anehnya, aku tidak keberatan.

Siang harinya, Dimas mengetahui sesuatu tanpa aku mengatakan apa-apa.

Kami duduk di kantin.

Aku sedang minum ketika dia menatap wajahku terlalu lama.

“Kenapa?”

“Lu beda.”

“Apanya?”

“Lebih bodoh.”

Aku menaruh gelas.

“Terima kasih.”

Dimas menyipitkan mata.

Lalu seperti mendapat pencerahan.

“Lu ciuman?”

Aku tersedak.

Dia langsung bersandar ke belakang.

“ANJIR.”

“Pelan.”

“Bener?”

Aku melihat sekeliling.

Fikri belum datang.

Syukurlah.

“Dimas.”

“Gue cuma nanya.”

“Pelan.”

Dimas menutup mulut, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.

“Lu yang mulai?”

Aku diam.

Matanya membesar.

“Fa.”

“Apa?”

“Bagus.”

Aku mengernyit.

Cuma itu lagi.

Bagus.

Seperti waktu aku bilang kami pacaran.

“Aku kira lu bakal ngetawain.”

“Kenapa?”

“Karena…”

Aku tidak punya jawaban.

Dimas mengangkat bahu.

“Kalau lu sendiri yang mulai, berarti lu nyaman. Itu bagus.”

Aku melihat meja.

Kata nyaman masih terasa besar.

Tapi mungkin benar.

Fikri muncul membawa mie.

“Ngomongin apa?”

“Statistika,” jawabku.

Dimas mengangguk. “Distribusi.”

Fikri langsung kehilangan minat.

Kami selamat.

Sore harinya, Celine menemuiku di kampus.

Saat dia mendekat, aku langsung teringat semalam.

Wajahku panas.

Dia juga tampak sedikit salah tingkah.

Bagus.

Setidaknya bukan aku saja.

“Hai,” katanya.

“Hai.”

Kami berjalan.

Beberapa detik canggung.

Lalu Celine berkata, “Aku janji nggak akan minta kedua.”

Aku hampir tersandung.

“Celine.”

“Aku cuma klarifikasi.”

“Jangan klarifikasi.”

Dia tertawa.

Aku memandangnya.

Tawa itu normal.

Tidak ada jijik.

Tidak ada penyesalan.

Tidak ada perubahan cara melihatku.

Entah kenapa hal sederhana itu membuat dadaku longgar.

Aku mengulurkan tangan.

Celine langsung menggenggam.

Dia tidak membahas kiss lagi.

Dan saat kami sampai di persimpangan, aku menyadari sesuatu.

Semalam penting bukan karena bibir kami bertemu.

Penting karena setelahnya tidak ada yang rusak.

Dunia tidak berubah menjadi tempat berbahaya.

Celine masih Celine.

Aku masih aku.

Dan hari berikutnya tetap datang.

Mungkin begitulah rasa aman dibangun.

Bukan lewat satu momen besar.

Lewat bukti kecil bahwa setelah sebuah kedekatan, seseorang tidak tiba-tiba berubah menjadi orang lain.

Malamnya aku berdiri di depan cermin terlalu lama.

Bukan karena ingin memastikan sesuatu berubah.

Justru karena tidak ada yang berubah.

Wajahku sama.

Rambutku sama.

Hoodie tetap hoodie.

Aku masih orang yang sama sebelum mencium Celine.

Tapi ada satu hal baru.

Aku sekarang punya bukti bahwa kedekatan tidak selalu berakhir dengan rasa malu.

Aku membuka chat.

Alfa

Udah sampai rumah?

Celine

Udah.

Alfa

Oke.

Lalu, setelah ragu beberapa detik:

Alfa

Selamat tidur.

Balasan datang.

Celine

Selamat tidur, Alfa.

Tidak ada godaan kali ini.

Aku menghargainya lebih dari yang bisa kujelaskan.