← Jangan Jatuh Cinta Padaku

Chapter Seven

Jangan Sentuh Tiba-Tiba

POV: Celine

Aku datang ke Ratri Bakehouse dengan niat yang sangat sederhana.

Membeli roti.

Tidak mengganggu Alfa.

Tidak membuat Mbah Ratri membocorkan informasi pribadi cucunya.

Dan, yang paling penting, tidak membuat satu RT mengira aku sedang menjalani proses lamaran.

Rencana itu bertahan sekitar empat menit.

“Celine!”

Bu Siska melambai dari seberang jalan sambil membawa kantong belanja.

Aku yang baru turun dari mobil otomatis membalas. “Sore, Bu.”

“Ke Alfa?”

Aku melihat papan Ratri Bakehouse yang ukurannya cukup besar di belakangku.

“Iya, mau beli roti.”

Bu Siska mengangguk dengan ekspresi orang yang baru menerima informasi sangat mencurigakan. “Iya. Beli roti.”

Aku memilih tidak membela diri.

Begitu masuk, aroma mentega dan gula menyambut lebih dulu. Alfa berdiri di belakang meja kerja, memakai celemek hitam di atas kaus gelap. Poninya dijepit asal ke atas karena tangannya penuh tepung.

Aku berhenti.

Alfa menoleh.

“Kok diam?”

Aku menunjuk wajahnya.

Dia langsung waspada. “Apa?”

“Matamu ternyata dua.”

Alfa menutup mata sebentar.

Dari belakang, Mbah Ratri tertawa keras.

“Makanya potong rambut!” katanya.

“Aku pulang aja,” kata Alfa.

“Kamu tinggal di sini.”

Alfa memandang Mbah dengan wajah datar. “Itu masalahnya.”

Aku tertawa sambil meletakkan tas di kursi dekat kasir.

Hari ini toko cukup ramai. Ada dua anak sekolah memilih donat, seorang bapak membeli roti tawar, dan Bu Mina duduk di sudut dengan secangkir teh seperti pemegang saham yang sedang mengawasi operasional.

Aku menyapa beliau.

Bu Mina memandangku, lalu Alfa.

“Sudah?”

Aku berkedip. “Sudah apa, Bu?”

“Pacaran.”

Alfa menjatuhkan penjepit roti.

“Bu Mina.”

“Apa?”

“Belum,” jawabku, jauh lebih tenang.

Bu Mina menghela napas. “Lama.”

Aku menutup mulut agar tidak tertawa terlalu keras.

Alfa mengambil penjepit baru dan bergumam, “Kenapa semua orang punya target waktu?”

“Karena kamu lambat,” jawab Mbah.

Aku memutuskan bahwa Ratri Bakehouse adalah tempat terbaik di dunia.

Setelah pelanggan mulai berkurang, aku menawarkan bantuan.

“Boleh aku bungkus roti?”

Alfa memandang tanganku. “Bisa?”

“Bisa belajar.”

“Kalau salah lipat?”

“Aku beli.”

“Kalau semua salah?”

Aku mengeluarkan dompet.

Alfa menghela napas. “Sini.”

Dia menunjukkan cara melipat kertas pembungkus. Tangannya bergerak cepat dan rapi. Aku mencoba meniru.

Hasil pertamaku terlihat seperti paket barang bukti.

Alfa menatapnya cukup lama.

“Jangan komentar.”

“Aku belum ngomong.”

“Wajahmu ngomong.”

“Wajahku tertutup poni.”

“Matamu kelihatan hari ini.”

Alfa refleks menyentuh jepit rambutnya.

Aku tertawa.

Untuk beberapa menit, semuanya terasa mudah. Aku melipat, Alfa membetulkan, Mbah mengomel dari dapur karena kami terlalu lambat.

Kemudian seorang pelanggan masuk dan memesan enam cinnamon roll. Alfa mengambil nampan dari rak atas.

Aku melihat ada tepung menempel di dekat pelipisnya.

Tanpa berpikir, aku mengulurkan tangan.

“Fa, ada—”

Ujung jariku baru menyentuh rambut di dekat dahinya ketika tubuh Alfa berubah.

Bukan mundur biasa.

Seluruh bahunya menegang.

Tangannya berhenti di udara.

Wajahnya kehilangan ekspresi.

Dan matanya—

Aku belum pernah melihat Alfa menatapku seperti itu.

Bukan kesal.

Bukan malu.

Takut.

Aku menarik tangan secepat mungkin.

“Maaf.”

Alfa berkedip seperti baru kembali mendengar suara di sekitarnya.

“Enggak apa-apa.”

“Enggak. Aku nyentuh tanpa bilang.”

Dia menurunkan nampan. “Cuma kaget.”

Aku ingin bertanya.

Kenapa?

Apa yang terjadi?

Siapa yang pernah membuat sentuhan sesederhana itu menjadi sesuatu yang membuat tubuhnya bereaksi seperti sedang menghindari pukulan?

Tapi aturan yang kubuat sendiri muncul di kepalaku.

Kalau Alfa mundur, jangan jadikan itu tantangan.

“Maaf,” ulangku.

Kali ini Alfa mengangguk.

Aku menunjuk pelipis sendiri. “Ada tepung di sini.”

Dia mengusap sisi yang salah.

“Sebelahnya.”

Alfa mengusap lagi.

Masih salah.

Aku hampir mengangkat tangan, lalu berhenti.

“Boleh?”

Alfa menatapku.

Aku menunggu.

Beberapa detik.

Kemudian dia menggeleng kecil. “Aku bersihin sendiri.”

“Oke.”

Aku memberinya cermin kecil dari tasku.

Alfa mengambilnya.

Tidak ada lelucon.

Tidak ada “takut banget sih”.

Tidak ada usaha membuat situasi menjadi ringan dengan mengorbankan rasa tidak nyamannya.

Aku hanya kembali melipat kertas.

Sebelum percakapan itu sempat benar-benar selesai, pintu toko terbuka dan seorang anak perempuan masuk sambil menarik tangan ibunya. Aku mengenalnya dari dua hari lalu. Anak itu selalu memilih donat stroberi, lalu berubah pikiran tiga kali sebelum membayar.

Hari ini dia berhenti di depan etalase, memandang rak paling bawah, lalu mendongak kepada Alfa.

“Kak, yang ada meses pelangi habis?”

Alfa melihat baki kosong.

“Habis.”

Wajah si anak langsung turun.

Aku menunggu Alfa menawarkan rasa lain. Sebaliknya dia jongkok di balik etalase dan mengambil satu donat polos yang belum diberi topping.

“Kalau nunggu lima menit, mau dibikinin?”

Mata anak itu langsung membesar. “Pelangi banyak?”

“Kalau kebanyakan nanti jatuh semua.”

“Banyak.”

Alfa mengangguk serius. “Baik.”

Dia masuk ke area kerja, mengambil glaze dan meses, lalu membuat satu donat khusus seolah pesanan itu sama pentingnya dengan satu lusin kue ulang tahun. Anak itu menempel di kaca etalase sambil mengawasi.

Aku memperhatikan dari samping.

Ini bagian Alfa yang jarang terlihat di kampus. Di sana, dia selalu seperti seseorang yang ingin mengecilkan keberadaannya sendiri. Di sini, tangannya tahu harus melakukan apa. Suaranya tenang. Orang-orang memanggil namanya tanpa membuatnya terlihat ingin kabur.

Ketika donat selesai, Alfa memasukkannya ke kotak kecil.

“Ini.”

Anak itu menerima dengan dua tangan. “Makasih, Kak Alfa!”

Ibunya hendak membayar tambahan, tapi Alfa menggeleng.

“Enggak usah. Topping doang.”

Setelah mereka pergi, aku berkata, “Kamu baik banget.”

Alfa menatapku seperti aku baru saja mengatakan sesuatu yang aneh.

“Itu cuma meses.”

“Bukan itu maksudku.”

“Ya tetap cuma meses.”

Aku tersenyum.

Dia benar-benar tidak sadar.

Entah kenapa, itu membuatku semakin ingin mengenalnya.

Beberapa menit kemudian, Alfa berdiri di sampingku.

“Celine.”

“Hm?”

“Maaf tadi.”

Aku menoleh. “Kenapa kamu yang minta maaf?”

“Reaksiku berlebihan.”

“Kalau refleks, bukan sesuatu yang kamu rencanakan.”

Dia diam.

Aku menambahkan, “Aku yang harusnya tanya dulu.”

Alfa memandang tumpukan kertas di depannya.

“Orang biasanya nggak perlu tanya buat hal begitu.”

“Ya sudah. Aku perlu.”

Dia akhirnya melihatku.

Aku tersenyum kecil. “Biar gampang.”

Ekspresinya sulit dibaca.

Tapi bahunya tidak setegang tadi.

Mbah Ratri keluar membawa satu loyang roti susu.

Beliau melihat kami bergantian.

“Ada apa?”

“Tidak ada,” jawab Alfa cepat.

Aku ikut, “Tidak ada, Mbah.”

Mbah menyipitkan mata.

Aku dan Alfa sama-sama pura-pura sibuk.

Ajaibnya, beliau tidak mengejar.

Menjelang magrib, aku bersiap pulang.

Alfa sedang menyusun baki ketika aku mendekati meja kasir.

“Besok aku nggak datang.”

Dia menoleh terlalu cepat.

Aku menangkapnya.

Alfa juga sadar aku menangkapnya.

“Kenapa?” tanyanya.

Aku hampir tersenyum lebar, tapi kutahan. “Ada rapat sampai malam.”

“Oh.”

Hanya itu.

Tapi dia sempat bertanya kenapa.

Kemajuan kecil tetap kemajuan.

Aku mengangkat kantong roti. “Lusa mungkin.”

Alfa mengangguk.

Aku baru dua langkah menuju pintu ketika dia memanggil.

“Celine.”

Aku berbalik.

Dia mengangkat satu kotak kecil.

“Ini ketinggalan.”

“Aku nggak beli itu.”

“Memang.”

Aku kembali mendekat. “Apa?”

“Roti yang tadi bentuknya jelek.”

Aku membuka kotak. Dua roti susu agak miring berada di dalam.

“Kenapa dikasih aku?”

“Daripada dibuang.”

Dari dapur, suara Mbah Ratri terdengar.

“Biasanya dia makan sendiri!”

Alfa memejamkan mata.

Aku menatap dua roti itu, lalu dia.

“Jadi aku dapat jatahmu?”

“Jangan dibuat aneh.”

Aku tersenyum.

“Terima kasih, Alfa.”

Dia mengangguk sambil memalingkan wajah.

Di mobil, aku memegang kotak kecil itu di pangkuan.

Seharusnya yang kupikirkan adalah reaksi Alfa ketika kusentuh.

Itu penting. Ada sesuatu di sana yang belum kuketahui.

Tapi ada hal lain yang juga terus kembali ke kepalaku.

Dia memberiku roti yang biasanya dia makan sendiri.

Kecil.

Tidak romantis.

Bahkan bentuknya jelek.

Anehnya, aku menyukainya lebih daripada roti paling bagus di etalase.

Ponselku berbunyi.

Tara

Progress hari ini?

Aku mengetik sambil menatap kotak roti.

Celine

Aku dapat dua roti cacat.

Balasannya langsung datang.

Tara

Gue tanya romance, bukan laporan quality control.

Aku tersenyum.

Celine

Justru ini romance.

Tara mengirim tiga tanda tanya.

Aku tidak menjelaskan.

Belum.

Ada beberapa hal kecil yang rasanya lebih menyenangkan kalau disimpan sendiri.

Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku memahami satu hal tentang mendekati Alfa.

Kemajuan bukan ketika dia berhenti kabur.

Kemajuan adalah ketika aku tahu kapan harus berhenti mendekat.