← Delapan Tahun, Tanpa Sisa

Chapter Nine

Empat Menit Dua Belas Detik

POV: Rangga

Jumat pagi, Ojan menempelkan selembar kertas di dinding kubikelku. Tulisan spidol besar: H-1.

“Lepas, Jan.”

“Nggak bisa. Udah gue laminating.”

Dia memang melaminatingnya. Di pojok kertas ada gambar cincin dan dua orang lidi berpegangan tangan. Salah satunya memakai helm proyek.

Jam sebelas, Koh Hendra menelepon.

“Mas, cincinnya sudah dicoba?”

“Belum, Koh. Besok.”

“Kalau nggak pas, Senin bawa lagi. Saya kecilin gratis.” Jeda. “Jangan sampai masuk got.”

Jam dua siang, satpam lobi menelepon ke mejaku. Ada paket.


Kotaknya kecil, dibungkus kertas cokelat, diselotip rapi. Namaku ditulis tangan di atasnya dengan huruf yang bulat dan hati-hati. Rangga Pramudia. Wiratama Struktur. Kolom pengirim kosong.

“Paket dari pengagum rahasia?” Ojan muncul di belakangku di lobi.

“Sampel baut angkur, paling.”

Aku merobek kertasnya di samping tempat sampah lobi, siap membuang isinya kalau ternyata brosur vendor. Di dalamnya ada dashcam hitam dengan dudukan retak, sebuah kartu memori dalam plastik berklip, dan selembar kertas HVS dilipat dua.

Maaf. Saya juga baru tahu. Saya rasa Mas berhak tahu.

— R.

Aku tidak kenal siapa pun berinisial R yang punya alasan meminta maaf padaku. Salah kirim, pikirku. Tanganku sudah terangkat di atas mulut tempat sampah.

Yang menahanku hanya satu kata. Mas.

Seseorang meminta maaf dengan sopan pada orang yang tidak dia kenal. Aku tidak sanggup membuang permintaan maaf yang sesopan itu.

Aku memasukkan semuanya ke tas kerja. Kebijakan IT kantor melarang mencolokkan media penyimpanan dari sumber tidak dikenal, sejak flashdisk seorang vendor mengubah semua gambar kerja proyek Kemayoran jadi file bernama HAHAHA.exe. Aku akan memeriksanya di rumah.

Malam ini, pikirku, aku masih punya waktu untuk hal-hal kecil.


Kemeja batik Bapak tergantung di pintu lemari. Cokelat tua, motif parang, kerahnya kaku oleh kanji. Laras mengantarnya kemarin sore dalam plastik laundry, dengan pesan dari Ibu yang ditempel selotip: Jangan dilipat lagi. Sudah Ibu setrika dua kali.

Kotak beludru sudah kupindahkan dari laci ke saku jaket. Aku ingin berlatih mengeluarkannya dengan satu tangan, tanpa gugup, tanpa menjatuhkannya. Buku saku kuning terbuka di pangkuanku. Kartu pidato versi tujuh terselip di halaman Daftar 30.

Aku sudah membacanya keras-keras empat kali sejak magrib. Di kali keempat, suaraku tidak bergetar lagi.

Aku juga berlatih berlutut. Bukan karena aku tidak tahu caranya, tapi karena lutut kananku punya bunyi sejak cedera futsal di semester tiga, dan aku tidak mau lututku berbunyi krek di lantai tiga puluh sebuah hotel di Thamrin, di depan perempuan yang akan menertawakan bunyi itu seumur hidupku. Aku berlutut di lantai kamar kos sebelas kali. Kiri lebih aman. Aku mencatatnya di pojok kartu, kecil sekali: lutut kiri.

Lalu aku ingat paket itu.

Aku tidak menontonnya karena curiga. Aku ingin jujur soal ini. Aku tidak curiga sedikit pun. Aku menontonnya karena insinyur tidak bisa membiarkan data yang tidak dikenal tergeletak begitu saja. Selalu ada asal-usul. Selalu ada alasan.

Folder pertama berisi rekaman kamera depan. Aku membuka file paling atas, dan aku mengenali jalannya.

Aku mengenali jalannya lebih dulu sebelum mengerti apa yang sedang kulihat. Gang di Setiabudi. Warung rokok bertenda biru di mulut gang, tempatku biasa menunggu sambil membeli air mineral. Lubang aspal dekat tiang listrik yang selalu kuhindari dengan membanting setir sedikit ke kanan. Malam, hujan deras, lampu jalan berpendar di kaca yang basah.

Aku hafal jalan itu. Aku sudah ratusan kali melewatinya.

Tanggal di pojok layar: 21/11.

Folder kedua: kanal kabin. File nomor 0347.


Hujan memukul atap mobil. Wiper berdecit. Seorang laki-laki menirukan suara seseorang, dramatis dan berlebihan.

Lalu suara Citra.

Lalu Citra tertawa.

Bukan tawa yang kudengar di Penyetan Bu Tum dua bulan lalu, pendek dan sopan. Ini tawa kantin FEB. Tawa paling kencang dari meja paling ramai. Tawa yang membuatnya membungkuk dan memukul dasbor. Tawa yang kukira sudah habis dimakan kantor, dimakan delapan tahun.

Aku sudah lupa dia bisa tertawa seperti itu.

Ternyata dia tidak lupa. Dia cuma tidak tertawa seperti itu lagi untukku.

Di layar, dia mengusap mata yang berair karena tertawa, lalu menyelipkan rambut ke balik telinga kiri.

Delapan tahun aku mengira gerakan itu milikku.

Laki-laki itu mencondongkan badan.

Aku menghitung.

Aku selalu menghitung kalau tidak tahu harus berbuat apa. Waktu Bapak dibawa ke ICU, aku menghitung tetes infusnya. Aku menghitung detik di layar itu dengan cara yang sama. Satu. Dua. Tiga. Empat. Dia tidak menjauh. Lima. Enam. Dia tidak menjauh.

Aku berhenti di sebelas. Bukan karena sudah selesai. Karena aku lupa angka sesudahnya.

Hanya itu yang perlu kutulis tentang bagian itu. Dia tidak menjauh.

Lalu dia menjauh. Membuka pintu. Berlari ke dalam hujan tanpa payung.

Tanpa payung. Delapan tahun dia tidak pernah membawa payung, karena aku yang selalu membawa payung.


Aku tidak sadar sedang menangis.

Aku baru tahu waktu sesuatu jatuh ke kartu di pangkuanku. Setetes. Tepat di baris pertama, di kalimat yang kutulis dengan pulpen biru yang katanya tidak luntur kena keringat.

Citra Anindya, maukah kamu—

Tintanya tidak luntur kena keringat. Ternyata luntur kena yang lain.

Tinta itu melebar pelan-pelan, seperti retak yang merambat. Namanya yang kabur lebih dulu. Citra jadi genangan biru kecil. Anindya menyusul.

Aku mengusapnya dengan ibu jari, karena aku ingin menyelamatkannya. Karena aku insinyur, dan insinyur memperbaiki.

Usapan itu membuatnya makin rusak.


Aku membuka WhatsApp. Aku butuh data.

Kamis, 21 November.

20.30 — Nanti aku pulang naik ojol aja ya. Kamu nggak usah jemput.
20.31 — Oke. Hati-hati.
23.15 — Udah sampai. Langsung tidur ya.
23.16 — Istirahat ya. Besok kujemput. ❤

Aku ingat malam itu hujannya deras sekali. Aku ingat aku lega. Aku ingat aku lega dia sampai dengan selamat.

Lalu riwayat panggilan.

Ibu · 22.51 · 24 menit.

Pukul 23.07, aku sedang di telepon. Ibu sedang menangis. Bukan tangis yang kukenal, tapi tangis yang naik turun dan pecah jadi tawa, karena anak laki-lakinya akan melamar perempuan yang dia sayangi seperti anak sendiri. Aku menutup telepon itu pukul 23.15 dengan dada yang hangat. Semenit kemudian aku mengirim hati merah yang jarang sekali kukirim, karena malam itu aku terlalu bahagia untuk tidak mengirimnya.

Di menit yang sama, ibuku menangis bahagia untuk perempuan yang sedang tertawa di mobil laki-laki lain.

Aku membaca pesan pukul 23.15 itu sekali lagi.

Udah sampai.

Dia tidak bohong. Dia memang sudah sampai.


Aku memutar ulang tawanya.

Bukan bagian sesudahnya. Hanya tawanya. Enam detik, dari tarikan napas pertama sampai dia mengusap mata.

Sebelas kali.

Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali dia tertawa seperti itu untukku. Aku mundur ke anniversary. Bukan. Ke ulang tahun Laras bulan Agustus. Bukan. Ke tahun lalu. Ke tahun sebelumnya.

Aku tidak menemukannya.

Aku bisa menghitung beban gedung dua puluh dua tahun sampai tiga desimal. Aku tidak bisa menemukan kapan terakhir kali perempuan yang akan kulamar besok tertawa untukku.


HP-ku bergetar di samping laptop. Pesan suara dari Ibu.

Aku menekannya karena jariku masih bergerak sendiri.

“Le.” Suara Ibu, pelan, seperti berbisik supaya tidak membangunkan rumah. “Batik Bapak udah Ibu setrika, ya. Dua kali, biar licin. Besok habis dia bilang iya, langsung telepon Ibu. Jam berapa aja. Ibu nggak bisa tidur ini.”

Ada tawa kecil di ujungnya. Lalu bunyi klik.

Aku menatap kemeja batik di pintu lemari. Cokelat tua. Licin. Disetrika dua kali oleh tangan yang gemetar karena bahagia.

Aku tidak bisa bicara. Aku tidak bisa menelepon balik. Aku mengetik dengan ibu jari yang tidak mau berhenti gemetar.

Iya, Bu.

Terkirim.

Itu kebohonganku yang pertama untuk melindungi Citra. Padahal dia bahkan belum datang.

Di situ aku pecah.

Tidak seperti di film. Tidak ada suara. Aku menutup mulut dengan telapak tangan, keras, karena dinding kos ini setipis kardus, dan pasangan muda di kamar sebelah baru tiga minggu punya bayi. Bayinya baru bisa tidur jam sembilan. Setiap malam aku mendengar ibunya bersenandung pelan-pelan sampai tangisnya reda.

Jadi aku menangis tanpa suara, di lantai yang sama tempat aku berlatih berlutut tadi sore. Bahuku berguncang. Napasku putus-putus di balik telapak tangan. Air mata turun ke sela jari dan menetes ke buku saku kuning, ke Daftar 30, ke kotak kecil kosong di samping kata Lamar.

Bahkan malam itu, aku masih menjaga tidur orang lain.

Di pangkuanku, kartu pidato itu masih terbuka, dengan nama yang sudah jadi genangan biru. Aku tidak perlu membacanya lagi. Kalimat-kalimat di bawahnya, termasuk kalimat kedua yang butuh tujuh draf dan satu kepala pel untuk kutemukan, sudah kuhafal sejak kemarin malam.

Tinta bisa luntur.

Hafalan tidak. Itu yang paling tidak adil malam itu.


Sembilan tahun lalu, di pemakaman Bapak, aku memegang payung di atas kepala Ibu selama dua jam di bawah gerimis. Aku tidak menangis, karena kalau aku menangis, tanganku akan gemetar, dan payungnya akan miring.

Delapan tahun bersama Citra, dia tidak pernah melihatku menangis.

Malam itu tidak ada payung yang harus kupegang. Malam itu, tanganku boleh gemetar.

Di kamar sebelah, bayi itu terbangun dan menangis. Ibunya bersenandung lagi, pelan, lagu yang sama setiap malam, sampai tangisnya mereda. Aku mendengarkannya sampai habis, dengan punggung bersandar ke kaki tempat tidur.

Jam di laptop menunjukkan 21.02. Dua puluh dua jam lagi, aku seharusnya berlutut dengan lutut kiri.


Kunci berputar di pintu.

Aku mengenal bunyinya. Kunci dengan gantungan martabak kecil dari karet, yang kubelikan di pasar malam waktu kami baru pindah ke Jakarta.

Pintu terbuka. Citra berdiri di sana dengan napas tersengal, rambut berantakan, blazer kerja masih menempel di badan.

Dia tidak melihatku.

Dia melihat laptop.

Delapan tahun, dan malam itu dia melihat laptopku lebih dulu daripada wajahku.

Aku berdiri. Kartu di pangkuanku jatuh ke lantai, menghadap ke atas.

Citra bergerak cepat. Dia mencabut kartu memori dari laptop, menyambar dashcam dari meja, dan berjalan lurus ke balkon. Pintu kaca balkon bergeser. Sesuatu jatuh, lalu satu lagi. Bunyinya kecil sekali, ditelan arus selokan di bawah sana yang deras sehabis hujan sore.

Aku tidak menahannya.

Untuk apa? Aku sudah menontonnya. Empat menit dua belas detik itu sekarang tinggal di tempat yang tidak bisa dijangkau selokan mana pun.

Dia berbalik dari balkon.

Lalu dia melihat wajahku.

Aku tahu apa yang dia lihat. Aku tidak mengusapnya. Aku tidak memalingkan muka. Aku tidak menyembunyikan apa pun, karena malam itu aku sudah terlalu lelah untuk menyembunyikan apa pun dari siapa pun.

Citra membeku di ambang pintu balkon. Tangannya, yang baru saja melempar, menggantung di udara.

Suaraku keluar pelan. Tidak marah. Aku tidak punya tenaga untuk marah.

“Kamu buang rekamannya, Cit.”

Dia menatapku.

“Malamnya nggak bisa kamu buang.”


Tangan kananku masuk ke saku jaket.

Di sana, di dalam kotak beludru biru tua, ada cincin dari emas Bapak. Ukiran kecil di bagian dalamnya. R·C·8. Delapan itu tahun waktu aku yakin.

Jariku menyentuh tutupnya.

Aku tidak mengeluarkannya.

Besok, rencananya, aku akan berlutut.